
Di belakang rumah tampak begitu gaduh oleh suara Sintia dan Tiara.
"Kak, masa aku sih. Biar diambilin Pak Jupri aja ya!" Pinta Sintia dengan memelas.
"Kamu nggak asik, ah. Pas baru denger aku hamil aja kamu semangat banget, katanya pengen tahu kalau aku lagi ngidam. Sekarang giliran aku udah ngidam malah nggak diturutin." Cerocos Tiara dengan muka cemberutnya.
"Tapi bukan aku juga kali Kak. Kan bisa minta orang lain."
"Aku maunya kamu bukan yang lain, titik!" Tegas Tiara.
"Kalau kamu nggak mau ya udah, aku nggak mau ngomong sama kamu." Sambung Tiara.
"Ada apa sih? Dari tadi Mama dengerin kok rame banget." Tanya Mama Mahesa yang baru datang dengan Mahesa.
"Ini Mah, Sintia nggak mau nurutin permintaanku." Adu Tiara.
"Emang mau minta apa sih, Yang?"
"Aku cuma mau jambu air itu." Ucap Tiara sambil menunjuk pohon jambu air yang berbuah lebat.
"Cuma minta itu aja kamu nggak mau turutin sih, Sin." Tegur Mama Mahesa.
"Masalahnya aku yang suruh petik Mah. Kan geli kalau ada ulatnya."
"Kan bisa pakai galah." Imbuh Mahesa.
"Tau tuh adik kamu, lama-lama makin lemot dia semenjak jadi pacarnya Dika."
"Lah, bukan disuruh manjat pohon metiknya?" Tanya Sintia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Emang aku ngomong kalau metiknya harus manjat?" Bukannya menjawab Tiara justru balik bertanya.
"Enggak, sih. Tapi kenapa nggak bilang dari tadi." Sanggah Sintia.
"Emang dasar kamunya aja yang lola, tanpa disuruh juga pasti tahu kalau metiknya pakai galah, kecuali kalau kamu bisa manjat ya terserah." Sela Mahesa.
Sementara Mama Mahesa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat anak serta menantunya yang berdebat.
"Untung aja Shaka nggak ikut ke sini, bisa-bisa dia ikut-ikutan juga kayak bapaknya." Gumam Mama Mahesa.
Akhirnya, setelah perdebatan tak bermutu itu, Sintia memetik jambu air sesuai yang diminta Tiara.
Setelah dapat cukup banyak, dia memasukkannya ke bakul untuk dicuci terlebih dahulu.
"Bik, tolong cuci jambu airnya. Aku mau ke kamar mandi." Pinta Sintia sambil meletakkan bakul berisi jambu di wastafel.
"Iya Non." Jawab Bi Asih.
Bi Asih mencuci satu per satu jambu itu, agar buahnya benar-benar bersih.
"Udah apa belum Bik?" Tanya Sintia yang sudah kembali dari kamar mandi.
"Sebentar Non, tinggal dua lagi yang belum dicuci."
"Ok, aku tungguin." Balas Sintia sambil memainkan ponselnya.
"Ini Non jambunya." Ucap Bi Asih sambil menyerahkan bakul tadi.
"Makasih Bik." Setelah mengucapkan itu Sintia langsung ke belakang rumah lagi.
"Ini Kak jambunya." Ucap Sintia lalu meletakkan bakul berisi jambu air di meja.
"Udah dicuci belum?" Tanya Mahesa dengan menyelidik.
"Kakak lihat aja itu buahnya basah apa enggak? Pake nanya segala." Ketus Sintia.
"Udah-udah, kalian tuh kalau ketemu pasti berantem terus. Mama sampai heran kalian itu anak Mama papa bukan sih."
"Kalau kita bukan anak Mama dan papa, terus kita lahirnya dari siapa?"
"Kali aja kalian lahirnya dari batu belah. Mama dan papa nggak pernah kayak kalian gini kalau ketemu saudara." Timpal Mama Mahesa sambil ikut menikmati jambu air tadi.
Sementara Tiara, dia sama sekali tak terganggu dengan perdebatan suami dan iparnya. Bahkan dia dengan santainya duduk sambil makan jambu air dengan lahapnya.
