
Ting tung
Dika menekan bel rumah Mahesa, Bi Asih yang mendengar suara bel bergegas membukakan pintu.
"Siang, Bik. Saya mau ketemu Mahesa ada?" Ucap Dika saat pintu sudah terbuka.
"Ada, Tuan. Mari, masuk biar saya panggilkan dulu!"
Bi Asih menuju kamar Mahesa untuk memberitahu kedatangan Dika.
"Permisi, Den. Ada tamu yang mau ketemu Den Mahesa."
"Oh iya, Bik. Suruh tunggu sebentar!"
Mahesa keluar dari kamar dan menuju ruang tamu menemui Dika.
"Maaf, nunggu lama."
"Nggak apa-apa."
"Jadi gimana?"
"Sesuai rencana, target sudah masuk perangkap." Ucap Dika lalu menyodorkan ponselnya yang berisi rekaman percakapan antara Marvin dan Olivia.
"Bagus, lebih cepat lebih baik."
"Oh ya, tadi kamu bilang kalau Tiara nggak baik-baik aja. Emangnya ada apa?"
Mahesa pun menceritakan apa yang dikatakan oleh dokter tadi.
Dika menghela napas panjang mendengar setiap penjelasan yang keluar dari mulut Mahesa.
"Untuk sementara kamu fokus aja dengan kesembuhan Tiara. Masalah wanita rubah itu biar aku dan Marvin yang urus."
"Baiklah, aku percaya kamu pasti bisa diandalkan." Ucap Mahesa sambil menepuk pundak Dika.
*****
6 bulan kemudian
"Shaka, ayo sini! Mau mainan nggak?" Ucap Tiara yang sedang memegang mainan agar diambil Shaka.
Shaka yang melihat maminya memegang mainan langsung merangkak mendekati untuk mengambil mainannya.
"Yeay, anak Mami makin pinter." Puji Tiara lalu menggendong Shaka dan mencium pipi gembulnya.
Setelah perjuangan keras, Tiara bisa sembuh dari traumanya. Sekarang dia sudah kembali seperti Tiara yang dulu.
"Sayang, aku berangkat dulu." Pamit Mahesa yang menghampiri Tiara di ruang tengah.
"Iya, Mas. Hati-hati!" Jawab Tiara sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Iya, Sayang. Kayaknya nanti aku pulang agak sore soalnya mau ketemu klien aku."
"Iya, nggak apa-apa." Mahesa pun mencium kening Tiara tak lupa pula dia juga berpamitan pada anaknya.
"Papi kerja dulu, ya. Shaka di rumah sama mami." Ucap Mahesa lalu mencium kedua pipi gembul Shaka.
__ADS_1
Setelah kepergian Mahesa, Tiara mengajak Shaka untuk jalan-jalan di halaman belakang sekalian menyuapi bayi gembul itu.
Drrrtt drrrtt
Ponsel Tiara berbunyi, dia mengalihkan perhatiannya pada ponsel. Ternyata, Nisa yang meneleponnya.
"Halo, Sa. Tumben nelpon ada apa?"
"Ketemuan yuk! Kangen pengen ngobrol sama kamu, kangen juga sama si embul."
"Sama aku juga kangen. Kita ketemu di mana?"
"Di Cafe Orchid aja. Aku tunggu di sana jam 3 sore."
"Ok. Ya udah aku tutup dulu teleponnya, mau suapin Shaka."
"Ok, bye."
Panggilan itupun terputus dan Tiara segera melanjutkan menyuapi Shaka.
****
Jam setengah tiga sore, Tiara sedang bersiap ke cafe. Dia juga mengajak baby Shaka agar tidak bosan di rumah.
"Ayo, Sayang kita berangkat ketemu tante!" Ucap Tiara lalu menggendong Shaka.
Sebelum pergi, Tiara mencari Bi Asih karena dia akan keluar.
"Bik."
"Iya, Non. Ada yang bisa Bibi bantu?"
"Oh iya, Non. Hati-hati di jalan!"
"Iya Bik."
Tiara langsung berangkat menggunakan taksi sebab Pak Jupri sedang mengantar mertuanya ke tempat arisan.
Sesampainya di cafe, Tiara mengirim pesan pada Nisa menanyakan posisinya di sebelah mana.
Aku udah sampai nih, kamu di mana? Isi pesan Tiara.
Ting
Aku di meja pojok paling belakang. Balas Nisa.
