
Belum juga sampai satu jam sadar, Irvan yang belum selesai mendengarkan semua penjelasan dari Indra kini sudah kembali pingsan diatas kasurnya yang untung saja kedua teman dokternya sudah sigap menjaga disisi kanan dan kirinya.
"Dra, Irvan ini sakit apa sih kok bisa sampe selemah ini? setau aku dari dulu fisik dan mentalnya selalu kuat loh!" tanya Rina, dia bingung melihat kondisi Irvan yang lunglai.
"Gimana dia gak lemah kalau dalam beberapa hari ini kurang istirahat, belum lagi menghadapi beberapa masalah adiknya. Kemarin kamu belum tau kan dia itu abis mengalami apa aja semalaman?" tanya Indra sambil memperbaiki selang oksigen lalu menunjukan pada Rina balutan perban dibahu Irvan
"Loh itu kenapa? aku dengar dia yang mukulin Betrand sampe babak belur, kok dia malah ikut terluka juga? Dan sebenarnya Dara itu dimana sekarang, keadaannya nggak seperti yang dipirkan Irvan kan?" tanya Rina cemas bertumpuk penasaran
"Hmm kita ngobrolnya sambil duduk disitu aja yuk!" kata Indra sambil jarinya menunjuk kearah sofa disudut ruangan, Rinapun mengangguk dan mengikutinya. Reza dan Yudha yang daritadi masih didalam ikut menjaga kakaknya tau tau minta izin keluar
"Kak Indra kami berdua nunggu diluar aja yah? nanti telpon aja kalau perlu apa apa!" kata Reza sambil merangkul adiknya berniat tidak ingin mengganggu obrolan kedua dokter
"Iya, tapinya jangan jauh jauh ya?" sahut Indra ramah lalu mereka berduapun keluar.
JGLEK, BLAM..
Sebelum duduk Indra menyempatkan tangannya menyorong minuman dan cemilan diatas meja kearah Rina yang memang difasilitaskan untuk kamar VIP rumah sakitnya
"Kamu sebagai psikolog pastinya sudah paham sendirikan dengan kata kataku tadi?"
"Nggak juga sih, soalnya daritadi ku perhatikan cara ngomongmu memang sepertinya ada hal yang kurang baik yang sudah terjadi sama Dara dan akupun sempet mengira kalau Dara itu sudah....." takut takut
"Ssttt.... bukan bukan, bukan itu yang terjadi sama Dara, dia masih hidup Rin!" sela Indra membuat Rina lega seketika
"Huufh... beneran? syukur deh! (sambil mengusap dada) Abisnya tadi kamu bilang dia udah gak disini lagi jadinya aku berpikiran negatif deh, mau gimana pun Dara itu juga pasienku dan kalau dia kenapa napa aku juga pasti ikut sedih. Loh, terus kalau memang dia masih hidup kenapa kamu takut takut mau ngomong sama Irvan?"
"Nah itu masalahnya, raganya memang hidup seperti biasa tapi jiwanya kembali dari nol alias sudah lupa ingatan!" kata Indra
"Apa! lupa ingatan? Amnesia maksudmu? Aah gak mungkin, siapa tau cuma lupa ingatan sesaat seperti kemaren pas dia kebanyakan minum obat!" kata Rina tidak percaya
"Kali ini beneran Rin, kemungkinan besar faktor utamanya karena dia agak lama kekurangan darah dan oksigen jadi aliran darah diotaknya sempat terhambat. Irvan bilang pas sebelum sampai diklinikpun Dara memang sudah hilang kesadaran, dia cuma sempat ngomong kalau napasnya sesak dan setelah itu dia gak ada sadar lagi sampai dia dibawa kesini!"
"Tapikan sesampai disini langsung kalian tanganin kan, gak kalian tunda tunda kan?"
