
Hari pernikahan pun tiba, Tiara yang saat ini sedang dirias merasa sangat gugup. Tidak menyangka bahwa sebentar lagi dia akan menyandang gelar baru, menjadi istri dari seorang pengusaha di kota Z.
Pun dengan Mahesa yang sama gugupnya, kini dia sudah duduk berhadapan dengan penghulu yang akan menikahkan dia dengan Tiara. Acara akan dimulai setelah mempelai wanita datang di tempat yang sudah disiapkan untuk akad nikah.
Akhirnya, yang ditunggu pun sudah tiba. Gadis manis nan cantik dengan balutan kebaya putih yang sangat pas ditubuhnya. Membuat mata siapa saja yang memandang enggan untuk berkedip karena kagum akan kecantikan yang terpancar di wajah Tiara.
Tak terkecuali Mahesa, yang sejak tadi tak melepas tatapannya pada Tiara, hingga sebuah seruan menyadarkannya dari tatapan kagum.
"Nanti lagi aja lihatnya, dilanjut di kamar. Sekarang kita mulai dulu acaranya." Seru Bu Sarah dengan senyum menggoda yang mampu membuat Mahesa gelagapan karena ketahuan sedang memandangi Tiara namun, Mahesa langsung menetralkan ekspresinya.
Tiara pun duduk di samping Mahesa, sedari tadi Tiara hanya menundukkan kepala karena merasa malu menjadi pusat perhatian orang banyak.
"Baiklah, bisa kita mulai acaranya." Ucap pak penghulu dan di jawab anggukan kepala oleh Mahesa.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Mahesa Pratama bin Ridwan dengan Tiara Safira binti Pramono, dengan mas kawin perhiasan seberat 50 gram dan uang sebesar 25 juta dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Tiara Safira binti Pramono dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Ucap Mahesa dengan sekali tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi?"
__ADS_1
"Sah"
"Sah"
"Alhamdulillah."
"Sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri." Ucap pak penghulu seraya menyodorkan beberapa berkas yang harus ditanda tangani.
Tak lupa Tiara mencium punggung tangan sang suami begitupun sebaliknya Mahesa mencium kening Tiara setelah memasang cincin pernikahan.
****
Sepasang pengantin baru itu pun menuju kamar yang sudah dipersiapkan sebagai tempat malam pertama mereka. Karena malam nanti akan digelar resepsi di aula hotel yang menjadi tempat akad nikah tadi.
"Emm, Tuan ingin mandi dulu atau istirahat?"
"Kamu mandilah dulu, aku ingin istirahat sebentar!" Ucap Mahesa datar.
"Baiklah." Tiara kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum acara yang melelahkan dimulai.
__ADS_1
Namun, saat didalam kamar mandi Tiara bingung karena tidak bisa melepas kancing kebaya yang dipakainya. Ingin meminta tolong Mahesa dia ragu, tapi kalau tidak minta tolong dia akan terus memakai kebaya tersebut. Dengan sangat terpaksa, dia keluar dari kamar mandi dan meminta tolong pada Mahesa. Ragu-ragu Tiara membangunkan Mahesa yang tengah tertidur.
"Emm, Tuan."
"Tuan." Ucap Tiara sekali lagi membangunkan Mahesa.
"Apalagi? kenapa kamu masih disini dan belum membersihkan diri?" Bentak Mahesa karena merasa istirahatnya terganggu.
"Anu Tuan, saya ingin minta tolong melepaskan kancing kebaya ini, tangan saya tidak sampai." Jawab Tiara dengan lirih.
"Huhh, menyusahkan saja. Berbaliklah!" Perintah Mahesa. Tiara pun segera membalikkan badan memunggungi Mahesa. Jantung keduanya berdegup kencang, dengan keringat dingin yang membasahi kening karena belum pernah diposisi seperti ini. Dengan sangat pelan, Mahesa membuka setiap kancing kebaya Tiara. Setelah terlepas semua, tampaklah punggung indah nan mulus milik Tiara.
Membuat Mahesa kesulitan menelan salivanya, tiba-tiba dia merasakan gelenyar aneh seperti tersengat arus listrik. Ya, sebagai lelaki normal tentu Mahesa mengerti dengan apa yang dirasakan.
Sebelum terjadi hal yang tak diinginkan, walaupun sebenarnya mereka bisa melakukan hal lebih. Tapi karena ego yang tinggi Mahesa berusaha mengalihkan perasaannya.
"Sudah, cepatlah bersihkan diri! Saya ingin membersihkan diri juga." Ketus Mahesa.
Tiara berlalu membersihkan diri dengan segera, sebelum Mahesa semakin marah. Setelah kepergian Tiara, Mahesa menghela nafas panjang untuk menghilangkan gejolak yang dirasakan barusan.
__ADS_1
Pusing nggak tuh😅😅😅
Jangan lupa like dan komen, ya 😍😘😘😘