Cinta Untuk Tiara

Cinta Untuk Tiara
Bab 7. Persiapan pernikahan


__ADS_3

Sejak kedatangan Bu Sarah dengan Mahesa beberapa hari lalu, Tiara menjadi lebih sering melamun karena ragu untuk menikah dengan Mahesa.


Apalagi semenjak kata-kata penghinaan yang terlontar dari mulut Mahesa, membuatnya ragu untuk melanjutkan perjodohan yang sudah disepakati bersama.


"Ra, aku lihat akhir-akhir ini kamu jadi lebih sering murung, apa ada masalah?" Tanya Nisa yang penasaran akan perubahan sikap Tiara yang tak seperti biasanya.


Tiara menghela napas panjang, ragu untuk bercerita karena takut dinilai yang tidak-tidak. Tapi kalau diam dia merasa beban yang ditanggungnya semakin berat.


"Aku bingung, Sa. Kamu masih ingatkan sama wanita paruh baya yang datang ke toko untuk bertemu aku? Beliau menjodohkan aku dengan anaknya dan anaknya terpaksa menerima perjodohan itu karena kasihan pada mamanya. Dan sebentar lagi akan dilangsungkan pernikahanku dengan anaknya." Tutur Tiara menjelaskan.


"Tunggu, tunggu. Gimana ceritanya kamu dijodohkan sama anaknya sedangkan kalian baru kenal?" Nisa bertanya dengan dahi yang mengerut karena bingung mendengar penuturan Tiara.


"Sebenarnya, aku pernah menolong ibu itu saat mau pulang. Karena waktu itu beliau hampir tertabrak mobil saat mau menyeberang. Sejak saat itu kami langsung akrab dan beliau bilang perjodohan ini sebagai rasa balas budi beliau."


"Padahal aku nggak pernah berfikir sampai kesitu, boro-boro dijodohkan, menikah aja aku masih belum memikirkan." Sambung Tiara. Nisa menganggukan kepala tanda mengerti.


"Terus kalau kamu udah terima, kenapa malah jadi ditekuk itu muka udah kayak kain bekas."

__ADS_1


"Sembarangan kalau ngomong." Gerutu Tiara yang dibalas tawa oleh Nisa.


"Lagian muka ditekuk gitu, jelek tau nggak. Pantesan aja nggak ada yang mau deketin kamu." Seloroh Nisa dengan tawa yang tak kunjung berhenti.


"Udah pergi sana, bukannya menghibur malah bikin tambah kesel." Ucap Tiara mendengus kesal.


Nisa pun meninggalakan Tiara dengan tawanya yang masih terdengar.


*****


Sedangkan di lain tempat, Bu Sarah sedang sibuk mengurus segala keperluan pernikahan yang akan dilangsungkan 2 minggu lagi. Ya, setelah berkunjung kerumah Tiara, Bu Sarah sudah memutuskan untuk menggelar pernikahan 2 minggu lagi.


"Sayang, jangan lupa lusa waktunya untuk fitting baju di butik langganan Mama. Kamu jemput Tiara sekalian biar bisa kesana bareng jadi nggak perlu nunggu lama nanti." Pesan Bu Sarah pada Mahesa.


"Iya, Ma." jawab Mahesa dengan malas. Bukannya tak ingin bertemu Tiara, tapi Mahesa merasa khawatir jika dia kembali merasakan getaran saat bertatap muka dengan Tiara.


***

__ADS_1


Hari untuk fitting baju pun sudah tiba, saat ini Mahesa sedang menuju rumah Tiara karena sebelumnya mamanya sudah mengabari Tiara agar bersiap. Sesampainya di rumah Tiara, Mahesa langsung mengetuk pintu dan duduk di kursi teras.


Tok tok tok


"Iya sebentar." Terdengar sahutan dari dalam rumah. Tak berselang lama muncullah orang yang sedang ditunggu oleh Mahesa.


"Tuan sudah sampai?" Tiara membuka percakapan.


"Kalau saya sudah berdiri disini, itu artinya saya sudah sampai. Apa tidak ada pertanyaan yang lebih masuk akal dari pertanyaan konyolmu itu?" Jawab Mahesa ketus.


"Dih, tinggal jawab iya aja kenapa sih? Ditanya satu kalimat aja jawabnya panjang banget kayak jalan tol." Gerutu Tiara lirih.


"Ngomong apa kamu barusan?" Dengan sorot tajam Mahesa kembali bertanya setelah mendengar gumaman tidak jelas Tiara.


Tiara pun gelagapan, tapi segera menormalkan ekspresinya.


"Eh, saya tidak ngomong apa-apa kok Tuan. Lebih baik kita segera berangkat, biar cepat selesai." Tiara segera mengalihkan pembicaraan sebelum masalah tambah panjang.

__ADS_1


Akhirnya, mereka berangkat menuju butik yang menjadi tempat fitting baju.


Hai, balik lagi nih, jangan lupa like dan komen😍😘😘. Happy weekend


__ADS_2