"Iya Rin, pokoknya pas sampe disini kami langsung melakukan transfusi darah dari Irvan, bahkan saking banyaknya sampai Irvan sendiripun kekurangan darah tapi Dara belum juga sadar! Karena curiga akhirnya Dara kami pindah keruang ICU dan sekalinya dia memang bukan pingsan melainkan sudah koma!" jelas Indra dengan wajah memelas
"Loh kalau dia koma, terus kamu tau darimana kalau dia Amnesia?"
"Jadi begini ceritanya Rin, pas nggak lama bu Aina datang bersama ibunya Irvan pagi tadi, kami segera mendiskusikan masalah darahnya Dara yang sering ngedrop tiba tiba dan yang cuma cocok dengan darahnya Irvan, bu Aina pun sudah menyetujui saran dari dokter kepala kalau penyakit Dara yang bisa dibilang langka ini akan ditindaklanjuti disingapura. Tapi diwaktu yang bersamaan Dara sadar dari komanya tapi tidak ingat lagi sama siapapun! Mungkin dalam kasus ini kamu lebih berpengalaman dari aku?!" tanya Indra selesai menceritakan
"Iya Dra aku paham, memang tidak sedikit kasus orang yang tertekan masalah bisa bikin dia stress, lupa ingatan bahkan bisa sampe gila!
Ya ampun Dara, kasian banget sih nasibmu? diusia yang masih remaja kamu sudah mengalami begitu banyak tekanan dalam hidup! aku aja, a..aku..." Rasa iba Rina sampai tak mampu berkata kata lagi
"Hehee.. ternyata kamu ini baperan juga ya Rin? kok bisa sih orang baperan jadi dokter psikolog?" olok Indra berpura pura tegar padahal dalam hatinya juga sedih
"Bukannya begitu, aku tuh... Ah kamu nih! cepet ceritain apa yang udah terjadi sama Dara semalam setelah Irvan nelpon kita?!" desak Rina mengalihkan topik pembicaraan
"Bilang Irvan papahnya Dara...." Indrapun menceritakan apa yang Irvan ceritakan tadi malam saat dia sedang menyalurkan darahnya untuk Dara. Rina yang selalu berusaha profesional dalam bekerjapun sangat menghayati alur ceritanya, tujuannya agar dia juga dapat memahami dan ikut merasakan apa yang mereka rasakan.
__ADS_1
"Aduh Dra sakit kepalaku! aku yang cuma mendengarkan aja hampir gak kuat ngebayanginnya apalagi Dara? yaa wajar aja kalau sampe penyakit lamanya kumat! Aku bener bener gak habis pikir dengan papahnya, kok bisa yaa seorang ayah tega melepas tanggung jawab demi jabatan dan harta? kan memang sudah seharusnya tujuan dia sebagai kepala rumah tangga itu mencari nafkah buat keluarganya?" tanya Rina terheran heran sampai gregetan
"Yaa itulah kehidupan, kadang saat dia sudah senang lupa sama yang nemenin saat susah! dan gak sedikit laki laki yang terjerumus kesesatan demi harta, tahta dan wanita!" celetuk Indra sambil melamun mikir
"Kamu sendirikan laki laki Dra, apa nanti kamu juga bakalan begitu sama keluargamu?"
"Kamu kira aku gila ini kah? saat ini didepan mata sendiri aku sudah menyaksikan keadaan temanku seperti ini dan kamu pikir aku akan ngikutin jejak orang yang udah menjadi penyebabnya? yaa nggak bakalan lah Rin! Nih dengerin ya, kalau sampe suatu saat nanti aku kayak gitu, ku izinin kamu buat langsung suntik mati aku saat itu juga!" ucap Indra seraya bersumpah pada Rina
"Hmm? beneran ya awas kalau sampe ingkar, aku bakal inget kata katamu ini!"
