
"Mas!" Lirih Tiara.
"Iya Sayang, aku di sini. Kamu butuh apa biar aku ambilin?"
"Jangan pergi, Mas! Jangan tinggalin aku!"
"Aku nggak akan kemana-mana. Aku bakal di sini temenin kamu." Ucap Mahesa sambil memeluk erat tubuh istrinya.
Ingin rasanya dia meluapkan segala isi hatinya, tapi dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan istrinya.
"Kamu makan dulu, ya! Habis itu terus minum obatnya." Ucap Mahesa dan Tiara hanya menganggukan kepalanya.
Mahesa mengambil makanan yang sudah dibawakan Bi Asih tadi, dia langsung menyuapi istrinya sambil sesekali mengusap kepalanya.
Selesai makan Tiara segera meminum obatnya, setelah itu dia kembali istirahat karena tubuhnya masih lemah.
"Sayang, aku ke ruang kerja dulu ya!" Pamit Mahesa.
"Ikut!"
"Aku cuma sebentar kok habis itu langsung ke sini lagi." Mahesa mencoba memberi pengertian istrinya.
"Aku nggak mau sendirian, aku mau ikut kamu!" Ucap Tiara yang mulai terisak.
"Ada apa? Kenapa Tiara nangis?" Tanya Mama Mahesa yang kebetulan baru dari kamar Shaka.
"Aku mau ke ruang kerja sebentar buat cek laporan, Mah. Tapi Tiara nggak mau ditinggal."
"Tiara sama Mama aja ya! Biar suami kamu ke ruang kerj dulu, nanti kalau udah selesai langsung ke sini lagi." Mama Mahesa mencoba membujuk menantunya, walau dalam hati beliau merasa perih melihat kondisi Tiara yang sekarang.
"Iya, Sayang. Kamu sama mama dulu, ya! Nanti aku langsung ke sini kalau udah selesai, cuma sebentar kok." Mahesa berjongkok di depan istrinya yang mulai agak tenang.
"Tapi bener kan cuma sebentar?" Tanya Tiara.
"Iya Sayang."
Akhirnya, Tiara menganggukkan kepalanya tanda setuju dan Mahesa langsung mengecup kening istrinya sebelum ke ruang kerjanya.
Mama Mahesa dengan sabar menemani Tiara yang sedang istirahat. Dua jam kemudian Tiara terbangun dan mendapati Mahesa belum kembali.
"Mas, kamu di mana?" Panggil Tiara lalu beranjak turun dari tempat tidur untuk mencari suaminya.
"Mas!" Teriak Tiara dengan tubuh yang gemetar.
"Astaghfirullah, Non Tiara!" Bi Asih berlari menghampiri Tiara yang seperti orang linglung.
"Bik, Mas Mahesa jahat! Dia ninggalin aku, dia bohongin aku." Racau Tiara.
"Enggak Non. Den Mahesa nggak ninggalin Non Tiara." Bi Asih tak kuasa menahan tangis melihat Tiara yang sekarang.
"Biar Bibi panggilkan Den Mahesa, mungkin masih sibuk makanya belum balik ke kamar."
"Aku ikut, Bik!" Pinta Tiara yang masih sesegukan.
"Iya, Non."
Bi Asih menuntun Tiara ke ruang kerja Mahesa. Belum sampai membuka pintu, Mahesa sudah keluar dari ruang kerja.
__ADS_1
"Sayang, ada apa?"
Mahesa terkejut melihat istrinya yang terlihat acak-acakan dan dia segera mendekat lalu memeluknya.
"Maaf Den, tadi Non Tiara teriak manggil Den Mahesa sampai nangis makanya Bibi anter ke sini."
"Nggak apa-apa, Bik. Makasih udah bantuin Tiara."
"Sama-sama, Den. Bibi permisi dulu mau lanjut masak."
Setelah Bi Asih kembali ke dapur, Mahesa menggendong Tiara ke kamar karena tak tega melihat tubuh istrinya yang masih gemetar.
*****
Sementara di tempat lain, Dika sedang memata-matai Olivia bersama salah satu anak buahnya yang akan membuat Olivia masuk dalam jebakan mereka.
"Seperti yang sudah saya dan papa saya katakan. Setelah kamu berhasil dekat dengan dia, korek informasi sedetail mungkin. Dan satu lagi, berpura-puralah sebagai saingan bisnis dari Mahesa yang ingin menghancurkan bisnis Mahesa. Pancing dia agar mau bekerja sama dengan kamu!"
