
Tetapi kini,
kesan awal pertemuan yang sudah lewat dari setahun itupun kini hancur, padahal selama ini hubungan kami tidak ada masalah bahkan kami sudah saling memperkenalkan diri kepada orangtua masing-masing.
Dan Amira, walau pun kami sudah tidak sedekat lagi seperti dulu, tetapi selama ini kan kami masih baik - baik saja, tetapi sekarang kok!? Aku benar - benar masih tidak menyangka dia menusuk dari belakang, Hiks!
Entah mengapa didalam hati kecilku, sampai saat ini aku masih tidak percaya dengan apa yang sudah mereka dilakukan dibelakangku seperti tadi.
Kronologi,
Tadi sekitar jam setengah dua siang, saat semua murid kelas satu dan dua beserta guru - guru sudah pulang, hanya tinggal beberapa murid kelas 3 yang akan mengikuti kelas tambahan atau bimbel untuk persiapan UAN termasuk aku, Sebagian ada yang pulang kerumahnya dulu, karena bimbelnya juga baru akan dimulai jam setengah 3 sore.
Karena rumahku jauh jadinya akupun tidak pulang, biasanya sih nunggunya dirumah Kiki, tetapi hari ini aku lagi mau menunggu di kelas dan makan siang di kantin aja.
Saat aku sedang berjalan sendirian menuju kantin, tidak Sengaja aku memergoki mereka berduaan (Arga dan Amira) saling berhadapan dipojokan samping kelas yang lagi kosong.
Aku pun langsung selangkah mundur dan bersembunyi dibalik tembok sebelahnya, dan sepertinya mereka tidak menyadari kehadiranku karena tinggi badannya Arga menghalangi pandangan Mira,
Awalnya aku berusaha berpikiran positif karena mereka memang sering ngobrol dari dulu, tetapi
"kenapa harus dipojokan dan ditempat sepi begitu?" akupun jadi agak penasaran apa yang mereka mau bahas
Aku mendengar jelas obrolan mereka, karena posisinya hanya bersampingang dinding denganku.
"kayanya hubungan kalian biasa aja gak ada yang seru atau menarik selama pacaran, kamu nggak bosen begitu sama dia? gak mau coba sama yang lain? contohnya sama aku!" ucap Amira sambil menggoda dengan suara manja lalu tertawa.
Sontak aku terkejut mendengarnya, lalu
"Maksudnya seru itu yang gimana sih Mira? memangnya ada pacaran pake seru-seruan apa?" tanya Arga penasaran.
"Lah, emangnya kamu beneran belum pernah sama Dara?" tanya balik Amira
"Nggak pernah, pacaran ya biasa - biasa aja, jalan bareng, makan bareng, nonton?!" jawab Arga
"yaaa Ampun Ga, beneran? aah bohong kamu, coba jujur aja kaya aku nii siapanya kamu aja siih!!?" desak Amira
kata - kata Amira membuat aku kaku dan penasaran, sebenarnya sudah sejauh mana hubungan mereka selama ini?
"Nggak, nggak pernah... Aku nggak berani yang begituan sama Dara!" jawab Arga
"Alaaah kamunya aja kalee yang nggak ngerti, kita nii kan sudah mau kuliah Ga, masa pacarannya kayak anak SD? kalau nggak Ngerti sini ku kasih tahu caranya!" kata Amira
Aku yang terkejut mendengarnya seketika menutup mulutku dengan telapak tangan, tidak menyangka mendengar ucapan langsung dari Amira yang terang-terangan terhadap Arga.
"Yang gimana, mana sih? gimana coba lihat lagi!?" tantang Arga
DEG! DEG! DEG!
"Merek ini pada ngapain sih?!" tanyaku dalam hati. Jantungku mulai berdegub kencang hingga membuat dadaku terasa sakit karena mendengar pertanyaan Arga malah menantang yang bukannya menghindar dari perlakuan seperti itu.
"Naah Beneran kan Ga kamu gak tahu sekalinya? tunggu sebentar!" mendengarnya membuat aku sangat emosi nggak mampu mengendalikan diri ingin melabraknya.
