
Satu minggu sudah sejak hari pernikahan digelar, kini baik Mahesa maupun Tiara mulai kembali untuk bekerja. Sejak perdebatan yang terjadi pada sehari setelah menikah, keduanya tak pernah bertegur sapa walaupun tinggal serumah.
Tiara yang merasa sakit hati memilih mendiamkan Mahesa agar lelaki tersebut introspeksi diri akan kesalahannya.
Berbanding terbalik dengan Tiara, Mahesa bahkan masa bodoh dengan perubahan sikap Tiara.
Sesampainya Mahesa di kantor, dia sudah disibukkan dengan tumpukan berkas yang harus ditanda tangani. Hingga ketukan pintu membuatnya segera mengalihkan perhatiannya.
"Permisi Tuan, saya ingin menyampaikan meeting anda dengan perusahaan Tuan Abi akan dimulai setelah makan siang dan dilanjut pembahasan kerjasama dengan Perusahaan Meditama." Sekretaris Mahesa yang bernama Anita membacakan jadwal meeting yang harus dihadiri Mahesa dan diangguki oleh Mahesa.
"Baik, siapkan berkas yang akan kita perlukan untuk meeting nanti!"
"Baik Tuan, saya permisi dulu." Yang dijawab deheman oleh Mahesa.
Mahesa menghembuskan napas berat, hari ini bisa dipastikan dia akan pulang malam karena banyaknya berkas yang harus ditanda tangani.
*****
__ADS_1
Di toko bunga Tiara juga disibukkan dengan berbagai catatan dan nota pengiriman bunga yang sudah dipesan.
"Apa kabar, Ra? Gimana rasanya jadi pengantin baru?" Tanya Nisa dengan senyum menggoda. Dengan malas Tiara menjawab pertanyaan Nisa sambil mengendikkan bahunya.
"Entahlah."
"Kenapa sih Ra? Cerita kalau lagi ada masalah, siapa tahu bisa meringankan beban di hati kamu."
"Emang bener ya, Sa. Kalau orang sederhana tiba-tiba menikah dengan orang kaya selalu dipandang sebelah mata, selalu dikatakan menikah karena harta?" Akhirnya Tiara mengeluarkan segala uneg-unegnya.
"Emang siapa yang bilang begitu ke kamu?" Cecar Nisa.
"Mahesa." Dengan menghela napas panjang Tiara menjawab pertanyaan Nisa.
"Gila ya itu orang, kelihatan banget dari keluarga terhormat tapi sekalinya ngomong nyakitin hati. Udah jelas kalau perjodohan kalian itu murni keinginan mamanya, emang atas dasar apa sampai-sampai dia berani ngatain kamu kayak gitu?"
"Alasannya cuma satu, Sa. dia pernah dikhianati kekasihnya, makanya dia benci banget kalau berhubungan dengan wanita dan karena itulah dia menganggap semua wanita itu nggak pernah tulus sama pasangannya." Tutur Tiara panjang lebar.
__ADS_1
"Kamu yang sabar, Ra. Aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini, kamu wanita kuat dan hebat. Jangan pernah putus asa, kamu harus bisa buktikan pada suami kamu bahwa tak semua wanita itu m*rahan. Akan baik lagi kalau kamu bisa buat dia bertekuk lutut sama kamu. Optimis Tiara, kamu pasti bisa." Ucap Nisa berusaha menyemangati Tiara agar tidak berlarut dalam kesedihan.
"Benar juga apa kata Nisa, akan aku buat Tuan angkuh itu bertekuk lutut." Gumam Tiara dalam hati. Senyum Tiara mengembang setelah mendengar perkataan Nisa.
"Makasih, Sa. Kamu bener-bener teman terbaikku. Aku akan coba saran dari kamu."
"Nah, gitu dong. Itu baru Tiara yang ku kenal." Ucap Nisa sambil memeluk Tiara.
Setelah obrolan mereka tadi, Tiara sudah kembali ceria dan semangat melanjutkan pekerjaannya.
****
Waktu pulang pun sudah tiba, kini Tiara sedang diperjalanan menuju rumah mertuanya. Memang selepas menikah, Bu Sarah meminta Mahesa untuk tinggal bersama dengan beliau.
Bu Sarah sangat menyayangi Tiara seperti anaknya sendiri, kehadiran Tiara mampu membuat hari-hari tua beliau jadi lebih berwarna.
Nantikan terus kelanjutannya, dan jangan lupa like dan komen 😍😘😘
__ADS_1