sahut Rina memegang janjinya
"Terus kondisi Irvan saat ini gimana Dra? kamu yakin dia cuma kecapean dan kekurangan darah aja, terus luka tembak parah gak?" sambil menoleh kearah Irvan yang masih pingsan
"Nggak, selama dia benar benar istirahat total maka dia akan segera pulih secepatnya. Dan kedepannya kamu juga bantuin aku ya Rin, kita tunjukin kalau profesi dokter bukan sekedar mencari uang seperti yang orang lain pikirkan, tapi tujuan kita ini lebih mengutamakan menolong sesama!" kata Indra berharap bantuan
"Iya bener, aku setuju dengan pemikiranmu dan aku bakal bantu semampuku. Ngomong ngomong jadi mulai hari ini Dara akan dirawat diSingapura? sampai berapa lama?" tanya Rina sambil nyemil
"Untuk dua hari kedepan dia masih dirawat diSingapura, tapi setelah itu aku sendiri belum tau lagi pastinya dia akan dibawa kemana soalnya tadi aku dikasih tau dokter kepala, beliau bilang kalau kasus penyakit Dara akan ditangani sendiri oleh pihak dari keluarga kakeknya dan akan dibawa antara Jerman atau Belanda!"
"Waduhh jauh juga yaa?. Kakeknya? kakek yang mana?"
"Yang mana lagi kalau bukan ayah dari papahnya yang punya nama besar dipulau Borneo ini? Dan aku baru tau kalau sekalinya cita cita Dara yang dulu mau jadi dokter, itu karena termotivasi dari pamannya sendiri." kata Indra
"Padahal pak Haris itu anak orang kaya kok dia takut perusahaannya bangkrut sih? dia malah mau maunya nerima suntikan dana dari orang lain, bahkan sampe rela mencampakan keluarganya demi modal perusahaan?" tanya Rina heran dan mulai kesal
TOK TOK TOK! KRIEET... (terbuka perlahan)
"Eh Dhi sini masuk!" sapa Indra ke Adhi yang baru menongolkan kepalanya, lalu Adhi langsung berbisik kearah belakangnya dan mulai membuka pintu agak lebar yang sekalinya,
"Amira? kamu kok kesini memangnya sudah mendingan?" tanya Indra ke Amira yang masih terlihat lemas, lalu dengan perlahan Adhi memapahnya masuk kedalam
"Ayoo duduk disini!" kata Rina yang langsung berdiri membantunya duduk disofa
"Oh inikah yang namanya Amira? cantik banget sekalinya, kenalin saya Rina temen sekampusnya Irvan waktu diBandung!" puji Rina sambil menyodorkan tangannya dengan ramah,
"Iya kak saya Amira temennya Dara!" tanpa ragu Amirapun segera membalas senyum beserta jabatan tangannya
"Iya saya pernah dengar cerita kamu dari Irvan dan Dara, katanya kamu ini sepupu pacarnya Dara ya?" tanya Rina bermaksud ingin cepat akrab, tapi tiba tiba ekspresi Amira malah berubah murung dan langsung menutupi wajahnya
"Hiks.. hiks... saya ini sepupu dan teman apaan? saya malah bikin Arga sama Dara celaka, dan sekarang kak Irvan juga jadi korban kesalahan saya! Hiks..!" isak Amira menyesali
Rina sang dokter psikolog pun dengan cepat berusaha menenangkan Amira dengan pelukannya, dia sudah tau kondisi Amira yang saat ini yang baru saja keguguran karena telah menyukai orang yang salah.
