Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Butuh Jawaban


__ADS_3

"CEPET JAWAB!!"


Suara lantang Irvan seketika memecahkan keheningan ruang VIP yang tenang itu, Indra yang saat itu sebenarnya belum memasuki jam kerja pun rela datang lebih awal setelah beristirahat sebentar dirumahnya hanya demi mengurus mantan musuhnya itu.


"Kalian ini lagi nutupin apa sih dari aku? apa ada terjadi sesuatu sama Dara sampai kalian mengulur ulur waktu untuk menjawab pertanyaan ku yang sesepele itu? Bu, tolong jawab bu ada apa?!" tanya Irvan uring uringan melihat ibunya sibuk menahan airmata dengan tisue


"Bukannya ibu gak mau jawab nak tapi ibu sendiri bingung mau menjelaskannya darimana!" jawab Ibu yang terlihat gelisah membuat Indra jadi tidak tega melihatnya


"Ibu, ibu pasti udah kecapean karna dari pagi sudah berada disini, kalau gitu mendingan ibu istirahat aja dulu biar saya aja yang gantiin jaga Irvan, gimana?" saran Indra bukan berniat ngusir, hanya saja mimik wajah ibu sudah terlihat lelah dan sedih setelah mengurusi kedua anaknya tiba tiba masuk rumah sakit.


Ibu yang mengenal Indra baru kemarinpun mengangguk menanggapi bujukannya, tanpa ragu ia langsung mengambil tasnya diatas meja berniat mempercayakan Irvan kepadanya.


"Van ibu pulang dulu sebentar, nanti Reza atau Yudha yang ibu suruh kesini duluan nemenin kamu ya nak?" pamit ibu tergesa gesa berusaha menghindari pertanyaan Irvan tadi


"Ibu, ibu kan belum menjawab pertanyaanku barusan bu?!" panggil Irvan yang jadi semakin curiga atas firasat buruknya itu.


DEGDEG, DEGDEG!


Irvan yang saat itu baru saja sadar dari pingsan karena kekurangan darah, mendadak detak jantungnya berdegub kencang memompa aliran darah yang sepenuhnya belum stabil.


"Van sudah Van nggak baik terlalu mendesak ibumu seperti itu!" tegur Indra bermaksud mengingatkan untuk menghormati orang tua,


Namun setelah Indra menyadari kalau Irvan yang semakin kalut hampir kejang, akhirnya dia berniat menceritakan masalah Dara pelan pelan sambil membantu menstabilkan keadaan mental dan fisik Irvan yang mulai kacau.


"Oke oke Van aku bakal ceritain, tapi kamu tenangin diri dulu," perintah Indra lalu Irvan segera menurut demi berita tentang Dara


"Ayoo ikutin aku, tenangin pikiranmu, tarik napas dalam dalam.. iya, ulangi lagi... atur lagi pelan pelan biar tambah relax! yaaa gitu... santai..." kata Indra memberi instruksi agar Irvan tidak tegang dan aliran darahnya dapat mengalir normal


"Ayo Dra cepet ngomong aku udah siap, yang penting bukan hal buruk!" kata Irvan mendesak dan berharap


"Yaaa jadi begini Van, sekarang ini Dara itu sudah ......."


TOK TOK TOK!.. KRIIEET!


"Permisi dok!" sapa seorang perawat cantik


"Iya Vi?" Sahut Indra kemudian perawat itu menghampirinya dengan sopan


"Dokter Indra ditunggu sama Pak Kepala diruangannya sekarang, beliau bilang katanya mau nanya soal pasien yang diruang ICU tadi!"


"Sekarang juga?"


"Iya dok sekarang juga!"


"Aduuh! kalau gitu kamu tunggu dulu ya Van, gak lama kok!" pamit Indra tergesa gesa keluar kamar diikuti perawat cantik yang memanggilnya itu.


Setelah Indra menghilang dibalik pintu, didalam ruangan yang heningan itu Irvan justru mulai merasakan sesuatu yang tidak beres didirinya, sesuatu yang bergejolak yang dia tidak mengerti dan tidak bisa menggambarkan nya.


'Perasaanku kok nggak tenang gini ya? Mamah, aah iya aku tanya aja sama mamah dia pasti akan jujur sama aku!' gumam Irvan sambil menggapai handphone diatas meja samping tempat tidurnya.


Tut! "Nomor yang anda tuju...."


"Haah gak aktif? coba lagi!" (sambil menekan ulang)


Tut! "Nomor yang...."


