Cinta Untuk Tiara

Cinta Untuk Tiara
#CUT Season 2


__ADS_3

Mahesa dan Sintia saat ini sedang menunggu di UGD, mereka tengah harap-harap cemas menanti kabar kondisi Tiara.


Sementara Mama Mahesa berada di rumah untuk menemani Shaka, beliau juga tak kalah cemas dari Mahesa dan Sintia. Bahkan untuk sekedar memejamkan mata saja tak bisa, beliau selalu terbayang dengan kondisi menantunya.


Sembari menunggu kabar Tiara, Sintia mengirim pesan pada Dika jika dia tengah berada di rumah sakit.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka lalu muncullah dokter yang menangani Tiara. Tak ingin membuang waktu, Mahesa langsung menghampiri dan mencecar pertanyaan pada dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"


"Sebelumnya saya minta maaf, Nyonya Tiara mengalami pendarahan hebat dan tekanan darahnya tinggi untuk itu saya terpaksa melakukan tindakan kuret karena janinnya tidak tertolong."


Jederr


Tubuh Mahesa serasa lemas tak bertulang mendengar penjelasan dari dokter, begitupun dengan Sintia yang tak bisa menahan air matanya.


Apa yang dia takutkan terjadi juga, kakaknya mengalami keguguran. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Tiara, ketika mengetahui kalau janinnya tak bisa diselamatkan.


Sementara Mahesa masih merutuki dirinya sendiri, seandainya dia bisa mengontrol emosinya, hal ini mungkin tak akan terjadi.


"Untuk saat ini kondisi Nyonya Tiara masih belum sadarkan diri karena kehilangan banyak darah. Apabila sudah sadar, nanti bisa dipindah ke ruang perawatan." Sambung dokter.


"Baik, Dok. Terima kasih." Jawab Sintia mewakili Mahesa yang masih terdiam bagai patung.


"Kalau begitu saya permisi dulu!" Pamit dokter meninggalkan Mahesa dan Sintia.


Setelah dokter pergi, Sintia membantu kakaknya untuk duduk di kursi.

__ADS_1


"Kakak duduk dulu, ya! Nanti aku pulang sebentar buat ambil baju ganti. Kakak nggak apa-apa kan di sini sendiri?"


"Iya, kamu pulang aja dulu! Jangan bilang ke mama dulu kalau Tiara keguguran!"


"Iya, Kak. Aku pulang dulu! Kabari aku kalau ada apa-apa!"


Sintia langsung meninggalkan Mahesa sendiri di rumah sakit, dia pulang untuk mengambil baju ganti untuk kakaknya.


Sesampainya di rumah, Sintia langsung dicecar pertanyaan mamanya.


"Gimana keadaan Tiara?"


"Kakak baik-baik aja, Mah. Besok Mama datang aja ke rumah sakit buat temenin kakak."


"Syukurlah, ya udah Mama istirahat dulu! Tadi Mama nggak bisa tidur karena mikirin kondisi Tiara."


Sintia berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan diri, lalu dia ke kamar kakaknya untuk mengambil beberapa baju untuk Mahesa.


-


-


-


-


Keesokan harinya, Tiara mulai menggerakkan jarinya. Matanya mengerjap perlahan menyesuaikan cahaya yang ada di ruangan itu.


Setelah penglihatannya mulai jelas, dia melihat sekelilingnya, hingga pandangannya tertuju pada tangan kanannya yang digenggam oleh Mahesa.

__ADS_1


Dia menarik tangannya perlahan, berharap tak mengganggu tidur suaminya. Namun, Mahesa yang merasakan ada pergerakan langsung membuka matanya.


"Sayang, kamu udah bangun. Kamu mau apa?" Tanya Mahesa, sedangkan Tiara hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu pasti marah, ya! Gara-gara aku kita harus kehilangan calon anak kita." Sesal Mahesa lalu meneteskan air matanya. Rasa bersalah kian menelusup hatinya.


Tiara mengelus kepala suaminya dengan pelan, Mahesa menatap istrinya lalu memegang tangan yang mengelus kepalanya.


"Maafin aku, Yang. Ini semua salahku, seandainya aku nggak terlalu tersulut emosi, mungkin kejadiannya nggak seperti ini."


"Kamu nggak salah, Mas. Mungkin Allah memang belum mengijinkan kita untuk memiliki anak lagi." Lirih Tiara.


"Aku memang bukan suami yang baik. Aku cuma bisa nyakitin kamu, padahal aku sudah berjanji untuk selalu membuat kamu bahagia."


"Kamu sudah menjadi suami dan papi yang terbaik, Mas. Jangan terlalu menyalahkan diri kamu sendiri, semua ini sudah menjadi ketentuan Allah."


Mahesa begitu malu pada dirinya sendiri, istrinya begitu lapang dada atas musibah yang terjadi. Akan tetapi, dia justru selalu memberikan luka pada istrinya karena sikapnya yang tempramen.


Sementara itu, Sintia menemui Dika di kantornya. Dia ingin menunda rencana ke butik karena Tiara yang masih terbaring lemah di rumah sakit.


"Maaf ya, Kak. Aku harus batalin rencana buat ke butiknya."


"Enggak apa-apa. Kita masih punya banyak waktu, nanti kita bisa sekalian pesan seragam untuk keluarga. Jadi, kalau Tiara udah sehat kita bisa ke butik bareng buat ukur bajunya."


"Iya, Kak. Makasih udah mau ngertiin."


"Sama-sama, Ay. Kamu tunggu aku selesaiin kerjaan dulu, ya! Nanti kita ke rumah sakit bareng, soalnya mama juga mau ke sana."


"Iya, Kak."

__ADS_1


__ADS_2