Cinta Untuk Tiara

Cinta Untuk Tiara
Bab 71


__ADS_3

Sore harinya ketika Mahesa sudah pulang dari kantor, dia langsung mencari keberadaan istrinya yang kebetulan sedang berada di dapur.


Grepp


Tiara yang sedang membuat bumbu untuk opor langsung terkejut ketika ada yang memeluknya dari belakang.


"Mas, kamu tuh ngagetin aja sih." Gerutu Tiara.


"Kangen, katanya tadi makan siang bareng tapi malah nggak jadi."


"Hehe, maaf deh kan tadi aku udah bilang kalau ada tamu di rumah." Jawab Tiara sambil mengelus pipi suaminya.


"Bikin adik buat Shaka, yuk! Mumpung lagi sepi." Ucap Mahesa sambil menaik turunkan alisnya.


"Sembarangan aja kamu. Kayak nggak ada waktu lain aja." Tukas Tiara sambil menepuk tangan Mahesa yang masih melingkar di perutnya.


"Ya nggak apa-apa dong, malemnya main lagi."


"Itu sih maunya kamu, Mas. Udah sana mandi bau asem badan kamu!"


"Biar asem gini kamu juga nempel terus kan?"


Mahesa mencium pipi Tiara sebelum ke kamar untuk membersihkan diri.


Selesai memasak Tiara langsung ke kamar untuk mandi.


"Shaka ke mana, Yang? Dari tadi kok nggak ada." Tanya Mahesa yang kini tengah memperhatikan Tiara berdandan.


"Ikut mama jalan-jalan. Tadi pas tamunya udah pada pulang, dia rewel ngajak naik mobil."


"Mas." Panggil Tiara.


"Iya, ada apa?"


"Kok perasaanku nggak enak ya."


"Nggak enak kenapa?"


"Gelisah gitu dari tadi soalnya semalem aku mimpi kalau kamu ninggalin aku buat nikah lagi."


Tiba-tiba raut wajah Mahesa berubah menjadi tegang, dia bingung harus ngomong apa. Ingin rasanya dia jujur soal rencana penjebakan Olivia tapi dia khawatir Tiara nggak setuju.


"Mimpi kan cuma bunga tidur, Sayang. Jadi, jangan dipikirin!"


"Iya, Mas."


Mahesa dilanda bimbang, pikirannya kacau karena ucapan dari Tiara. Sebenarnya dia juga tidak tega membohongi istrinya tapi apa boleh buat, rencana yang sudah berjalan lancar tinggal menunggu akhir dari segala masalah yang terjadi pada keluarganya.


****


"Mas kapan kamu ada waktu luang? Aku pengen kita liburan kayak dulu, apalagi sekarang udah ada Shaka pasti makin seru."

__ADS_1


"Nanti aku lihat jadwal dulu, ya. Kalau semisal nggak ada meeting atau pertemuan penting, kita bisa berangkat liburan."


"Iya Mas."


"Oh ya Mas, minggu depan aku di undang ke acara ulang tahun anaknya Pak Hendra. Kamu bisa temenin nggak?"


"Emang acaranya kapan?"


"Tanggal 10 jam 12 siang katanya."


Deg


Mahesa tak bisa berkutik, ingin dia menemani istrinya tapi di satu sisi hari itu akan menjadi akhir dari segala masalah yang terjadi pada keluarganya.


"Gimana, Mas? Kok malah ngelamun sih."


"Eh, aku nggak ngelamun kok. Cuma nginget agenda aku aja kayaknya tanggal itu aku ada pertemuan di luar kota."


"Gitu, ya." Jawab Tiara dengan ekspresi kecewa.


"Maaf ya. Lain waktu aku pasti temenin kamu. Jangan cemberut gitu dong! Kan aku cuma sehari ke luar kotanya, sepulang dari sana kamu boleh minta apa aja."


"Ya udah, aku mau ke kamar Shaka dulu!"


Tiara beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar. Saat sudah di dalam kamar Shaka, Tiara membuka laci nakas yang ada di dekat tempat tidur.


Dia mengambil sesuatu dari situ lalu memasukkannya ke dalam amplop. Kemudian dia menulis sesuatu di selembar kertas dan dijadikan satu dalam amplop tersebut.


