Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#103. Tanpa Perasaan


__ADS_3

"Euught!! (Gregetan) wanita ini benar benar harus diberi pelajaran dulu supaya dia mengerti yang namanya etika dan biar dia punya rasa malu sama orang lain!!" Greget pak Arjuna yang tangannya sudah gatal ingin menampar.


"Sudah pah sudah! bukan kayak gini caranya, kalau sampai papah berbuat kasar malah papah yang nantinya jadi malu!" tegur Arga dengan sopan sembari tangannya tetap menahan.


Mendengar ucapan Arga barusan, sang pria dermawan itupun langsung menurunkan tangannya yang sudah siap melayang. Dia tertegun saat melihat wajah anak laki lakinya yang justru terlihat lebih tenang darinya.


"Arga, kenapa kamu masih bisa sabar nak? kenapa kamu nggak marah? bukankah wanita ini yang sudah mencelakakan pacarmu?" tanya pak Arjuna keheranan


"Siapa bilang aku nggak marah?" jawab Arga dengan tatapan serius


"Terus kenapa kamu malah menahan papah? kenapa nggak biarin aja papah memukulnya?" tanya si papah yang masih gergetan


"Dari aku kecil satu kalipun papah belum pernah memukulku, tapi kenapa sekarang malah mau pakai tangan papah buat mukul dia? Aku nggak rela pah, aku nggak akan biarin kalau tangan papah sampe kotor cuma gara gara dia!" ucap cetus Arga yang selalu saling sindir dengan ibu tirinya itu. Dan sang papah yang sudah terbiasa dengan hal itupun hanya terdiam tanpa berani berkata kata lagi.


Puk, puk, puk!


Tiba tiba tangan pak Arjuna menepuk nepuk pelan bahu Arga sembari berbalik badan, lalu dia kembali ketempat duduknya semula.


Arga yang hendak ikut duduk disamping ayahnya, tau tau tangannya ditahan ibu tiri yang berdiri disampingnya.


"Arga tunggu! makasih ya nak." ucapnya


"Anda gak usah basa basi sama saya, percuma dan sangat buang buang waktu!" sahut Arga dengan tatapan sinis


"Kalian ini kenapa sih? kenapa kalian seperti menuduhku?! hiks..." tanya wanita licik itu dengan jurus airmata buayanya.


Mendengar pertanyaan istri mudanya barusan, papah Arga yang sudah berusaha meredakan emosinya tiba tiba mengeluarkan satu amplop berukuran sedang dari kantong mantelnya, lalu dengan sengaja melemparkannya kehadapan wanita itu.


PROOK!!


Dengan diselimuti perasaan ragu dan cemas, wanita itupun segera memungut lalu mengeluarkan isi amplop tersebut. kemudian,


Srraaak..! Srak, srak...


baru sebentar membuka, matanya langsung melotot kaget sebab tidak percaya dengan apa yang sudah dilihatnya.


"Aa,apa?.. ja,jadi selama ini?..." kaki dan tangannya langsung melemas sampai membuat tubuhnya terjulur duduk diatas lantai beserta serakan kertas dan foto foto yang barusan dilihatnya.


"Kenapa kamu kaget?" tanya ketus papahnya Arga dengan lirikan sinis. "Masih coba mau membantah? atau kamu.. masih mau bertanya lagi salahmu apa?" Sambungnya menyindir


Wanita itupun langsung tertunduk malu, dia tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun dari mulut pedasnya. Sekarang dia merasa bahwa ini adalah akhir yang menyedihkan dalam hidupnya.


"Jadi selama ini, apapun yang aku lakukan dirumah itu sudah terekam? kok aku tidak tau kalau ternyata dirumah mereka ada cctv-nya?" tanya dalam hatinya. Dia tidak tau sama sekali kalau ternyata rumah properti milik suaminya itu, sudah didesain khusus untuk menyembunyikan cctv.


Rasa malu yang luar biasa kini semakin memuncak dibenaknya, dia merasa seperti sudah melempar kotoran diwajahnya sendiri, dan kini dia bingung harus berbuat apa didepan suami dan anak tirinya.


