Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#106. Terganggu


__ADS_3

"Dara?" Panggil Irvan berbisik pada dirinya sendiri.


Perasaan bingung bercampur cemas bergelut membuat detak dijantung didadanya menjadi kuat.


TAP, TAP TAP!


Semakin dekat jarak dirinya dari kamar Dara, semakin dipercepat juga langkah kakinya menuju kesana, dan akhirnya ia pun berlari karena terdorong rasa cemasnya tadi.


TAP! Langkahnya berhenti ditengah tengah pintu yang terbuka lebar itu,


"Hah..hah..hah...!"


Napasnya yang terengah engah dalam sekejap melega setelah ia mendapati ternyata Dara sedang berada diatas kasurnya.


"Dara? (sambil mulai menghampiri), kamu sudah tidur dek?" tanyanya penasaran karena posisi Dara membelakanginya.


Dengan langkah pelan Irvan mendekati, kemudian mengintip kearah wajah imut yang kelopak matanya terpejam itu.


"Kamu beneran udah tidur sayang?" bisiknya lagi, namun Dara tidak bergeming sedikitpun yang akhirnya Irvan memutuskan pergi kekamarnya.


Dan karena takut Dara terbangun, Irvan pun melangkah sangat perlahan kembali kearah pintu. Tapi tiba tiba saja saat akan menutup, terbesit sebuah rasa yang mengganjal didalam lubuk hatinya,


"Kok kayaknya ada yang aneh? (kepalanya menoleh ke arah Dara) aah, mungkin cuma perasaanku aja kali ya?!" pikirnya menepis rasa yang mengganjal itu.


Cklek!


Ditutupnya dengan sangat hati hati pintu kamar Dara yang tadi terbuka lebar dihadapannya.


Saat suara langkah kaki sudah tidak terdengar lagi,


"Sriks! hiks..."


Dalam keheningan malam, tiba tiba terdengar isak tangis dari arah Dara.


Setelah mendengar suara pintu tertutup, gadis yang sekalinya belum tidur itu mulai meluapkan perasaan sedih yang dari tadi ditahannya.


Tanpa ragu dia pun mulai bergerak dari kepura puraan tidurnya tadi yang sesekali tangannya terlihat sedang menghapus airmata.


"Hiks, hiks hiks...."


"Dek?...."


"AAAHK!!... KAKAK?!..." teriak kaget Dara saat Irvan menyentuh lengannya.


Dengan posisi badan yang masih membelakangi Irvan, wajah Dara menoleh menatap pria itu dengan kaku.


"Sekalinya kamu belum tidur dan kamu nangis kenapa dek?" tanya bingung Irvan sampai mengerutkan alisnya.

__ADS_1


Dara yang tadinya mengira kalau Irvan sudah keluar dari kamarnya, pastinya jadi sangat terkejut karena ternyata kakak yang sedang membungkuk disampingnya itu barusan cuma menutupkan pintu kamarnya.


Dan kini, pria itu telah memergoki dirinya sedang menangis yang membuat dia jadi tak mampu lagi menjawab pertanyaan darinya barusan.


"Dek, kamu kenapa sayang?" tanya ulang Irvan sambil menjulurkan tangan kewajah Dara lalu mengusapkan airmata yang masih berlinangan dipipi adiknya itu.


"Hiks hiks..." bibir Dara semakin bergetar getar karena tak mampu lagi menutupi kesedihannya.


"Kamu kenapa sayang, jawab dong? (manatap cemas) pasti gara gara kakak tadi ya?" tanyanya lagi yang masih saja tidak dijawab Dara yang akhirnya membuat pria itu sadar kalau tangisan itu memang karena dirinya.


Irvan yang tadinya memang berniat ingin meminta maaf, langsung segera meletakan handphone dari dalam sakunya keatas meja, kemudian tanpa ragu langsung ikut berbaring sambil memeluk Dara yang masih membelakanginya.


