Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Memburuk


__ADS_3


Tepat pukul delapan pagi aku menelpon sekretaris kantorku agar dia membawakan semua berkas pekerjaanku kerumah sakit sebelum jam makan siang, soalnya sebelum jam itu aku harus menemani Dara sarapan dan medical chek up dulu.


Karena tadi sudah terlalu kesal dengan sikap Dara yang terlalu mudah percaya sama orang yang baru dikenalnya (Indra), akupun jadi bingung harus menjelaskan seperti apa lagi agar dia mengerti bahwa sikap kerasku selama ini bertujuan untuk melindunginya.


Jadi aku hanya bisa membisu tanpa bicara sedikitpun dengannya, apapun yang akan dia pikirkan tentangku aku tidak akan peduli, namun begitu aku akan tetap berada disini untuk menjaganya, sebab menjauhkan dia dari orang - orang yang tidak baik itu sangat penting bagiku.


Sampai hari kedua setelah kejadian itupun aku masih diam, bukan karena


tidak punya kata yang ingin diucapkan, justru karena kata kata itu sudah terlalu banyak hingga aku tidak tau harus memulainya darimana.


Sesekali dia melirik kearahku, dan aku sangat berharap dia akan mengeluarkan kata atau pertanyaan lebih dulu, namun yang kuharapkan tidak juga kunjung datang sampai - sampai aku tidak tau kalau sekalinya dia sudah mendesak mama agar segera mengeluarkannya dari rumah sakit tanpa sepengetahuanku.


(hmm cakep! 👍🏻)


Malamnya :


"Van kamu lagi dimana sekarang?" tanya mama dari telpon


"Aku baru aja sampe rumah sakit nih mah, tadi abis dari kantor aku tukar mobil dulu dirumah!" Jawabku, yang kupikir mamah sedang menungguku dikamar Dara untuk bergantian jaga


"Dara sudah mamah jemput Van, nih mama lagi ngantarin barang - barangmu kerumah!" seketika itupun aku langsung berhenti melangkah


"Loh kok sudah pulang, bukannya nunggu sampai hasil chek up-nya keluar dulu?" tanyaku tertegun kaget


"Yah kamu kayak nggak tau Dara aja kalau sudah merengek sama papanya" jelas mama


"Ya sudah kalau gitu mah, habis selesaikan urusan aku nanti kerumah liatin dia.." Kataku


'Aah bener - bener anak ini, gara - gara sudah aku diamin supaya dia mikir eh malah aku yang dia tinggalin!' gumamku gregetan sambil berbalik arah


Sesampainya dirumah Dara, kudapati pintu rumah dalam keadaan tidak terkunci namun suasana didalamnya sudah sepi, kemudian akupun segera naik kelantai dua dimana semua kamar tidur berada disana.


'Masa pintu belum dikunci sudah pada tidur semua sih? kalau mamah mungkin iya karena sudah kecapean, coba ku cek kamarnya Doni dulu!' pikirku


JEGLEK! (buka pintu)


"Ah mas ....?!"


"Sssstt... Don, Dara beneran sudah pulang?" tanyaku berbisik pada Doni yang sedang sibuk dengan gadget-nya


"Iya, dia ada dikamarnya.." jawabnya ikut berbisik,


Tadinya aku berniat ingin mengetuk pintunya dulu, namun karena takut mengganggu mama yang kamarnya tepat bersebelahan dengan Dara, jadinya aku memberanikan diri langsung membuka secara perlahan, itupun karena aku sama sekali tidak mendengar ada sedikitpun suara dari dalamnya.


Dengan perasaan was - was (takut lagi ganti baju,dsb) ku intip sedikit demi sedikit kedalam kamarnya yang ternyata dia sudah berada diatas kasur dengan berbalut selimut yang menutupinya.


'Gadis ini ....' sembari tanganku menjulur ingin menyentuhnya,


'Ah jangan ganggu, biarin aja dia istirahat' pikirku, kemudian aku segera keluar dari kamarnya dan turun kelantai bawah. Tadinya aku ingin segera pulang kerumah namun langkahku terhenti saat sudah menggenggam daun pintu.


"Nanti, kalau dia butuh apa - apa tengah malam atau dia mengigau lagi kayak malam itu gimana?" pikirku. Akhirnya kuputar anak kunci dan kembali kelantai dua namun aku berniat menjaganya dari kamar Doni.


