
"Mbak Icha pulang dulu ya, besok ke sini lagi." Pamit Icha pada Shaka.
"Iya." Balas Shaka sambil menganggukkan kepalanya.
"Saya pulang dulu Nyonya, Mbak Sintia."
"Iya Cha, hati-hati di jalan! Besok langsung masuk aja, nggak usah nungguin perintah aku kayak tadi." Ucap Sintia sambil tersenyum.
"Iya Mbak. Kalau begitu saya permisi dulu."
Icha berlalu meninggalkan kediaman Mahesa, sedangkan Sintia dan mamanya langsung kembali ke dalam rumah.
"Kayaknya Icha orangnya baik." Ucap Mama Mahesa ketika sudah duduk di ruang tengah.
"Iya, Mah. Semoga aja dia orangnya amanah."
"Iya, kamu kapan mau urus pernikahan?"
"Belum tahu Mah, nanti aku tanya Kak Dika. Soalnya dia mau ajak aku jalan malam ini."
"Oh gitu, jangan kelamaan buat urus pernikahan kalian. Kalau bisa sebelum Tiara lahiran kalian udah nikah." Saran Mama Mahesa.
"Iya Mah."
Sore hari, Sintia sudah sibuk mempersiapkan baju untuk kencan malam.
"Pakai baju yang mana, ya?" Gumam Sintia sambil memilah baju di lemarinya.
"Yang ini aja deh." Ucap Sibtia sambil memegang gaun berwarna putih dengan aksen renda dibagian bawah.
Setelah menemukan baju yang cocok, Sintia bergegas ke kamar mandi untuk berendam terlebih dahulu sebelum mandi.
Sintia keluar dari kamar mandi dengan wajah dan tubuh yang segar. Dia menuju meja riasnya untuk memakai skincare wajahnya.
Setelah memakai skincare, Sintia lantas memoles wajahnya dengan make up yang natural. Selesai make up, dia membuka handuk kimononya lalu mengenakan gaun yang disiapkannya tadi.
Saat dia sedang menata rambutnya, tiba-tiba Mahesa datang dengan alis mengerut karena melihat Sintia yang sudah rapi.
"Mau ke mana, Sin?"
"Aku mau jalan bareng Kak Dika. Ada apa?"
"Tadinya mau minta tolong kamu buat beliin ayam geprek sama sop buah buat Tiara."
"Harus sekarang ya? Maksud aku kalau nggak harus ada sekarang, nanti aku beliin sepulang dari aku jalan sama Kak Dika aja gimana?"
"Aku tanya Tiara dulu, kalau maunya sekarang biar aku sendiri aja yang beli."
"Ok."
Setelah berbincang sebentar Mahesa meninggalkan kamar Sintia lalu kembali ke kamarnya.
Sementara Sintia kembali melanjutkan menata rambutnya agar terlihat lebih rapi.
Pukul 6 petang Dika sudah tiba di rumah Mahesa untuk menjemput Sintia.
"Udah siap?" Tanya Dika saat Sintia sudah menemuinya.
"Iya Kak, nanti pulangnya mampir beli ayam geprek sama sop buah buat Kak Tiara."
__ADS_1
"Siap." Setelah mengatakan itu, Dika dan Sintia berangkat jalan-jalan.
Mereka berkeliling kota sambil menentukan tempat untuk mereka kencan. Hingga mereka berhenti di sebuah pasar malam yang sangat ramai.
"Wah, ini pertama kalinya aku pergi ke pasar malam." Ucap Sintia sambil melihat sekitar pasar malam.
"Beneran baru pertama kali?" Tanya Dika heran.
"Iya, soalnya belum pernah ke tempat kayak gini karena dulu papa dan Kak Mahesa sibuk terus." Jelas Sintia.
"Oh, sekarang kamu puas-puasin mumpung kita ada di sini." Ucap Dika dengan tersenyum lalu menggandeng tangan Sintia untuk memasuki pasar malam.
Mereka menaiki berbagai wahana permainan, salah satunya bianglala. Sintia terlihat sangat bahagia, hanya hal sederhana tapi membuatnya seperti mendapat hadiah terindah.
Dan tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memandangi keduanya dengan tatapan nanar.
Ya, Icha yang kebetulan juga menemani adiknya tak sengaja melihat keberadaan Dika dan Sintia di tempat yang sama.
Tak ingin membuat adiknya curiga, Icha pun mulai bersikap seperti biasa. Dia juga berpura-pura tak melihat keberadaan Dika dan Sintia.
