
Sesuai perkataan Tiara semalam, pagi ini dia ke ruang rawat Dika. Selain untuk melihat kondisinya secara langsung, dia juga ingin berterima kasih karena sudah menyelamatkan dirinya sampai mempertaruhkan nyawanya.
"Pagi, Dik." Sapa Tiara.
"Pagi juga, Ra."
"Gimana keadaan kamu?" Tiara menarik kursi yang ada di samping ranjang, sedangkan Mahesa duduk di sofa yang tersedia di ruangan tersebut.
"Seperti yang kamu lihat, aku sudah lebih baik."
"Kamu sendiri bagaimana? Aku dengar dari mama kalau kamu sempat kram perut." Lanjut Dika.
"Aku sudah baik, nanti sudah boleh pulang."
Keduanya kini nampak terdiam, merasa canggung dengan situasi ini. Apalagi Tiara yang sudah mengetahui perasaan Dika padanya, tapi dia mencoba untuk pura-pura tak tahu karena tak ingin membuat Dika semakin terluka.
"Ehem, sebelumnya saya mau ucapin terima kasih karena sudah menyelamatkan Tiara." Mahesa yang mengerti kecanggungan keduanya, mencoba mencairkan suasana.
"Tidak masalah, saya sudah menganggap Tiara seperti adik sendiri. Anggap saja ini sebagai rasa kasih sayang kakak kepada adiknya." Ada yang ngilu di hati Dika ketika dia mengucapkan kalimat itu.
"Sekali lagi terima kasih, Dik. Maaf belum bisa membalas kebaikanmu." Ucap Tiara.
__ADS_1
"Melihat kamu bahagia itu sudah cukup bagiku, Ra. Jadilah Tiara yang kuat, yang sanggup menghadapi segala rintangan ke depannya."
"Aku berdoa semoga kalian selalu bahagia, sanggup melewati cobaan di kemudian hari." Lanjut Dika.
"Aamiin, kalau gitu aku pamit dulu. Semoga cepat sembuh dan terima kasih untuk semua kebaikan kamu." Ucap Tiara.
"Sama-sama, Ra."
Tiara dan Mahesa pergi meninggalkan ruang rawat Dika, setelah keduanya keluar Dika tertunduk lesu meratapi nasibnya yang mencintai istri orang.
"Andai aku bertemu lebih dulu, Ra. Mungkin saat ini kita sudah menjadi keluarga bahagia." Gumam Dika dalam hati.
****
Ketika sedang fokus meneliti berkas yang ada di hadapannya, pandangannya teralihkan oleh bunyi ponselnya. Ada pesan masuk, saat di buka ternyata dari Olivia. Mahesa hanya membaca dan mengabaikannya tanpa ada niat untuk membalas.
Baru saja ponsel diletakkan, kembali ada pesan masuk yang mana membuat Mahesa mengerutkan keningnya.
Tolong temui aku di cafe Rossalia! Aku janji ini adalah pertemuan terakhir kita dan aku tidak akan mengusik kehidupanmu dengan istrimu.
Pesan dari Olivia tersebut membuat Mahesa ragu, benarkah apa yang dikatakannya itu. Setelah berpikir panjang, dia memutuskan untuk menemui Olivia sekaligus memberi peringatan agar tak menganggu rumah tangganya.
__ADS_1
Baiklah, saat jam makan siang kita bertemu. Balasan singkat dari Mahesa.
***
Tibalah waktunya makan siang, Mahesa bergegas menuju cafe untuk bertemu Olivia. Sesampainya di cafe Mahesa mengedarkan pandangannya mencari Olivia. Hingga dia telah menemukan sosok yang dicari tengah melambaikan tangannya.
"Duduklah, aku baru pesan minum. Kalau kamu mau makan silakan pesan saja!" Ucap Olivia.
"Tidak perlu karena aku harus segera kembali. Aku sudah janji untuk pulang cepat hari ini."
"Baiklah tidak apa-apa. Emm, aku mau minta maaf karena sudah berniat mencelakai Tiara. Sekarang aku sadar, kalau kita memang tidak berjodoh. Setelah ini aku akan pergi dari kehidupan kalian, tolong sampaikan permintaan maafku pada Tiara."
"Akan aku sampaikan dan aku pegang kata-katamu untuk tidak mengusik rumah tanggaku dengan Tiara." Ucap Mahesa.
"Aku janji, minumlah dulu sebelum kembali ke kantor! Aku sudah pesan dari tadi."
Mahesa pun meminum lemon tea yang di pesan oleh Olivia. Saat akan beranjak dari duduknya, Mahesa merasakan kepalanya sangat berat dan tak lama dia kehilangan kesadaran.
Olivia yang melihat langsung menyunggingkan senyum liciknya.
"Sempurna."
__ADS_1
Tinggalkan like dan komen kalian 😍😍😍😘😘😘😘