
"Tante pulang dulu ya, Ra. Kamu cepet sembuh, biar bisa kumpul bareng lagi." Pamit Mama Dika.
"Iya, Tan. Makasih udah mau jengukin aku."
"Sama-sama, Ra."
Mama Dika beranjak keluar dari kamar Tiara diikuti Sintia di belakangnya.
"Sin!" Panggil Tiara.
"Iya, Kak. Ada apa?"
"Kamu suruh Icha pulang aja, kasihan kalau harus nunggu sampai tamu pulang."
"Iya, Kak. Nanti aku bilang ke Icha." Sintia melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar Tiara.
Ketika melewati dapur, dia melihat Icha sedang membantu Bi Asih menyiapkan makan malam.
"Cha!" Panggil Sintia sambil menghampiri Icha.
"Iya, Mbak."
"Kamu bisa pulang sekarang, kasihan adik kamu nanti kalau pulang terlalu sore." Ucap Sintia.
"Iya, Mbak. Kalau begitu saya pamit pulang."
"Iya, kamu bawain adik kamu makanan di meja itu. Daripada kamu nanti harus masak, itu tadi udah dilebihin masaknya."
"Enggak usah, Mbak. Biar buat tamu Mbak Sintia aja." Tolak Icha dengan halus.
"Udah bawa aja. Tunggu, biar aku ambilin rantang dulu!"
Sintia membuka rak perabotan lalu mencari rantang yang bisa digunakan. Setelah mendapatkan rantang yang dicari, Sintia memasukkan aneka lauk dan sayur yang dimasak Bi Asih.
"Mbak, jangan banyak-banyak!" Ucap Icha.
"Enggak apa-apa. Nih, kamu bawa pulang! Makasih ya udah jagain Shaka sampai jam segini."
"Iya, Mbak. Saya yang harusnya terima kasih udah dikasih makanan sebanyak ini."
"Itu udah rejeki kamu, Cha. Hati-hati dijalan, ya!"
__ADS_1
"Iya, Mbak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah Icha pulang, Sintia kembali ke ruang tamu untuk bergabung bersama keluarganya dan keluarga Dika.
"Permisi, Nyonya. Makanannya sudah siap." Bisik Bi Asih pada Mama Mahesa.
"Iya, Bik."
Setelah Bi Asih kembali ke dapur, Mama Mahesa langsung mengajak calon besannya untuk makan.
"Mas, Mbak sebaiknya kita makan dulu! Nanti kita lanjut lagi ngobrolnya." Ajak Mama Mahesa.
"Ya ampun, Mbak. Kita malah ngerepotin kalian." Ucap Mama Dika.
"Enggak, Tante. Memang sudah sewajarnya kita menjamu tamu yang datang."
Akhirnya, mereka menuju ruang makan. Semua menikmati makanan dengan tenang, walau sesekali diselingi obrolan kecil.
Selesai makan, Mama Mahesa mengajak berkumpul di ruang tengah. Sementara Sintia mengajak Dika ke halaman belakang.
"Makasih, ya." Ucap Dika ketika sudah duduk di bangku.
"Karena kamu sudah mau menerima aku apa adanya."
"Justru aku yang seharusnya berterima kasih ke Kakak. Sudah mau menerima aku dengan segala kekuaranganku."
"Itu sudah kewajiban aku sebagai pasangan kamu, yang harus siap sedia untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing."
"Seandainya dulu aku nggak kenal Tiara, mungkin kita nggak akan bertemu dan menjalin hubungan seperti sekarang." Jelas Dika sambil menggenggam tangan Sintia.
"Kak Dika benar. Kedatangan Kak Tiara di rumah ini membawa banyak pengaruh baik, contohnya Kak Mahesa yang dulu jarang kumpul keluarga sekarang lebih sering menghabiskan waktu bareng keluarga."
Saat mereka tengah mengobrol, Mama Dika muncul dari pintu dapur memanggil Dika.
"Dik, Mama sama papa mau pulang. Kamu ikut pulang sekarang apa nanti?" Tanya Mama Dika.
Dika melihat jam tangannya lalu menjawab pertanyaan mamanya, "Iya, Mah. Aku ikut pulang sekarang aja."
Setelah mendengar jawaban Dika, Mama Dika kembali ke dalam menghampiri suaminya.
__ADS_1
"Aku pulang dulu, ya! Besok atau lusa kita ketemu lagi buat cari gaun pernikahan." Ucap Dika sambil beranjak berdiri diikuti Sintia.
"Iya, Kak. Hati-hati, kabari aku kalau udah sampai rumah."
"Ok."
Ketika Sintia akan membalikkan badannya, Dika justru menahan tangan Sintia lalu menariknya dalam pelukan.
Hingga tanpa sadar, bibir Dika sudah menyatu dengan bibir Sintia. Keduanya saling menikmati tautan bibir itu sampai kehabisan oksigen.
Dika langsung melepas ciumannya kala napas Sintia sudah mulai terengah-engah. Dia mengusap lembut bibir Sintia dengan ibu jarinya.
Sementara Sintia tertunduk malu karena kejadian tadi.
"I love you." Ucap Dika.
"Mee too." Balas Sintia.
-
-
-
"Kakak ke mana aja? Kok baru pulang." Tanya Vita.
"Tadi di rumah majikan Kakak ada tamu. Jadi, Kakak harus jagain anaknya dulu selagi masih ada tamu." Jelas Icha sambil meletakkan rantang yang berisi makanan di meja.
"Ini tadi Kakak dibawain makanan dari sana katanya biar nggak perlu masak buat makan malam." Sambung Icha lalu membuka rantang tersebut.
"Alhamdulillah, rejeki untuk kita hari ini." Syukur Vita.
"Aku nggak nyangka ternyata masih ada orang sebaik majikan Kakak. Semoga keluarga mereka selalu dilimpahi kesehatan dan rejeki yang cukup." Imbuh Vita.
"Aamiin." Jawab Icha.
Icha pergi ke kamarnya untuk mengambil pakaian ganti karena dari tadi belum sempat mandi.
Setelah mengambil baju ganti, dia bergegas ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya agar lelahnya berkurang.
Sementara Vita tengah menyiapkan makanan tadi untuk makan malam sambil menunggu kakaknya selesai mandi.
__ADS_1
Selesai mandi, Icha langsung ikut bergabung adiknya di meja dapur untuk makan.
Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komen kalian 😍😘😘