
"Sin, pinggangku kok makin sakit ya." Rintih Tiara.
"Kita ke rumah sakit aja, ya! Aku takut Kakak kenapa-napa."
Tiara hanya bisa mengangguk pasrah karena harus menahan sakit yang dirasakan.
Dika melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena dia juga ketar-ketir melihat Tiara yang meringis menahan sakit.
"Tahan ya, Ra! Sebentar lagi kita sampai." Ucap Dika mencoba menenangkan.
Beruntung jalanan tidak macet jadi Dika bisa langsung sampai rumah sakit.
Setelah memarkirkan mobilnya, Dika keluar dari mobil lalu membukakan pintu penumpang.
"Masih kuat jalan nggak?" Tanya Dika yang dijawab gelengan kepala oleh Tiara.
"Kak Dika, mending gendong aja Kak Tiara. Biar aku hubungin Kak Mahesa dulu."
"Maaf ya, Ra." Ucap Dika lalu merengkuh tubuh Tiara dan membawanya menuju UGD.
Sementara Sintia masih mencoba menghubungi Mahesa. Cukup lama menunggu panggilan dijawab hingga Sintia yang hampir hilang kesabaran, langsung lega saat mendengar suara kakaknya.
"Ada apa?"
"Kakak di mana? Buruan ke rumah sakit, darurat."
"Darurat apa? Siapa yang sakit?"
"Kak Tiara, buruan Kakak ke sini!"
"Di rumah sakit mana?"
"Rumah Sakit Medika."
"Ok, aku ke sana sekarang. Kamu jaga Tiara dulu."
Setelah sambungan telepon terputus, Sintia bergegas menuju UGD. Sebelum itu dia menuju resepsionis untuk melakukan pendaftaran.
"Gimana Kak?" Tanya Sintia yang sudah selesai mengurus pendaftaran.
"Masih ditangani dokter. Kita tunggu aja, semoga nggak terjadi apa-apa dengan Tiara dan kandungannya."
Dika dan Sintia duduk dengan perasaan tak karuan, hingga suara Mahesa mengalihkan perhatian keduanya.
"Gimana keadaan Tiara?"
"Masih diperiksa dokter, Kak. Kakak duduk dulu!"
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Mahesa setelah duduk di sebelah Dika.
Sintia menjelaskan semua kejadian tadi, tanpa ada yang terlewat karena takut Mahesa berpikir macam-macam.
Mahesa menghembuskan napasnya setelah mendengar penjelasan Sintia.
"Maaf, tadi aku harus gendong Tiara karena dia bilang udah nggak kuat buat jalan." Ucap Dika.
__ADS_1
"Enggak apa-apa. Aku justru terima kasih karena kamu selalu menolong Tiara." Jawab Mahesa sambil menepuk pundak Dika.
"Aku sudah anggap kalian keluargaku, jadi sudah sewajarnya kita untuk saling menolong."
Setelah 30 menit menunggu, Dokter Raisa pun keluar dari ruangan di mana Tiara diperiksa.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"
"Nyonya Tiara hanya kelelahan jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi saran saya sebaiknya untuk saat ini harus bedrest demi keselamatan ibu dan janinnya." Jelas Dokter Raisa.
"Baik, Dok. Terima kasih."
"Sama-sama Tuan. Nanti sudah bisa langsung pulang, tapi ingat pesan saya untuk bedrest sampai keadannya pulih! Kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya, Dok."
Dokter Raisa pun meninggalkan mereka lalu Mahesa masuk ke ruangan Tiara untuk melihat keadaannya.
Sementara Dika dan Sintia memilih menunggu di luar, "Alhamdulillah, nggak terjadi apa-apa dengan Kak Tiara. Aku sampai deg-degan dari tadi." Ucap Sintia.
"Iya, untuk sementara waktu kita nggak usah ketemu di luar dulu. Kasihan Tiara kalau harus di rumah sendirian, pasti dia jenuh."
"Kalau aku nggak sibuk, biar aku aja yang main ke rumah." Sambung Dika.
"Iya Kak, makasih ya selama ini Kakak udah baik banget."
