
Mahesa berjalan menuju kamar mamanya dengan tergesa-gesa. Sesampainya di depan kamar dia langsung masuk dan menemui mamanya yang terbaring lemah di ranjang.
"Gimana keadaan mama?" Tanya Mahesa pada Sintia.
"Dokter bilang mama terlalu stress makanya langsung drop dan badannya demam. Tapi setelah diberi obat dari dokter demamnya udah turun." Jelas Sintia.
"Sin." Lirih Mama Mahesa yang baru bangun karena efek obat.
"Iya, Mah. Sintia di sini, Mama mau apa? Makan atau minum?"
"Mama mau ketemu Tiara dan Shaka." Pinta Mama Mahesa.
Sintia memandang kakaknya karena bingung harus menjawab apa.
"Mama tenang aja, sebentar lagi kita bakal kumpul kayak dulu lagi." Ucap Mahesa.
"Kak!" Tegur Sintia.
Mahesa menatap Sintia dengan tersenyum "Kamu jangan khawatir karena Kakak sudah tahu di mana Tiara dan Shaka sekarang."
"Kakak serius?"
"Iya, rencananya sabtu nanti Kakak mau ke tempat kakak iparmu."
"Alhamdulillah aku seneng banget dengernya." Syukur Sintia.
"Mama dengar sendiri kan apa kata Kakak? Jadi Mama harus sembuh biar bisa ketemu kakak ipar dan Shaka." Ucap Sintia pada mamanya.
"Iya, Mama pasti cepat sembuh. Mama udah nggak sabar ketemu mereka."
"Kalau gitu Mama istirahat lagi biar cepet sembuh. Aku mau siapin barang bawaan untuk dibawa ke Kota S." Pungkas Mahesa.
Setelah mengatakan itu Mahesa keluar dari kamar mamanya dan menuju kamarnya sendiri. Dia sudah tidak sabar melepas rindu pada istri dan anaknya.
"Tunggu Papi, Shaka! Papi bakal jemput Shaka dan mami." Gumam Mahesa.
__ADS_1
****
"Kamu kenapa, Nduk?"
"Nggak tahu, Mbok. Tiba-tiba perasaanku nggak enak. Badanku juga gemetaran dari tadi."
"Ya sudah, kamu istirahat dulu aja. Biar Simbok aja yang pilih-pilih sayurnya. Mumpung anak kamu lagi anteng mainan di sini jadi bisa sekalian ngawasi."
"Iya Mbok. Maaf jadi ngerepotin."
"Enggak ngerepotin, kamu udah Mbok anggap seperti cucu sendiri."
"Makasih Mbok. Kalau gitu aku ke kamar dulu!" Pamit Tiara kemudian berlalu dari dapur.
Mbok Sumi memilih sayur yang akan di jual ke pasar sambil mengawasi Shaka yang sedang bermain.
Di kamar Tiara merebahkan diri di kasur, matanya terpejam tapi pikirannya berkelana memikirkan suami juga mertuanya.
"Mama apa kabar? Tiara kangen sama mama." Gumam Tiara.
Akhirnya, dia memberanikan diri untuk membuka ponselnya yang sudah lama tidak diaktifkan sejak kepergiannya.
Tring
Tring
Setelah ponsel nyala, banyak notifikasi pesan hingga panggilan tak terjawab dari mertuanya, suaminya dan juga Dika.
Tiara membuka pesan dari mertuanya terlebih dulu.
Ra, kamu di mana? Kenapa belum pulang?
Ra, kamu baik-baik aja kan?
Tiara!
__ADS_1
Begitulah pesan yang dikirim oleh mertuanya. Setelah membuka pesan dari mertuanya, dia membuka pesan dari Dika.
Ara, kamu di mana?
Kamu baik-baik aja kan?
Tolong balas pesanku!
Kenapa nomor kamu nggak aktif?
Ara, jangan bikin aku khawatir!
Pesan beruntun menanyakan kabar dan keadaannya pun juga dikirimkan oleh Dika. Kini tinggal pesan dari suaminya yang belum dibuka.
Tiara ragu untuk membuka pesan dari suaminya. Dia pun menonaktifkan kembali ponselnya tanpa membuka pesan dari Mahesa.
*****
Hari yang ditunggu Mahesa pun tiba, kini dia dan Dika sedang dalam perjalanan menuju stasiun.
"Kira-kira berapa jam perjalanan kita nanti?" Tanya Mahesa.
"Kalau dengan kereta kurang lebih 3 sampai 3,5 jam."
"Apa tempat tinggal Tiara jauh dari kota?"
"Sepertinya tidak, hanya perlu menempuh waktu kurang lebih 30 menit."
"Sebaiknya kita cari penginapan saja jika jaraknya tidak jauh dari kota." Usul Mahesa.
"Baiklah, sesampainya di sana kita cari penginapan yang dekat dengan pasar saja. Jadi, kita bisa mantau kegiatan Tiara sekaligus baru setelah itu kita ikuti dia ke rumah peninggalan neneknya."
"Hemm aku setuju."
Mahesa dan Dika tiba di stasiun, mereka segera menuju ruang tunggu untuk menanti jadwal keberangkatan kereta tujuan Kota S.
__ADS_1
Hai all, jangan lupa like dan komen ya 😍😘😘😘