Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Orang ketiga


__ADS_3

Tiba tiba langit menjadi mendung sebab matahari tertutup awan kelabu mengiringi gelapnya perasaanku, gemuruh badai mulai menerpa kesadaranku bahwa tidak akan ada lagi kehangatan yang selembut seperti dirimu didunia ini, rasa takutku hanya mampu mendorongku moronta,


"Tolong, jangan pergi, jangan tinggalkan aku!


Karena tanpa dirimu kenangan tidak akan hilang tetapi juga tidak akan bertambah, tolong dengarkan permintaanku kali ini saja, aku mohon padamu tetaplah bersamaku disini!" namun kau tetap saja membisu


"Apa kamu pikir aku bisa bertahan?


tidak, aku tidak akan sanggup bila harus berpura pura kuat tanpa dirimu!


Rasa sayangku tidak dapat dihapus hanya dengan ancaman, walaupun kaki tanganku akan dibelenggu rantai besi sekalipun aku rela bila itu memang harus kutebus demi agar kau kembali, karena aku tau bahwa tidak akan ada yang mampu memberi seperti yang kamu beri padaku, tapi kenapa sekarang kau malah mau berpaling? Hiks...


Kabut tebal tiba tiba menghadang pandanganku membuat aku semakin pudar melihat dirimu yang sedang melangkah menuju suatu titik cahaya, tapi aku akan tetap berusaha mengikuti walaupun kau tak mengizinkannya, namun kenapa tubuhku ini malah terjatuh hingga kakiku tak mampu lagi berdiri, dan kulihat punggungmu semakin menjauh dariku?


Tak inginkah kau menoleh dan kembali menggapai tanganku seperti dulu?"


"Mas! Hiks Hiks.. Mas?" Dengan mata terpejam bibir Dara terus saja memanggil dengan lirih


"Dara?" sebuah tangan mengusap lembut dahinya yang berkeringat


"Hiks, jangan.. MAS IRVAAN.!!" Teriak Dara


"Dara? hey, mas disini dek!" panggil Irvan berusaha membangunkan Dara dari tidurnya yang mengigau


"Hoohs...Hosh...Mas Irvan?"


Dengan napas tersengal sengal Darapun membuka mata dan melihat orang yang ditangisinya itu sedang duduk sampingnya , tanpa pikir panjang diapun langsung memeluknya dengan erat.


"Hiks mas.. aku mohon jangan mas, jangan pergi! hiks hiks!" pintanya terisak isak dalam pelukan Irvan


"Mas disini dek, mas gak ada kemana mana! kamu cuma mimpi cuma mimpi!" sahut Irvan berusaha menenangkan dengan belaiannya


'Syukuuur, HiksHiks! akhirnya ini beneran cuma mimpi, aku tau langit tidak akan sekejam itu padaku! hiks" bisik Dara


"Memangnya barusan kamu abis mimpi apa sih dek kok sampe ketakutan begini? liat badanmu sampe begetar semua!" tanya Irvan


"Jangan tanya mas, aku gak mau ingat lagi! aku mohon mas jangan tanya tentang itu, biarpun cuma mimpi tapi aku beneran gak sanggup membayangkannya!" jawab Dara semakin terisak dengan linangan airmata yang berjatuhan dilengan Irvan


"Iya dek iya, mas gak akan tanya itu lagi, sekarang tenangin dirimu yaa!" kata Irvan sambil menciumi rambut Dara yang berkeringat


Entah apa maksud dari mimpinya barusan yang dia rasa begitu nyata hingga seluruh tubuhnya gemetar, lelah dan melemas karena sudah terkuras energi dan emosinya. Meskipun tadi Irvan bilang tidak akan menanyainya namun bukan berarti dia tidak penasaran dengan mimpi yang Dara alami barusan. Memang saat ini harinya bukan lagi malam tapi bagi Irvan tidak berarti mimpi sebuah mimpi itu tidak memiliki arti, tambahnya lagi saat mengigau Dara terus menerus memanggil manggil namanya dalam tangisan.


Beberapa saat kemudian:


"Mas Irvan?"


"Iya dek?"


