
"Mana mungkin saya cemburu, saya hanya tidak ingin nama baik keluarga saya tercemar karena kamu berhubungan dengan pria lain." Mahesa berusaha mengelak dan tidak ingin harga dirinya terjatuh karena telah cemburu.
"Terserah anda Tuan, yang pasti saya tidak akan melewati batas kehormatan seorang istri." Tiara berlalu ke kamar untuk membersihkan diri karena tak ingin meladeni Mahesa yang ujung-ujungnya dia yang disalahkan.
Sedangkan Mahesa mengusap wajahnya kasar, masih tidak percaya bahwa dia telah cemburu. Dia hanya tidak suka sesuatu yang menjadi miliknya dekat dengan pria lain. Katakanlah egois karena memang begitulah Mahesa.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Tiara pergi ke dapur menemui Bi Asih untuk membuat makan siang.
"Mau bikin apa, Bi?" Tanya Tiara dan mulai membantu menyiapkan bahan yang akan diolah.
"Eh, Non Tiara. Ini Bibi mau bikin gurame asam manis sama udang goreng tepung."
"Oh ya sudah biar Tiara aja yang goreng ikan sama udangnya, Bibi bikin bumbunya saja." Tiara mengambil ikan dan udang yang sudah dicuci bersih dan diberi bumbu lalu mulai menggoreng.
__ADS_1
Mahesa yang mencium wangi masakan segera menuju meja makan. Tiara yang melihat sang suami datang segera membuatkan minuman, sembari menunggu masakan siap lalu meletakkannya di hadapan Mahesa.
"Mama kemana, Bi? Kok nggak kelihatan dari tadi?" Tanya Mahesa yang tak melihat mamanya sedari tadi.
"Nyonya bilang mau ketemu teman-temannya, Den. Katanya ada arisan sekalian makan siang bareng."
"Oh." Mahesa manggut-manggut tanda mengerti. Tak lama kemudian, Tiara menghidangkan masakan yang sudah jadi. Dan mengambilkan untuk Mahesa terlebih dahulu sebelum dirinya.
Sedangkan di sebuah rumah yang megah, Andika sedang berdiri dibalkon kamarnya. Sejak pertemuan pertamanya dengan Tiara, dia selalu teringat dengan wajah ayu dan senyum manis serta sikap ramah Tiara.
Dia merasa seperti melihat adiknya pada sosok Tiara. Mata bulat, hidung mancung, serta pipi yang sedikit chubby yang terlihat menggemaskan bagi Dika.
"Aqila, seandainya kamu masih hidup. Mungkin Kakak tidak akan kesepian, Kakak rindu sikap manja dan tawamu." Dika berkata dalam hati.
__ADS_1
Sakit yang diderita sang adik, membuat Aqila tak bertahan hidup lama. Dika yang memang begitu menyayangi sang adik, sangat terpukul mendengar kabar kepergiannya. Dika yang saat itu tengah melanjutkan study di luar negeri, langsung pulang ke tanah air menemui sang adik untuk yang terakhir kalinya.
Saat telah tiba di bandara, Dika sudah dijemput sopir pribadi papanya. Selama dalam perjalanan menuju rumah, Dika hanya memandangi luar jendela sambil membayangkan kenangan indah bersama Aqila. Tanpa sadar, mobil yang ditumpangi Dika sudah berhenti di halaman yang sudah dipenuhi pelayat dari rekan bisnis papanya dan kerabat dekat. Tanpa berlama-lama, Dika berlari memasuki rumah dan memeluk jenazah sang adik.
"Qila, kenapa kamu tinggalin Kakak? Bukankah kamu berjanji akan menemani Kakak saat wisuda nanti, tapi kenapa kamu pergi?" Dika menangis tergugu dihadapan jenazah yang sudah dikafani. Membuat siapa saja yang melihat pemandangan menyedihkan ini tak kuasa menahan tangis.
Sang mama yang duduk tak jauh dari Dika, segera mendekat dan memeluk putranya untuk menenangkan, dengan deraian air mata.
"Tenang sayang, kamu harus ikhlas. Tuhan lebih sayang Aqila, dia sudah tidak merasakan sakit lagi." Ucap sang mama agar Dika bisa tenang dan menerima dengan lapang dada kepergian Aqila.
Dering ponsel yang ada diatas nakas, menyadarkan Dika dari lamunannya. Ternyata sang mama yang menelepon, mengabarkan bahwa mereka akan pulang ke Tanah Air. Papanya sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri sehingga sang mama ikut menemani, dan mereka baru akan pulang besok.
Jangan lupa like dan komen 😍😘😘😘😘
__ADS_1