"Maaf dek maaf! kamu masih mau maafin kakak kan sayang? karena kakak cuma bisa bilang maaf... Bahkan kakak sendiri nggak tau ini permintaan maaf yang keberapa juta kalinya. Kakak sadar, dan kakak sangat tau kalau sudah terlalu banyak berbuat salah yang bikin kamu nangis dari dulu!" ucap Irvan dengan suara lirih menyesali kesalahan kesalahannya.


Mendengar ucap tulus kakaknya barusan, mendadak airmata Dara berhenti mengalir dan kemudian dirinya langsung membalikan tubuh kearah Irvan sambil mulai meresapi aroma tubuh mereka yang sama.


"Hmm.. Harumnya! Apa benar kak Irvan ini bukan kakak kandungku? tapi, kenapa ya setiap didekatnya aku selalu merasa nyaman? Walaupun dengan Arga aku juga merasakan hal yang sama, tapi auranya kak Irvan ini lebih kuat, lebih bikin aku merasa aman, pokoknya didekat dia seperti ini bikin aku nggak ada rasa takut sedikitpun. Saking nyamannya begini, sampai sampai aku hampir lupa kalau baru aja kemaren mengalami hal mengerikan dikolam renang!" gumam Dara dalam hatinya, kini kelopak matanya benar benar terpejam dalam ketenangan.



Zrrrrt...


Zrrrrt...


"Eegh?..." Getar handphone Irvan mengejutkan Dara yang baru saja tidur nyenyak. "Kak... kakak? handphone kakak getar tuh, kayaknya ada yang nelpon!" panggil Dara membangunkan Irvan sambari menepuk nepuk lembut pipi pria dihadapannya itu.


"Mm... kenapa dek?" sahut Irvan dengan kedua matanya masih tertutup.


"Duuh siapa sih nelpon jam segini?" gerutu Irvan sambil tangannya meraba raba keatas meja mencari sumber getaran, dan saat sudah didapat dia langsung memperhatikan layar ponsel digenggamannya yang terpampang nomor kantornya yang di Bandung.


KLIK!


"Hallo? ada apa nelpon jam segini?" tanya Irvan yang merasa terganggu.


"Maaf pak Irvan, tapi ini sudah jam sembilan pak, apa bapak nggak turun kerja lagi hari ini?" tanya sekretaris kantornya dengan nada perhatian.


"Mel, sebelum tadi kamu menelpon kenomor saya bukannya sudah menekan kode areanya dulu kan? dan berarti kamu tau kalau saya tidak lagi di Indonesia sekarang!" ucap Irvan mulai gregetan.


"Maaf pak, barusan yang menyambungkan nomor bapak adalah pak Romi, karena sudah dari kemaren saya mencoba menelpon bapak tapi tidak tersambung terus, jadinya saya minta tolong sama beliau!" kata Melisa menjelaskan.


"Kalau begitu seharusnya kamu sudah tau dong saya lagi dimana, dan kenapa masih menanyakan saya turun kantor apa nggak? lagian itu bukan urusanmu! Mana om Romi, saya mau bicara sama dia!" perintah kesal Irvan merasa diganggu dengan hal yang tidak penting.


"Beliau lagi diruangannya pak!" sahut Melisa tanpa perasaan bersalah sudah mengganggu istirahat atasannya.


Mendengar kakaknya mengomel ditelpon, Dara yang masih sangat mengantuk pun jadi penasaran dengan siapa dia bicara,


"Kak, siapa sih yang nelpon tengah malam begini?" tanya Dara dengan matanya yang sayup sayup.

__ADS_1


"Bukan siapa siapa sayang! ini cuma dari kantor, kalau di Indonesia kan sekarang sudah pagi. Sudah kamu tidur lagi aja!" ucap Irvan dengan suara yang sangat pelan menjawabnya, namun suara pelan itu tetap terdengar jelas diseberang telpon dari Indonesia itu yang sontak mengejutkan Melisa.