-
__ADS_1
-
-
-
Tak terasa bulan ini kandungan Tiara sudah menginjak bulan ketiga, dan tepat hari ini Sintia akan wisuda.
Semua sibuk dengan urusan masing-masing, Mahesa yang memandikan Shaka dan Tiara yang menyiapkan pakaian untuk anak dan suaminya.
Sementara Mama Mahesa sedang menatap poto mendiang suaminya di kamar dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pah, hari ini Sintia akan wisuda. Do'akan semoga berjalan lancar dan kelak dia bisa mendapat pekerjaan yang baik. Sebentar lagi tugas Mama dan Mahesa sudah selesai karena ada laki-laki baik yang akan meminang Sintia."
Tok tok tok
Mama Mahesa segera menghapus air matanya yang sudah menetes kala mendengar pintu diketuk.
"Mah, udah siap belum?" Tanya Tiara dibalik pintu.
"Iya, Ra. Kamu tunggu di depan aja, Mama mau ambil tas dulu." Sahut Mama Mahesa.
"Iya Mah."
Tiara lantas pergi dari depan kamar mertuanya, dia menghampiri anak dan suaminya yang sudah tampan di ruang tamu.
"Mama mana, Yang?"
"Masih ambil tas, Mas. Katanya disuruh nunggu di depan."
"Ya udah kita langsung ke depan aja. Biar aku keluarin mobilnya dari garasi."
Mahesa beranjak keluar duluan lalu menuju garasi.
"Biar saya saja yang keluarin mobilnya, Den." Tawar Pak Jupri saat melihat Mahesa masuk garasi.
"Nggak usah Pak, biar saya sendiri. Pak Jupri mending sarapan aja." Tolak Mahesa.
"Baik Den."
Karena didikan yang diajarkan papanya, ialah jangan sering menyusahkan orang lain sekalipun dia bekerja pada kita, selagi kita bisa semua kita lakukan sendiri.
Setelah mengeluarkan mobilnya, kini Tiara, Shaka, dan Mama Mahesa langsung masuk mobil.
Mereka pun berangkat menuju kampus di mana Sintia menimba ilmu.
"Mas kamu udah hubungin Dika kan? Takutnya nanti dia lupa." Tanya Tiara disela-sela perjalanan.
"Udah Yang, semua sudah beres kamu nggak perlu khawatir."
"Jadi nggak sabar pengen lihat ekspresi Sintia nanti."
****
Sementara kini Sintia tengah dilanda gundah gulana sebab sejak tadi dia mengirim pesan pada Dika, tapi hanya ceklis satu.
Dia hanya ingin mengingatkan Dika jika hari ini wisudanya, dan Dika juga sudah berjanji akan datang di acara spesialnya itu.
"Kamu ke mana sih Kak? Dari tadi nomor nggak aktif, aku kirim pesan cuma ceklis satu terus." Gumam Sintia.
Tak lama kemudian Tiara, Mahesa, serta mamanya sudah tiba.
"Selamat ya! Bentar lagi udah jadi sarjana beneran." Ucap Tiara sambil memeluk Sintia.
"Makasih Kak. Shaka nggak mau cium aunty?"
"Ndak au, anti uta onty dadi delek."
"Uh gemes banget, anaknya siapa sih?" Ucap Sintia sambil mencubit gemas pipi Shaka.
"Selamat ya, Nak. Semoga impianmu ke depannya bisa terwujud."
"Makasih, Mah. Semua berkat bimbingan dan didikan dari Mama dan papa juga Kak Mahesa." Balas Sintia lalu memeluk mamanya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Selamat ya, sekarang kamu bukan adik kecil Kakak lagi. Kamu sudah dewasa, sudah saatnya menata masa depan yang kamu impikan."
__ADS_1
"Makasih ya, Kak. Maaf masih selalu ngerepotin Kakak, masih belum bisa jadi adik yang baik buat Kakak."
"Enggak, kamu sudah jadi adik yang baik untuk Kakak." Balas Mahesa lalu memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang.
Acara yang ditunggu pun tiba, satu per satu rangkaian acara berjalan dengan lancar. Kini saatnya untuk sesi foto bersama keluarga.