"Maafin Mami, kalau keputusan Mami ini nggak tepat. Hanya dengan cara ini kita bisa hidup damai tanpa ada siapapun yang mengganggu." Tiara mencium kening Shaka dengan air mata yang membasahi pipi.


"Love you jagoan Mami." Gumam Tiara.


Tiara segera menghapus air matanya dan mencuci muka sebelum kembali ke kamarnya.


Ketika dia membuka pintu kamarnya, dia tidak mendapati suaminya di sana. Namun, dia mendengar seseorang sedang berbicara seperti berbisik dari arah balkon.


Diam-diam dia menghampiri untuk menguping percakapan itu.


"Maaf aku nggak bisa temenin kamu dan Naira ke rumah sakit."


"Jadwalku padat jadi aku nggak bisa ninggalin pekerjaanku gitu aja."


Tiara kembali ke dalam dan berbaring di ranjang. Sebelum suaminya menyadari keberadaannya di sana.


"Naira? Dia siapa?" Batin Tiara.


"Jangan-jangan itu anaknya Olivia." Ucap Tiara sambil menutup mulutnya.


Dia tak menyangka ternyata suaminya sudah sangat dekat dengan anak Olivia.


"Sudah sejak kapan kamu memulai hubungan kamu dengan wanita itu, mas?"

__ADS_1


Akhirnya, Tiara memutuskan untuk tidur agar pikirannya bisa tenang. Masalah yang tak pernah usai, membuat dia pasrah akan nasib rumah tangganya.


****


Sementara di kediaman orang tua Dika, mereka tengah membahas rencana akhir yang akan dilakukan.


"Jadi gimana, Vin? Apa semua bukti sudah cukup untuk menyeret wanita itu ke dalam penjara?"


"Sudah, Tuan Besar. Bahkan bukti penculikan yang pernah dia lakukan dulu pun sudah saya dapatkan."


"Bagus, dengan begitu dia akan mendekam lebih lama di penjara."


"Lalu bagaimana dengan rencana akhir?" Tanya Papa Dika pada Dika.


"Semua sudah beres, Pah. Kita tinggal membawa bukti itu dan membuat laporan ke kepolisian. Tepat di hari itu kita langsung lakukan penangkapan."


"Baiklah, semoga semua berjalan seperti yang kita harapkan."


Setelah pembicaraan panjang lebar tentang rencana penangkapan Olivia. Kini Dika, Marvin dan papanya beralih membahas masalah perusahaan.


Hari yang di tunggu-tunggu pun telah tiba, hari yang akan menjadi akhir dari segala permasalahan yang ada.


Pagi ini Mahesa sudah bersiap untuk berangkat, dia menggunakan pakaian kantor seperti biasanya sebab tak ingin Tiara curiga padanya.


"Udah siap, Mas?"


"Udah Sayang."


"Nggak ada yang ketinggalan kan? Takutnya kamu kelupaan ntar harus balik lagi."


"Sudah semua Sayang. Aku langsung berangkat, ya. Takutnya nanti kena macet di jalan."


"Iya Mas, hati-hati!"


"Iya. Nanti kalau mau ke tempat bos kamu minta anterin Pak Jupri aja."


"Siap, Mas."


"Papi berangkat dulu, jangan nakal sama Mami!" Ucap Mahesa pada Shaka yang di gendong Tiara.


"Iya Papi." Jawab Tiara dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.


Setelah kepergian Mahesa, Tiara langsung ke kamar Shaka mengambil amplop yang dia simpan. Dia kembali ke kamarnya dan menyimpan amplop iti di lemari pakaiannya.


"Maaf Mas. Aku juga nggak ingin seperti ini tapi lebih baik aku yang mengalah daripada harus merasakan sakit yang lebih dalam."


"Terima kasih untuk semuanya, semoga kamu selalu bahagia." Batin Tiara.


Sore semuanya, maaf ya kalau kalian udah pada bosen karena ceritaku yang terlalu bertele-tele.


Insha allah habis ini konfliknya aku bikin agak ringan dan nggak ruwet 🙏🙏. Kali ini tentang perjuangan cinta Mahesa untuk mendapatkan Tiara kembali.

__ADS_1


Love you all 😍😘😘


__ADS_2