.


.


Paginya.


"Ugh!"


Silaunya sinar matahari yang menyelinap masuk dari celah gordeng membuat aku tersadar bahwa hari sudah siang.


Dengan kalang kabut ku tolehkan kepala mencari jam dinding dikamar anak laki - laki yang kurus tinggi ini.


"Don, Doni, bangun Don, sudah siang!" kataku sambil menggoyang - goyangkan badannya


"Mmmm, kenapa mas?" sahutnya sambil duduk dan mengucek mata


"Kamu nggak sekolah? sudah siang ini, jam dinding mu kemana?!" tanyaku bergegas berdiri


"Aku masuk siang mas, jamnya ada di atas meja belajar.." jawabnya sambil merebah lagi


"Duh dasar...!" kataku sembari memperhatikan jam beker kecil yang dimaksudnya tadi kini sudah menunjukan pukul sembilan


"Waduuuh!" Segera aku masuk kekamar mandinya untuk mencuci muka


Semalam aku gelisah sampe - sampe susah tidur dan sekarang malah kesiangan sampe jam segini!


Tanpa bersuara aku tidak ingin membangunkan Doni yang sudah melanjutkan tidurnya lagi


'Dara udah bangun apa belum ya, kok sepi?' dengan curiga aku membuka pintu kamarnya

__ADS_1


Dikasur, dikamar mandi, dibalkon tidak ada, mungkin dia dibawah, pikirku, namun


"Lhooh kok? aku baru sadar kalau kamar ini sangat harum oleh parfumnya!" Segera aku berlari kebawah sambil menekan nomor hape mamah


"Hallo Van ada apa?" tanya mama


"Mah Dara kemana?" tanyaku tanpa basa basi lagi


"Tadi pagi dia maksa mau turun sekolah, jadi sudah mama antar ...." jawab mama


"Owh ya sudah kalau gitu mah.." kataku


Disisi lain aku merasa tenang karena kemungkinan dia memang sudah pulih walaupun hasil tesnya belum keluar, tapi disisi lainnya entah kenapa perasaanku dari tadi malam gelisah tanpa sebab dan terus saja kepikiran sama dia.


Saat aku sampai dihalaman rumah, kulihat lampu balkon kamarku masih menyala.


'Lhoh Ibu kemana yaa?' tanyaku sendiri sambil membuka pintu rumahku


Sesampainya didalam, sekalinya ibu sedang fokus dengan TV yang sedang memutar drakor favorinya, sementara itu kulihat juga mesin cuci dalam keadaan ikut berputar...


"Hmm ibu - ibu jaman now, hebat!" kataku sambil menggeleng namun dia tidak sedikitpun menanggapinya, Kemudian aku langsung naik kekamar untuk segera mandi dan bersiap pergi kekantor.


(Hati - hati Van, bisa dicakar ibu kamu gangguin dia nonton!)


Setelah sudah siap berangkat, aku menyempatkan diri untuk menyantap sedikit sarapan yang sudah ibu buat tadi pagi sambil duduk disebelahnya. Saat iklan sesekali dia mengajak ngobrol dan yang pastinya dia terus menanyakan keadaan anak gadis cerewetnya itu sampai makananku habis.


"Bu, aku berangkat dulu yaa, kalau ada apa - apa kabarin.." pamitku sembari mengambil kunci mobil


"Iya hati - hati, kalau sempat jemput Dara yaa kan dia sudah nggak ada yang ngantar lagi!" pesannya, sontak aku jadi terkejut mendengarnya


"Lhooh, Ibu tau darimana Dara sudah nggak adanya ngantar?!" tanyaku


"Yaa taulah, pas malam minggu lalu ibu liat sendiri dari jendela kalau Dara mutusin pacarnya!" Jelasnya


"Ooh iya.." responku sambil mengangguk lalu berangkat


Selama diperjalanan kekantor :


"Hmmm biarpun aku sudah berusaha menutupinya, ternyata orang - orang dirumah juga udah pada tau sekalinya yaa.." pikirku sambil mengingat pesan Kiki yang saat itu minta agar aku tidak menceritakan masalah Dara dan Arga pada keluarga.


"Huuuft.. sudahlah!"


Siangnya, tepat jam istirahat kantor.


