Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#97. Ancaman


__ADS_3

Sorenya, setelah selesai rapat dan mengantar para tamu undangan sampai kedepan kantor, Irvan yang dari tadi pagi belum sempat kembali keruangannya, tiba tiba terkejut saat melihat jam ditangan sudah menunjukan pukul empat sore.


"Astaga, setengah jam lagi harus sudah dikampus nih!" Gumamnya yang langsung tergesa gesa kembali keruangan hanya untuk mengemasi barang barang yang akan dibawanya pulang.


Dia hampir saja lupa kalau sudah ada janji dengan dosen pembimbing untuk menyelesaikan ujian yang tertinggal saat dia keJerman. Dan karena saking terburu burunya ingin sampai dirumah, dengan cepat ia memasukan laptop dan handphone kedalam tas kerja tanpa sekedar membuka layar handphonenya sedetikpun. Dia benar benar tidak tau kalau dari tadi pagi sudah bertumpuk pesan dan panggilan masuk yang telah terlewatkan.


Sesampinya didekat rumah yang hanya menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh menit dari kantornya tadi, dari kejauhan dia lihat sudah ada wanita cantik sedang berdiri didepan pagar depan dengan ditemani securitynya. Yaa wanita cantik itu tidak lain adalah Melisa sekertarisnya.


"Mau apa lagi dia kesini?" dumel Irvan yang masih jengkel mengingat kelakuannya dari semalam. Kemudian ia membuka jendela mobilnya saat securitynya itu menghampiri.


"Maaf pak Irvan, nona Melisa ini dari tadi sudah menunggu bapak disini!" laporan security rumahnya. Tanpa banyak pertanyaan Irvanpun segera menegur Melisa yang sedang menghadang mobilnya.


"Melisa, kamu sedang apa sih? saya lagi buru buru nih, cepat minggir!" perintahnya


"Tidak, saya tidak mau, kecuali bapak memberikan saya keadilan dikantor!"


"Ya ampun, maumu apalagi sih Mel? saya benar benar tidak punya banyak waktu nih!" mendengar pertanyaan Irvan barusan, Melisa pun langsung melangkah menghampiri pintu mobil atasannya itu.


"Pak Irvan turun dulu!" pintanya manja


"Apa? ngapain saya harus nurutin permintaanmu?" sahut Irvan ketus


"Kalau bapak nggak mau, saya juga akan tetap terus disini biar semua orang tau kalau bapak punya masalah sama saya!" ancamnya yang langsung membuat Irvan jadi sangat geram kepadanya. Namun demi menjaga nama baik perusahaan ia terpaksa menuruti permintaan wanita sexy itu.


Dengan mimik wajah kesal, Irvan segera turun dari mobil dan meminta securitynya untuk segera memakirkan mobilnya itu kehalaman rumahnya.


"Cepat Melisa, katakan apa lagi maumu?!" tanya Irvan sembari memperhatikan jam yang melingkar tangannya.


"Pak Irvan jangan pecat saya pak, tolong kasih saya kesempatan untuk tetap bekerja dikantor bapak!" pintanya dengan mata mulai berkaca kaca


"Pecat? siapa yang sudah memecat kamu?"


"Loh bukannya tadi pagi bapak sudah mengusir saya?"


"Saya kan cuma menyuruh kamu keluar dari ruangan saya, bukan dari kantor! tapi kalau kamu masih mencoba melakukan hal hal diluar batas lagi, tanpa segan saya akan memecatmu tanpa hormat!" peringatannya


"Oowh.. berarti tadi pagi saya sudah salah kaprah ya? kalau gitu, berarti besok pagi saya masih bekerja dikantor bapak?!" tanyanya sumeringah yang dijawab anggukan dan senyuman tipis dari Irvan


"Ya sudah pulang sana, sampai ketemu besok pagi dan... tolong berpakaian yang sopan!" pesan Irvan


"Iya pak, terima kasih!" ucap Melisa dengan senang, lalu Irvan mulai melangkah masuk kepagar rumah. Namun baru saja ingin membuka pagar tiba tiba:


"ADUH!!" teriak Melisa yang menghentikan langkah Irvan dan saat menoleh kearah Melisa sekalinya wanita itu sudah terduduk diatas aspal.


