Cinta Untuk Tiara

Cinta Untuk Tiara
Bab 46. Shaka Alvino Danendra


__ADS_3

"Mas, semua perlengkapan kamu udah aku siapin di koper. Jadi, besok tinggal bawa aja biar nggak ribet."


"Aku kan bisa siapin sendiri, Sayang. Kamu nggak boleh terlalu capek, apalagi bentar lagi boy bakal lahir."


Mahesa besok akan pergi ke luar kota untuk menghadiri acara dari rekan bisnisnya. Sekalian ingin meninjau proyek yang ada di sana. Jadi, kemungkinan dia ke luar kota selama 3 hari.


"Aku nggak capek kok, Mas. Aku juga harus banyak gerak biar lancar saat persalinan nanti."


"Sekarang kita tidur biar besok nggak bangun kesiangan." Mahesa mengajak Tiara tidur sambil mengelus perut buncitnya.


Rutinitas terbaru Mahesa sebelum tidur, yakni mengelus perut istrinya. Ingin selalu merasakan gerakan bayi yang merespon setiap sentuhan tangannya.


****


Pagi sekali Tiara sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya karena mertuanya yang belum pulang dari liburan. Dia hanya memasak nasi goreng dan telur ceplok sebagai pelengkap.


"Mas, bangun udah pagi!"


Tiara membuka gorden kamarnya, agar cahaya matahari bisa masuk. Mahesa mengerjapkan matanya karena silau akibat cahaya yang masuk.


"Jam berapa Sayang?"


"Udah jam 6, kamu mandi dulu biar aku siapin baju yang mau di pakai."


Mahesa lantas beranjak menuju kamar mandi. Setelah Mahesa masuk kamar mandi, Tiara segera membuka lemari dan memilih pakaian untuk suaminya.


Setelah menemukan pakaian yang cocok, Tiara meletakkan di sofa dan dia merapikan tempat tidur.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, Mahesa keluar menggunakan handuk yang melilit di bagian pinggang. Dia segera memakai pakaian yang sudah di siapkan istrinya.


Tiara yang melihat Mahesa sudah rapi, berinisiatif memakaikan dasi. Selesai memakaikan dasi, tiba-tiba Mahesa memeluk Tiara dengan erat.


"Ada apa Mas?"


"Rasanya nggak pengen jauh-jauh dari kalian." Jawab Mahesa masih mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Tumben banget, biasanya juga nggak manja kayak gini. Lagian ini bukan pertama kalinya kamu pergi ke luar kota lho Mas."


"Aku nggak tahu, tiba-tiba perasaanku agak gelisah. Kayak ada yang mengganjal di pikiran aku." Jelas Mahesa.


Tiara melepas pelukan Mahesa, kemudian memegang kedua tangan Mahesa seraya menenangkan kegelisahan suaminya.


"Kamu banyak-banyak berdoa Mas, semoga tidak akan terjadi apa-apa. Yakinlah bahwa Tuhan akan senantiasa melindungi keluarga kita."


"Aamiin, makasih Sayang. Kamu selalu bisa buat aku tenang."


"Mending kita sarapan dulu, tadi aku udah masak nasi goreng. Nanti keburu dingin jadi nggak enak."


"Iya Sayang."


Selesai sarapan, Mahesa menarik koper yang berisi perlengkapannya selama ke luar kota. Kemudian dia membuka bagasi dan memasukkan kopernya. Tak lupa dia berpamitan pada istrinya lalu mencium kening dan perut Tiara.


*****


Tak terasa sudah 2 hari Mahesa berada di luar kota. Tiara pagi ini sedang berjalan-jalan di halaman belakang. Namun, saat dia baru akan duduk di bangku yang ada di sana, perutnya terasa kencang dan mulas.


Baru saja dia menyandarkan punggungnya, perutnya terasa mulas dan kali ini lebih lama. Tiara berusaha berdiri sambil memegangi perutnya lalu berjalan perlahan dan memanggil Bi Asih.


"Bik."


"Bi Asih." Ulang Tiara lalu terdengar sahutan dari dalam.


"Iya, Non. Tunggu sebentar!"


Bi Asih berjalah tergopoh-gopoh setelah mendengar teriakan Tiara, saat sudah tiba di halaman belakang Bi Asih terkejut melihat Tiara terduduk di atas rumput sambil meringis memegangi perutnya.


"Ya Allah, Non Tiara kenapa?"


"Perutku sakit, Bik."


"Sepertinya Non Tiara mau melahirkan. Ayo, Bibi bantuin jalan nanti biar di antar ke rumah sakit sama Pak Jupri!"


Tiara di papah oleh Bi Asih menuju teras depan, lalu mengambil perlengkapan yang akan di bawa ke rumah sakit. Setelah siap semua, mereka langsung menuju rumah sakit di antar sopir pribadi Mama Mahesa.

__ADS_1


****


Sesampainya di rumah sakit, Tiara di bawa ke ruang persalinan untuk di periksa. Setelah di periksa ternyata sudah pembukaan 5 lalu Tiara di dampingi suster karena suaminya belum tiba.


"Halo, Den. Tolong pulang sekarang, Non Tiara mau melahirkan!"


Bi Asih menghubungi Mahesa saat Tiara tengah di periksa. Dan beruntungnya, Mahesa langsung menjawab panggilan telepon darinya.


"Iya Bik, aku langsung pulang sekarang. Bibi temani Tiara sampai aku datang."


Mahesa yang mendengar kabar dari Bi Asih, langsung bergegas pulang. Sebelum itu, dia meminta Anita untuk menghandle semuanya.


*****


Tiara berbaring di ranjang dengan di temani bi Asih, saat kontraksi datang Tiara meremas tangan bi Asih sebagai pelampiasan rasa sakitnya.


"Sabar ya, Non. Semoga bayinya cepet lahir. Selalu berdoa agar di berikan kelancaran."


Ceklek


Pintu ruangan terbuka dan muncullah Mahesa yang masih memakai pakaian formal.


"Mas." Panggil Tiara dengan lirih.


"Iya Sayang, aku di sini. Kamu pasti kuat, aku akan temani kamu berjuang melahirkan anak kita." Mahesa mencium kening Tiara untuk memberikan semangat.


Selang beberapa jam, dokter yang menangani Tiara masuk untuk memeriksa pembukaan jalan lahir.


"Sudah pembukaan 10, silakan Ibu ikuti aba-aba dari saya! Kalau perut terasa kencang dan ada dorongan, Ibu bisa mengejan untuk mengeluarkan bayinya."


Tiara mengikuti aba-aba dari dokter. Setelah beberapa kali mengejan akhirnya, terdengar suara tangisan bayi. Mahesa dan Tiara tak kuasa menahan tangis kala mendengar tangisan anak mereka.


"Selamat Tuan dan Nyonya, bayinya laki-laki sangat tampan dan kondisinya sehat." Ucap suster lalu memberikan bayi yang sudah di bersihkan untuk di gendong Mahesa.


"Selamat datang Shaka Alvino Danendra." Ucap Mahesa kemudian mencium kening putranya.


Jangan lupa tinggalkan like dan komen 😍😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2