"Kok aku ada dikasur, seingetku bukannya tadi aku lagi dibalkon?" tanya Dara linglung


"Loh kamu lupa ya dek? tadi pagi kamu memang lagi tidur dikursi balkon, cuma pas mataharinya sudah mulai tinggi dan kamu berkeringat jadinya mas pindahin kamu kekamar, masa kamu gak inget sih kan waktu mas angkat kamunya sempet terbangun minta dinyalahin ac!" jawab Irvan

__ADS_1


"Masa sih? aku gak inget sama sekali"


"Iya dek, masa mas bohong sih? terus tidurmu tambah nyenyak loh tadi!" jelas Irvan menambahkan


'Mungkin saat ac dinyalahkan aku jadi bermimpi merendam diri" pikir Dara


Nyuut!


'Uuh, ya ampun sakitnya!' ucap Dara dalam hati yang tiba tiba sakit diperutnya semakin kuat.


"Oiyaa dek, kok obat penenangmu sisa sedikit sih, yang lainnya kemana, pasti kamu buangin ya?" tanya Irvan penasaran, dan karna takut Dara menggelengkan kepala menjawabnya


"Nah terus pada kemana yang lainnya? kan semalam obatmu mas yang tebusin loh dan semua itu disiapkan untuk sampai minggu depan, tapi tadi mas itung lagi kenapa tinggal sisa buat dua hari?" tanya Irvan mulai mendesak


Bukannya menjawab pertanyaan, tau tau Dara malah menutupi wajahnya dan kembali menangis tanpa sebab membuat kecurigaan Irvan semakin menjadi jadi.


"Dek, tolong jawab! jangan bilang kamu sudah minum stok yang lainnya?" Irvan mulai curiga


"HiksHiks!" Dara akhirnya mengingat semua hal yang terjadi sebelum dia tidur.


"DARA, JAWAB!! APA JANGAN JANGAN MEMANG BENERAN KAMU SUDAH MINUM SEMUA OBAT ITU?!" Bentakan Irvan membuat Dara langsung mengangguk mengakuinya


"Yaa Tuhan, kamu sudah gila ya? pantesan aja tidurmu lama banget dari pagi sampai sesore ini! Kamu tau gak kalau obat itu sebenarnya untuk menetralisir obat yang udah.... Agh! Dek, kamu ini ada masalah apa sih sebenarnya, Haah? Ngomong!" Rasa cemas Irvan yang terlalu penuh akhirnya meluap luap menjadi emosi hampir hilang kendali


'Astaga, hampir aja aku keceplosan mengenai obat yang ku tebus dari rumah sakit semalam, karna sebenarnya obat itu bukan sekedar obat penenang biasa melainkan obat untuk menetralisir obat bius yang diberikan Betrand kepadanya, aku khawatir efeknya bakal sama buruk kalau diminum berlebihan! ya ampun Dara kamu ini kenapa sih?' Gumam Irvan dalam hati


Sembari menangis Dara pun terus berpikir apakah dia harus menceritakan kejadian yang membuat dirinya hampir lupa kendali?


"Kamu tunggu disini sebentar ya, mas mau kebawah buatin kamu susu kental dulu!" kata Irvan bernada datar menahan kesal


Namun dengan cepat tangan Dara malah menahannya yang hendak bangkit jadi duduk kembali.


"Mas Irvan, aku bakal cerita tentang masalahku asalkan kejadian dimimpiku tadi nggak akan jadi kenyataan. Kalau mas mau marah bahkan sampai memukulku gak apa apa, aku pasti terima asalkan mas juga janji nggak akan pernah ninggalin aku!" ucapan Dara yang membingungkan terlihat seperti orang yang sedang mabuk.


Emosi Irvan yang berbalut kecemasanpun membuat rasa penasaran atas penyebab Dara berbuat nekad jadi meluluhkannya, tanpa ragu dia langsung mengiyakan permintaan Dara bermaksud agar gadis itu tenang.


"Iya dek iya, mas janji! mas gak akan marah apalagi sampai mukul, dan pastinya mas juga gak akan pergi kemana mana lagi tanpa kamu!" sambil menghapus airmata dipipi Dara.