"Baik Tuan, saya sudah paham. Akan saya lakukan apa yang Tuan perintahkan."
"Bagus, sekarang mulailah rencana kita!"
Anak buah Dika keluar dari mobil lalu menuju tempat di mana Olivia berada.
"Tunggu pembalasan dariku! Kamu akan lebih menderita dari yang Tiara alami sekarang!" Gumam Dika dengan tangan yang sudah terkepal erat.
Dia meraih ponselnya yang ada di dashboard lalu menghubungi Mahesa.
"Halo, Dik." Sapa Mahesa saat panggilan sudah terhubung.
"Maaf sepertinya aku nggak bisa kemana-mana. Lebih baik kamu datang ke sini saja karena saat ini kondisi Tiara sedang tidak baik." Jelas Mahesa.
"Memangnya apa yang terjadi?"
"Aku akan ceritakan saat kamu sudah tiba di sini."
"Baiklah, aku segera ke sana."
Dika menutup teleponnya lalu segera meluncur ke rumah Mahesa. Hatinya sudah ketar-ketir memikirkan keadaan Tiara yang katanya sedang tidak baik.
*****
Di sebuah mall, Marvin sudah siap dengan misinya untuk menjebak Olivia.
Bruukkk
"Aww!" Rintih Olivia.
"Maaf, Nona saya nggak sengaja."
"Tidak apa-apa." Ucap Olivia sambil mengelus perutnya yang mengencang karena bersenggolan dengan Marvin.
"Mau saya antar ke rumah sakit?"
"Tidak usah, sebentar lagi juga mendingan."
"Baiklah. Sebagai permintaan maaf saya, Nona mau kan makan siang dengan saya di restoran sekitar sini?"
__ADS_1
"Boleh, kebetulan saya juga mau makan siang."
Marvin pun mengajak Olivia ke restoran yang ada di dalam mall.
"Silakan, Nona!" Ucap Marvin yang menarik kursi untuk Olivia.
"Terima kasih."
"Anda ingin pesan apa?" Tanya Marvin saat seorang pelayan datang menghampiri.
"Saya pesan steak dan jus alpukat saja."
"Steak dua, minumnya jus alpukat dan vanilla latte." Ucap Marvin pada pelayan.
"Baik, Tuan."
Sepeninggal pelayan tadi Marvin mencoba untuk mengobrol dengan Olivia agar misinya kali ini bisa berhasil.
"Sebelumnya perkenalkan nama saya Marvin."
"Saya Olivia."
"Sekali lagi saya minta maaf soal tadi."
"It's ok."
"Ngomong-ngomong kamu sendirian aja, suami kamu nggak ikut?"
"Aku belum menikah."
"Bukannya kamu sedang.." Marvin menjeda ucapannya dan tatapannya tertuju pada perut Olivia.
"Iya, saya memang lagi hamil tapi pacar saya nggak mau tanggung jawab karena dia sudah menikah dengan perempuan lain."
"Oh maaf saya nggak bermaksud membuat kamu sedih."
"Tidak masalah, saat ini saya juga sedang berjuang mendapatkan pengakuan untuk anak saya. Walaupun dia tidak mau menikahi saya setidaknya anak ini mendapat pengakuan dari ayahnya."
"Kalau boleh tahu, siapa ayah dari anak kamu?"
"Mahesa, Mahesa Pratama pemilik salah satu perusahaan terbesar di kota ini."
"Mahesa? Jadi dia ayah biologis dari anak kamu. Sepertinya kita bisa bekerja sama."
"Kerjasama?"
"Iya, sudah lama saya ingin menghancurkan bisnis Mahesa tapi selalu saja gagal. Dan mungkin kita bisa sama-sama mendapatkan apa yang kita inginkan. Anakmu mendapat pengakuan dari ayahnya dan saya akan menghancurkan bisnis Mahesa." Jelas Marvin.
"Baiklah saya terima tawaran kamu."
"Bagus, saya sudah ada rencana yang bisa membuat Mahesa tak berkutik lagi."
"Tepat sasaran, dasar wanita licik." Ucap Marvin dalam hati.
Setelah menyepakati kerjasama, makanan pesanan mereka pun datang. Pelayan langsung menyajikan di meja lalu mempersilakan Marvin dan Olivia untuk menikmati makanannya.
Pagi menjelang siang. Tinggalkan like dan komen 😍😘😘
__ADS_1