"Apa, suara perempuan? pak Irvan sedang bersama perempuan?" gumam Melisa sambil melotot kaget. "Pak Irvan, suara wanita itu siapa, apa bapak sedang tidur dengan perempuan?!" tanya Melisa penasaran bercampur cemburu karena setau dia atasannya itu belum punya kekasih.


"Lancang kamu! apa kamu nggak punya pertanyaan lain yang berhubungan dengan kantor? kerjakan saja tugas tugas tugasmu dan jangan sekali kali lagi mengurusi urusan pribadi saya, karena itu bukan hak mu!" KLIK!! ucap marah Irvan yang langsung memutus sambungan telponnya.


"Kakak kenapa? kok sampe marah marah gitu sama orang kantor?" tanya Dara terheran heran.


"Enggak apa apa sayang, cuma masalah kecil aja kok. Yaudah kita tidur lagi yuk!" tangan Irvan meletakkan kembali ponselnya keatas meja.


Namun, karena perasaannya masih jengkel, tangannya pun kembali mengambil ponsel lalu segera menelpon om Romi selaku general manager dikantornya.


"Iya Van ada apa?" sahut om Romi yang tanpa berlama lama mengangkat telpon darinya.


"Maaf Om, aku cuma mau tanya, tadi itu kenapa om sambungkan telelpon saya ke Melisa?" protes Irvan dengan sopan.


"Oowh itu, om juga sudah menolaknya Van, om bilang kalau kamu sedang ada urusan dan tidak bisa diganggu, tapi dia terus mendesak dan memaksa! memangnya apa sih yang mau dibahasnya?"


"Justru karena yang dia bahas tadi enggak ada hubungannya dengan pekerjaan, makanya aku kesal terus langsung aku tutup


telponnya, disini kan masih jam dua pagi!!" dumel Irvan yang emosinya memuncak.


"Om juga merasa ada yang aneh sama sikapnya, dia berlagak seoalah olah dialah yang paling dekat sama kamu dikantor ini, padahalkan dia baru beberapa bulan jadi sekretarismu!" kata om Romi yang terdengar kurang menyukai Melisa.


"Kalau gitu saya minta tolong sama om, tolong wakilkan saya buat mengeluarkan dia dari kantor!" pinta Irvan.


"Mengeluarkan? maksudmu dipecat?" tanya om Romi memastikan.


"Iya om, jujur aja selama ini saya risih kerja sama dia, jadi tolong pecat dia dan kirim Lena sekertaris yang di Samarinda untuk segera meneruskan sisa pekerjaannya sampai saya dapat sekertaris yang baru lagi!" kata Irvan menjelaskan


"Oke oke, om paham! kalau gitu om akan segera membuatkan surat pemecatannya! yaa sudah kamu istirahat lagi sana, jangan sampai sakit yaa?!" sahut om Romi yang memang diberi kekuasaan penuh oleh Irvan selama dia pergi.


Cuplikan:


Irvan : Hallo mbak Mutya lama kita gak ngobrol bareng!


Mutya : Ada apa Van? pasti mau nanya yang nggak penting lagi!


Irvan : Nggak nggak, kali ini aku bukan mau nanya, tapi mau minta tolong!


Mutya : Minta tolong apa? satu aja terus gak boleh minta yang aneh aneh!


Irvan : Iya aku cuma minta satu aja kok, aku minta kalau bisa nggak usah ada cewek lain selain Dara dan teman temannya di novel ini! saya gak suka dan gak bakal mau sama cewek manapun selain Dara!


Mutya : Tapi didunia nyata pun kamu memang banyak ketemu perempuan cantik kan?!


Irvan : Psssstttt...!!

__ADS_1


Dan buat pendukung saya, boleh dong saya minta tolong sesuatu juga? tolong kasih saya like, vote, sama bintang 5 yaa?


Dan pastinya tolong do'ain juga supaya saya bisa sama Dara!! 😚


__ADS_2