Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#108. Memalukan


__ADS_3

(Di halaman belakang)


"Iya om?"


"Irvan maaf, kayaknya om agak kesulitan untuk memecat Melinda**!" kata om Romy to the point


"Kenapa om? bukannya om tinggal kasih dia surat pemecatan dan uang pesangon aja?" tanya Irvan merasa janggal dengan om nya.


"Kalau itu om tau Van! tapi masalahnya, tadi dia bilang dia membutuhkan pekerjaan ini untuk menafkahi ibunya yang lagi sakit dan membiayai adik-adiknya yang masih sekolah. Jadi, om nggak tega Van**!" jawabnya dengan nada lirih. Mendengar penjelasan om Romy, hati Irvan ikut tersentuh prihatin.


"Oooh, gitu! Tapi gimana ya?.... Emmm....."


Sejenak Irvan berpikir. Dia jadi bingung untuk mengambil keputusan yang terbaik, disisi lain dia merasa sudah sangat risih dengan Melinda, tapi disisi lainya juga jadi tidak tega dengan keadaan yang dia akui didepan om nya.


"Begini aja deh om, tolong om atur supaya dia dipindahkan ke bagian lain yang kira-kira nggak akan bertemu dengan saya!" pinta Irvan.


"Oowh begitu ya? iya-iya nanti om cari tau bagian mana yang seperti itu. Ya sudah, om cuma mau kabarin itu aja kok**!"


"Iya om, sebelumnya terima kasih!" sahutnya.


Sambil mengantongi handphone, Irvan terburu-buru ingin masuk kembali kedalam rumah untuk melihat keadaan Dara yang tadi habis dia bentak.


"Apa belom selesai ganti bajunya?" gumamnya saat melihat ruang tengah masih kosong, kemudian menuju kekamar Dara.


TOK TOK TOK!


"Dara? kamu belom selesai ganti baju kah dek?" panggil nya sambil mengetuk pelan.


JGLEK, kriieet...


Berdiri seorang perawat yang membuka kan pintu untuknya.


"Tuan Irvan, sepertinya nona tidak jadi ikut pergi!" kata Sovia takut-takut.


Tanpa bertanya kepada Sovia, Irvan langsung masuk kedalam menghampiri Dara yang sedang berbaring diatas ranjang.


"Dek kamu kenapa sayang?" bertanya dengan cemas karena melihat kedua kelopak mata adiknya terpejam.


"Tadi nona Dara mengganti pakaiannya sendiri dengan baju tidur, kemudian langsung naik keatas ranjang!" pengaduan Sovia yang masih berdiri didekat pintu.


Sejenak Irvan memperhatikan bibir Dara yang mulai membengkak akibat terjatuh tadi.


"Sovia, tolong tinggalkan kami berdua.." pinta Irvan tanpa menoleh ke arah perawat yang dari tadi memperhatikan dirinya itu.


Dan tanpa banyak pertanyaan, Sovia pun segera menurutinya.


JEGLK.. (Suara pintu tertutup)


"Dek, kamu marah ya?" tanyanya lagi sambil membungkuk di hadapan wajah Dara.


Tanpa membuka mata, Dara hanya sedikit menggeleng merespon pertanyaan dari kakaknya itu.


"Terus kenapa, bukannya dari semalam kamu mau ikut? sekarang sudah siap pergi kok malah mau tidur lagi?"


"Gak apa-apa kak, aku bisa ikut lain kali aja. Bibir ku sakit banget!" jawabnya dengan mata masih terpejam.


"Bengkaknya itu sebentar aja, kalau ditempelin es pasti cepet sembuh. Gimana kalau sampe mall kita langsung beli eskrim, yuk?"


"Nggak usah kak, aku mau dirumah aja so......(GREEP!) AH, KAKAK?!" Teriak Dara dengan mata terbelalak kaget.


Bagaimana dia tidak terkejut? Dirinya yang belum selesai bicara, dengan gerakan sangat cepat, tau-tau Irvan mengendongnya tanpa aba-aba dan langsung membawanya melangkah keluar kamar.


"KAK.. MAU BAWA AKU KEMANA?!" tanya Dara sambil berusaha memberontontak, namun dekapan kakaknya yang bertubuh kekar tidak mampu membuat dia melepaskan diri.


"Apa-apaan kamu? Kakak sudah nungguin kamu ganti baju dari tadi, terus sekarang kamu bilang nggak jadi ikut? nggak bisa, kamu harus tetap ikut!!" jawab Irvan yang arah kakinya menuju keluar rumah.


"Apa?! Tapi kak, aku ini lagi pakai baju tidur!" ucap Dara mulai panik.