Kemudian Dara menarik napas panjang dan mulai menceritakan sebuah kejadian yang mengagetkan Irvan,


"Tiga hari yang lalu aku gak sengaja denger obrolan papah ditelpon yang kayaknya orang itu lagi maksa papah supaya cepat kembali keJakarta, tapi dengan berbagai alasan papah minta waktu sedikit lagi supaya bi....."


Nyuuut...


'Sssstt, Aduh sakitnya!' gumam Dara dalam hati yang rasa sakit diperutnya semakin kuat. Yaa gimana perutnya gak sakit? karna terakhir kali dia makan, yaitu cuma saat bersama Betrand kemarin malam dan parahnya lagi dalam keadaan perut masih kosong pagi tadi malah minum obat sampai melebihi aturan.


"Kok diem dek?" tegur Irvan


"Ah! mas, apa boleh aku pinjam bahu sebelah kiri buat bersandar?"


"Kenapa kamu tanya gitu? bahu mas yang manapun akan selalu siap buat kamu!" jawab Irvan berupaya menyenangkannya

__ADS_1


"Bukannya apa, tapi bahu kanan mas juga kan lagi sakit gara gara aku!" kata Dara sambil mulai menyandarkan kepalanya yang terasa pusing.


"Memangnya apa yang kamu tau tentang luka dibahu mas... Ah nggak! Terus gimana kelanjutannya tadi, papah minta waktu supaya apa?" tanya Irvan yang hampir mengungkit masalah Betrand.


"Aku dengar papa minta supaya diizinin lama disini!" Jawab Dara melamun


"Loh kok gitu? ini kan rumah papah, masa mau pulang kesini harus minta izin orang, kalaupun yang mendesak itu urusan kantor juga tetap aja gak bisa soalnyakan itu kantor milik papah sendiri! hmmm.. mas jadi heran, orang itu siapa sih?" tanya Irvan bingung


"Hehehee... mas penasaran ya siapa orangnya? kalau menurut tebakan mas Irvan kira kira siapa orang yang bisa menekan papah?" tanya Dara santai


"Yaa siapa lagi? selama ini yang mas tau yaah cuma kamu aja orangnya!"


"Iyah itu dulu... tapi sekarang sudah nggak lagi, yang jelas pengaruhnya orang itu lebih kuat daripada aku. Asal mas tau aja kalau orang itu adalah faktor utama penyebab papah susah dihubungi dan juga penyebab sampai papah gak pulang selama setahun ini, karena orang itu adalah.... istri baru papah diJakarta!" cerita Dara tanpa beban


"Hah! Apa dek, kamu serius? kamu gak boleh ah asal tebak kalau gak ada bukti, bisa aja kan orang yang bicara ditelpon dengan papah itu memang klien pentingnya!" bantah Irvan


"Tadinya juga aku berpikir seperti itu, tapi subuh tadi pas gak lama pulang dari rumah sakit mamah papah ribut dikamar, bahkan sampai ada sesuatu yang terdengar pecah dari dalam, karena khawatir tadinya aku berniat memastikan keadaan mereka, tapi baru aja sampai didepan pintu kamarnya aku mendengar sendirk papa mengakui kalau dia memang sudah punya istri dan juga seseorang anak perempuan yang masih bayi! yaaa... awalnya aku mau marah tapi gak bisa, karna aku sadar diri baru aja buat masalah dirumah ini!" ceritanya tanpa ekspresi


Mendengar cerita Dara barusan Irvan langsung gregetan sampai mengepalkan tangannya dan diapun jadi teringat mamah yang waktu itu terlihat murung saat dia menanyakan kabar tentang papah, ditambah lagi sikap mereka berdua yang terlihat tidak harmonis semenjak papah pulang, bahkan Irvan juga sempat beberapa kali memergoki mamah papah ribut dan saling sindir seperti tadi pagi.