"Yaa ampun, kenapa aku sampe lupa yaa?!" kataku sambil mulai mencari tempat putaran mobil


Tidak tau kenapa saat itu akupun rasanya sulit sekali mencari tempat putaran hingga malah jadi semakin dekat dengan sekolahnya Dara, dan yang membuat aku tambah bingung adalah, semakin dekat jaraknya semakin gelisah juga hatiku.


TRIIILIIING!! (Dering hape berbunyi)


"KIKI? tumben,


Hall...... "


"MAS IRVAN, MAS! DARA TADI HAMPIR KETABRAK MOTOR UNTUNGNYA SEMPAT DISELAMATIN SAMA ARGA TAPI ARGA LUKA PARAH SAMPE DILARIKAN KERUMAH SAKIT, DAN SEKARANG DARA MASIH PINGSAN DISEKOLAH?!!!" ucap Kiki tanpa jeda yang membuat aku jadi sedikit ling lung


"Yaa mas sudah dekat!" jawabku langsung mematikan hape dan segera menaikan gas mobilku


'Aduh! kenapa dadaku terasa sakit? Jangan - jangan karena ini makanya hatiku gelisah dari semalam. Arga, kamu..... huuuft!"


Tidak sampai sepuluh menit aku tiba didepan sekolah Dara, nampak pemandangan beberapa orang termasuk securitynya sedang sibuk membersihkan jalan dan akupun segera memakirkan mobil disamping gerbang.


"Mas, mas bukannya yang kemaren nyari Dara yah?" tegur security yang ternyata masih ingat denganku


"Iya pak, dimana dia sekarang?" tanyaku sambil melirik ke aspal yang masih banyak bercak darah


"Dia diruang UKS mas, tadi begini.. (bla-bla-bla)" dengan detail dia menceritakan kronologi kecelakaan Arga yang membuat aku jadi sangat tersentuh atas pengorbanannya.


"Terimakasih Pak!" ucapku


"Iya sama - sama, pokoknya dari sini lurus aja nanti belok kiri disitu ruangannya!" arahan security itu lalu aku segera berlari kesana


'Dara, kenapa minggu ini ujian mu sampe beruntun begini sih dek?' gumamku iba


Sesampainya diruang UKS, tanpa dia menyadari kedatanganku kuperhatikan dia sedang merengek meminta Kiki agar mengantarnya menjenguk Arga,


Dengan cepat kuhampiri sambil menjulurkan tangan menawarkan diri.


"Ayoo kerumah sakit!" kataku, dia malah tertegun saat melihatku yang tiba - tiba sudah didepannya. Setelah Kiki menjelaskan kehadiranku, diapun menggapai uluranku dan langsung turun dari ranjang.


"Bisa jalan gak?!" tanyaku, karena ragu saat melihat perban yang membalut lututnya, namun dengan semangat dia mengangguk.


Tapi saat baru saja mulai melangkah tiba - tiba kakinya melemah hingga membuat dia hampir terjatuh.

__ADS_1


"Sini!" kataku sambil menangkap lalu menggengongnya, awalnya dia berusaha meronta karena takut malu diliatin orang. Namun lagi - lagi setelah Kiki menjelaskan akhirnya dengan pasrah diapun bersandar dalam gendonganku sampai kedalam mobil.


.


.


.


.


Baru saja memarkirkam mobil dihalaman rumah sakit, dengan tergesa - gesa dia segera ingin turun tanpa mengingat luka yang sudah membuatnya kesulitan berjalan.


"Tunggu!" kataku sambil menahan tangannya yang hampir membuka pintu.


Bergegas aku turun dan membukakan pintu untuknya, namun lagi - lagi dimemaksa ingin berjanan sendiri..


'Anak ini...' gumamku dalam hati, Tanpa pikir panjang aku menadahkan bahuku untuk dia rangkul.


Didepan UGD,


Aku sama sekali tidak terkejut ataupun punya pemikiran buruk terhadap Amira yang sedang menunggu Arga disini, karena beberapa hari yang lalu aku sudah mengetahui semua informaai kebenaran tentang keluarganya melalui temanku.