"Biarin aja!!" sahut Irvan tidak peduli membuat rasa panik Dara semakin menjadi-jadi.


"AH! GAK MAU KAK, AKU MALU, TURUNIN AKU, BIARIN AKU GANTI BAJU DULU!!" teriaknya histeris saat Irvan membawanya sudah sampai disamping mobil, namun badan mungilnya kalah tenaga hingga tidak mampu berkutik.

__ADS_1


JGLEK (membuka pintu mobil depan)


Dengan hati-hati tapi pasti, didudukan nya Dara dikursi samping pengemudi.


"Diam disini!" perintah nya.


"Kak tolong kak, izinin aku ganti baju dulu ya?" rengeknya memasang muka melas, tapi Irvan yang sudah tidak sabar, dengan wajah dingin malah mencuci pintunya, 'KLIK!!'


Setelah itu buru-buru dia mengitari mobil lalu masuk kedalam nya.


Dara yang masih trauma bentak kan Irvan tadi, akhirnya tidak mampu mengelak karena takut dimarahi lagi.


Tiba-tiba,


TAP TAP TAP!!


"Tuan, Nona?!" Sovia berlari dari dalam rumah menghampiri mobil mereka.


"Kak, tunggu!" tangan Dara menahan tangan Irvan yang sudah siap menyalakan mesin, dan sambil menatap bingung si kakak pun menurunkan kaca jendela disamping Dara.


"Ada apa Sovia?" tanya Irvan to the point.


"Maaf tuan, apa tidak sebaiknya saya ikut untuk menjaga nona?"


"Apa yang kamu khawatir kan?" Irvan balik bertanya dengan tatapan serius.


"Tentu saya khawatir, biasanya nona kemana-mana selalu dengan saya karena takut sakitnya kumat secara tiba-tiba!"


"Iya, kamu memang benar! tapi, siapa yang lebih dibutuhkan kalau dia sedang kumat?"


Sontak Sovia tertegun dan langsung mundur dua langkah dari jendela mobil.


"Maafkan atas kelancangan saya tuan!" ucapnya kaku.


Jendela kaca kembali naik beriringan dengan hidupnya mesin mobil kemudian langsung meluncur keluar gerbang.


Dara yang masih takut melihat ekspresi Irvan yang kaku, cuma bisa mengepalkan tangan nenahan perasan gugup nya sambil menunduk memperhatikan pakaian tidur yang dikenakannya.


Melihat adik lugunya membisu, dengan senyuman jahil Irvan pun mulai menggoda nya,


"Kamu kenapa diem? tadi cerewet banget!"


tegur Irvan pura-pura tidak paham.


"Kak aku ini........" jawaban Dara langsung terputus setelah dia mengingat bentakkan Irvan gara-gara high heels tadi.


"Kamu kenapa? ngomongnya lanjutin dong!" pancing Irvan karena ingin mengetahui keinginan gadis imutnya.


Namun Dara menggeleng membuat Irvan kembali merasa bersalah kepadanya.


"Kamu masih marah gara-gara kakak bentak tadi ya?" Dara masih menunduk tak bergeming.


"Maaf ya sayang, kakak nggak ada maksud mau marahin kamu, kakak cuma mau kamu apa adanya, jadi dirimu sendiri!" ucap Irvan sambil sesekali menoleh kearahnya dengan tatapan sayang.


"Tapi kak, " Masih menunduk dan ragu-ragu.


"Kenapa, Arga?" Dara diam.


"Memang Arga ada mintamu supaya belajar pakai high heels?" Dara menggeleng.


"Kalau gitu apa yang kamu cemaskan? bukannya malah aneh kalau kamu melakukan hal yang tidak bisa dan tidak biasa? Arga suka sama kamu bukan karena sepatu bukan? jadi, buat apa kamu memaksa mau pakai high heels, gak ada manfaat nya kan? jadilah dirimu sendiri!" ucap Irvan menasehati sambil membelai.


Tidak terasa, mobil yang dikemudikan Irvan sudah tiba diparkiran mall.


"Ayo dek!" ajaknya setelah mematikan mesin. Dara yang dari tadi murung tidak langsung menjawab dan malah berpaling muka kearah luar jendela.


"Kakak aja, aku biar tunggu disini!" sahutnya sambil tambah kuat menggenggam pakaiannya.


CTEK... BRAAK!


Tanpa bertanya dan berkata-kata lagi, Irvan segera keluar dari mobil lalu membukakan pintu bagian Dara.