Arga yang selama ini benar-benar aku percaya kesetiaannya tidak disangka dibelakangku dia sangat mudah dirayu.
Dengan telingaku yang memanas dan hati yang mulai terbakar cemburu, Aku pun mengepalkan tangan dan rasanya ingin segera menghampirinya.
GREEP!!
Tiba-tiba ada yang menahan dan menarik lenganku, lalu akupun langsung menoleh kearahnya yang sekalinya Kiki, entah sejak kapan dia sudah berdiri dibelakangku. Kiki menggelengkan kepalanya mengisyaratkan bahwa 'aku tidak perlu menghampiri mereka'.
Tiba-tiba terdengar suara
"eeeehh liat tuuh!!" teriak Amira
~"Eeempp!"~
"Mira, Jangan Mira! aduh, iiih kamu jorok!" kata Arga,
JLEB!!
Seketika itu aku jadi kaku mendengarnya,
Mataku yang masih menatap Kiki langsung berkaca-kaca, perbuatan mereka membuat aku sangat tidak menyangka dan merasa jijik,
Tidak tahan mendengarnya lama - lama, apalagi membayangkan yang bukan-bukan akupun langsung segera berlari menuju ruang kelas.
Sesampainya di kelas, aku terduduk dengan kaki yang melemas, aku berusaha kuat menahan tangisku agar tidak pecah kukencangkan gigi atas dan bawah, mengepalkan kedua tanganku, dan ku pejamkan mataku.
Pikiranku sangat kacau hingga tidak bisa berpikir apa-apa lagi, aku berusaha menepis bayangan apa yang mereka lakukan barusan, namun bayangan itu justru menerobos masuk menembus otak hingga kehati.
__ADS_1
Tangan dan kakiku gemetaran, jantungku bedegub cepat sampai dadapun sangat sesak hingga sulit untuk bernapas, seperti tidak ada udara diruangan ini.
Tubuhku terasa tak bertulang, pikiranku saat ini hanya ingin sendirian berlari sejauh mungkin ketempat sepi agar tidak satu orang pun menemukan aku dalam keadaan seperti ini. Aku ingin berteriak sekencang - kencangnya, ingin menghindari kenyataan dan berharap ini semua hanya mimpi buruk.
Tapi setelah Kiki menemaniku dari tadi, dari selesai mencuci muka hingga kelas bimbelpun selesai, yaa walaupun tidak sedikitpun pelajaran yang menyangkut diotakku, tetapi setidaknya aku bisa memasang ekspresi tenang dihadapan yang lainnya.
Aku tahu, mungkin saat ini aku memang mampu menutupi kekacauan dalam diriku yang yang sebenarnya, tapi entah bagai mana jadinya kalau aku nanti sendirian? bisa - bisa .....
Sepulangnya dari bimbel seperti biasa Arga yang berbeda kelas menghampiri dan tetap memawarkan akan mengantarku pulang,
yaaa karna kebetulan rumah kami memang searah, tetapi jarak kerumahku tetap yang lebih jauh darinya.
"Ayoo beib pulang, hari ini aku mau temani mama kerumah tanteku ditenggarong jadi nggak bisa lama-lama!" katanya, dia berbicara sambil sibuk dengan handponenya.
'Dia masih seperti biasa dan seolah - olah tidak ada terjadi apa - apa padanya, Jadi selama ini dia selalu membodohiku karena dia pikir aku tidak tau? baiklah kalau begitu teruskan lah!' gumam dalam hatiku
Aku ingin mengikuti kepura - puraannya, aku tidak ingin mencari ribut duluan karena aku juga nggak punya bukti nyata ditanganku sekarang, tapi karena masih mengingat kejadian tadi siang jadinya belum sanggup dekat dan siap melihat wajahnya saat ini, jadi sambil memberesi isi tas akupun menjawab tawarannya barusan:
"Hmm..Nggak usah Ga, aku mau kerumah Kiki dulu! nanti aku bisa pulang sendiri" jawabku karena bingung harus berkata apa, aku berusaha menghidar darinya yang masih berdiri sambil sibuk dengan hpnya.
Mengingat kejadian yang tadi hingga hampir membuat mataku mulai berair.