"It's ok, aku justru malah seneng bisa bantu kalian."
"Kamu mau pulang sekarang atau nanti bareng kakak kamu?"
"Ya udah kalau gitu aku balik ke kantor lagi."
"Iya Kak, hati-hati!"
Dika mengecup kening Sintia sekejap sebelum berlalu pergi, sedangkan Sintia hanya mematung karena ini pertama kalinya dia mendapatkan ciuman dari Dika.
-
-
-
Usai Dika pulang, Sintia bergegas menyusul Mahesa untuk melihat kondisi Tiara.
Ceklek
Sintia membuka pintu ruangan, lalu dia masuk menghampiri Mahesa yang masih setia duduk di samping brankar istrinya.
"Kamu kok sendirian. Dika mana?" Tanya Mahesa.
"Kak Dika pulang duluan, Kak. Katanya mau balik ke kantor lagi."
"Em Kak." Panggil Sintia.
"Iya, kenapa?"
__ADS_1
"Apa nggak sebaiknya kita minta pengasuhnya Shaka langsung kerja di rumah aja, kasihan Kak Tiara."
"Emang kamu udah tahu pengasuhnya Shaka?"
"Udah Kak, tadi siang kita ngobrol bareng. Aku rasa dia juga orangnya baik."
"Kamu urus aja gimana baiknya." Putus Mahesa.
"Iya Kak, biar nanti aku ngomong ke Kak Dika."
"Dika? Kok bisa Dika, emang hubungannya apa?"
"Jadi, dia itu kerja jadi OG di kantor Kak Dika tapi cuma sementara doang, sedangkan pekerjaan tetapnya itu pelayan tapi karena dia kena fitnah temennya akhirnya dia dipecat."
"Tapi beneran kan dia orangnya bisa dipercaya." Ucap Mahesa memastikan.
"Iya Kak, nanti biar aku yang urus buat mantau kerjaan dia."
"Awalnya Kak Tiara minta dia untuk training dulu biar pendekatan dengan Shaka, tapi malah ada kejadian kayak gini. Mungkin emang udah rejeki dia buat kerja di rumah kita." Sambung Sintia.
"Bisa jadi." Balas Mahesa.
Sore harinya, Tiara sudah bisa dibawa pulang. Selama perjalanan dia hanya terdiam, Sintia dan Mahesa merasa aneh karena tak biasanya Tiara jadi murung.
"Kak, ada yang mau dibeli nggak? Atau ada yang Kakak pengen." Tanya Sintia mencoba mencari pembicaraan.
"Enggak, Sin. Aku mau langsung istirahat di rumah aja." Lirih Tiara.
Akhirnya, suasana kembali hening karena tak tahu harus memulai pembicaraan apa lagi.
Sesampainya di rumah, Mahesa langsung menggendong Tiara sampai kamar.
Setelah tiba di kamar, Mahesa membaringkan Tiara di ranjang dengan perlahan.
"Kamu mau sesuatu nggak? Nanti biar dibuatin Bi Asih."
"Nggak usah, Mas. Nanti aja kalau aku pengen, aku mau tidur dulu." Tanpa menunggu jawaban suaminya, Tiara langsung menarik selimut hingga batas dadanya.
Sepertinya Mahesa mulai paham apa yang dirasakan istrinya. Tiara pasti merasa seperti orang tak berdaya karena harus bedrest.
Mahesa mengecup kening Tiara lalu dia memutuskan keluar dari kamar agar tak mengganggu istirahat Tiara.
Mahesa duduk di sebelah Sintia dengan helaan napas panjang.
"Kak Tiara kenapa? Dari tadi murung terus."
"Kayaknya dia ngerasa bakal ngerepotin orang rumah karena harus bedrest sampai kondisinya pulih."
"Terus kita harus gimana, Kak?"
"Sepertinya dia butuh seseorang yang bisa membuatnya kembali ceria."
"Siapa ya?" Tanya Sintia sambil berpikir, begitupun dengan Mahesa yang sedang memikirkan sesuatu.
Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komen kalian ya 😍😘😘😘
__ADS_1