
"Makasih Kak, aku benar-benar nggak nyangka bisa dapat kejutan seperti ini. Tadinya aku mau marah ke Kakak karena udah ingkar janji." Ucap Sintia dengan suara serak habis menangis.
"Tapi sekarang nggak jadi kan marahnya? Kan udah dapat kejutan dari pangeran tampan." Sahut Tiara dan langsung mendapat tatapan tajam dari Mahesa.
"Awas, Ra! Ada singa yang mau ngamuk." Tutur Dika dengan tersenyum melihat Mahesa cemburu.
"Udah biarin, anggep aja nggak ada. Lama-lama aku bisa stress, muji kucing aja dicemburuin ya udah sekalian muji orang biar afdhol cemburunya." Balas Tiara sambil duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Kalian nggak capek ya dari tadi berdiri terus? Nggak kasihan kursinya dianggurin gitu." Ucap Tiara dengan santai membuat semua orang di sana geleng-geleng kepala melihat tingkah bumil yang satu ini.
"Mas Andre boleh minta tolong nggak?" Tanya Tiara pada Andre yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.
"Minta to.."
"Siapa yang suruh kamu panggil dia Mas?" Sela Mahesa sebelum Andre menyelesaikan ucapannya.
"Kan aku menghormati dia sebagai orang yang lebih tua dari aku. Masa iya mau panggil nama doang, kan nggak sopan." Cetus Tiara.
"Dengerin tuh Ndre, kamu itu udah tua." Ejek Dika.
"Astaga Nona, apa muka saya udah kelihatan banget tuanya." Batin Andre menangis.
"Eh, bukan gitu. Mas Andre jangan salah paham dulu, maksud aku tuh usia Mas Andre kan lebih tua dari aku bukan wajahnya ."
"Emang dasar biang keringat kamu tuh, Dik." Gerutu Tiara pada Dika, sedangkan Dika hanya tertawa melihat ekspresi Tiara yang salah tingkah.
"Tidak masalah, Nona. Saya sudah biasa mendengar Tuan Dika seperti itu." Ucap Andre walau dalam hati dia merasa jengkel pada bosnya itu.
"Oh ya tadi Nona Tiara mau minta tolong apa?" Tanya Andre yang tadi belum selesai bicara.
"Tolong nanti beliin coklat sama strawberry di supermarket." Ucap Tiara dengan pelan.
"Kenapa mesti nyuruh dia sih, Yang. Aku juga bisa kalau cuma beli itu doang." Sela Mahesa dengan ketus.
"Diam kamu, Mas. Aku pengennya dibeliin Mas Andre, titik." Balas Tiara tak kalah ketusnya. Sementara Andre hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat perdebatan sepasang suami istri itu.
"Udahlah Kak. Ngalah aja kenapa sih, udah tau istrinya lagi hamil. Emang mau anak Kakak nanti ileran karena nggak diturutin kemauannya." Sela Sintia.
"Teori dari mana itu?"
"Sudah-sudah, nanti Mama balikin lagi kamu ke tempat asal. Udah tua juga, nggak malu apa dilihatin orang tuanya Dika." Tegur Mama Mahesa pada Mahesa.
Mahesa langsung terdiam saat mamanya sudah keluar taringnya. Dan mereka pun makan siang bersama dengan bahagia.
-
__ADS_1
-
-
-
Disaat keluarga Dika dan Mahesa sedang berbahagia, disisi lain Icha sedang mendapatkan masalah.
"Demi Allah, Tuan. Saya nggak pernah mengambil ponsel milik Nesya." Ucap Icha dengan mata yang berkaca-kaca.
"Alah, mana ada maling ngaku. Mending kita langsung geledah aja tas dia. Biar semua jelas." Ajak Nesya.
Akhirnya, manager dan karyawan resto pun sama-sama ke tempat di mana Icha menyimpan tasnya.
Salah satu karyawan mengambil tas Icha dan mulai menggeledahnya.
"Ini ponsel siapa?" Tanya karyawan itu sambil memperlihatkan ponsel yang ada di dalam tas Icha.
"Nah kan bener, ini ponselku. Udah aku duga kalau kamu itu emang pencurinya." Sentak Nesya dengan menuding Icha.
