Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#94. Keceplosan


__ADS_3

Tengah malam sekitar pukul dua dini hari, Dara terbangun dari tidur sehariannya karena merasa sesak napas. Saat ia membuka mata, dilihat sudah ada selang tipis menjulur diwajah dan dilengannya, namun rasa perih dilambung membuat sedikitpun oksigen tidak terasa ada yang masuk keparu parunya.


"Kak Sovia...?" panggil Dara dengan suara pelan dan lemah. Sovia yang sedang tidur dikursi samping kasurnyapun langsung terbangun karena memang dia tidak tidur dengan nyenyak.


"Aaah nona? yaa Tuhan puji syukur... Akhirnya nona bangun juga!" Ucap Sovia bahagia sambil mengusap matanya yang berkaca kaca.


"Kak Sovia kenapa nangis, memangnya ada apa?" tanyanya bingung sambil sedikit meringis


"Nona sudah tidur seharian ini, saya benar benar khawatir walaupun dokter bilang tidak apa apa dan hanya menyarankan agar membawa nona kembali dirawat dirumah sakit kalau sampai besok belum ada perubahan!. Nona, apa mau saya panggilkan tuan Arga? dia tidak mau pulang dan sekarang sedang tidur dikamar sebelah!" Dara sedikit menggeleng dan melambai dengan kedipan mata. Rasa pusing dikepalanya membuat dia linglung dan sedikit lupa atas kejadian yang dia alami seharian ini.


"Apa, Arga....." baru saja ingin bertanya tiba tiba napasnya semakin berat. "Kak Sovia, dadaku semakin sesak...." keluhnya sambil merintih dan terengah engah, kemudian buru buru Sovia bangkit dari duduk untuk mengatur setelan regulator oksigennya.


"Pasti sakit magh nona jadi kambuh lagi karena sudah seharian ini perutnya kosong. Nona tunggu sebentar ya, saya akan buatkan bubur!" kata Sovia sambil melangkah keluar kamar menuju dapur.


JTEK!! syuur... kletek kletek..


Suara aktifitas dapur ditengah malam membuat kaget yang mendengarnya, terutama Edward yang kamarnya memang berada didekat dapur.


(Bahasa Jerman)


"Sovia? saya kira pencuri!.. kamu sedang buat apa jam segini?" tanya Edward sambil mengucek mata


"Nona baru saja bangun dan saya rasa penyakit lambungnya sudah kumat lagi, jadi saya buatkan bubur untuknya. Sudah sana lebih baik kamu tidur lagi, takutnya besok pagi pagi tuan Arga akan membutuhkanmu!" kata Sovia


"Saya tidak terlalu nyenyak untuk tidur. Sovia, apa kamu tidak merasa kalau tuan Irvan punya perasaan lain terhadap nona Dara?"


"Maksudmu perasaan lain seperti apa?"


"Perasaan cinta!"


"Iya, tuan Irvan memang terlihat sangat mencintai adiknya itu bukan? Jadi apa yang kamu pikirkan tentang itu? bahkah saya lihat nona Darapun sangat menyayanginya walaupun dia sedang tidak ingat masa lalunya. Jadi, bagus bukan kalau mereka memang saling menyayangi?" Jawab Sovia dengan santai


"Bukan bukan, bukan cinta seperti itu maksud saya, melainkan cinta terhadap kekasih!" sahut Edward menjelaskan


"Apa? kenapa kamu bisa berpikir sejauh itu?!" tanya Sovia tidak percaya


"Hey Saya ini laki laki dan saya sangat tau perbedaan antara memandang saudara atau kekasih!" jawab Edward berusaha meyakinkan


"Menurut saya itu tidak mungkin, kamu lihat sendiri orang tua nona sudah terbiasa dengan keakrabran mereka berdua, dan bahkan nyonya Aina pun memang menganggap tuan Irvan itu sebagai anak sulungnya!. Saya yakin kamu sudah salah menilai, karena selama beberapa hari tuan Irvan disini saya melihat mereka memang seakrab adik dan kakak. Sudahlah Edward, lebih baik kamu kembali tidur saja sana! mungkin otakmu sedang lelah dan butuh istirahat jadi imajinasimu terlalu tinggi!" Kata Sovia


"Yaa terserah pemikiramu saja mau percaya atau tidak, yang jelas saya yakin kalau tuan Irvan itu memang mencintai nona seperti kekasihnya!" Ucap Edward cemberut karena tidak dipercaya, kemudian berlalu masuk kembali kekamarnya.


"Aaah dasar manja... kamu terlalu jauh berpikir sampai kesana, kalau memang benar dia mencintai seperti yang kamu katakan maka tidak mungkin dia akan pergi tanpa izin hingga menyakiti nona dan membiarkan tuan Arga yang akan menjaga pujaan hatinya!" Ucap Sovia cuek sambil mengaduk aduk masakannya.


Sovia dan Edward tidak menyadari kalau Arga sedang mendengarkan pembicaraan mereka dari balik tembok dibelakangnya.


