
Tiara, Sintia serta Mama Dika sekarang berada di salah satu restoran, yang ada di dalam mall tersebut. Ya, seseorang yang menarik tangan Tiara yaitu Mama Dika. Beliau yang memang sudah mengetahui jika Tiara berada di salah satu toko pakaian itu, bergegas menghampiri Tiara karena beliau ingin berbicara dengan Tiara.
Flashback on
"Nyonya?" Tiara terkejut saat mengetahui orang yang menarik tangannya ternyata wanita yang pernah menabraknya beberapa waktu lalu.
"Iya, maaf kalau saya menganggu waktu kamu. Bisa kita berbicara sebentar, di restoran dekat sini?" Ajak Mama Dika.
"Bisa, Nyonya. Tapi saya panggil adik saya dulu, karena tadi dia minta ditemani belanja." Ucap Tiara seraya menunjuk Sintia yang sedang memilih baju.
"Baiklah, saya tunggu di depan." Kemudian Mama Dika berlalu menunggu Tiara di depan toko tersebut. Hingga ketiganya sekarang berada di dalam restoran.
Flashback off
*****
__ADS_1
"Sebelumnya saya minta maaf untuk kejadian waktu itu. Kalau boleh tau nama kamu siapa?" Mama Dika memulai pembicaraan lalu berkenalan dengan Tiara.
"Saya Tiara, Nyonya. Dan ini adik ipar saya namanya Sintia." Tiara memperkenalkan diri tak lupa pula mengenalkan Sintia.
Mama Dika yang mendengar penuturan Tiara pun terkejut, pasalnya tidak mengira jika Tiara sudah menikah. Niat hati ingin menjodohkan Tiara dengan Dika harus pupus di tengah jalan.
"Jadi kamu sudah menikah?" Tanya Mama Dika masih belum yakin dengan apa yang didengarnya.
"Benar, Nyonya. Sudah hampir satu tahun." Jawab Tiara apa adanya, sedangkan Sintia hanya jadi pendengar sembari menikmati minumannya.
"Baik Tante."
******
Setelah pertemuannya dengan Tiara siang tadi, Mama Dika jadi lebih sering melamun. Dika yang melihat perubahan sikap mamanya, segera menghampiri dan menanyakan ada masalah apa.
__ADS_1
"Mama kenapa? Aku perhatikan akhir-akhir ini Mama sering melamun." Dika duduk di samping sang Mama lalu memegang lembut tangannya.
"Huhh, sebenarnya Mama ingin mengenalkan kamu dengan gadis cantik, manis juga sopan. Wajahnya teduh, bola matanya mirip seperti punya Aqila." Dika hanya mendengarkan tanpa ingin memotong pembicaraan mamanya.
"Mama berharap dia bisa menikah dengan kamu, tapi harapan Mama harus pupus setelah tahu bahwa statusnya sudah menikah. Mama ingin selalu memandang bola matanya, sikapnya yang ramah dan sopan membuat Mama semakin menyukai dia." Sambung Mama Dika sambil meneteskan air matanya saat membayangkan sosok Tiara.
Dika hanya diam, entah kenapa pikirannya kini tertuju pada sosok Tiara. Apa mungkin gadis yang dimaksud mamanya itu adalah Tiara, tapi sejak kapan sang Mama mengenal Tiara?
Banyak pertanyaan yang mengganggu pikiran Dika. Dika hanya berharap, jika memang Tiara jodohnya maka sejauh apapun jarak yang membentang pasti akan bersatu juga. Tapi jika sebaliknya, Dika hanya ingin kelak dia bisa mendapatkan jodoh yang tepat dan memiliki sifat seperti Tiara.
Biarlah kali ini dia mencintai dalam diam, daripada dia harus dianggap sebagai perebut istri orang. Dia juga tidak ingin merusak kebahagiaan orang yang dicintainya. Baginya, selagi Tiara tidak meneteskan air mata kesedihan, itu sudah cukup membuatnya bahagia.
"Sebaiknya Mama istirahat. Doakan saja semoga Dika bisa bertemu dengan orang yang tepat, mungkin memang Dika dan gadis yang Mama ceritakan tidak berjodoh. Jadi, Mama jangan banyak pikiran kasihan Papa kalau lihat Mama seperti ini." Dika akhirnya, hanya dapat menenangkan sang Mama, tidak ingin Mamanya terlalu berharap dirinya akan berjodoh dengan gadis itu.
Siang all, jangan lupa like dan komen 😍😘😘😘
__ADS_1