Tidak! aku tidak boleh menangis lagi, apalagi untuk dirinya! semua itu menang kenyataan pahit dan menyakitkan yang aku alami, walau pun aku tidak melihat dengan jelas yang mereka lakukan, namun bayangan dan suara itu masih sangat jelas terngiang-ngiang di telinga dan dipikiranku.
"Daraa! jadi kerumah nggak?" panggil Kiki yang sudah menunggu didepan pintu kelas.
"aah Iya jadi Ki!!" sahutku,
Aku pun berusaha setenang, mungkin mengikutinya berpura - pura tidak tahu apa - apa itu akan lebih baik daripada menuduh tanpa bukti menjadikan aku salah, otakku masih memyuruh untuk memanggilnya dengan sebutan BEIB seperti biasa, namun bibir sangat berat rasanya hingga akhirnya terlontar panggilan nama dari mulutku,
"Arga, aku duluan yaaa.!" kataku sambil melewatinya yang masih berdiri di samping mejaku, namun sepertinya dia tidak begitu mendengarkan ucapanku barusan karena terlihat sedang sangat fokus dengan handphone ditangannya.
Segera aku berlari kecil menghampiri Kiki, kuperhatikanl Kiki dengan sinis melirik kearah Arga, lalu aku berbisik:
"ayoo Ki cepetan! nanti disamperin lagi sama dia aku malas..!" kataku, sambil menarik tangan Kiki agar berjalan lebih cepat
"Kok dia masih aja yaa nyamperin kamu, berarti selama ini dia...."
"Sudah, kita ikutin aja dulu maunya, kita liat bisa sejauh mana bajing melompat!" kataku
Rasa marah dan sayangku yang bercampur aduk jadi satu, membuat aku binggung seharus berbuat dan bersikap bagaimana terhadap dia sekarang?
"Jempolnya kenapa Ki?" tanyaku polos karena memang tidak paham.
"Naah gitu, baru Dara yang aku kenal nggak cengeng!" jelasnya
"Jangan banyak teka - teki dong Ki, aku kan lagi ngeHank, pusing kepalaku kalau harus memikirkan semua maksud dari ucapan dan gerakanmu yang selalu tiba - tiba!!" kataku
"Iya - iya!!" sahutnya sambil tersenyum - senyum
Aku yang sedang terhanyut dalam pikiran ku sendiri, benar - benar tidak bisa berkonsentrasi dengan keadaan disekelilingku saat ini.
"Ki... makasih yah sudah nyemangatin aku dari tadi, kalau bukan karena kamu aku nggak ngerti deh harus berbuat apa sekarang!" Ucapku memelas sambil merangkul dibahunya
"Iya Dara, sama - sama... yang semangat dong, kan laki - laki bukan cuma dia aja..." katanya
"Aku masih nggak nyangka deh Ki, kalau yang kamu ceritakan dulu tentang Arga memang benar dia .......AAAAGGHH!!!" ucapanku belum selesai, namum tiba - tiba tanganku ada yang menarik kearah belakang yang membuatnya jadi terputar.
"CERITA APA?!!" Bentaknya
Ternyata Arga yang menarik tanganku, entah sejak kapan dia tahu - tahu sudah ada dibelakang kami!
"Apa-apain sih kamu Ga?! Lepasiin tangan ku Ga,...Sakit!!" Pinta ku sambil berontak berusaha melepaskan pergelangan tanganku dari genggamannya.
"APA KAMU BILANG?! kamu panggil aku apa barusan? coba sekali lagi aku mau dengar?!" tanyanya dengan emosi dan malah tambah memutar tanganku hingga semakin terasa tekilir.
Dengan kuat Kikipun berusaha membantuku melepaskan lenganku dari tangan Arga,
namun bukannya dilepas, Arga malah semakin kuat menggenggam sampai nyerinya terasa dari lengan hingga kebahuku.
"Arga lepasin tanganmu Ga, Dara sampai kesakitan!!" kata Kiki dengan panik sambil terus berusaha menarik
"DIAM!! Jangan ikut campur kamu!" bentak Arga ke Kiki
kemudian Kiki yang terkejut pun langsung melepaskan tangannya dari tangan kami, dia melihatku meringis dengan matanya mulai berkaca - kaca tidak tega.
