Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#105. Tertahan


__ADS_3

(Dihalaman belakang rumah Arga)


"Terima kasih ya kak? aku bener bener gak nyangka kalau akhirnya kak Irvan... (ragu mengatakannya) mau, datang lagi... buat, menemuin Dara!" Ucap Arga terputus putus karena segan.


Dia takut kalau ucapan terimakasihnya justru malah menyinggung atau dikira mengunggkit kesalahan Irvan. Sebab beberapa minggu lalu, Irvan telah mengatakan akan menjauhi Dara untuk selamanya yang membuat Dara sempat kumat akibat memikirkan hal itu.


Menanggapi ucapan Arga barusan, awalnya Irvan terlihat kaku lalu tiba tiba tersenyum.


"Kamu nggak usah berterima kasih Ga, ini memang kewajibanku! aku sebagai kakak, seharusnya memang selalu menjaganya, bukan malah pergi meninggalkannya!


Justu, seharusnya aku yang minta maaf sama kamu, gara gara keegoisanku kemaren itu akhirnya malah bikin banyak masalah buat Dara, dan pastinya jadi ngerepotin kamu terus! maaf ya?" Ucap Irvan yang terlihat sangat menyesali sikapnya waktu itu.


"Kakak nih ngomong apaan sih? masa aku direpotin Dara, yaa nggak lah!" sahut Arga yang justru terlihat senang karena bisa selalu bersama pacarnya setiap waktu.


Tadi sore, Arga sengaja mengajak Irvan mampir kerumahnya untuk sedikit bersantai sekalian berganti pakaian papahnya, karena kedatangan Irvan yang kedua kalinya keJerman ini, dia sama sekali tidak membawa persiapan apapun gara gara saking paniknya saat melihat vidio kiriman Indra kemaren pagi (waktu indonesia).


Jadi yang Irvan bawa hanyalah handphone, dompet, Visa dan pakaian kantor yang melekat dibadannya.


Dan juga, karena sikap Dara yang manja sejak dari pertemuan mereka tadi siang hingga hampir malam, Irvan yang tadinya mau keluar sebentar hanya untuk berbelanja kebutuhannya, selalu ditahan bahkan dilarang Dara keluar rumah kalau tanpa dirinya.


Beginilah manjanya dia saat mereka berkumpul diruang keluarga :


"Kak Irvan gak boleh pergi lagi!" Pintanya


"Kakak cuma mau beli pakaian dek, kakak kesini nggak bawa baju ganti sama sekali!"


"Kalau gitu aku ikut yaa?" pinta Dara karena takut dibohongi.


"Hah, ikut? mana boleh, kamu kan baru aja pulang dari rumah sakit, mendingan istirahat aja dirumah. Kakak beneran sebentar aja kok, janji nggak bakalan lama, lagian kan ada kak Roy yang memenin kamu disisi!" ucap Irvan berusaha meyakinkannya.


"Tuh kan, apalagi kakak mau perginya sendirian aja, kalau gitu yaa nggak boleh! pasti mau kabur lagi, pasti mau ninggalin aku lagi, iya kan?" (Menuduh)


"Nggak dek nggak! kakak kan udah janji sama kamu, masa nggak percaya sih?" (Memelas)


"Pokoknya kalau aku nggak boleh ikut, kakak juga nggak boleh pergi! paham?" ancam Dara yang tambah manja membuat Irvan, Arga dan Roy melirik satu dengan yang lainnya.


Kemudian Roy mencoba membujuk:


"Dara, kalau Irvan gak ganti pakaian nanti bau dong? soalnya mau kak Roy atau Arga yang pinjami juga nggak muat, coba kamu liat sendiri badannya dia, kan lebih gede diantara kami! (tangan Roy sambil menunjuk ke Irvan)


Kalau nggak gini aja deh, Irvan perginya sama kak Roy, jadi kak Roy yang bantu ngawasin dia buat kamu, gimana, boleh?" kata Roy dengan senyum penuh keyakinan.