"Selama ini saya sudah cukup bersabar dengan semua prilaku dan juga kebiasaan burukmu. Tapi kali ini saya benar benar tidak habis pikir, bisa bisanya kamu mekakukan semua ini tanpa merasa bersalah dengan kerluarga disamping rumah kita!


Alm. kakek sultan sendiri yang telah membelikan rumah mewah milik kita untuk cucunya, dan dia telah mengalami kecelakaan dengan mobil dari kita yang seharusnya kita malu dengan hal itu!.


Tapi kamu apa, hah? Kamu malah sengaja ngundang teman temanmu yang tidak jelas untuk berpesta selagi aku nggak ada, apa itu pantas?!


Dan sekarang ditambah lagi kamu dengan SANGAT sengaja mencelakakan cucunya almarhum! Maksudnya apa? mau menambah beban malu untuk ku, mau merusak nama perusahaanku?!" Ucapnya menekan emosi


"Nggak pah nggak, mamah...."


"Cukup!! Lebih baik sekarang kamu pergi, saya tidak mau lagi melihatmu, awas saja kalau sampai besok saya masih melihatmu dinegara ini!" ancamnya geram sambil mengepal kuat kedua tangannya.

__ADS_1


Melihat papahnya sampai mengeluarkan urat dikepala, Argapun berusaha menenangkannya lagi.


"Pah sudah pah, nggak enak kalau sampe kedengeran orang, yang penting sekarang ini Daranya juga sudah nggak kenapa napa lagi!" Kata Arga sembari mengusap usap punggung papahnya.


Pak Arjuna memejamkan mata, kemudian menyangga kepala dengan kedua telapak tangannya. "Huuuufft...." dia menghela napas dibibirnya yang pucat dan sorotan mata yang sudah terlihat sangat stress, belum lagi rasa lelah dipundak karna baru saja tiba dari Indonesia.


Ibu tirinya yang sadar kalau sudah tidak punya muka lagi,akhirnya bangkit dari jatuh duduknya dengan kepalanya masih menunduk. Dengan langkah perlahan ia mulai berjalan menuju keluar rumah sakit.


"Anak sialan, gadis sialan, kalian berdua lihat saja nanti apa akibatnya. Aku tidak terima dipermalukan begini didepan Arjuna!" Gumam wanita jahat itu mengancam dalam hati.


Pak Arjuna sama sekali tidak ingin menghiraukan istri mudanya itu, bahkan bisa dikatakan memang tidak pernah peduli dengan wanita itu, karna dalam lubuk hatinya masih sangat mencintai Maria, mamahnya Arga.


Kini dia sudah merasa sangat menyesal dengan kesalahan masalalunya.


"Arga, apa kamu membenci papah nak?" Tanyanya ragu ragu.


Mendengar papahnya tiba tiba bertanya seperti itu, tatapan Arga seketika itu jadi melamun lurus kedepan. Bagai terhisap kelorong waktu masa lalu, bayangan demi bayangan disetiap kejadian yang menyebabkan keretakan keluarganya dulu langsung membenak lagi.


"Aku nggak tau pah! Oiyaa.. Papah pasti kecapean, lebih baik papah segera pulang dan beristirahat. Aku nggak pulang, aku mau jaga Dara disini!" Sahut Arga mengalihkan topik pertanyaan papahnya tadi, kemudian dia bangkit dari duduknya menuju kekamar Dara yang tentu saja meninggalkan papahnya sendirian diluar.


Melihat sikap Arga yang tiba tiba dingin kepadanya, pak Arjuna pun menyadari kalau anaknya itu sudah sangat kecewa dan mungkin sudah tidak akan memaafkan dirinya lagi.


"Maaf nak maaf, andai waktu bisa terulang lagi papah tidak akan bergaul dengan teman yang salah!" Gumamnya menyesal dalam hati.


Kemudian dia mengingat kembali kejadian tiga tahun silam yang mana saat dia sedang mengembangkan usahanya yang diAmerika, tanpa dia sadari salah satu dari rekan bisnisnya ada yang sudah menjebak dia.


Suatu pagi, dimana setelah malamnya dia dan beberapa teman bisnisnya merayakan peresmian cabang baru, tau tau dia terbangun disebuah kamar hotel dengan seorang wanita dalam keadaan mereka berdua sudah tanpa busana.