"Apa itu alasan yang bikin kamu frustasi sampe minum banyak obat? bahkan kue yang kamu bikinin tadi pagi itu maksudnya mau buat salam perpisahan? Jadi karena ulah papah kamu sampe mau ninggalin mamah, ibu, adik adik dan mas disini, iya, begitu?!" tanya Irvan menekan


"Nggak mas nggak gitu, aku gak ada niat sama sekali buat macam macam sampe mau begitu! aku buat banyak makanan dari subuh karena aku gak tenang jadinya aku cari kesibukan buat mengalihkan pikiranku, tapi setelah selesai aku tetap aja terus kepikiran tentang pengakuan papah itu, aku bener bener gak bisa bayangin rasa sakit hatinya mama saat ini walaupun aku tau mamah itu adalah wanita terkuat yang aku temui, tapi tetap aja yang namanya udah dikhianati pasti menyakitkan, iya kan mas?" Irvan pun tersenyum iba


"Terus kalau memang kamu gak frustasi kenapa sampai minum obat sebanyak itu?" tanya Irvan sambil membelai


"Tadi pagi aku cuma berniat cepat tidur supaya bisa sebentar melupakan masalah ini, dan karna susah tidur jadinya aku minum obat penenang itu, awalnya cuma minum dua butir, tapi sudah sampai setengah jam rasa ngantuk gak juga datang bikin aku tambah kesel jadinya aku minum lagi tanpa menghitungnya dulu!" jelas Dara polos


"Ya ampun dek, kok kamu seceroboh itu sih?kamu boleh aja emosi, tapi apa kamu gak pikirkan resikonya? terus sekarang apa yang kamu rasain? ada yang sakit gak?" tanya Irvan khawatir


"Nggak ada!" jawab Dara berbohong padahal dari tadi sudah menahan pusing dan sakit diperutnya.


"Aah mana mungkin nggak ada, mas gak percaya! sini, mas liat dulu mukamu!" sambil tangannya memegangi kedua pipi Dara, Irvan menatap dengan penuh seksama wajah gadis yang disayanginya itu.


"Tuh kan! walaupun kamu bilang gak ada, tapi kamu gak bisa bohong sama mas!" kata Irvan mengejutkan Dara


"Apaan sih mas ini, tau darimana aku bohong? orang aku beneran baik baik aja kok!" Bantah Dara


"Dari mukamu sudah terlihat jelas, tuh liat jadi tambah jelek karna selalu bikin mas mu ini cemas!" jawab Irvan tersenyum usil lalu kembali memeluknya


"Mas mulai kumat lagi deh ngerjain aku! tapi kenapa aku baru sadar yah kalau ternyata cuma pelukan mas Irvan ini yang bisa bikin aku bisa tenang dalam sekejap! tau gitu aku tadinya langsung cari mas aja jadi gak perlu obat lagi!" ucap Dara merasa tenang


"Kenapa kamu baru sadar sekarang dek, jadi dari dulu kamu anggap mas ini apa, bantal?"


"iih mas ini mikirnya negatif terus sama aku! buat aku mas itu adalah pahlawan, aku sudah terbiasa hidup jauh dari papah tapi gak akan bisa jauh dari mas!" ucap Dara yang sedang terhanyut dekapan Irvan


"Hmmm.. Bisa aja kamu dek! ngomong ngomong Kamu beneran gak ngerasain apa apa misalnya pusing, mual, atau yang lainnya gitu?"


"Nggak ada mas, aku cuma masih ngantuk aja!" jawab Dara masih saja berbohong karna tidak mau buat Irvan khawatir lagi karnanya


"Kalau gitu kamu makan dulu ya, ini udah sore loh!" bujuk Irvan sambil menunjukan jam yang jarumnya sudah mengarah pada pukul empat sore

__ADS_1


"Loh aku tidurnya sudah lama banget ya mas? tapi aku nggak merasa lapar sama sekali! kalau mas lapar mas aja yang makan gih, aku mau tidur sebentar lagi!" kata Dara sambil mulai merebahkan tubuh


"Eeh eh jangan tidur lagi! ayook temenin mas makan, mas sudah kelaparan banget nih tapi kalau kamu gak temanin mas juga gak mau makan!" kata Irvan memaksa dengan cara menariknya dari tempat tidur mengajak Dara kedapur


__ADS_2