"Kak Irvan mencintai Dara? apa mungkin? Tapi, aku juga memang pernah mencurigai hal itu. Kalau gitu aku harus mengujinya nanti!" Gumam Arga dalam hatinya dan mulai berpikir pikir mencari cara, kemudian ia pergi meninggalkan dinding dapur tempat ia barusan menguping dan segera menuju kekamar Dara.

__ADS_1


JGLEK, krrieet...


"Beib?..." sapa Arga saat baru masuk kekamar Dara. Namun Dara yang sedang menahan rasa sakitnya hanya menoleh lalu tersenyum tipis menyahutinya.


Walaupun lagi banyak pikiran diotaknya, Arga tetap berusaha tersenyum lebar saat langkah kakinya semakin dekat dengan Dara.


"Kamu beneran nginep disini beib?" tanya Dara tidak menyangka karena sekalipun Arga memang belum pernah bermalam dirumahnya.


"Iya, aku tidur dikamar sebelah. Kamu, yang mana yang terasa sakit?" tanya Arga perhatian sambil mengecup lembut kening Dara


"Nggak ada.." jawab Dara berusaha membohonginya. Arga yang tau hal itu sama sekali tidak marah dan malah ingin berusaha meyakinkan Dara agar selalu jujur padanya.


Tanpa sedikitpun menurunkan senyuman dari bibirnya, Arga duduk dikursi samping ranjang tempat Sovia tadi berjaga kemudian dia meraih lalu menggenggam tangan gadisnya itu sambil berkata:


"Beib.. Apa selama ini kamu masih nggak percaya sama aku? kenapa kamu selalu ingin menutup nutupin masalahmu dari aku? Aku mohon beib, jangan pernah lagi kamu pendam rasa apapun itu sendirian. Rasa sakitmu, rasa kecewamu, marahmu, sedihmu, pokoknya apapun itu!


Aku tau kalau mungkin aku memang nggak bisa merasakannya juga, tapi aku ngerti beib, aku paham! Jadi, mulai sekarang biarkan aku membantu mengurangi setiap rasa yang tidak nyaman itu, Yaa?" pinta Arga berharap sambil mengecup tangan Dara yang lemas.


Mendengar ucapan Arga yang tatapannya penuh kehangatan, Dara pun tersenyum lebih lebar dengan mata yang berbinar binar karena terharu. Sedikit demi sedikit ingatan tentang kejadian tadi pagi mulai kembali diotaknya dan perlahan bayangan kelakuannya terhadap Arga mulai jelas lagi hingga membuat dirinya jadi merasa malu dan merasa bersalah pada pria dihadapannya itu.


"Iya Beib aku percaya sama kamu dan, aku minta maaf atas kejadian tadi pagi yang lagi lagi sudah merepotkanmu so....."


"Beib, kamu nggak pernah merepotkan, tapi justru aku yang belum becus menjaga hati kamu supaya bahagia! aku sadar kalau aku belum bisa menjadi seperti yang kamu harapkan......"


"Sssstt...!!" Dengan cepat jari Dara menutup bibir Arga supaya bungkam


"Nggak beib nggak.. aduh, salah lagi kan!" sahut Arga meyakinkan membuat Dara jadi tertawa kecil saat melihat ekspresinya. Namun dalam sekejap mimik wajahnya cerianya berubah serius,


"Emmm.. aku sebenarnya......." Dara diam karena ragu ragu


"Kenapa sayang? ayo ngomong aja, aku siap dengerin apapun yang mau kamu katakan!" desak Arga penasaran. Dengan mengumpulkan kekuatan dihati, Dara pun mulai mempertanyakan sesuatu yang sangat membenak dihatinya.


"Beib, apa bener kalau... kalau kak Irvan itu bukan kakak kandungku?" dalam sekejap suasana dikamar Dara menjadi hening.


Arga sempat berpikir ingin mencari alasan lain dan mengulur waktu untuk menjawabnya, namun Dara menggerakan tangannya bermaksud memberi isyarat agar Arga cepat menjawab. Dan baru saja Arga ingin menjawab tiba tiba Sovia datang dengan nampan ditangannya.


JGLEK!


"Aah! tuan muda ada disini?" tegur Sovia sambil menghampiri. "Ini saya bawakan bubur untuk nona, tapi masih panas! apa mau dita...."


"Sini! Biarkan saya yang meniupi dan menyuapinya, istirahatlah dikamarmu!" kata Arga sembari berdiri dan mengambil nampan dari tangan Sovia, lalu Soviapun segera mengangguk menurutinya, dan setelah Sovia pergi Dara langsung menagih jawabannya atas pertanyaan tadi.


"Beib...?" panggil Dara dengan mata memelas membuat hati Arga luluh dan tidak tega lagi mengulur jawaban.


"Aku akan ceritain apa yang aku tau tentang dia, tapi kamunya sambil makan ya?" bujuknya


"Iya..." sahut Dara sambil berusaha bangun, dan dengan sigap Arga membantunya bersandar.

__ADS_1


"Sini!" kata Arga yang tangan dengan cepat melingkar dipunggung Dara lalu menarik bantalnya kebelakang untuk disandarkan. "Gimana, udah nyaman posisinya?" Darapun mengangguk dengan sedikit senyuman.