Setelah tahu posisi Nisa, Tiara masuk ke cafe dan menghampiri temannya itu.
"Hai, Sa apa kabar?" Sapa Tiara yang sudah di meja Nisa.
"Hai, Ra. Aku baik, kamu sendiri apa kabar?"
"Aku juga baik."
"Anak ganteng udah gede aja. Gemes banget sama pipi gembul kamu." Ucap Nisa pada baby Shaka.
"Kamu mau pesen apa, Ra?" Tanya Nisa yang sudah memanggil pelayan.
__ADS_1
"Samain punya kamu aja."
"Ok."
Nisa memesan dua cappucino, sembari menunggu minuman datang mereka mengobrol panjang lebar karena sudah lama tidak bertemu. Paling hanya lewat videocall saja mereka temu kangen.
****
Sementara itu, di tempat yang sama Mahesa bertemu Olivia sebagai bagian dari rencana yang telah di susun Mahesa dan Dika waktu itu.
"Jadi, gimana keputusan kamu sekarang?"
"Baiklah, dengan sangat terpaksa aku turuti kemauan kamu. Dan ingat satu hal jangan sampai hal ini bocor ke Tiara." Tegas Mahesa.
Deg
Tiara yang kebetulan melewati meja Mahesa, menghentikan langkahnya karena mendengar ucapan seseorang yang dikenalnya.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku?" Ucap Tiara dalam hati.
Tak ingin berlama-lama, Tiara melangkahkan kakinya keluar dari cafe tersebut.
Di sepanjang perjalanan sampai rumah, Tiara hanya diam membisu dengan pikiran yang entah ke mana. Hatinya dilanda rasa curiga pada suami dan wanita yang telah membuat hidupnya selalu celaka.
"Apa selama ini kamu diam-diam menjalin hubungan lagi dengan wanita iblis itu, mas? Batin Tiara.
Pukul 5 sore Mahesa sudah sampai di rumah, dia menuju kamar terlebih dahulu untuk membersihkan diri sebelum menyusul istri dan anaknya yang ada di halaman belakang.
"Lagi pada ngapain nih? Kayaknya seru banget." Tanya Mahesa yang sudah bergabung dengan Tiara, Shaka juga mamanya.
"Lho udah pulang, Mas? Kok aku nggak dengar mobil kamu?"
"Iya, tadi mobilnya mogok di jalan. Jadi, aku pulang naik taksi." Jawab Mahesa.
Tiara sengaja bersikap biasa saja sebab dia akan menyelidiki sendiri apa yang sedang disembunyikan suaminya itu.
Malam harinya, saat Mahesa baru saja tidur di samping Tiara tiba-tiba ponselnya berbunyi karena ada panggilan masuk. Dia segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon.
Mahesa melirik ke arah Tiara terlebih dahulu, memastikan jika istrinya sudah lelap. Setelah yakin Tiara sudah tidur nyenyak, dia bangkit menuju balkon kamar untuk menjawab telepon itu.
"Ada apa lagi?" Tanya Mahesa.
"Terserah kamu. Kamu tunggu saja di mall nanti aku nyusul!" Pungkas Mahesa.
Tiara yang kebetulan hanya pura-pura tidur, dapat mendengar jelas apa yang diucapkan suaminya. Walaupun dia tidak mendengar suara si penelepon, tapi dia yakin jika yang menghubungi suaminya adalah Olivia.
Dia bertekad akan mengikuti suaminya yang kebetulan janjian di mall. Jadi, dia tak perlu khawatir akan ketahuan jika sedang menguntit suaminya.
Selesai menerima telepon, Mahesa kembali berbaring di samping Tiara lalu memeluk tubuh Tiara dengan erat.
"Maafin aku Sayang. Setelah ini aku janji nggak akan ada lagi yang bisa merusak kebahagiaan kita." Bisik Mahesa lalu dia memejamkan matanya menuju ke alam mimpi.
Tiara yang mendengar bisikan suaminya, semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa maksud kamu, mas? Hal apa yang kamu sembunyikan dariku sampai kamu nggak mau jujur saat ini?" Batin Tiara.
Matanya terpejam tapi pikirannya sedang berkelana memikirkan semua itu. Ingin rasanya bertanya langsung pada suaminya, tapi dia takut suaminya malah mengelak. Jadi, lebih baik dia putuskan untuk mengikuti ke mana suaminya besok.
__ADS_1
Hai, apa kabar semuanya? Maafin kemarin nggak update 🙏🙏