"Loh kok, nomor mamah beneran gak aktif? aku coba tanya Doni deh!" (menekan nomor Doni)


Tut Tut Tut Bleb! (langsung terputus)


Tut Tut Tut Bleb! (setelah dicoba ulang)

__ADS_1


"Nomor Doni juga gak nyambung, loh kok handphone mereka kenapa bisa sama sama gak bisa dihubungi? atau jangan masalah jaringan kali ya!" gumam Irvan bingung sambil mengerutkan dahinya berusaha berpikir positif. Namun,


Perasaan tidak tenang mulai menebarkan prasangka buruk dihatinya, karena takut diapun langsung menutup matanya dengan tangan seolah sedang menutupi bayangan negatif yang terus saja bermunculan dipikirannya.


"Nggak.. Nggak.. NGGAK!!


Aaa.. Hagh.. Hagh.. Hagh..!! (mulai terisak)


Dia nggak akan kenapa napa, gak akan kenapa ... Hiks...hiks...


tapi kenapa hatiku gelisah?


kenapa perasaanku tidak tenang?


kenapa jiwaku hampa?


kenapa batinku merasa dia jauh?


kenapa? Kenapa? KENAPA?!.... Aagh!!" teriakan kuatnya membuat otot otot menegang hingga mendorong keluar darah yang tersalur dilengannya.


(Setengah jam kemudian)


"Indra?!" Tap Tap Tap


Panggil Rina saat melihat Indra baru keluar dari ruangan dokter, dan langsung berlari kecil menghampirinya


"Hay Rin, kamu dari rumah atau dari rumah sakit?" tanya Indra basa basi sambil mulai melangkah menuju kekamar Irvan


"Dari rumah sakit aku langsung kesini Dra, tengah malam tadi Irvan ngirim sms ke aku katanya minta tolong supaya aku trapi Dara yang habis dapat masalah besar di keluarganya sampe sampe penyakit lamanya kumat lagi, tapi kok barusan aku tanya dikonter depan katanya yang atas nama Dara sudah gak disini lagi, malahan Irvan yang lagi dirawat, gimana sih yang bener?"


"Kali ini Dara bukan cuma kumat aja bahkan sudah sempat masuk ruang ICU karena saat dibawa kesini keadaannya memang sudah kritis, tapi masalahnya sekarang kehadiranmu disini bukan buat trapi Dara lagi melainkan kamu harus bantu aku menenangkan mentalnya Irvan!" langkah kakinya semakin cepat


"Loh kok memangnya ada apa Dra, tolong jelaskan dulu permasalahannya sebelum aku nanganin pasien!" tanya Rina bingung sambil ikut mengimbangi langkah cepatnya


"Iya sudah!" mengangguk setuju


Setibanya didepan kamar Irvan, mereka berdua langsung menghentikan langkah kakinya. Tangan Indra yang sudah siap menekan handle pintu sejenak jadi ragu ragu saat mau masuk.


"Dra kenapa diem?" tegur Rina


"Kalau orang lain aja pasti gak ragu tapi ini temen sendiri, aku bingung mau mulai ceritanya darimana, masalahnya kamu tau sendiri Irvan kayak gimana sama Dara!" ucapan Indra yang bikin Rina jadi ikut cemas dengan kabar yang akan dia ceritakan tentang Dara


'Kenapa dari tadi cara ngomong Indra kayak gitu? Mungkin kah Dara sudah.....' gumam Rina dalam pikiran negatifnya


"Ayo Rin, kamu sudah siap belum?"


GLEG! menelan liur nya


"Aa.. Ayoo!" jawabnya ragu ragu


JGLEK!


Saat pintu terbuka Indra dan Rina mendapati Irvan dijaga dua perawat laki laki dan kedua adik kandungnya Reza dan Yudha.


"Dok, pasien melepas sendiri selang darahnya!" pengaduan salah satu perawatnya


"Iya nanti saya yang yang nanganin sisanya." sahut Indra tersenyum ramah lalu kedua perawat itu keluar


"Van kamu kenapa lagi? kan tadi udah aku bilang tenangin pikiranmu dulu, tapi aku dengar katanya kamu malah abis ngamuk ngamuk ya?" tanya Indra berusaha tenang melihat keadaan sekeliling kamar Irvan sudah berantakan dengan barang barang lemparannya.


Siapapun sudah tau kalau dibalik sifat humorisnya, terkadang dalam keadaan emosi tertentu Irvan juga tidak bisa mengontrol tempramentnya, itulah salah satu alasannya kenapa ibu dan Indra tidak sanggup menceritakan keadaan Dara saat ini padanya.

