
Mama Dika saat ini sedang duduk di samping brankar tempat suaminya terbaring lemah. Pikirannya tertuju pada kejadian sore tadi, mengingat sosok cantik bermata bulat yang sangat mirip dengan mendiang putrinya.
"Siapa gadis itu? Matanya sangat mirip dengan Aqila." Gumam Mama Dika.
"Mah, lagi mikirin apa?" Tanya Papa Dika yang baru bangun dan melihat istrinya tengah melamun.
"Papa udah bangun? Mama enggak lagi mikirin apa-apa, Pah."
"Mama panggil dokter dulu buat periksa keadaan Papa." Pamit Mama Dika agar suaminya tak bertanya lagi karena tak ingin mengganggu kesehatannya yang baru pulih.
Tak berselang lama, Mama Dika kembali bersama Dokter Ibrahim yang akan memeriksa keadaan sang suami.
"Selamat malam, Bagaimana keadaan Bapak? Apa ada yang dikeluhkan?" Tanya Dokter Ibrahim lalu berdiri disisi brankar mengarahkan stetoskopnya untuk memeriksa detak jantung Papa Dika. Sedangkan Mama Dika menunggu di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Tidak ada keluhan Dok." Jawab Papa Dika.
"Baiklah, kondisi Bapak sudah lebih baik. Hanya butuh istirahat yang cukup, mungkin besok sudah bisa pulang." Jelas Dokter Ibrahim.
"Baik Dok, terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama, saya permisi dulu."
Saat Dokter Ibrahim sudah keluar, Mama Dika menghampiri suaminya.
"Papa mau makan apa? Nanti biar Mama hubungi Dika sekalian bawa baju ganti buat Mama." Tawar Mama Dika namun di jawab gelengan oleh suaminya.
"Nggak usah, Mah. Papa mau istirahat lagi aja biar besok cepet pulang."
"Ya sudah kalau gitu Papa tidur lagi, Mama mau ke kantin sebentar beli makan."
*****
"Mah, apa ini nggak kebanyakan?" Tanya Tiara sesaat setelah melepas penat.
"Enggak Sayang. Ini masih belum seberapa, Kamu lihat nanti saat Sintia sudah ada di rumah, dia bahkan akan membeli apapun untuk orang yang dianggap spesial dalam keluarganya." Jawab mama mertuanya dengan tenang seolah tanpa beban.
Tiara hanya dapat melongo mendengar ucapan mertuanya, dalam hati dia berkata apakah setiap orang kaya selalu seperti ini? Berbelanja tanpa melihat harga yang tertera pada suatu barang. Kalau suka tinggal ambil dan beli tanpa memikirkan berapa banyak uang yang digunakan.
****
__ADS_1
Malam pun telah tiba, saat ini Tiara dirundung gelisah karena permintaan Mahesa ketika dia ijin ke mall bersama Mertuanya. Dia sibuk mondar mandir di dalam kamar, sambil berpikir agar dia tak jadi memegang kendali saat permainan panas di ranjang bersama suami.
"Aduh, kok jadi deg-degan gini sih. Semoga Mas Mahesa nggak ingat sama ucapannya tadi." Gumam Tiara.
Ceklek
Bunyi pintu kamar mengejutkan Tiara yang sedang sibuk dengan pikirannya. Mahesa masuk ke kamar tak lupa mengunci pintu agar tak ada yang mengganggu kegiatan mereka.
Mahesa mendekati Tiara yang berdiri di sebelah ranjang, memindai penampilan Tiara tanpa berkedip. Saat sudah di hadapan Tiara, dia langsung memberikan kecupan di bibir istrinya.
Lama kelamaan kecupan itu berubah menjadi ciuman yang memabukkan. Membuat Tiara yang sejak tadi dilanda gelisah menjadi ikut terbuai permainan bibir suaminya. Setelah beberapa menit mereka bertukar saliva, Mahesa menghentikan sejenak kegiatannya. Mengusap pipi Tiara lalu membisikkan sesuatu yang membuat tubuh Tiara kembali menegang.
"Sudah siap Sayang? Malam ini kamu yang pegang kendali." Bisik Mahesa disertai senyuman penuh kemenangan.
"Ta-tapi aku nggak bisa , Mas." Tiara menjawab dengan kepala menunduk dan jari yang saling bersautan untuk menghilangkan kegugupannya.
"Kamu bisa Sayang. Lakukan seperti yang biasa aku lakukan." Jawab Mahesa dengan nada serak karena menahan hasratnya.
Pagi menjelang siang all, lagi bingung mikirin ide cerita selanjutnya jadi slow up dulu 😁😁
__ADS_1
jangan lupa like dan komen 😍😘😘😘