"Ya ampun Mel kamu kenapa?!" tanya Irvan panik dan langsung berjongkok dihadapannya


"Aduh pak, sepertinya kaki saya terkilir!" jawabnya sambil mengelus pergelangan kaki yang memakai high heels lancip. Dan saat Irvan memperhatikan sepatunya itu, tiba tiba teringat tentang Dara yang paling tidak bisa memakai sepatu hak tinggi.


"Lain kali nggak usah lagi pake sepatu tinggi kayak gitu! sekarang bisa berdiri nggak?" tanya Irvan yang mendadak lembut membuat Melisa sangat senang. Kemudian karena merasa diperhatikan, Melisa pun berpura pura kesakitan:


"Sakit pak!" alasannya, kemudian Irvan membantunya berdiri dengan memapah lengan Melisa dipundaknya.


"Nah itu ada taksi!" kata Irvan yang langsung melambaikan tangannya untuk menghentikan taksi tersebut.


Setelah taksi berhenti didepan mereka, tiba tiba saja kaki Melisa yang tadi katanya sakit tercengklak yang membuat kedua tangannya langsung memeluk tubuh Irvan dengan erat. "Aduh pak!"


Karena tidak punya banyak waktu lagi, tanpa banyak pikir tangan Irvan dengan cepat mengangkat tubuh sekretarisnya itu hingga mendudukannya didalam taksi, "Wangi parfumnya bapak saya suka!" puji Melisa dengan tatapan menggoda, namun Irvan hanya tersenyum tipis menanggapinya.


BLAM!! dengan cepat tangan Irvan menutup pintu taksi itu dan langsung terburu buru masuk kedalam pagar rumahnya.

__ADS_1


"Astaga, udah gak sempat mandi dulu deh!" gumamnya sambil bergegas melepaskan jas yang dikenakannya.


Sampai jam sepuluh malam, Irvan yang baru saja pulang kuliah dengan wajah lusuhnya segera menuju kekamar mandi yang sudah ia rindukan seharian ini, kemudian dengan santai ia menikmati tubuhnya berendam diair hangat.


"Aaah! akhirnya selesai juga rapat dan ujian susulanku hari ini!" katanya dengan perasaan sedikit lega.


"Tapi kenapa ya kok rasa gelisah dihatiku ini belum juga hilang dari pagi? rasanya kayak ada yang mengganjal, apa masih ada kerjaan lain yang belum aku selesaikan?!" gumamnya sambil mengingat ingat,


"Hooaams!! mungkin karena aku capek aja kali ya? dan juga gara gara menghadapi kelakuan aneh Melisa yang bikin aku jadi gerah! Heh, cewek satu itu, kok bisa bisanya menyatakan suka duluan sama laki laki? hmm... sebenarnya dia cantik kok!" sambil membayangkan parasnya Melisa


Selesai mandi, cowok bertubuh tinggi itu sudah tidak ingat apa apa lagi selain bantal diatas kasurnya.


Hingga langit nila berubah menguning dan semakin terang, Irvan yang sangat kelelahanpun sampai terlewatkan waktu subuhnya.


CUUIT..CUUIT..CUUIT...


"Hmm? ASTAGA! udah jam berapa ini?!" tanya kaget Irvan saat mendengar kicauan burung, mereka seolah olah sedang menertawakan dirinya yang sudah bangun kesiangan.


Dengan mata yang masih sayup sayup mengantuk, Irvan melirik kearah jam diatas meja kerjanya.


"Kok alarmku nggak bunyi ya?" gumamnya sambil memijit kening.


Karena terbangun kaget, ia merasa seluruh ruhnya belum terkumpul semua ditubuh yang menjadikan ingatannya jadi sedikit linglung.


"Aaah kayaknya? (celingukan kanan kiri) tuh kan nggak ada! kayaknya handphoneku masih didalam tas kerja nih?" karena curiga iapun segera beranjak dari kasur menuju meja kerja lalu mengambil handphonenya.


"Nah kan bener aja!" gumamnya sembari mulai membuka seluruh notifikasi yang bertumpukan.


Shyuuuung... KLAK!!


"Looh? Loh kok jadi begini sih? Bu,bukan ini yang aku mau!" BRUG!!


kedua kakinya melemas membuat dia seketika itu juga langsung berlutut lalu tersungkur disamping handphonenya yang sudah terjatuh duluan.


