
Hari ini semua orang sangat sibuk menyiapkan dekorasi untuk akad nikah besok. Ya, besok akan menjadi hari yang bersejarah untuk Sintia dan Dika.
Sintia tengah berada di salon bersama mamanya dan tak ketinggalan Shaka juga ikut. Mama Mahesa sengaja mengajak Shaka agar Icha bisa membantu Tiara mempersiapkan segala sesuatu.
Tiara sedang bergelut dengan alat dan bahan masak untuk acara pengajian nanti malam.
"Cha, tolong nanti kamu keluarin kuenya yang masih di oven! Aku mau bikin bumbu untuk opor."
"Iya, Mbak." Icha langsung mengerjakan apa yang diperintahkan Tiara.
"Mbak, kuenya langsung dipotong atau dikeluarkan dari loyang dulu baru dipotong?"
"Kamu keluarin dari loyangnya aja, Cha. Potongnya nanti kalau udah dingin. Kamu bantuin aku buat bersihin ayamnya, soalnya Bi Asih masih ke supermarket beli bahan yang kurang."
"Iya, Mbak." Setelah selesai mengeluarkan kue dari loyang, Icha langsung mengambil ayam yang ada di kulkas lalu mencucinya sampai bersih.
Sementara Tiara, dia masih sibuk dengan cobek dan ulegan. Sebenarnya mertuanya sudah bilang ingin pesan chatering saja, tapi karena Tiara yang memang suka memasak, menolak usulan mertuanya dan sekarang dialah yang memasak.
Selesai membuat bumbu, Tiara mengisi panci dengan air untuk merebus ayam. Setelah itu dia mengambil penggorengan untuk menumis bumbu opor.
"Cha, kalau airnya udah mendidih kamu masukin ayamnya. Rebusnya jangan lama-lama biar ayamnya nggak hancur pas dimasak."
"Iya, Mbak."
Tiara masih sibuk dengan bumbu opor, sedangkan Icha mulai merebus ayamnya.
"Mbak, santannya buat opor udah ada belum?"
"Belum, Cha. Tapi aku tadi udah beli kelapa parut di pasar, jadi tinggal bikin santannya."
"Kalau gitu, aku bikin santan dulu Mbak."
"Iya, Cha."
*****
Malam harinya, semua undangan pengajian sudah berkumpul di ruang tamu. Acara sebentar lagi akan dimulai, sementara Sintia masih di kamarnya sedang bersiap.
Semua yang hadir mengenakan pakaian berwarna putih karena permintaan dari Mama Mahesa.
Setelah semua sudah hadir, acara pun dimulai. Mulai dari pembacaan ayat suci al-qur'an kemudian dilanjut dengan tausyiah.
Selesai acara, kini semua yang hadir menikmati jamuan yang telah disediakan.
"Bu Sarah beli kuenya di mana?" Tanya salah satu jamaah pengajian.
__ADS_1
"Itu buatan menantu saya, Bu. Istrinya Mahesa, tadinya saya mau pesan di chatering aja, tapi nggak dibolehin."
"Wah, pantes rasanya nggak kayak yang di toko kue. Ternyata, istri Mahesa pintar masak juga. Kapan-kapan kalau saya ada acara, boleh dong dibantu bikinin kue." Gurau jamaah itu.
"Inshaallah, kalau saya nggak sibuk pasti mau bantuin." Ucap Tiara dengan tersenyum.
Setelah menikmati jamuan, semua jamaah pengajian pamit pulang. Sebelum keluar dari rumah, ustadzah yang mengisi acara tadi pun sempat mendo'akan untuk kelancaran pernikahan Sintia besok.
-
-
-
-
Hari yang ditunggu pun telah tiba, Sintia mamanya serta Tiara kini tengah dirias. Awalnya Tiara menolak untuk dirias, tapi karena bujukan dari Sintia mau tak mau dia harus ikut.
Akad nikah akan dimulai pukul 10 pagi di kediaman mempelai wanita, baru dilanjutkan resepsi di hotel keluarga Dika.
Tiara dan mertuanya sudah selesai dirias, lalu memakai kebaya dengan warna yang senada. Keduanya bak anak dan ibu kandung, sangat cantik dan serasi.
Sementara Mahesa langsung termangu melihat penampilan istrinya. Dulu sewaktu pernikahannya, dia tak terlalu memperhatikan wajah istrinya. Sehingga dia baru sadar jika wanita yang dulu pernah dia hina, ternyata bidadari surga.
