
"Mas, aku kangen Shaka. Kapan aku boleh pulang?" Ucap Tiara saat sedang di suapi oleh suaminya.
"Nanti tanya dokter dulu. Kalau kondisi kamu udah memungkinkan untuk pulang, kita bisa langsung pulang. Tapi, kalau belum pulih benar kamu harus sabar dulu sampai sembuh."
"Aku udah jenuh di sini lama. Kangen suasana rumah, kangen pengen peluk Shaka."
"Sabar, ya. Pasti nanti kita bisa kumpul bareng lagi." Mahesa sangat tahu perasaan istrinya karena memang belum pernah berpisah terlalu lama dengan putranya.
"Mas!" Panggil Tiara.
"Iya Sayang."
"Beneran kamu mau nikah lagi, seandainya aku belum sadar?"
"Bener, kalau kamu belum sadar juga aku bakal nikah lagi biar ada yang ngurusin aku dan Shaka."
Seketika mata Tiara melotot mendengar jawaban suaminya. Sebegitu teganya disaat istrinya sedang sekarat tapi suaminya memutuskan akan menikah lagi.
"Hei, kenapa malah ngelamun? Habisin dulu makannya terus minum obat!"
"Aku udah kenyang, mau istirahat lagi."
Tiara membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut hingga lehernya. Mahesa yang menyadari istrinya tengah merajuk lantas meletakkan piring di atas nakas dan ikut berbaring di samping istrinya.
"Aku cuma bercanda, Sayang. Nggak pernah ada niat sedikitpun untuk menikah lagi, bagiku hanya kamu satu-satunya yang akan selalu jadi ratu di hidupku."
"Bercanda kamu nggak lucu, Mas. Aku nggak tahu apa yang bakal terjadi seandainya kamu nikah lagi, mungkin aku udah tinggal nama." Ucap Tiara.
"Kamu nggak boleh ngomong gitu! Aku minta maaf udah bikin kamu sedih. Waktu itu aku bingung harus gimana lagi, melihat kamu terbaring tak berdaya rasanya duniaku ikut hancur."
Kini keduanya sama-sama menangis, meluapkan segala beban yang mengganjal di hati keduanya.
****
"Dik, kamu udah tanya Tiara di ruang apa?"
"Udah Mah. Kita berangkat selepas maghrib aja, Mah."
"Iya, kalau gitu Mama mau masak dulu buat Tiara. Kamu tolong ke toko buah langganan Mama, ya! Beliin buah untuk dibawa ke rumah sakit."
"Iya Mah."
Selepas maghrib Dika dan mamanya sudah bersiap untuk ke rumah sakit. Tak lupa Mama Dika membawa makanan yang di masaknya tadi.
"Udah siap, Mah?"
"Sudah, Dik. Ayo kita langsung berangkat!"
Dika dan mamanya berangkat ke rumah sakit, dalam perjalanan Mama Dika bertanya tentang perkembangan kasus kecelakaan Tiara.
"Pelakunya udah ketemu belum, Dik?"
__ADS_1
"Belum, Mah. Kayaknya emang ini udah di rencanakan sebelumnya sampai nggak meninggalkan jejak sama sekali."
"Kamu udah hubungi papa buat bantu selesaikan masalah ini, kan?"
"Udah kok Mah. Mereka juga lagi berusaha buat ngungkap pelaku dari kecelakaan itu."
"Semoga aja cepet ketemu pelakunya, Mama masih belum tenang kalau masalah ini belum kelar juga. Mama nggak mau kejadian seperti ini terulang lagi."
"Mama tenang, ya. Kita banyak-banyak berdoa semoga Tiara dan keluarganya selalu dilindungi oleh Allah SWT."
"Dika juga akan berusaha semampu Dika, sekalipun harus mempertaruhkan nyawa Dika sendiri." Ucap Dika dalam hati.
Kini Dika dan mamanya sudah tiba di depan ruang rawat Tiara.
Ceklek
Mama Dika membuka pintu lalu masuk dan disusul oleh Dika.
"Tante, Dika." Sapa Tiara saat tahu siapa yang datang.
"Bagaimana keadaan kamu? Tante khawatir banget waktu dengar kamu kecelakaan dan mengalami koma." Mama Dika memeluk dan mencium kedua pipi Tiara.
"Alhamdulillah Tiara sudah baikan, tinggal nunggu kapan waktunya pulang."
