
Meeting hari ini telah berjalan dengan lancar, kini Dika tinggal menunggu keputusan Tuan Surya apakah kerjasama ini disetujui atau tidak.
"Saya sangat suka dengan penjelasan dari asisten Anda, sangat singkat tapi mudah untuk dipahami dan dimengerti." Puji Tuan Surya.
"Terima kasih Tuan, saya juga masih perlu belajar lagi." Balas Andre merendahkan diri.
"Dan keputusan saya kali ini, saya menyetujui kerjasama ini. Karena saya sudah tahu bagaimana perkembangan perusahaan milik Tuan Bramantyo selama ini." Imbuh Tuan Surya.
"Jadi kerjasama ini deal, Tuan?" Tanya Dika memastikan.
"Benar, silakan nanti ikut sekretaris saya untuk menandatangi kontrak kerjasama." Jawab Tuan Surya.
"Baik Tuan, saya ucapkan terima kasih telah memberi kepercayaan pada perusahaan kami untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan Anda." Ucap Dika sambil menjabat tangan Tuan Surya.
"Sama-sama Tuan Dika, semoga bisa berjalan dengan baik." Harap Tuan Surya.
"Baik Tuan, kami akan berusaha memberikan yang terbaik agar Anda puas dengan kerjasama kita."
Setelah berhasil mengajukan kerjasama, Dika kembali ke mobil terlebih dahulu, sedangkan Andre masih mengurus surat kontrak kerjasama.
Alhamdulillah semua berjalan lancar dan berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan Tuan Surya.
Dika mengirim pesan pada Sintia, mungkin karena senangnya dia langsung memberitahukan kabar bahagia ini.
Ting
Alhamdulillah, selamat Kak. Semoga sukses selalu 😍.
Begitulah balasan dari Sintia, Dika sangat bahagia mungkin karena dia sudah mulai move on dari Tiara. Sehingga Sintia adalah orang pertama yang dia beritahu.
"Semua sudah beres Tuan, minggu depan bisa memulai kerjasamanya." Ucap Andre ketika sudah menyusul Dika di mobil.
"Terima kasih, kamu memang bisa diandalkan." Balas Dika.
"Sekarang kita langsung pulang atau Tuan mau mampir ke suatu tempat?" Tanya Andre sambil menyalakan mobilnya.
"Kita cari tempat istirahat saja sekalian makan bekal dari Sintia tadi."
Andre melajukan mobilnya, dia sambil memperhatikan tempat yang bisa untuk istirahat sejenak.
Setelah 15 menit perjalanan, Andre menghentikan mobilnya di sebuah supermarket.
"Kita istirahat di sini saja Tuan, biar saya beli minuman dingin dulu." Ucap Andre lalu keluar dari mobil.
Saat Andre masuk ke supermarket, Dika pun langsung keluar dari mobil tak lupa membawa bekal tadi lalu duduk di teras supermarket.
Ketika membuka kotak bekal, Dika terdiam sejenak.
"Ada apa Tuan?" Tanya Andre yang melihat Dika hanya memegang tutup bekal dengan melamun.
__ADS_1
"Enggak apa-apa Ndre. Cuma inget sesuatu." Jawab Dika lalu menyodorkan bekal tadi pada Andre.
"Ambillah!"
Andre mengambil satu iris kue itu lalu memakannya.
"Gimana? Enak?" Tanya Dika.
"Sangat enak Tuan." Jawab Andre tanpa menghentikan kunyahannya.
"Tentu saja. Karena kue buatan Tiara nggak ada duanya." Tutur Dika sambil memakan kue itu.
Uhukk uhukk
Andre yang mendengar penuturan Dika langsung tersedak. Dia mengambil minumnya lalu menenggaknya hingga tersisa separuh.
"Dari mana Tuan tahu kalau ini buatan Nona Tiara?"
"Tahulah. Karena Tiara sering kasih mama kue buatannya dan rasanya memang enak." Jelas Dika.
"Tuan." Panggil Andre.
"Hem, apa?"
"Nanti saya nggak jadi ayam geprek kan gara-gara makan kue ini?"
"Ya siapa tahu habis ini Tuan ngadu sama Nona Sintia kalau saya ikut makan kuenya, terus suami Nona Tiara tahu dia nggak terima kalau ada orang lain yang makan kue buatan istrinya." Jelas Andre dengan polosnya.
"Hahahahaha, Andre kenapa pikiranmu sejauh dan sedetail itu sih?" Tanya Dika disela tawanya.
"Ya, kan saya cuma mau antisipasi juga Tuan. Belum ngerasain nikah masa muka saya mau dibikin hilang ketampanannya, entar nggak ada yang mau sama saya."
"Puji terus diri sendiri. Tingkat kepedeanmu itu lho udah kayak orang kurang belaian." Ejek Dika.
"Hehe muji diri sendiri ya nggak apa-apa lah Tuan. Selama ini kan nggak ada yang mau muji ketampanan saya."
"Bukannya nggak mau muji, Ndre. Tapi cewek-cewek pada takut lihat muka judes kamu itu."
Andre menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Karena apa yang dikatakan Dika tidak sepenuhnya salah.
-
-
-
-
"Hayo ngapain dari tadi senyam senyum? Kayaknya happy banget." Goda Tiara.
__ADS_1
"Emang kelihatan banget ya, Kak."
"Jelas banget kelihatan Markonah, kalau nggak kelihatan berarti buta."
"Hehehe, sensi amat bumil."
"Ada apaan sih? Aku perhatiin dari tadi senyum terus, aku sampai takut kalau kamu kenapa-napa."
"Emangnya aku gila apa?" Gerutu Sintia.
"Kan aku nggak ngomong kalau kamu gila, aku cuma takut kamu kesambet setan penunggu pohon mangga belakang rumah." Ucap Tiara asal.
"Seriusan ada penunggunya Kak?"
"Iya, makanya Kakak takut kamu kesambet soalnya kan kamu sering duduk dibawah pohon itu."
"Akh, Kakak. Aku nggak mau duduk di sana lagi, biar ditebang aja sekalian pohonnya."
"Enak aja, entar kalau aku pengen mangga muda terus gimana?"
"Kan bisa beli di pasar atau toko buah."
"Males, lebih nikmat kalau langsung dari pohonnya."
"Oh, ya tadi habis dapat apa sih?"
"Hehehe, dapat pesan dari Kak Dika kalau kerjasamanya berhasil." Jelas Sintia sambil tersenyum senang.
"Cie, bau-baunya bakal ada yang mau lamaran nih." Goda Tiara.
"Aah, pokoknya seneng banget. Pengen cepet-cepet kawin." Ujar Sintia.
Tiara menoyor dahi Sintia lalu berkata, "Nikah bukan kawin, Markonah."
"Kan sama aja sih."
"Nikah dulu baru kawin, bukan kawin dulu baru nikah."
"Kak Tiara, dasar otak mesum. Udah terkontaminasi sama Kak Mahesa." Tutur Sintia lalu bergeser agak menjauh dari Tiara.
"Hahaha, ngapain geser?"
"Takut ketularan, kan aku masih ting-ting."
"Halah, lihat aja nanti kalau udah nikah. Pasti pikiran kamu nggak jauh dari kata KA-WIN." Ucap Tiara dengan penekanan diakhir kalimat.
Sintia hanya bisa memeluk bantal sofa sambil menggigitnya karena gemas dengan kakak iparnya itu. Sementara Tiara tertawa puas bisa menjahili adik iparnya.
Jangan lupa tinggalkan like dan komen kalian ya 😍😍😘😘
__ADS_1