Dia benar benar tidak ingat apapun saat itu, yang dia ingat terakhir kali hanyalah saat dia sedang duduk mengobrol dengan teman temanya, mendadak dia merasa sangat pusing dan mengantuk.


Dan dua bulan setelahnya, wanita yang pernah satu kamar dengannya waktu itu mengaku kalau dia sudah hamil dan meminta pertanggungjawaban terhadapnya.


Dan karena pernikahan itulah, selain membuat rumah tangganya dengan mamah Arga jadi berantakan, juga telah menimbulkan permusuhan diantara dia dengan saudara saudaranya, dan parahnya lagi, pertengkaran yang terjadi dengan saudaranya terutama dengan papahnya Amira, sampai membuat mereka saling memutuskan tali silaturahmi. (karena keluarga besarnya tidak ada yang setuju, terutama papahnya Amira)


Dan anehnya, wanita itu sangat terlihat tidak pernah menyayangi anak bayinya yang sekarang baru berusia dua tahun. Ibu jahat itu lebih mengutamakan berkumpul, belanja dan bertukar pesta dengan teman temannya. Seperti sekarang ini, dia dengan tega meninggalkan anak balitanya itu bersama pengasuh diAmerika demi mengikuti suaminya yang sedang berbisnis.


Sebenarnya pak Arjuna sudah lama merasa curiga, kalau anak balitanya yang sedang ditinggal itu bukanlah anak mereka, sesekali terbesit ingin sekali memastikan kebenarannya, yaa tentunya dengan melakukan tes DNA, hanya saja ia agak tidak tega melakukannya.


Tapi setelah kejadian hari ini, ia mulai bertekad akan melakukannya. Dan kalau sampai kecurigaanya itu benar, pak Arjuna benar benar sudah merasa tertipu mentah mentah oleh beberapa teman bisnisnya. Dia sungguh tidak menyangka kalau demi kekuasaan, mereka rela menghancurkan keluarga temannya sendiri.


Padahal mereka adalah group, mereka sama sama membangun usaha dari nol hingga sekarang sudah hampir merajai pasar properti diberbagai macam negara. "Aaah... aku nggak mau pulang dan nggak akan pulang selama wanita itu belum pergi!" gumamnya karena sudah merasa lelah dijiwa raga.


(Dikamar Roy)


Karena sudah dikabarkan Arga kalau keadaan Dara sudah tidak apa apa, Roy yang tadinya ingin menjenguk akhirnya memutuskan akan menundanya menjadi besok siang sekalian mengantarnya pulang.


"Aku sebenarnya pengen banget jenguk Dara, tapi gara gara Irvan nelpon seolah olah kayak gak punya salah jadi bikin moodku rusak duluan!" Dumel Roy sambil baring baring diatas kasurnya dengan perasaan tidak tenang.


"Aaah!.. Kok aku jadi kepikiran terus sama si kunyuk Irvan itu ya? Apa karena aku belum liat sendiri keadaan Dara jadinya masih cemas? Sudahlah kalau gitu besok pagi sebelum ngantor aku mampir kerumah sakit dulu!" pikirnya.


Dan sesuai rencana yang dibuatnya semalam, Roypun pagi pagi sekali pergi menjenguk Dara dengan membawakannya satu bingkisan parsel buah.


"Dek, buahnya kak Roy taro sini aja ya?" tanyanya sambil meletakan keranjang parsel itu diatas meja samping ranjang Dara.


Niat Roy menaruhnya disitu, supaya Dara tidak jauh jauh saat ingin mengambilnya. Namun dari awal Roy masuk kedalam ruangan, tatapan Dara terus tertuju hampir tak berkedip kearah parsel buah ditangannya tersebut


"Jangan taro disitu kak, tolong jauhin dari aku!!" pintanya dengan wajah ketakutan.

__ADS_1


"Hah? Oh iya iya!!" buru buru Roypun mengambil kembali dan langsung memindahkan parselnya keatas meja didekat sofa.


Melihat sikap Dara yang ketakutan seperti itu, tentu saja membuat Roy jadi bingung.


"Mm... Dek? memangnya ada apa sama parsel itu?" tanyanya hati hati.