"Astaghfirullah, demi Allah aku nggak pernah ngambil ponsel kamu. Aku juga nggak tahu kenapa ponsel itu bisa ada di tasku." Ucap Icha membela diri.
"Sekarang sudah jelas masalahnya. Dan kamu, Icha. Kamu ikut ke ruangan saya sekarang!" Pungkas manager restoran itu.
"Setelah ini aku yakin, kamu pasti langsung dipecat." Batin Nesya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Sementara di ruangan manager, Icha tengah duduk dengan tangan yang bertautan karena takut akan dipecat.
"Icha." Panggil manager itu.
"Iya, Pak."
"Dengan berat hati saya putuskan mulai hari ini kamu saya pecat. Karena saya tidak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi."
"Tapi, Pak. Saya nggak melakukan itu, saya nggak mencuri ponsel Nesya."
"Tapi bukti sudah jelas, Cha. Ponsel Nesya ada di dalam tas kamu. Jadi, dengan terpaksa saya harus memecat kamu. Dan ini gaji kamu bulan ini, silakan kamu bisa pulang sekarang!"
Hancur sudah perasaan Icha, dia yang tak melakukan kesalahan itu harus dipaksa mengakui kesalahan yang tak diperbuatnya.
Dengan langkah gontai dia meninggalkan restoran itu. Ke mana lagi dia harus mencari kerja, sedangkan waktu bekerjanya di kantor Dika hanya 10 bulan.
"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa takdir selalu mempermainkanku? Apa aku tidak boleh hidup bahagia seperti yang lain?" Gumam Icha dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Dia memutuskan duduk dibangku taman untuk menenangkan hatinya. Dari kejauhan ada seseorang yang melihat keberadaannya, dan orang itu pun langsung menghampirinya.
__ADS_1
"Hai, boleh duduk di sini nggak?" Sapa Tiara.
"Boleh Nyonya, silakan!" Jawab Icha lalu menggeser tubuhnya.
"Kamu bukannya OG yang waktu itu di ruangan Dika?"
"Benar, Nyonya. Tapi saya hanya bekerja 10 bulan saja di sana."
"Kenapa?"
"Karena saya hanya ingin melunasi ganti rugi mobil Tuan Dika yang nggak sengaja saya tabrak." Jelas Icha.
"Oh gitu, terus kamu sebelumnya kerja di mana? Kok bisa kerja di kantor Dika juga."
"Saya pelayan restoran Nyonya. Tapi sekarang saya sudah dipecat karena dituduh mencuri ponsel teman kerja saya."
"Hah, kok bisa sih. Kenapa kamu nggak jelasin kalau kamu nggak ngambil ponselnya?"
"Itu yang jadi alasan saya dipecat. Karena ponsel itu tiba-tiba ada di tas saya, tapi demi Allah saya nggak pernah mencuri barang milik orang lain." Ucap Icha dengan tangis yang mulai pecah.
Tiara langsung mendekap tubuh Icha yang bergetar, dia sangat mengerti perasaan Icha. Dia mengusap lembut pundak Icha agar tenang.
Setelah puas meluapkan kesedihannya, Icha langsung menarik diri dari dekapan Tiara.
"Maaf Nyonya, saya sudah lancang."
"Tidak apa-apa, saya tahu perasaan kamu sekarang. Oh ya nama kamu siapa?"
"Nama saya Icha, Nyonya."
"Saya Tiara, jangan panggil saya Nyonya lagi!"
"Tapi?"
"Saya nggak menerima penolakan." Tegas Tiara.
"Baiklah, kalau begitu saya panggil Mbak Tiara saja. Rasanya kurang sopan kalau harus memanggil nama saja."
"Senyaman kamu aja, yang penting bukan Nyonya ataupun Nona." Ucap Tiara sambil tersenyum ramah.
Mereka pun mengobrol lebih lama karena kebetulan Tiara yang baru pulang dari restoran ingin jalan-jalan di taman.
Sementara Mahesa, dia mengantarkan mama, Sintia, dan Shaka pulang terlebih dahulu. Baru setelah itu dia menyusul istrinya.
Jangan lupa tinggalkan like dan komen kalian ya 😍😘😘😘
__ADS_1