"Kamu Ga, nggak mikir ya kalau posisil kita ini sekarang ditempat umum, nggak malu kamu dilihatin orang banyak?!!" Kata Kiki mengingatkan Arga,
Lalu Arga melihat ke arah orang - orang yang berada di sekitar kami dengan tatapan mata dinginnya, ada beberapa orang yang memperhatikan kami bertiga, namun ada juga yang lewat begitu saja pura - pura tidak melihat.
__ADS_1
"Apa yang kalian lihat? Aku nggak peduli sama kalian!! Kamu juga Kiki, pergi kamu dari sini sekarang, jangan campuri urusanku dengan Dara!!" Usir Arga kesemua orang yang memperhatikan kami lalu dia mengusir Kiki juga
'Arga bisa marah? apa dia memang sudah mulai berubah?!' tanyaku dalam hati karena selama ini tidak pernah melihatnya kasar.
Kemudian mata tajam itu kembali menatap ke arahku dengan tangannya yang kuat semakin gregetan menggenggam lenganku.
"Aaaghh!" teriakku merintih, rasanya sudah mulai remuk tangan kecilku diremasnya, dan aku benar - benar sudah hampir tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi
"Panggil apa kamu tadi?!!" bentaknya dengan penuh geram, dan akupun mengumpulkan kekuatan untuk menjawabnya.
"Kenapa?! Ugh (sambil meringis) Pendengaranmu kurang jelas kah dengan panggilanku tadi? aku panggil kamu ARGA! PUAS!!" Jawabku menahan sakit berpura - pura kuat.
Kemudian dia langsung melepaskan genggamannya lalu mengerutkan dahi seolah tidak percaya dengan pernyataanku barusan.
Ku pegangi tanganku yang terasa sudah sampai mati rasa kudian dia kembali memegang kedua bahu kanan dan kiri ku, wajahnya didekatkan kewajahku, lalu mulai berbicara lagi dengan suara pelan namun menekan.
"Apa maksudmu memanggil ku seperti itu? tolong jelaskan? soalnya aku kira pas didalam kelas tadi aku cuma salah dengar, ternyata memang kamu sudah berubah seperti itu ya cara memanggil ku??" tanyanya
Dengan kedua mata tajamnya menatap kemataku ditambah ekspresi dinginnya tersenyum sinis mengerikan, hingga membuat bibirku bergetar ketakutan karena takut tangan kuatnya memukulku.
"KENAPA TANPA SEBAB KAMU BERUBAH!?" Bentaknya, dengan kedua tangannya yang masih memegangi bahuku diapun mengguncang tubuhku hingga membuat aku benar - benar terkejut dan juga semakin takut.
"Sini Dara!" Kikipun segera meraih tanganku dari samping sambil menarik mundur dua langkah dari Arga.
Aku jadi diam terkesima melihat dirinya yang sedang marah, aku memang tau dia memintaku selalu memanggil dia dengan sebutan Beib semenjak kami mulai berpacaran, tapi apakah sampai semarah ini hanya karena aku memanggil namanya?
Sungguh mengerikan, laki - laki yang biasanya romantis dan puitis ini, baru kali ini kuliat bagaimana dia mengamuk seperti monster yang sedang siap memangsa,
Dan baru pertama kali semenjak kami pacaran melihat dia begitu emosi dan marah, ditambah lagi orang yang dia marahi adalah aku. Apa mungkin karena sudah ada pengganti ku?
"Kenapa? kamu tanya aku kenapa memanggil namamu?!" pertanyaanku barusan membuat mata dinginnya semakin sinis karna tidak sabar mendengarkan penjelasannku
Ku kumpulkan keberanian dihatiku untuk mengatakan yang sebenarnya, aku tidak mau kalah karena bagiku dia yang salah, dan aku sudah tidak mampu menutupi lagi masalah utama yang dari tadi selalu mengganjal di hatiku.
"Bukankah kamu juga tidak mempermasalahkan panggilan itu terhadap CEWEK mu yang lain?, tapi kenapa harus kamu permasalahkan denganku??!" Ucapku yang pada akhirnya mengatakan hal yang sudah aku coba tutupi.