Selesai acara, mereka pun pulang. Namun, di hari yang bahagia ini ada hati yang tengah kecewa.
Ya, tak ada rona bahagia di wajah Sintia lantaran orang yang paling dinantikan akan hadir di acara wisudanya, nyatanya tak menampakkan batang hidungnya.
"Kamu kenapa? Ini kan hari bahagia kamu, kok malah sedih gitu sih." Tanya Tiara.
"Enggak apa-apa kok Kak. Cuma capek aja." Jawab Sintia dengan senyum yang dipaksakan.
"Kalau ada apa-apa ngomong ke Kakak."
"Iya Kak, tapi beneran aku enggak apa-apa."
Selama di perjalanan Sintia hanya memandangi luar kaca mobil. Sementara Tiara memandang iba iparnya itu, sebenarnya dia tidak tega, tapi demi kejutan untuk Sintia, dia harus berpura-pura tak mengerti yang dirasakan Sintia.
Saat sedang asik melamun, Sintia tiba-tiba tersadar dari lamunannya ketika jalan yang dilalui bukan jalan menuju rumahnya.
"Kak, kok kita lewat sini. Inikan bukan arah jalan pulang."
"Udah tenang aja, nanti kamu bakalan tahu sendiri." Balas Tiara.
-
-
-
Di sebuah restoran bernuansa outdoor, Dika beserta mama, papa, dan Andre sedang mempersiapkan diri untuk memberi kejutan Sintia.
"Sebentar lagi tanggung jawabmu akan semakin besar, Papa berharap kelak kamu bisa menjadi sosok yang mengayomi keluarga." Ucap Papa Dika memberi nasihat pada Dika.
"Iya Pah, do'akan semoga lancar."
"Aamiin."
"Tuan, keluarga Tuan Mahesa sudah datang." Ucap Andre ketika mendapat pesan dari Mahesa.
"Ya sudah sebaiknya kita bersiap." Ajak Papa Dika.
Saat ini Sintia mendadak bingung sebab mereka berhenti di sebuah restoran. Dan yang paling membuat Sintia semakin bingung adalah ucapan Tiara.
"Sebelum masuk, kamu harus tutup mata dulu."
Mahesa mengambil kain dari sakunya lalu menutup mata Sintia. Setelah dirasa tak terlihat, Mahesa langsung membantu Sintia untuk berjalan.
"Sebenarnya ada apa sih Kak? Kenapa mataku harus ditutup?"
"Udah kamu ikut aja."
Setelah tiba di tempat, Mahesa membuka penutup mata Sintia. Setelah terbuka Sintia langsung menutup mulutnya kala melihat dekorasi yang sangat indah.
Hingga dia dibuat terkejut saat Dika datang dari tempat itu dengan membawa sebuah buket bunga mawar merah yang besar.
"Maaf sudah mengabaikanmu seharian ini, semua aku lakukan untuk memberikanmu kejutan." Ucap Dika lalu memberikan buket bunga itu pada Sintia, Sintia pun menerimanya denga tersenyum bahagia.
"Selamat atas wisudanya, semoga apa yang kamu cita-citakan bisa terwujud."
"Sintia." Panggil Dika.
"Iya Kak." Jawab Sintia dengan suara bergetar menahan tangis haru.
"Dihadapan keluarga kita ini, aku Andika Maheswara ingin melamarmu dengan penuh kesungguhan. Sintia, maukah kamu menikah denganku? Menua bersamaku dan anak-anak kita kelak." Ucap Dika sambil berlutut di hadapan Sintia.
Sejenak suasana mendadak hening karena menunggu jawaban dari Sintia.
"Iya Kak, aku bersedia." Jawab Sintia dengan mantap.
Semua pun langsung bersyukur dan bertepuk tangan setelah mendengar jawaban Sintia. Dika langsung berdiri dan mengambil sebuah kotak yang berisi cincin.
Dika memakaikan cincin itu di jari manis Sintia. Sintia merasa sangat bahagia, di hari spesialnya dia mendapat kejutan yang tak terkira.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komen kalian ya 😍😘😘😘😘