Sambil menyuapi, Argapun mulai menceritakan tentang hubungan keluarga Irvan dengan keluarga Dara hanya sebatas yang dia tau saja.


"Jadi ibu yang mamah ceritakan tinggal didepan rumah itu sebenarnya ibunya kak Irvan dan beliau adalah ibu angkatku, begitu maksudnya?" tanya Dara yang baru ingat kalau mamahnya sering bertelponan dengan tetangga depan rumah.


"Iya beib, tapikan keluarga kalian memang sudah menganggap saudara satu sama lainnya. Jadi...." belum selesai Arga menjelaskan Dara memotongnya.


"Jadi....(ekspresi Dara mulai serius) aku dengan kak Irvan gak ada hubungan darah sama sekali?!" pertanyaan yang dilontarkannya barusan seolah olah menunjukkan ketidak terimaannya dengan kenyataan yang dia tidak ingat. "Pantes aja dia memang gak betul betul punya rasa sayang sama aku! Hiks...." ucapnya sedih.


"Beb....."


Dalam waktu yang bersamaan, Irvan yang baru sampai diSamarinda pada dini hari tadi tiba tiba terbangun dari tidur karna merasa ada yang mengejutkan dirinya.


"Hah..hah..hah...! ternyata aku cuma mimpi?!" gumamnya terengah engah sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. "Tapi kenapa rasanya seperti nyata ya?.. Aah mungkin aku cuma kecapean aja!" pikirnya berusaha menepis ketidak nyamanan dihatinya.


JGLEK!


"Eeh Van, kamu udah bangun sekalinya? tadi adik adikmu sebelum berangkat sekolah kepengen banget ketemu kamu, tapi ibu liat tidurmu pules banget jadi ibu gak tega bangunin!" kata ibu yang langsung masuk dan membukakan jendela kamarnya. Sekilas Mata Irvan melirik kearah jam didindingnya yang menunjukan sudah pukul sepuluh siang.


"Ibu, Maaf, aku boleh minta tolong ambilkan handphone didalam tas kah?" pinta Irvan yang baru teringat dengan benda sakunya yang dari sebelum naik pesawat kemaren pagi belum ada hidupkan jaringannya.


"Yaa elah Van, jarak dari kasur ke meja kan deket aja!" sahut ibu yang lagi sibuk menyapu lantai balkon kamarnya.


Mendengar penolakan ibunya barusan, Irvan tidak berniat berkata apa apa dan langsung turun sendiri dari atas ranjangnya. Karena baru saja bangun tidur secara terkejut, kepalanya semakin terasa pusing saat berdiri, dengan kaki lemasnya dia berjalan terhuyung huyung kearah meja. Setelah merogoh isi tasnya dengan mata tertutup, diapun segera menon-aktifkan mode pesawatnya :


TING, TING, TING! dalam sekejap langsung berpangku tindih bunyi notifikasi yang begitu banyak pesan masuk, yang isi dari pengirimnya:


Roy:


"Van, aku nggak akan komentar lagi mengenai kecemburuan mu terhadap Arga, tapi bukan berarti aku bakal diem mengenai masalah sikapmu terhadap Dara. Kalau kamu memang mau menyerah atas cintanya itu urusanmu, tapi apa kamu akan membuang kenangan masa kecil kalian? Sekali lagi ingat, penyesalan itu akan selalu datang terlambat!"


Arga :


"Kak Irvan, apa kakak akan memutuskan tali persaudaraan kakak dengan Dara? itu gak akan masalah buat aku karna aku akan segera membawa Dara pergi ketempat yang orang tidak akan menemukan kami. Tapi gimana dengan hubungan keluarga kalian?"


Sovia (Bahasa Inggris):


"Tuan Irvan sebelumnya saya mohon ma'af, saat tuan pergi kemarin pagi saya tidak sengaja mengatakan bahwa tuan dan nona bukanlah saudara kandung dan setelah itu nona langsung histeris dan hampir kumat penyakit darahnya Dan sampai saat ini nona masih tidur tanpa asupan apapun seharian. Sekali lagi saya mohon maaf atas kecerobohan yang saya lakukan, dan saya harap tuan Irvan berkenan segera menghubungi nona demi kesehatannya sebelum penyakitnya akan semakin memburuk." Saat Irvan membaca pesan sari Sovia ini, waktu masuk yang tertera baru sekitar dua jam lalu yang menandakan kalau waktu diJerman baru pukul satu tengah malam.


"A,apa? berarti dia..dia, dari kemarin malam belum...." tiba kepala pusingnya tambah sakit hingga membuat pandangannya berkunang kunang dan mulai sempoyongan.


Shyuuung.. BRUG!! KLTAK!!


"Hah suara apaan tuh?" gumam ibu yang masih membersihkan teras balkon kemudian kepalanya mengintip kedalam kamar.


"Yaa ampun Irvan?!!" Sontak ibu terkejut dan langsung menghampiri putra sulungnya terkapar dilantai bersama handphone disampingnya. "Van kamu kenapa nak?" tangan ibu menepuk nepuk pipi Irvan yang permukaan kulitnya terasa panas.

__ADS_1


__ADS_2