"Biasa aja lihatnya, kayak nggak pernah lihat orang cantik aja." Goda Sintia yang memang sejak tadi memperhatikan kakaknya yang baru masuk ke kamarnya.
"Shaka mana, Mas? Kamu kok sendirian."
"Ikut Papa Dika, mereka baru aja datang."
"Kenapa nggak bilang dari tadi? Mama jadi nggak enak kan karena nggak menyambut kedatangan mereka." Sahut Mama Mahesa lalu keluar dari kamar Sintia.
Mahesa menghampiri istrinya lalu duduk di sampingnya. Dia memandangi wajah istrinya hingga membuat Tiara heran karena dipandangi sejak tadi.
"Kamu kenapa, Mas? Ada yang aneh, ya?"
"Enggak, Yang. Kamu cantik banget, jadi pengen ngurung kamu di kamar seharian."
"Jangan ngada-ngada deh, Mas. Di sini yang jadi pengantin itu Sintia dan Dika, bukan kita." Ucap Tiara sambil mencubit pinggang suaminya.
"Kita juga pengantin, Yang. Gimana kalau nikah lagi?"
"Siapa yang mau nikah? Awas, aja kalau kamu berani macam-macam! Bakal aku potong punya kamu." Ancam Tiara dengan tatapan tajam.
Gleg
__ADS_1
Mahesa menelan ludahnya kasar, ternyata istrinya lebih ganas dari macam betina.
"Enggak kok, Yang. Aku cuma becanda."
****
Tiara keluar dari kamar sambil mengiringi Sintia, akad nikah akan dimulai karena penghulu dan mempelai pria sudah datang.
Sintia duduk di sebelah kiri Dika, dengan tangan yang berkeringat dingin, Sintia tak berani menatap Dika. Jantungnya berpacu lebih cepat, hari ini dia akan menyandang status baru, yaitu sebagai seorang istri dari Andika Maheswara.
"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan engkau Andika Maheswara bin Bramantyo dengan adik saya Sintia Anastasya binti Ridwan, dengan mas kawin satu unit rumah dan uang 300 juta dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya, Sintia Anastasya binti Ridwan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?" Tanya penghulu.
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillahirabbilalamin."
Penghulu langsung membaca do'a untuk kedua pengantin. Selesai membaca do'a, Sintia mencium punggung tangan Dika dan Dika mencium kening Sintia untuk beberapa saat.
Rasa haru dan bahagia menyelimuti hati Mama Mahesa, putrinya kini sudah menemukan pendamping hidup yang baik.
"Pah, anak-anak sekarang sudah menemukan kebahagiaannya masing-masing. Tugas Mama sekarang sudah selesai, Mama hanya tinggal menikmati masa tua Mama dengan cucu-cucu kita nantinya." Batin Mama Mahesa yang berlinang air mata.
Kini Sintia dan Dika sungkem pada mamanya dan Mahesa.
"Mah, terima kasih untuk semua pengorbanan Mama selama ini. Maaf, Sintia belum bisa membahagiakan Mama. Sintia mohon do'a dan restu Mama untuk pernikahan Sintia."
"Iya, Nak. Do'a dan restu Mama menyertai kalian, jadilah istri dan ibu yang baik untuk keluargamu kelak. Menurut apa kata suami jika itu untuk kebaikan."
Mama Mahesa langsung memeluk Sintia, keduanya saling menumpahkan air mata. Lalu Sintia melepas pelukannya dan beralih pada kakaknya.
"Kak, terima kasih sudah menjadi Kakak sekaligus papa untuk aku. Maaf kalau selama ini aku selalu nyusahin dan ngerepotin Kakak."
"Kamu adik yang baik, nggak pernah ngerepotin ataupun nyusahin karena itu memang sudah menjadi tanggung jawab Kakak sebagai pengganti papa. Jadilah istri yang baik dan ibu yang bisa membimbing anak-anak kalian dalam kebaikan."
Sintia juga memeluk kakaknya, dia sangat bersyukur memiliki seorang kakak yang bisa menjadi sosok ayah untuknya.
"Dik, titip adikku! Dia sekarang sudah menjadi tanggung jawabmu, jika dia melakukan kesalahan bimbinglah agar menjadi istri yang baik."
"Iya, aku akan berusaha menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab pada Sintia."
__ADS_1
Keluarga Dika dan Mahesa begitu bahagia, menyaksikan anak-anak mereka bisa bersatu dalam ikatan pernikahan.
......Tamat......