Dengungan setiap kalimat yang diucapan Roypun mulai terngian berulang ulang ditelinganya :


"Sikapmu kayak anak kecil Van!, sama aja mempermainkan nyawa orang!, aku gak respect lagi sama kamu!, Penyesalan itu datangnya belakangan!, camkan itu!" suara itu terdengar menggertak dan menekan batinnya.


"Yaa Tuhan tolong saya! saya bingung, saya tidak tau lagi harus berbuat apa sekarang? kenapa setiap langkah yang saya pilih selalu salah? Dia sudah cukup menderita selama diIndonesia, saya rela menjauhinya agar dia bisa hidup bahagia bersama dengan orang yang dicintainya, saya hanya ingin dia memiliki kehidupan baru tanpa harus mengingat kembali masa masa suramnya dulu! tapi kenapa, kenapa engkau membuat aku seperti tidak memiliki pilihan? kenapa kau seperti tak memberi aku jalan untuk menjauhinya? hiks...." tanyanya sambil bersujud dilantai.


Tanpa sadar tetesan airmatanya sudah membasahi keramik tepat dimana wajahnya mencium lantai.


Perlahan ia bangkit dari sujud kemudian duduk bersandar dikaki meja kerjanya.


Sambil menghapus airmata, Irvan meraih handphonenya yang jadi retak akibat terjatuh barusan, ia kembali membaca semua pesan yang dikirim sahabatnya yang berada diJerman itu.


"Phweeeew....." Berulang kali ia menarik napas panjang agar menenangkan sedikit perasaan kacaunya. "Tidak, Dara sakit pasti bukan karena aku! buktinya ini sudah dua minggu berlalu semenjak aku pulang. Mungkin dia hanya kurang istirahat dan telat makan! ya, pasti begitu, karena itu memang kebiasaan buruknya!" Ucap Irvan dalam hati berusaha menepis kekhawatirannya.


Zzzrrrtt... tiba tiba handphone ditangannya bergetar yang seketika itu juga langsung dia terima.


"Hallo bu?" sapanya dengan suara bindeng / serak


"Iya hallo Van, kamu dimana sekarang?" tanya ibu dari seberang telpon


"Aku masih dirumah bu, baru bangun, Sniiift! (tarik ingus)"


"Loh kok suaramu begitu, kamu lagi sakit ya?" tanya ibu cemas


"Aa... enggak buk, cuma sedikit pilek aja palingan minum obat sekali langsung sembuh!"

__ADS_1


"Emm.. Ibu cuma mau tanyain hasil rapatmu kemaren, gimana, lancar nggak?"


"Lancar buk, paling minggu depan sudah langsung tandatangin kontrak baru!"


"Oowh syukur kalau gitu, kalau sakit nggak usah ngantor aja dulu ya? kamu kan sendirian disitu, kalau kenapa napa siapa yang ngurusin?!" saran ibu khawatir.


"Iya buk..." sahut Irvan menurut.


Saat diperhatikan ibunya, lagi lagi Irvan jadi teringat Dara yang saat ini dalam keadaan sakit. Kasihannya lagi, jarak keberadaannya gadis itu dengan mamahnya lebih jauh dibandingkan dia dengan ibunya saat ini.


"Maafin mas ya dek? walaupun sebenarnya mas gak tega tapi kali ini mas sudah terlanjur membuat keputusan!" gumamnya dalam hati, kemudian ia bangkit dari duduk dan bersiap melakukan aktifitas seperti biasa.


Jerman, pukul delapan malam.


Dikamar Dara:


"Dara, kakak pulang dulu ya?"


"Iya kak Roy, terima kasih banyak ya selama ini udah selalu nemenin aku, dan maaf juga kalau acara pikniknya jadi berantakan gara gara aku sakit!" ucapnya sambil merasa bersalah


"Ngomong apa sih kamu dek, memangnya ada orang sengaja mau sakit? lagian apa sampai sekarang kamu masih menganggap kak Roy ini orang lain?" tanyanya yang membuat Dara jadi salah tingkah


"Aah! bu,bukan begitu maksudku kak tapi...."


