
Keesokan harinya, Icha pergi ke kantor Dika. Dia ingin segera menyelesaikan masalah kemarin, dia juga berencana ingin meminta keringanan sebab dia bukan orang kaya dan dia juga punya tanggung jawab pada adiknya yang masih sekolah.
"Wah, ternyata besar juga kantornya." Kagum Icha saat sudah berada di depan perusahaan milik Papa Dika.
"Nanti gimana ya ngomongnya? Ini pertama kalinya aku berurusan dengan orang kaya." Gumam Icha. Setelah mengumpulkan keberanian, Icha langsung masuk dan akan bertanya pada karyawan di sana.
"Maaf, Mbaknya mau cari siapa?" Tanya satpam kantor. "Eh, itu Pak saya mau ketemu dengan pemilik perusahaan ini." Jelas Icha.
Satpam tersebut mengerutkan keningnya, merasa heran karena baru kali ini ada seorang gadis biasa yang ingin bertemu dengan bosnya.
"Apa sudah ada janji?" Tanya satpam lagi. "Sudah, Pak. Kemarin saya disuruh datang ke sini, dan ini kartu nama yang diberikan pada saya." Icha mengeluarkan kartu nama milik Dika pada satpam, satpam menerima dan melihat kartu nama itu dan memang benar itu milik bosnya.
"Baiklah, mari saya antar ke resepsionis." Ajak satpam itu. "Baik Pak." Jawab Icha lalu mengekor di belakang satpam.
"Mbak Rita, ini ada orang yang mau ketemu Pak Bos." Ucap satpam pada salah satu resepsionis.
"Apa sudah ada janji?"
"Sudah, Mbak. Kemarin saya disuruh datang ke sini." Sahut Icha. "Baiklah, saya hubungi asistennya dulu." Ujar Rita.
"Halo, maaf Tuan mengganggu. Di sini ada tamu yang katanya ingin bertemu dengan Tuan Dika."
"Tamu? Laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan Tuan."
"Apa dia gadis yang dimaksud Tuan Dika?" Batin Andre. "Ya sudah, kamu antar dia ke ruangan saya!" Perintah Andre.
"Baik Tuan." Rita langsung meletakkan gagang teleponnya lalu menghampiri Icha. "Mari, Mbak saya antar ke ruangan beliau!" Ajak Rita dengan ramah.
"Iya Mbak." Icha mengikuti langkah resepsionis tersebut, Rita menekan tombol lift dan pintu lift terbuka. Dia dan Icha langsung masuk dan Rita menekan angka 20 di mana ruangan Dika dan Andre berada.
Ting
Lift pun terbuka, Rita bergegas ke ruangan Andre diikuti Icha di belakangnya.
Tok tok tok
"Masuk!" Sahut Andre dari dalam.
"Permisi, Tuan. Saya mengantar tamu Tuan Dika." Ucap Rita. "Iya, suruh dia masuk!" Perintah Andre.
"Silakan masuk, Mbak! Tuan Andre sudah menunggu di dalam." Ucap Rita pada Icha, dan Icha pun masuk ke ruangan Andre.
__ADS_1
"Saya permisi dulu Tuan!" Pamit Rita lalu menutup pintu ruangan Andre.
Andre memindai Icha dari atas sampai bawah. "Apa benar Anda ingin bertemu dengan Tuan Dika? Tanya Andre. "Benar Tuan." Jawab Icha.
"Silakan duduk dulu!" Perintah Andre. "Kenapa nggak dari tadi sih nyuruh duduk? Dia pikir nggak capek apa berdiri terus." Gerutu Icha dalam hati sambil duduk di sofa.
"Sebelumnya ada keperluan apa dengan Tuan Dika?"
"Saya ingin menyelesaikan masalah kemarin, Tuan."
"Masalah apa?" Tanya Andre, Icha pun menjelaskan kejadian kemarin persis seperti yang dikatakan oleh Dika.
"Baiklah, berhubung hari ini Tuan Dika tidak masuk beliau meminta saya untuk mengurus semuanya. Dan untuk kerugian kita tunggu sampai mobil sudah selesai diperbaiki." Ujar Andre. "Ja-jadi maksud Anda masalahnya belum bisa selesai sekarang?" Tanya Icha.
"Benar, karena kita tidak tahu seberapa parah kerusakan mobilnya."
"Baiklah kalau begitu. Em apa saya boleh minta nomor ponsel Tuan? Biar saya sewaktu-waktu bisa menghubungi Tuan."
