
Sepulang dari kantor Mahesa sama sekali tak menyapa istrinya hal itu membuat Tiara merasa sedih hanya karena tak datang ke kantor, suaminya berubah mendiamkannya.
"Pi, makan dulu yuk! Mama udah nungguin di meja makan."
"Hemm."
Hanya itu jawaban sang suami, membuat air mata yang sedari tadi dia tahan meluncur di pipinya. Namun, Tiara segera menghapusnya karena tak ingin terlihat lemah. Dia bergegas menyusul Mahesa yang sudah lebih dulu ke meja makan.
"Kamu mau pake lauk apa, Pi?" Tanya Tiara saat mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Terserah." Jawab Mahesa dingin.
Tiara segera mengambilkan ayam goreng dan diletakkan di piring lalu memberikannya pada Mahesa. Mama Mahesa yang melihat sikap putranya merasa kasihan terhadap menantunya, walaupun Tiara bersikap biasa saja, tetapi beliau sangat mengerti dengan perasaan Tiara.
Mereka makan malam dalam suasana hening, semua fokus pada makanan masing-masing kecuali, Tiara.
"Mah, Tiara duluan mau ke kamar Shaka udah waktunya minum ASI."
"Iya, Ra."
Tiara meninggalkan meja makan tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Kamu ada masalah apa dengan Tiara?" Tanya Mama Mahesa setelah Tiara meninggalkan meja makan.
"Nggak ada masalah apa-apa, Mah." Jawab Mahesa.
__ADS_1
"Nggak perlu bohong sama Mama. Kamu itu udah dewasa udah berkeluarga, jangan egois mentingin diri kamu sendiri. Apa kamu nggak mikirin perasaan anak kamu, hah?"
"Dia itu masih kecil, butuh perhatian lebih dari orang tuanya. Pikirin juga perasaan istri kamu, dari pagi sampai malam udah capek nyiapin kebutuhan kamu, ngurusin anak kamu yang udah mulai aktif. Dia juga masih sempat bantuin masak meskipun badannya lelah."
"Apa selama ini Tiara pernah mengeluh sama kamu? Harusnya kamu ngertiin posisi dia jangan cuma mikirin ego kamu itu." Ucap Mama Mahesa panjang lebar lalu meninggalkan Mahesa yang sejak tadi hanya diam mendengarkan ucapan mamanya.
*****
Di kamar Tiara sedang menyusui bayinya sambil sesekali mencium tangan mungil itu. Dia tak ingin anaknya merasakan apa yang sedang dia rasakan, bagi dia anaknya harus selalu bahagia biarlah dia yang merasakan kesedihan asalkan anaknya tetap bisa tersenyum.
Di kamar lain, Mahesa sedang gusar karena memikirkan ucapan mamanya. Dia merasa gelisah sejak tadi istrinya tak kembali ke kamar mereka. Rasa bersalah kembali menyelimuti hatinya karena telah mengabaikan istrinya.
Ceklek
"Maaf." Ucap Mahesa sambil memeluk tubuh istrinya.
"Maaf untuk apa? Apa kamu buat kesalahan lagi?" Tanya Tiara lalu melepas pelukan suaminya.
"Maaf karena tadi udah mengabaikan kamu."
"Aku nggak apa-apa."
Bunyi dering ponsel Tiara mengalihkan perhatian keduanya, Tiara segera meraih ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Halo, Tante." Sapa Tiara
__ADS_1
"Halo, Ra. Maaf ya Tante ganggu kamu."
"Enggak kok, Tan. Ada apa ya?"
"Gini kalau nggak ada halangan Tante mau main ke rumah kamu besok lusa. Kira-kira kamu sibuk nggak?"
"Oh iya Tante, Tiara nggak sibuk kok. Tante bisa ke sini kapanpun."
"Ok, mungkin sore Tante datangnya. Ya udah Tante tutup dulu telfonnya, selamat istirahat."
"Iya Tante."
Tiara meletakkan ponselnya di atas nakas. Saat akan menuju tempat tidur, Tiara dikejutkan dengan tatapan tajam dari Mahesa.
"Kamu ngapain lihatin aku kayak gitu? Nggak takut copot nanti matanya."
"Siapa yang telfon barusan?" Tanya Mahesa masih dengan tatapan yang sama.
"Mamanya Dika, katanya lusa mau main ke sini."
"Sama Dika juga?" Tanya Mahesa.
Tiara mengangkat bahunya sebagai jawaban bahwa dia tidak tahu.
Selamat sore 😇😇
__ADS_1