__ADS_1


"Ayo! apa perlu kakak gendong lagi?" tanya nya dengan sedikit mengancam, dan tentunya Dara tidak akan mau kalau dia sampai digendong kedalam mall.


"Apa sih yang kakak lagi pikirin? yang kakak tawarin ke aku semuanya memalukan!" jawab Dara dengan mata berkaca-kaca dan bibir bengkaknya mulai bergetar.


Dengan tatapan iba, Irvan langsung membungkuk lalu mengecup kening Dara, dan dengan penuh perasaan tangannya melingkar kepinggang si mungil kemudian memeluk gadis imutnya itu yang masih duduk dikursi mobil.


"Kamu masih marah ya dek?" Dara menggeleng.


"Terus kenapa gak mau ikut?"


"Aku malu.." jawab Dara berbisik lirih.


"Malu sama siapa? kakak yang bawa kamu jalan nggak merasa malu sama sekali kok!" ucap Irvan penuh percaya diri.


"Kakak itu bukan aku, tentu nggak bisa merasakan apa yang aku rasakan. Orang-orang didalam sana pasti bakalan menertawakan aku!"


"Kamu masih mikir kalau kita berbeda? pegangan!" perintah Irvan yang mecurigakan.


Mendadak dia mempererat pelukannya lalu, HAP!!


"AAAHG.. !!" teriak Dara yang kaget karena lagi-lagi Irvan mengangkat dirinya secara mendadak, dan kali ini posisinya bukan lagi digendong didepan dada melainkan diangkat sang kakak diatas bahu dengan satu tangan.


BLAM!, KLIK! (menutup dan mengunci pintu mobil)


TAP TAP TAP!


Dengan langkah cepat, Irvan memanggul Dara dari parkiran menuju pintu mall.


"Kak tolong turunin aku kak, iya aku ikut, aku nurut, tapi biarin aku jalan sendiri!" rengek Dara terus-menerus sambil celingukan kanan kiri karena malu.


TAP! Diturunkan nya Dara dihadapan dada kekarnya. Namun karena malu, gadis mungil itu tetap menundukkan kepala karena tidak ingin wajahnya terlihat orang lain.


"Ayo!" tangan Irvan menadah minta digandeng, dan dengan ragu Dara tetap mengangkat tangan lalu menggapai telapak tangan kakaknya.


GREB!!


Begitu erat Irvan menggenggam kemudian mereka mulai jalan beriringan.


Sepanjang jalan, Dara terus menyembunyikan wajahnya dilengan Irvan, dan Irvan pun dari tadi selalu memperhatikan gadis imut disampingnya itu.


Sampai disebuah toko pakaian khusu pria.


Irvan yang lengan satunya terus digunakan Dara untuk menyembunyikan wajah, hanya bisa memilah-milih dengan satu tangan.


"Kamu mau terus nyempil begitu sampai kapan dek? mendingan bantuin kakak milih baju nih!" pintanya.


"Enggak!" sahut Dara singkat


"Kalau nggak mau ya duduk aja dulu disitu!" saran Irvan sambil menunjuk bangku tunggal, lalu mata Dara hanya sedikit mengintip.


"Enggak mau!" sahutnya tambah cetus.


"Ya udah kalau gak mau, tapi entar kalau kakak mau nyobain baju gimana? apa kamu mau ikut juga masuk keruang ganti?"


CUPLIKAN :


Irvan : Mbak Mutya kenapa lama banget sih ngelanjutin ceritanya? mana pendek banget lagi episode yang ini!


Mutya : Iya maaf Bang Irvan, aku juga beneran nggak bermaksud mau ngelama-lamain ceritanya abang, tapi aku beneran nggak enak badan, terlebih sekarang lagi musim Corona jadi aku harus bener-bener pulih biar nggak dihinggapi virus itu.


Irvan : Iya ya aku paham, tapi sekarang sudah sembuh kan? udah bisa normal lagi kan nerusin ceritanya?


Mutya : Alhamdulillah udah bang, malahan selama sakit aku sambil mikirin ide cerita selanjutnya yang mungkin sudah aku dapat sampai 10 episode kedepan.


Irvan : Oowh syukur kalau gitu, lain kalinya lebih diperhatikan lagi kesehatan nya ya mbak?


Mutya : Iya bang Irvan terima kasih!


Irvan : Dan terutama untuk mbak dan kakak-kakak dimanapun kalian berada, maafin author saya ya karena kelamaan liburnya! Dan juga kalian semua harus selalu jaga kesehatan, jangan sampai memberi kesempatan si Covid-19 hinggap dan berkembang ditubuh kita.


Saya sayang kalian semua 😘

__ADS_1


__ADS_2