"Hehehee Iya iya, kak Roy becanda aja kok! kakak percaya sikapmu semanis mukamu ini!" sambil mencubit gemas pipinya Dara "Ayoo Ga!"


"Beib, aku antar kak Roy kedepan dulu ya?" Dara pun mengangguk mengiyakan.


Sesampainya dipintu depan, Roy dan Arga sedikit berdiskusi tentang kesehatan Dara yang baru membaik :


"Arga, kan sekarang ini sudah nggak ada darah cadangan untuk Dara, dan jadwal Irvan pun baru dua bulan lagi untuk kembali keJerman, jadi saya benar benar hanya berharap sama kamu supaya lebih menjaganya agar dia tidak lagi banyak pikiran. Saat ini saya sudah benar benar sayang sama Dara seperti adik saya sendiri, jadi saya merasa tidak rela dia kenapa napa!" pengakuan Roy yang membuat Arga terharu mendengarnya


"Iya kak Roy, saya janji akan semampu saya menjaga Dara, dan saya juga sudah berencana besok akan mengirim Paula kesini untuk menemaninya, yaa supaya nambahin teman dia saat saya kuliah!"


"Looh, nanti kamu gimana?"


"Saya kan sudah sehat, cuma belum bisa berlari cepat saja! kalau dirumah juga Paula kerjanya cuma bantuin mamah tiri saya doang! Nggak guna, mending dia disini!" ucap Arga cetus saat menyebut ibu tirinya


"Heheheee.. kamu ini, ya udah kalau gitu, saya pulang dulu dan kalau ada apa apa cepat kabarin ya?" pamitnya Roy sambil berbalik badan


"Mmm kak Roy! (Roy langsung menoleh) Kak Irvan apa belum ada tanggapan apapun?" tanya Arga berharap


"Tadi pagi cuma dibaca aja, tapi sampai sekarang belum juga ada balasan apapun darinya! sudahlah kita nggak usah lagi mengharap dia sadar, mungkin dia sudah kerasukan!!" Jawab Roy dengan ekspresi kecewa seperti tak ingin lagi menyebut nama sahabatnya itu. Namun berbeda dengan pemikiran Arga yang justru malah semakin penasaran dengan sikap Irvan yang menurutnya semakin aneh itu.


Besok paginya saat Arga kuliah, Paula yang sudah dipindah Arga untuk menemani Sovia menjaga Dara membuat ibu tirinya jadi kesepian dirumah, dan tanpa sepengetahuan Arga ia menyusul Paula kerumah Dara.


"Dara sayang, tante dengar katanya kamu pintar masak? kapan kapan masakin tante juga dong? tante kan jadi penasaran banget sama rasa masakan kamu!" rayunya


"Aah siapa yang bilang saya pintar tante? saya juga masih belajar kok, tapi kalau tante mau pasti saya masakan!" sahut Dara dengan ramah


"Bener ya, tante tunggu loh! Oiya Dara, rencananya lusa nanti tante mau buat acara dirumah, kebetulan besok ada beberapa teman arisan tante dari Amerika mau berkunjung kesini, jadi kamu harus ikut ngumpul ya?" ajaknya


"Acara? pesta?..." ragu ragu


"Pesta kecil kecilan aja kok, kenapa kok kayaknya kamu nggak mau ya?"


"Bu,bukan nggak mau tante, tapi aku bingung harus berpakaian seperti apa, kan selama disini aku belum pernah sekalipun menghandiri pesta!" malu malu


"Oalah sekalinya masalah baju? gampang aja itu, nanti tante bantu pilihkan. Mmm.. kalau sekarangkan kamu baru aja sembuh, gimana kalau besok aja kita pergi shoping, mau?" tawarannya

__ADS_1


"Iya tante, mau!" jawab Dara senang


"Tapi, inikan urusan perempuan, jadi tante saranin kamu gak usah ngomong ngomong sama Arga yaa kalau kita mau jalan?!" bujuk ramah mamahnya Arga. Mengingat sikap Arga yang terlihat kurang menyukai mamahnya, Dara pun menyetujui permintaannya itu, begitu juga dengan anak buah yang lain, mereka sudah diancam ibu tirinya Arga kalau sampai memberitahu sama boss mereka kalau Dara akan diajaknya keluar rumah besok.


__ADS_2