__ADS_1


"Van, kamu harus selesaikan transfusi darahmu dulu sekarang, karena hal kayak gini gak bisa ditunda tunda sampe kelamaan!" kata Indra sembari mengganti jarum lalu bersiap mencari urat baru dilengan Irvan untuk kembali mentransfusinya


"Memangnya kenapa kalau sampe kelamaan?" tanya Irvan memancing


"Masa kamu gak paham sih? yang namanya orang kekurangan darah dalam waktu lama yaa gak akan bisa bertahan lama, malah salah satu kasus kematian yang paling sering terjadi itu yaa disebabkan karna kehabisan darah, misalnya kecelakaan, keguguran, persal......" dalam sekejap Indra yang sedang memasang jarumpun langsung menghentikan bicaranya karena menyadari bahwa Irvan sedang memandanginya dengan tatapan tajam


"Kenapa diem? lanjutin penjelasanmu barusan!" perintah Irvan dengan curiga


Wajah Indra seketika itu juga langsung kaku dan berusaha tetap fokus untuk cepat menyelesaikan pekerjaan ditangannya itu. Setelah selesai diapun segera meminta Rina agar duduk disamping ranjang Irvan sebelum dia mulai bercerita.


"Van, aku akan ceritakan semua yang terjadi setelah kamu pingsan semalam, tapi kamu harus janji dulu bahwa kamu nggak akan melakukan apapun yang bisa merugikan dirimu dan keluargamu, dan aku juga minta kamu harus menuruti ketentuan dirumah sakit ini yang berhubungan dengan Dara! gimana?" kata Irvan menawari perjanjian


"Aku nggak paham maksudmu, aku cuma mau tau kabar adikku!" kata Irvan yang tidak ingin panjang lebar


"Kalau memang kamu masih bingung begini aja simplenya, yang penting tidak merugikan dirimu, aku mau kamu percaya sama aku dan turuti semua instruksi dari aku!" kata Indra menjelaskan


"Asalkan Dara selamat aku juga akan selamatkan yang lain dan menuruti kata katamu selama itu memang tidak merugikan aku!" sahut Irvan menyetujui


"Oke kalau gitu, jadi sebenarnya pas gak lama kamu pingsan aku sudah mencoba tiga kantong darah yang golongannya sama dari sumber yang berbeda, namun semuanya sia sia seperti saat menerima transfusi dari Betrand.


"Kalau gitu cepat antar aku temuin dia sekarang juga, dan ambil darahku sebanyak yang dia butuhkan!" pinta Irvan bersemangat bangkit buru buru mau turun


"Van sabar dulu aku belum selesai ngomong!" tahan Indra


"Apalagi?" tanya Irvan bingung


"Kamu mau datangin Dara kemana Van? Sejak pagi tadi Dara sudah gak ada disini lagi!"


"AA.. APA?!"


DEGDEG . . !


DEGDEG . . !


Mendadak wajahnya semakin pucat, degub jantung Irvan yang terlalu kuat menghalangi paru parunya memompa pernapasan hingga saat itu juga membuat dia jadi sesak, dan dengan sekuat tenaga tangannya mengepal baju dibagian dadanya karena kesakitan.


"Uuhg, Ah..! Hah... Hah... aaaah...."


BRUG!


"IRVAN?!" teriak Rina


.


.


Selingan


(Irvan : permisi mba Mut?


Mutya : Eh Irvan, tumben nyari saya duluan?


Irvan : Mbak jangan GeeR saya bukan lagi nyari Mbak tapi nyari Dara, kenapa diepisode ini dia gak ada nongol?


Mutya : Owh itu, yaa kayaknya kamu harus kecewa Van, kan kamu udah denger sendiri kemarin dia ngeluh sampe mau mengundurkan diri dari Novel ini, dan kemaren dia juga ngadu katanya kamu sudah cium bibir dia tanpa izin didalam mobil bahkan didepan Reza dan Doni!


Irvan : Aa.. apa, dia ngomong gitu! ta..tapikan itu keadaannya mendesak mbak!


Mutya : Yaa saya paham, tapi kayaknya dia udah terlanjur marah banget sama kamu! tadi aja susah banget ngebujuk dia supaya gak keluar dari novel ini, jadi mau gak mau aku terpaksa nurutin satu permintaannya.


Irvan : Permintaan apa mbak?

__ADS_1


Mutya : Nanti juga kamu tau sendiri. Intinya mulai sekarang kamu harus sabar tanpa Dara karena dia lagi gak mau ketemu sama kamu dulu! udah yaa Van saya ngantuk, Hoooams..


Irvan : Hiks... teganya...)


__ADS_2