"Sudah Amira kamu jangan sedih dan jangan juga terus terusan menyalahkan diri sendiri, yang namanya musibah semua orang gak ada yang tau kapan terjadinya!" bujuk Rina
"Iya tapi kalau bukan gara gara aku yang nyaranin Dara buat temuin Betrand semua ini gak akan terjadi! Dan kalau sampe tiba tiba Arga kembali, aku gak tau harus ngomong apa? aku bener bener malu sama diriku sendiri, Hiks.. hiks.." kata Amira yang terisak dibalik tangannya
"Amira, kamu sudah dua hari disini, apa orang tuamu sudah tau keadaanmu disini?" tanya Indra, lalu Amira menggangguk dan Rina mulai melepas pelukannya
__ADS_1
"Iya kak sudah, kemaren berita Betrand yang ditahan polisi karena kasus pelecehan terhadap Dara dan penembakan mas Irvan sempat tersebar yang tentunya aku dan kak Adhi pun jadi ikut terexpos, walaupun semua berita itu sekarang sudah ditarik lagi tapi tetep aja keluarga besarku sudah sempat melihatnya!" kata Amira
"Yaa saya juga sempat melihat berita itu walaupun cuma sempat tersebar tidak sampai satu jam, apa mungkin berita itu ditarik kembali atas permintaan pak Adrian (papah Betrand) karena takut nama hotelnya jadinya buruk?" tanya Indra
"Bukan kak, tapi papahku yang sudah menarik kembali berita itu karena semua orang pasti sudah tau kalau Betrand itu kuliah dikampus F milik alm.nenekku!" kata Amira Menjelaskan
"Jadi apa keluargamu akan menjemput kamu kesini nanti?" tanya Rina
"Nggak kak aku malu, jadinya aku minta mereka jangan ada yang menjenguk apalagi sampe menjemput aku!"
"Tapikan kamu masih lemah Mira?" tanya Indra
"Nanti biar aku aja yang ngantar, yaa itupun kalau Amira gak malu diantar sama tukang ojeg kayak aku ini!" sahut Adhi menyindir diri sendiri
"Iih ngomong apaan sih kak Adhi ini?" kata Amira tersipu malu.
(Yaa diingatan lagi kalau Adhipati ini adalah sahabatnya Irvan saat masuk club TIMNAS sepakbola saat SMK (tapi beda sekolah sama Irvan), sejak SMP Adhi ini sudah tinggal bersama orangtua angkat yang kehidupannya sederhana, namun sebenarnya dia adalah anak tunggal dari pemilik resto ternama yang cabangnya hampir ada disetiap mall di Indonesia yang artinya bahwa dia ini sebenarnya orang kaya namun tidak suka bermewah mewah. Dan karena cita citanya sejak kecil ingin menjadi polisi diapun mengundurkan diri dari TIMNAS dan menjalani kehidupan 'bertopeng' pura pura jadi tukang ojeg demi menutupi identitas aslinya sebagai polisi Intel.)
Cuplikan:
Irvan : Mba Mut?
Mutya : Hmm Irvan? kenapa lagi, masih nyari Dara? kan saya udah bilang dia lagi gak mau ketemu sama kamu, jadi yaa sabar aja dulu!
Irvan : Kali ini saya bukan cuma cari Dara, tapi saya mau tanya kenapa diepisode ini saya juga gak ada ngomong apa apa, cuma tiduran aja dihadapan mereka? kenapa gak sekalian aja covernya diganti Rina sama Indra atau Amira sama Adhi!
Indra : Eeh kamu ini kenapa sih Van, sensitif banget jadi orang? baru satu episode gak ngomong udah uring uringan kayak jeuran gak kering!
Adhi : Tau nih si Irvan, aku yang jarang nongol aja gak protes!
Rina : Sudah sudah kalian gak usah ribut, malu tuh sama pembaca! maklumin aja kalau Irvan sensitif, mungkin dia udah kangen sama Dara!
Irvan : Memang kamu temen yang paling pengertian ya Rin, kamu bahkan bisa tau kalau aku udah kangen sama Dara!
Indra : Percuma juga kamu kangen, kalaupun kalian ketemu dia juga gak akan kenal lagi sama kamu!
Adhi, Rina dan Amira : Iya bener! (manggut manggut bersamaan)
Irvan : Mbak Mut kamu harus tanggung jawab!
Mutya : Tanggung jawab apa, bukannya kamu pernah bilang kalau aku ini tugasnya cuma nulis? yaa aku tinggal ngetik aja skenario yang udah ada dimejaku, terus kenapa sekarang aku yang disalahin?
Irvan : Skenario dari siapa? Aku gak pernah bikin skenario yang bikin aku sama Dara gak ketemu!
TAP TAP (tiba tiba langkah kaki mendekat)
"Aku yang udah bikin skenario kali ini, kenapa, keberatan?"
Irvan : Ka.. kamu?!
__ADS_1