Dengan tenang aku dan Kiki berusaha meyakinkan Dara agar menuruti saran dari Amira yang minta dia agar merawat luka - lukanya dulu dirumah, dan Amira berjanji akan secepatnya memberi informasi perkembangan Arga, namun Dara terlihat sangat kecewa karena mungkin dia merasa kalau Amira sedang menjauhinya dari Arga.


'Dek, mas minta maaf yaa, kalau mas juga belum bisa mengatakan apapun tentang kebenaran ini, karena ini semua berkaitan dengan privasi keluarga mereka yang tidak tau sampai kapan akan dirahasiakan dari kamu..' ucapku dalam hati sambil memapahnya kembali kemobil.


Dua hari setelah hari itu, Dara masih saja melamun memikirkan kondisi Arga yang sampai saat ini belum juga terdengar kabarnya.


"Dek, kalau begini terus gimana mau cari kabar Arga? besok mas pasti antar kamu asalkan sekarang kamu makan dulu, yaah?" bujukku sambil menyuapinya, dengan mata sembab diapun menurut.


.


.


.


Esoknya,


Dari setengah enam pagi aku sudah bersiap - siap untuk mengantar Dara kesekolah, dari mulai sarapan sampai diperjalanan pun dia hanya berbicara seperlunya.


"Dek? nanti telpon ya kalau sudah mau pulang, mas hari ini juga kerjanya dikantor yang deket sekolah adek..." kataku, lalu dia hanya merespon dengan anggukan.


Karena keterbatasannku, kali ini aku hanya mampu berdoa agar dia segera mendapatkan kabar baik tentang Arga, sebab sudah beberapa hari ini aku berusaha mencari informasi keberadaan Arga yang nampak mulai mencurigakan bagiku.


Siangnya tau - tau Kiki menelpon dan memintaku agar segera melihat Dara kesekolah tanpa alasan yang jelas, dan tanpa banyak pikir aku segera mendatanginya.


"Ayo sini mas, Dara ada dikelas!" kata Kiki yang sudah menungguku, lalu aku segera mengikutinya dari belakang.


Wajahnya yang kemarin sudah pucat sekarang malah tabah membiru dan sembab namun tidak terlihat habis menangis, pandangannya kosong dan hanya beberapa kali berkedip.


"Dek?!" tegurku saat melihat keadaan Dara terlihat lebih buruk daripada sebelumnya.


"Dia kenapa Ki?!" tanyaku


"Aku nggak tau mas, tadi katanya dia mau cari Amira atau temen - temennya Arga, tapi aku dengar hari ini mereka memang belum ada yang masuk sekolah, nah tau - tau aku ketemu Dara sudah diam begini...!" jelasnya


"Kalau ikut bimbel juga nggak bakal masuk keotaknya kalau begini, yaudah mas bawa aja dia!" kataku sambil merapikan semua alat tulis diataas mejanya.


Aku yang sudah semakin khawatir dengan keadaanya mentalnya tidak berniat langsung membawa pulang, melainkan aku bawa dia kePsikolong.


"Hallo Na, hari ini kamu praktek dimana?


Owh oke - oke, aku kesana sekarang!" obrolanku lewat telpon.


Sesampainya,


"Heey Van, sini - sini..!" Sapa dokter Rina kenalanku saat kuliah diBandung,


"Hari ini nggak ada praktek dirumah sakit?" tanyaku basa basi saat memasuki rumahnya sambil menggandeng Dara


"Aku pagi aja dirumah sakit kalau siang gini sudah buka prakteknya dirumah aja sampe malam, ayo duduk sini, ini adik atau pacar mu nih?.." tanyanya


"Adik" jawabku singkat sambil duduk


"Adik ketemu gede yaa, becanda hehehe!!


ayoo cerita aja ada masalah apa?" tanyanya ramah


"Bukan aku Na tapi adek ku ini, tapi, bisa gak kita ngobrol didepan aja?" tanyaku, lalu Rina mengangguk.


Akupun mulai menceritakan semua yang aku tahu tentang masalah Dara sambil sesekali menoleh kearahnya yang masih saja berdiam diri.


"Oowh begitu, yaa wajar aja sih kalau 'cinta pertama', soalnya nggak sedikit kasus kayak gini, yang bikin masalah tuh sebenarnya status Arga-nya yang masih dirahasiakan, coba aja dia tau pasti nggak bakal kayak begini kejadiannya!" jelasnya

__ADS_1


__ADS_2