Namun entah kenapa bukannya lega tapi justru mataku mulai berkaca - kaca setelah mengungkapkannya, sampai - sampai penglihatanku jadi buram, mungkin karena setelah mengatakannya barusan membuat aku jadi mengingatkan kembali kejadian itu.
Lalu ia pun mengerutkan dahi seperti kebingungan, sambil menepuk-nepukan dada dan berbicara geram sampai terlihat urat-urat dilehernya, seolah tidak terima dan tidak percaya apa aku katakan barusan.
"Apa? cewek lain?! kamu tuduh aku selingkuh maksudnya? kamu dengar darimana aku ada cewek lain haaah!??" pertanyaannya barusan jelas sedang menbantah apa yang aku katakan kepadanya
"APA DIA? Dia yang selama ini sudah ngomongin aku yang bukan-bukan kekamu, membuat tuduhan aku selingkuh untuk meracuni pikiranmu?!!" katanya sambil tangannya menunjuk kearah Kiki dengan mata melotot tajam
"Bukan, bukan dari dia! Dia hanya menolong ku!!" bantahku sambil menepis tangannya yang menunjuk kearah Kiki dengan tegas.
Matanya yang tadi melototi Kiki berbalik kearah ku.
"Menolong? menolong apa?! dia itu cuma mau merusak hubungan kita! dia cuma ngiri sama kita karena dia sendiri belum pernah pacaran sampai sekarang! atau jangan-jangan bener yang dibilang orang, kalau dia ini memang cewek yang nggak normal, iya kan?!!!" tuduh Arga kepada Kiki dengan nada dan lirikan mata yang menyindir pedas
"CUKUP ARGA, CUKUP!!!!" teriak ku tidak terima tuduhan Arga terhadap Kiki yang begitu sadis,
Kemudian tangan Kiki melemas, Wajahnya seketika memucat sambil menengok kanan dan kiri mengamati orang - orang disekitar yang memperhatikan.
Kiki pun menutupi bibirnya yang biasa berkata bijak dengan kedua tangannya, wajah putihnya kini menjadi memerah dengan airmata yang mulai menetes dipipinya.
Pastinya dia sangat malu dengan ucapan Arga barusan, ditambah lagi disini sedang banyak orang yang memperhatikan kami.
"KA...KAMU KETERLALUAN ARGA! kamu tahu apa tentang aku, Bahkan aku sudah menutupi keburukan mu selama ini!!" ucap Kiki mulai buka suara
"Keburukan?! keburukan apa yang kamu maksud..ngomong aja yang jelas nggak usah sok nutup - nutupin!!" tantang Arga,
"Owh jadi kamu pikir aku takut mengungkap kelakuanmu selama ini?! bahkan yang Dara LIHAT tadi siang pun sebenarnya aku sudah sering melihatnya!!!" ungkap Kiki tanpa ragu
"Nggak usah bertele - tele, memang apa yang kamu LIHAT" desak Arga dengan sangat percaya diri seolah - olah tidak punya kesalahan apa pun.
"ARGA CUKUP..!!! kamu Ga, kamu kira aku nggak tahu kelakuanmu sama Amira?!!" Ungkapku Geram, tidak tahan lagi dengan kepura - puraannya dia yang sok suci.
"Apa? Amira? memang apa yang kamu lihat?!" tiba - tiba dia kaget mendengar pernyataanku barusan.
"kamuuu Arga..!!" tanganku gregetan menunjuk kewajahnya.
"Graap!!"
"Ayoo Dara! buat apa kamu buang-buang waktu sama cowok yang nggak tahu diri seperti itu!!" Kiki langsung menarik tanganku sambil membawaku pergi dengan cepat,
sudah pasti Kiki sangat sakit hati dengan apa yang sudah dikatakan oleh Arga kepadanya dari tadi.
Aku pun terus mengikuti langkahnya yang begitu cepat tanpa melihat wajahnya, namun suaranya yang agak serak sudah mengartikan bahwa dia sudah benar - benar sedang terisak.
__ADS_1