Namun, nasib tak berpihak pada Icha sebab Sintia yang juga melihatnya langsung menghampirinya.
"Icha." Panggil Sintia.
Sontak Icha langsung menoleh ke sumber suara, "Mbak Sintia di sini juga? Sama siapa?" Tanya Icha pura-pura tak tahu.
"Bareng Kak Dika, tapi dia masih beli minum dan camilan. Kamu sendiri datang sama siapa?"
"Saya dengan adik saya, Mbak. Dia masih keliling mau beli sesuatu katanya, makanya saya tunggu di sini."
"Sayang banget nggak bisa kenalan sama adik kamu." Sesal Sintia.
Karena terlalu asyik mengobrol, Sintia tak sadar jika Dika sedang mencarinya.
"Astaga, Yang. Aku cariin kamu sampai muter-muter, nggak tahunya di sini." Ujar Dika.
"Eh iya Kak, maaf aku lupa nggak bilang soalnya tadi aku lihat Icha di sini jadi lupa buat kirim pesan." Sintia dengan nyengir kuda.
"Kamu di sini juga, Cha? Sama siapa?" Tanya Dika.
"Iya Tuan, saya dengan adik saya. Tapi dia lagi keliling mau beli sesuatu makanya saya nunggu di sini."
"Oh gitu."
"Pulang yuk! Katanya mau beliin pesanan Tiara." Ajak Dika karena dia merasa jika sedang diperhatikan Icha.
"Iya Kak, mumpung belum terlalu malam."
"Cha, aku duluan ya. Lain kali kita ketemu di luar sama adik kamu." Pamit Sintia.
"Iya Mbak, hati-hati!" Balas Icha dan Sintia mengangguk.
Sintia dan Dika berlalu meninggalkan Icha yang masih senantiasa memperhatikan kepergian keduanya.
-
-
-
__ADS_1
-
Disela perjalanan mereka, Sintia mulai membuka suara menanyakan persiapan pernikahan.
"Kak, tadi mama tanya kapan kita urus pernikahan?"
"Aku sih terserah kamu aja siapnya kapan."
"Emang Kakak nggak sibuk?"
"Kalau masalah sibuk sih, setiap hari pasti sibuk. Tapi kalau untuk pernikahan kita, aku pasti bakal luangin waktu buat urus semuanya."
"Iya juga sih. Mama pinginnya sebelum Kak Tiara lahiran kita udah nikah."
"Nanti aku coba ngomong ke mama dan papa dulu."
"Iya Kak."
Setelah mengantar Sintia sampai rumah, Dika langsung melajukan mobilnya agar segera sampai rumah.
Dia ingin membicarakan masalah pernikahannya dengan Sintia. Karena bagaimanapun juga orang tuanya juga harus ikut menentukan.
Sesampainya di rumah, Dika menghampiri mamanya yang kebetulan masih di ruang tengah bersama papanya.
"Mah." Panggil Dika lalu ikut duduk di samping mamanya.
"Kok udah pulang, Dik?"
"Iya, soalnya ada yang mau aku bicarain."
"Bicara apa?" Tanya Papa Dika.
"Tadi Mama Mahesa tanya kapan kita urus pernikahan, menurut Papa sama Mama gimana?"
"Kamu sendiri gimana? Udah siap apa belum?" Papa Dika balik bertanya.
"Aku sih udah seratus persen siap Pah, Mama Mahesa maunya kita nikah sebelum Tiara lahiran."
"Memangnya kenapa kalau setelah Tiara lahiran?"
"Kasihan dia Mah kan punya anak bayi, ini aja dia harus bedrest karena habis masuk rumah sakit tempo hari." Jelas Dika.
Plak
"Aduh!" Pekik Dika sambil mengelus bahunya yang terasa panas akibat pukulan dari mamanya.
"Kamu tuh waras apa enggak sih Dika? Kenapa nggak bilang Mama kalau Tiara sakit?" Sentak Mama Dika dengan ekspresi geregetan.
"Maaf Mah, aku lupa. Kan tahu sendiri aku lagi sibuk akhir-akhir ini, jadi harap maklum." Ucap Dika cengengesan.
"Alasan aja." Ketus Mama Dika.
Papa Dika yang melihat anak dan istrinya hanya geleng kepala.
"Sudah-sudah. Sebaiknya besok sore kita ke rumah Mahesa untuk membahas ini sekalian lamaran resmi."
"Iya Pah." Ucap Dika dan mamanya bersamaan.
Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komen kalian ya 😍😘😘😘
__ADS_1