"Buah buah itu kak, Aah!!....." belum selesai bercerita, Dara langsung menutupi wajah dengan kedua tangannya.


"Oke oke, gak usah cerita sekarang!" kata Roy yang takut membuat Dara tambah syok. Kemudian dengan lembut ia menusap usap rambut Dara berusaha menenangkannya.


JGLEK, Krieeet!!


"Eeh.. kak Roy udah disini sekalinya?" sapa Arga yang tiba tiba muncul dari balik pintu


"Iya nih.. Sebenarnya mau kesininya nanti siang pas sekalian antar Dara pulang, tapi kak Roy kepikiran terus, jadinya mampir sebentar aja sebelum ngantor!" Sahut Roy sambil tangannya terus mengusap usap rambut gadis yang masih menutupi wajahnya itu.


Melihat tingkah aneh Dara, Argapun jadi bingung apa yang telah terjadi selama dia tinggal barusan.


"Dara kenapa kak?"


"Ssttttt....!" desir dibibir Roy bermaksud memberi kode supaya jangan dibahas sekarang.


Kemudian Roy menoleh kearah Dara yang masih belum bersuara. "Dara, kak Roy berangkat kerja dulu ya? nanti siang kakak kesini lagi sekalian ngantar kamu pulang!" pamitnya.


Mendengar ucap pamit kakak angkat barunya itu, Darapun langsung membuka tangan yang jadi nampak wajah pucatnya.


"Iya kak, hati hati yaa? nanti aku tungguin kak Roy datang baru pulang!" sahut manis Dara yang membuat Roy seketika itu langsung tersenyum lebar.


"Ternyata begini yaa rasanya punya adik?" gumam dalam hati Roy sangat senang.


Dia merasa bahagia akhirnya ada yang memperhatikan dia sebagai saudara, karena selama ini dia merasa hidupnya kesepian sebagai anak tunggal.


Setelah berpamitan dengan Dara, ia kembali menoleh ke Arga dengan sedikit kedipan mata sambil melangkah kearah pintu luar.


"Kakak pergi ya Ga?" ucap kodenya yang dipahami Arga.


"Beib aku antar kak Roy kedepan dulu ya?" ijin Arga yang langsung dijawab anggukan oleh Dara. Sesampainya diluar ruangan Roy pun mulai menanyakan hal yang tadi sudah membuatnya penasaran.


"Ga, tadi itukan kak Roy lagi mau ngasih parsel buah buat Dara, eh tau tau dia langsung nyuruh ngejauhin parsel terus dia langsung nutupin mukanya! memangnya ada apa sama parsel? kan biasa dia senang kalau kakak bawain parsel?" tanya Roy dengan ekspresi kebingungan, kemuadian Arga berpikir sejenak.


"Saya rasa bukan karena parselnya kak, tapi karena buahnya! soalnya kejadian kemaren sore itu gara gara buah yang sengaja ditumpahkan mamah tiri saya buat mencelakakan dia!" Jawab Arga menjelaskan


"Apa?! maksudmu mamah tirimu yang...."


"Iya kak, jadi begini ceritanya....(Argapun menceritakan lebih rinci kejadian kemarin sore itu)"


Setelah selesai mendengarkan cerita Arga, Roy pun langsung jadi geram.


"Terus papahmu dimana sekarang?" tanyanya.


"Dari semalam papah tidur dihotel, dia nggak mau pulang kerumah kalau perempuan itu belum pergi dari Jerman!" jawab Arga yang terlihat pusing dengan masalah dikeluarganya yang tidak kunjung usai.


"Yaa sudah kalau gitu, kakak pergi kerja dulu ya? nanti siang tunggu kakak datang dulu baru pulang!" pesan Roy sembari memperhatikan jam ditangannya.


"Iya kak, hati hati!" sahut Arga sambil bersiap masuk kembali keruangannya Dara.


Sesampainya didalam, Arga mendapatikan Dara yang sedang duduk termangu diatas ranjangnya.

__ADS_1


"Kamu lagi mikirin apa sih beib, kok sampe melamun begitu?" tegur Arga berniat ingin menggodanya, namun gadis itu malah menjawab dengan tatapan kosong dimatanya.


__ADS_2