Sejenak Dara pun memperhatikan senyuman Roy dan Arga yang mengarah kepadanya.


Senyuman kedua pria yang dia sayangi itu terlihat sangat dapat dipercaya, namum setelah ia kembali menoleh kewajah Irvan, Darapun langsung menjawab :


"Nggak boleh, tetap nggak boleh, kecuali aku juga ikut!"


Jawabannya barusan, tentu saja membuat senyuman Roy dan Arga langsung luntur seketika, karena sekalinya dia tetap tidak percaya sama Irvan.


Akhirnya, Arga menelpon papahnya untuk menanyakan kesediaan pakaian milik beliau yang kebetulan beliau juga baru tadi pagi membeli beberapa pakaian.

__ADS_1


(Soalnya Irvan tidak mau merepotkan siapapun berbelanja untuknya, apalagi sampai meminta tolong Sovia atau Paula yang membelikannya, dia takut tidak cocok dan yang pasti malu)


(Kembali dirumah Arga)


"Waduh.. bujang bujang papah lagi disini rupanya!" Sapa pak Arjuna dengan langkah cepat mendekati mereka berdua yang sedang duduk dikursi pinggir kolam tempat biasanya.


"Gimana Irvan, apa pakaian om kebesaran?" tanya papahnya Arga sembari ikut nimbrung diantara mereka.


"Nggak kok om, malah pas banget nih, makasih banyak ya om!" Jawab Irvan yang langsung menegakkan tubuh seraya menunjukan pakainnya sesuai dengan apa yang dia katakan.


"Oowh syukur syukur! soalnya om juga baru belinya tadi pagi, pas mau mandi baru ingat kalau kesini (Ke Jerman) gak bawa pakaian. Yaa.. kamu tau sendiri kemaren itu semuanya serba dadakan, kesana, kesini, pokoknya nggak ada rencana langsung terbang saat itu juga!" cerita papah Arga yang bahasanya selalu formal.


Karna Paula belum lama dipindah Arga untuk menemani Dara, jadinya sampai sekarang dia belum punya pelayan baru untuk membantunya dirumah. Kecuali disiang hari, dia menyewa jasa pembersih rumah yang dibayar harian.


"Papah sama kak Irvan mau minum apa?" tanya Arga yang sudah berdiri.


"Enggak usah repot repot Ga, aku sudah mau pulang kok!" sahut Irvan yang sengaja menolak tawarannya karena dia tau kalau Arga dan papahnya pasti sudah sangat kelelahan dari kemarin, kemudian Arga pun kembali duduk.


Sebelum pamit pulang, Irvan berbasa basi dulu sedikit :


"Om Arjuna disini masih lama?(diJerman)" tanya Irvan dengan mimik wajah serius.


"Mungkin sekitar tiga atau empat hari lagi baru balik ke Indonesia, yaa disana hanya untuk menghadiri empatpuluh hari alm. kakeknya Dara, kemudian saya langsung pulang ke Amerika!" jawabnya ramah.


"Kalau begitu saya cuma ada kesempatan tiga hari untuk belajar bisnis sama Om!" kata Irvan seraya mengaguminya.


"Aah... kamu ini bisa saja! malahan saat saya seumur kamu, waktu itu saya belum jadi apa apa, bahkan untuk mentraktir mamahnya Argapun masih minta sama orang tua, hehee..!!" sahut papah Arga yang berbalik menyanjungnya.


"Waaah kamu ini Van! saya tidak heran kalau keponakan saya Prisil dulu sangat tergila gila sama kamu, bahkan sampai berani melakukan apapun demi mendapatkan kamu! kalau saja Arga ini anak perempuan, pasti saya juga sudah menjodohkannya sama kamu, heheheee!" ucap pak Arjuna memujinya, namun karena beliau ada menyebut nama Prisil, seketika itu langsung membuat Irvan merasa jenuh.


