
Selepas sarapan tadi, Tiara memutuskan untuk pergi ke taman agar tidak bosan di rumah seharian. Sesampainya disana dia melihat banyak sekali anak-anak yang sedang bermain, ada juga yang sedang bergurau dengan orang tuanya.
Melihat pemandangan seperti itu, membuatnya rindu dengan masa kecilnya yang penuh kehangatan bersama ayah dan ibunya.
Tapi sekarang dia bersyukur karena mempunyai sosok pengganti sang ibu yang telah tiada, walau tidak bisa menggantikan kasih sayang layaknya ibu kandung. Tiara mencari bangku kosong untuk duduk, sambil memandangi keindahan di setiap sudut taman.
"Hai, boleh aku duduk disini?" Tanya seorang pria yang usianya tak jauh dengan Tiara.
"Silakan, bangku ini milik umum kok! Jadi nggak perlu minta izin." Jawab Tiara dengan senyum ramah.
"Terima kasih, aku hanya takut kamu merasa tidak nyaman karena kedatanganku. Oh ya, perkenalkan namaku Andika, panggil saja Dika." Dengan mengulurkan tangan dia memperkenalkan diri dan dibalas uluran tangan oleh Tiara.
"Aku Tiara biasa dipanggil Ara."
Suasana tampak hening lama setelah saling berdiam diri, Dika akhirnya membuka suara.
"Kamu sering datang ke sini?"
"Tidak, ini pertama kalinya aku kesini. Karena kebetulan sedang libur, jadi aku kesini biar tidak bosan dirumah seharian." Dika hanya mengangguk mendengarkan ucapan Tiara.
"Kalau kamu sendiri gimana?" Tiara balik bertanya.
"Dulu aku sering main ke sini, tapi sejak kepergian adikku jadi jarang kesini lagi. Karena ditempat inilah banyak kenangan yang tak terlupakan." Dika berkata dengan ekspresi wajah yang tengah menggambarkan kesedihan hatinya.
__ADS_1
"Maaf, aku nggak bermaksud membuat kamu sedih karena pertanyaanku." Tiara yang merasa tidak enak pun segera meminta maaf.
"Tidak apa-apa, mungkin memang aku saja yang terlalu terbawa perasaan." Jawab Dika seraya tersenyum.
****
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di seberang jalan dekat taman. Mahesa mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang mengeras menahan amarah.
Mahesa sengaja pulang cepat karena tidak fokus dengan pekerjaan di kantor. Lantaran selalu teringat kejadian semalam, yang berkelebat di pikirannya sehingga mengganggu konsentrasinya. Akhirnya, dia memutuskan untuk pulang saja dan ingin bertemu dengan Tiara.
Namun, saat perjalanan pulang tanpa sengaja Mahesa melihat sosok Tiara sedang duduk di bangku taman. Saat ingin menghampiri, Mahesa melihat ada pria yang duduk di samping istrinya. Hal itulah yang membuat Mahesa begitu marah, lalu memilih untuk pulang saja dan akan mengintrogasi Tiara saat sudah di rumah.
***
Terik matahari sudah terasa menyengat di kulit, pertanda bahwa hari sudah beranjak siang. Ternyata sudah 2 jam Tiara duduk di taman dan ditemani oleh Dika.
"Rumahmu dimana? Biar aku antar saja sekalian mau pulang juga." tawar Dika.
"Eh, nggak usah repot-repot. Rumahku dekat kok dari sini jadi kamu nggak perlu anterin."
"Emm, ya sudah. Tapi kapan-kapan bolehkan aku ketemu kamu lagi?" Tanya Dika berharap bisa bertemu dengan Tiara, karena dia merasa senang bisa kenal dengan Tiara. Dika seakan menemukan sosok adiknya yang telah lama meninggal.
"Kamu datang saja ke Toko Bunga Florist, kita bisa ngobrol lagi di sana. Ya sudah, aku duluan, bye." Pamit Tiara segera pulang.
__ADS_1
"Bye." Jawab Dika sambil melambaikan tangan tanda perpisahan.
*****
Sesampainya di rumah, Tiara merasa heran saat melihat mobil Mahesa sudah terparkir di halaman. Tiara bergegas masuk untuk membersihkan diri lalu setelahnya dia akan membantu Bi Asih di dapur.
Klek
Baru saja ingin memegang handel, pintu kamar sudah terbuka dari dalam diiringi sorot tajam seseorang yang telah berdiri di hadapan Tiara.
"Dari mana saja?" Tanya Mahesa yang masih dengan sorot matanya yang menghunus jantung Tiara.
"Sa-saya dari taman Tuan, mumpung sedang libur jadi saya berniat untuk keluar sebentar." Tiara menjawab dengan tubuh sedikit bergetar menahan gugup.
"Benarkah? Bukan untuk bertemu dengan pria lain?" Cecar Mahesa.
Dahi Tiara mengerut saat mendengar pertanyaan dari Mahesa. Sejak kapan suaminya ini suka kepo dengan urusannya, dan lagi dari mana dia tahu kalau Tiara bersama seorang pria. Walaupun pertemuan mereka karena kebetulan saja.
"Pria? Oh pria itu katanya sehabis jalan-jalan dan kebetulan semua bangku di taman sudah penuh. Jadi yang tersisa bangku tempat saya duduk, makanya dia ada di sebelah saya." Dengan panjang lebar Tiara menjelaskan, agar Mahesa tidak menghina dan membenarkan ucapan yang pernah terlontar saat di kamar hotel dulu.
"Walaupun hanya kebetulan, saya tidak suka kamu dekat-dekat dengan pria lain." Tegas Mahesa.
"Hahahaha, apakah saat ini Tuan sedang cemburu?" Tiara tertawa saat menyadari bahwa Mahesa secara tidak langsung memperlihatkan rasa cemburunya. Mahesa seketika terdiam mendengar ucapan Tiara.
__ADS_1
"Cemburu?" Gumam Mahesa dalam hati.
Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komen kalian, biar makin semangat nulisnya 😁😁😊