"Boleh." Andre memberikan nomor ponselnya pada Icha, setelah itu Icha pamit pulang karena harus bekerja.
-
-
-
"Kakak tumben bawa bekal banyak?" Tanya Sintia yang di dapur untuk membuat minuman dingin. "Iya soalnya ada temen kakak kamu yang datang ke kantor, berhubung Kakak mau ke sana jadi sekalian bawa agak banyak."
"Oh gitu." Sintia melanjutkan membuat minuman setelah siap dia langsung ke ruang tengah untuk nonton drakor kesukaannya.
Tiara pergi ke kantor diantar Pak Jupri, selama perjalanan diisi dengan celotehan dari Shaka yang sekarang semakin aktif.
"Obiy." Ucap Shaka sambil menunjuk ke luar jendela.
"Iya itu mobil sama kayak punya papi." Sahut Tiara.
"Papi Shaka ke mana?" Tanya Tiara. "Pi elja." Ucap Shaka.
"Pinternya." Puji Tiara.
(Obiy \= mobil)
(Pi elja \= papi kerja)
__ADS_1
Sesampainya di lobby kantor, Tiara langsung menuju ruangan Mahesa. Tiara menurunkan Shaka dari gendongannya lalu balita itu berlari ke ruangan papinya.
"Pi!" Panggil Shaka. "Eh jagoan Papi udah datang." Sahut Mahesa lalu menggendong Shaka dan menciumi pipinya.
"Om nggak disapa nih?" Sahut Dika. "Uyun, Pi. Itut Om." Pinta Shaka lalu turun dari gendongan papinya dan berhambur ke arah Dika.
"Om au inan." Pinta Shaka yang membuat Dika terkekeh karena mengerti maksud balita gembul itu.
"Nanti sore ya, kita beli yang Shaka mau."
"Hole." Ucap Shaka sambil tepuk tangan.
(Uyun \= turun, au inan \= mau mainan)
"Jangan terlalu manjain Shaka, Dik! Takutnya nanti kebiasaan minta dibeliin mainan terus." Ucap Tiara lalu duduk di hadapan Dika sambil menata bekal yang dibawanya.
"Enggak apa-apa, Ra. Hitung-hitung belajar kalau nanti udah punya anak sendiri." Jawab Dika. "Emang udah ada calon ya? Buruan dihalalin nanti keburu ditikung orang." Sahut Mahesa yang ikut bergabung di sofa.
"Belum ada sih calonnya, tapi nggak ada salahnya kan belajar dulu." Jawab Dika sambil nyengir kuda.
"Makanya buruan cari istri biar ada yang ngurus tiap hari." Ujar Tiara menatap Dika yang diam. "Jangan bilang masih ngarepin Tiara." Sela Mahesa dengan tatapan tajam.
"Sensi amat sih, cepet tua baru tahu rasa." Ejek Dika. "Om, atut." Ucap Shaka sambil menyembunyikan wajahnya di dada Dika.
"Takut apa?" Tanya Dika. "Pi atanya otot tayak monstel." Jawab Shaka menunjuk papinya.
"Hahahahahahaha." Dika dan Tiara tertawa mendengar perkataan polos Shaka. "Yang, kok malah diketawain sih." Protes Mahesa.
"Noh denger sendiri kan. Shaka aja ngerti kalau papinya suka marah-marah makanya dia ngatain kamu kayak monster." Sahut Dika.
"Awas ya kamu! Nanti nggak Papi beliin coklat." Ancam Mahesa, tapi hanya ditanggapi senyuman oleh Shaka.
Kini mereka sudah selesai makan siang dan Shaka pun juga sudah tertidur di kamar yang ada di ruangan itu.
"Besok malam jangan lupa datang untuk makan malam!" Ucap Tiara. "Emang ada acara apa sih?" Tanya Dika penasaran.
"Sebagai ganti perayaan ulang tahun Shaka. Harusnya kan waktu kita pulang dari desa ulang tahunnya, tapi karena nggak keburu ya udah kita bikin besok sekalian kumpul." Jelas Tiara.
"Oh gitu. Jam berapa?"
"Jam 7 malam, di restoran dekat Hotel Asia. Jangan lupa ajak tante dan om sekalian biar makin rame!"
"Ok, bisa diatur. Tapi kayaknya papa nggak bisa ikut soalnya mau ke luar kota."
__ADS_1
"Nggak apa-apa yang penting ada tante sebagai gantinya.
Tinggalkan like dan komen kalian 😍😘😘