"Papah nih apa apaan sih?!" tegur Arga yang tau kalau Irvan sangat sensitif dengan nama kakak sepupunya itu.


"Mmm.. berhubung sudah larut, saya ijin pulang dulu ya Om, Arga?" pamitnya yang langsung berdiri sambil menjulurkan tangan dengan wajah agak sedikit kaku, kemudian papah Argapun berdiri dan langsung membalas jabatan tangannya.


"Iya iya, kamu juga pasti sangat lelah karena baru datang, cepat istirahat, jangan sampai sakit!" Sahut pak Arjuna sambil memberi pesan layaknya keanak sendiri.


Irvan yang perasaan jadi tidak nyaman setelah mendengar nama Prisil disebut sebut, tiba tiba saja tertegun saat melihat kolam renang dihadapannya, kolam yang permukaannya sedikit berombak karna tiupan angin malam, dan kolam tingginya hampir dua orang dewasa.


Didalam otaknya, langsung terputar membayangan kalau kemarin malam, dalamnya kolam air dingin ini hampir saja merenggut nyawa pujaan hatinya itu.


DEGDEG! DEGDEG! detak jantungnya berdebar debar seperti sedang menyaksikan hal tragis dihadapannya.


TAP!


Mendadak kakinya melangkah mundur satukali menahani tubuhnya yang hampir terjatuh. Kemudian ia merasakan seluruh sendi diseluruh tulang tulangnya melemas hingga membuatnya jadi hilang keseimbangan.


"Kak Irvan?!" tegur Arga yang segera berlari kearahnya. "Kakak kenapa kak? kakak sakit?" tanya cemas Arga saat melihat wajah Irvan yang tiba tiba memuncat setelah memandangi kolam renangnya.


Irvan menggeleng sambil memeggangi kepalanya yang terus saja membayangi Dara yang pada saat itu berada didalam sana dengan keadaan dirinya yang tidak bisa berenang.


"Dara, kemaren (bergetar).... dia ada disana?" tanya Irvan dengan tatapan ngeri melihat air yang dalam itu sudah menenggelamkan tubuh mungil Dara

__ADS_1


Melihat ekspresi Irvan yang menegang, pak Arjuna yang pernah mengalami trauma seperti diapun langsung berniat memberikan support.


"Van?" tegurnya sambil menghampiri, kemudian menepuk pelan bahu pria yang baru menginjak usia dewasa itu. "Pasti kamu penasaran ya bagaiman Dara saat tenggelam kemarin? Tapi Van, maaf, om gak bisa cerita, bahkan untuk sekedar mengingatnya lagipun, om gak sanggup!" Ucap pak Arjuna yang juga sambil memandangi air didalam kolam.


GLEG!


Tenggorokan Irvan terlihat menelan liurnya, kemudian bibirnya bergetar.


"Kalau buat kita yang bisa berenang, kolam ini sangat mengasikkan, tapi buat yang nggak bisa kayak Dara, pastinya sangat mengerikan!" kata Irvan sambil melamun, kemudian om Arjuna mulai menceritakan sedikit tentang alasan dia tidak ingin mengatakan kondisi Dara saat dia tengelam :


"Mungkin banyak yang tidak tau kalau Arga itu sebenarnya punya satu kakak perempuan, namanya Alia. Dia banyak kemiripan sama Dara, makanya saat pertama kali Arga membawa Dara kerumah saat mereka baru pacaran, om langsung suka walaupun om belum tau latar belakang dia itu siapa!" ceritanya yang juga sambil melamun.


Irvan yang memang sudah tau seluk beluk keluarga Arga melalui informasi yang Adhi berikan dulu, tidak lagi membuat dia merasa penasaran apalagi ingin menanyakan ada dimana Alia kakaknya Arga itu, karna Alia itu memang sudah lama meninggal akibat tenggelam disungai Mahakam, dan tentu akan cuma membongkar kesedihan masa lalu mereka kalau dia berbasa basi menanyakan hal itu.