"Kamu tahu, Ra. Dua hari setelah kamu kecelakaan, Mama kepikiran kamu terus dan waktu telepon kamu ternyata yang angkat asisten rumah tangga kalian. Saat itu juga kita baru tahu kalau kamu di rawat di rumah sakit." Ucap Dika yang kini sudah berdiri di samping brankar.
"Maafin Tiara udah bikin kalian khawatir. Tiara udah nyusahin banyak orang."
"Oh ya ini Tante bawain makanan dari rumah, semoga kamu suka masakan Tante."
"Ya ampun, Tante nggak perlu repot kayak gini. Tante datang ke sini aja Tiara udah seneng banget."
"Nggak repot kok. Nanti kamu makan ya!"
"Iya Tante, makasih."
"Mahesa mana, Ra? Kok dari tadi aku nggak lihat dia." Tanya Dika.
"Katanya lagi terima telepon dari rekan bisnisnya, mungkin sebentar lagi balik."
"Aku tunggu diluar aja, Mah. Sekalian mau nyusul Mahesa."
"Ya udah, hati-hati!"
*****
Di taman yang masih di sekitar rumah sakit, Mahesa baru saja menerima telepon dari sekretarisnya yang mengatakan bahwa besok Mahesa harus datang ke kantor. Sebab ada meeting dengan klien penting dari luar kota.
"Ngapain malem-malem di sini sendirian?" Mahesa sontak menoleh ke arah samping, di mana ada seseorang yang datang dan duduk di sebelahnya.
"Kamu! Untuk apa kamu ke sini?"
__ADS_1
"Habis periksa kandungan dan nggak sengaja lihat kamu di sini makanya aku samperin." Ucap Olivia.
Mahesa bangkit dari duduknya saat akan melangkah tangannya di cekal oleh Olivia.
"Aku dengar istri kamu lagi koma, ya? Kasihan banget sih kamu, mau aja ngurusin istri yang nggak bisa ngapa-ngapain." Ejek Olivia.
"Tutup mulutmu, Oliv! Aku tahu kalau kamu pasti yang sudah berniat mencelakai Tiara jadi, nggak usah pura-pura."
"Oh ya? Apa kamu punya bukti kalau memang aku pelakunya?"
"Untuk saat ini aku memang belum punya bukti, tapi cepat atau lambat aku pasti akan mendapatkan bukti itu. Dan jika benar kamu pelakunya, siap-siap saja mendekam dipenjara bersama anakmu itu." Ucap Mahesa penuh penekanan.
Mahesa lalu pergi dari taman itu meninggalkan Olivia yang tengah tersenyum sinis.
Dari kejauhan Mahesa melihat Dika yang sedang berjalan di loby rumah sakit. Dia segera menyusul Dika untuk membahas kasus Tiara.
"Dika!" Panggil Mahesa.
"Dari mana?" Tanya Dika saat Mahesa sudah di sampingnya.
"Terima telepon dari sekretarisku yang kasih tahu kalau besok ada meeting penting." Jawab Mahesa yang dijawab anggukan kepala oleh Dika.
"Ada yang mau aku omongin. Kita ke kantin aja biar enak ngomongnya!"
"Ok. Aku kirim pesan ke mama dulu biar nggak nyariin."
Mahesa dan Dika berjalan menuju kantin. Mahesa akan membicarakan masalah kecelakaan Tiara yang membuatnya curiga pada Olivia sebagai dalang dari musibah itu.
*****
Mahesa dan Dika mencari tempat duduk yang agak sepi agar lebih leluasa.
"Apa yang mau kamu omongin?"
"Ini soal kecelakaan Tiara, aku curiga dengan Olivia kalau dialah dalang dari semua ini."
"Olivia?" Tanya Dika dengan alis mengerut.
"Iya, dia yang dulu pernah nyulik Tiara."
"Jadi wanita itu? Sepertinya kita perlu atur strategi untuk menjebaknya agar kita bisa mengumpulkan banyak bukti untuk menjebloskan dia ke penjara." Usul Dika yang tangannya terkepal karena meredam amarah saat mengingat wanita itu.
"Kamu benar, kita perlu rencana yang matang agar dia masuk dalam jebakan."
"Besok kamu datang ke kantorku! Kita bahas ini bersama, nanti aku hubungi papaku biar ikut menyiapkan rencana yang baik."
"Ok. Sebaiknya kita balik ke kamar Tiara!"
Akhirnya, mereka kembali ke kamar rawat Tiara. Mereka akan membahas masalah itu tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Tiara.
Malam semuanya, jangan lupa like dan komen ya 😍😘😘😘. Biar makin semangat untuk up bab baru setiap harinya 🙏🙏
__ADS_1