"Terima kasih om... terima kasih sudah menyelamatkan adik saya!" ucap Irvan menunduk sembari mengusap tetesan airmatanya dengan jari.


"Sudah sudah, berjodoh atau tidaknya Dara dengan Arga, kalian sudah saya anggap keluarga sendiri!" sahutnya berusaha menenangkan.


"PAPAH!!" tegur Arga yang tidak terima ada kata tidak jodoh yang tidak sengaja terlontar dari mulut papahnya. Dan pak Arjuna pun langsung salah tingkah kepada anaknya,


"Eeh..iya, maaf nak! maksud papah tadi tuh......"


mendengar Arga meraju kepada papahnya, Irvan pun kembali berpamitan dan langsung meninggalkan mereka yang masih ribut ditepi kolam.


Setelah berjalan tidak sampai lima menit dari rumah Arga, Irvan yang baru masuk kedalam rumah Dara tiba tiba terkejut mendapati adik manjanya itu masih duduk didepan tv dengan matanya yang masih terlihat segar.


"Loh dek, kok belum tidur? (melirik kearah jam dinding) ini udah jam sebelas, sudah hampir tengah malam!" dengan langkah cepat ia segera menghampiri kemudian duduk disampingnya.


"Aku belom ngantuk kak!" sahut Dara sambil mengubah arah duduknya menghadap ke Irvan.


"Kok bisa belum ngantuk, biasanya kan kamu tidur cepat? lagian kamu kan gak boleh bergadang sama sekali!" tanya Irvan bingung karena selama Dara menjalani pengobatan darah, dia diberikan dua suplemen khusus pagi dan malam, dan yang khusus malam itu mengandung obat tidur yang efeknya tidak sampe setengah jam bisa membuatnya langsung terlelap.


"Aku mau tunggu kakak pulang dulu, baru minum obat!" jawabnya tanpa beban.


"Yaa Tuhan! kamu apa apaan sih dek? kakak cuma kerumah Arga pun kamu masih nggak percaya?!" tanya Irvan dengan ekspresi kaget sekaligus kesal yang membuat Dara jadi menunduk ketakutan, dia merasa dimarahin seperti waktu itu lagi.


"Aa..aku.. aku bukannya gak percaya, aku cuma aku, aa...." melihat Dara gugup, tangan Irvan segera merangkul dan memeluknya, dia langsung teringat saat dulu pernah membuat gadis itu pingsan gara gara dia bercanda memarahinya.


"Ssstttt... (mengusap usap punggung Dara) Kakak nggak marah, cuma kaget aja kamu belum minum obat sampe selarut ini!" bisiknya, namun Dara terlanjur kaku karena takut. "Diminum dulu gih obatnya? biar cepet bisa tidur!" perintahnya yang langsung dijawab anggukan kecil oleh Dara.


Dengan raut wajah yang masih kaku dan pandangan mata masih menunduk kebawah, si mungil segera melepaskan diri dari pelukan kakak yang selalu dirindukannya itu, kemudian dia berjalan menuju kamarnya tanpa mengeluarkan kata atau suara sedikitpun dari bibir yang tadinya cerewet, tentu saja sikapnya itu membuat Irvan jadi merasa bersalah dan berniat akan meminta maaf kepadanya setelah dia selesai minum obat.


Tidak terasa sudah limabelas menit berlalu, Irvan yang dari tadi asik menonton TV sampai tidak menyadari kalau daritadi Dara belum juga kembali kepadanya.


"Mana Dara?" gumam Irvan dengan perasaan sedikit curiga.


KLIK!


Dimatikannya TV kemudian mulai melangkah berniat menyusuli Dara kekamarnya.


Namun baru saja melihat pintu kamar Dara dari kejauhan, Irvanpun langsung mempercepat langkah kakinya karena bingung dengan keadaan pintu kamar gadisnya yang tidak biasanya terbuka lebar seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2