Cinta Untuk Tiara

Cinta Untuk Tiara
Bab 61. Duka Semua Orang


__ADS_3

Waktu terus bergulir, Mahesa masih setia menemani istrinya yang belum sadar. 3 hari sudah Tiara mengalami koma akibat kecelakaan itu.


"Cepat bangun, Sayang! Kami sangat merindukanmu, kami masih membutuhkanmu." Ucap Mahesa sembari mengenggam tangan Tiara.


Ternyata, ucapan Mahesa mendapat respon dari Tiara. Ada pergerakan kecil pada jarinya dan air mata yang mengalir di pelipis.


"Terima kasih sudah merespon ucapanku, Sayang. Aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini!" Mahesa begitu senang melihat respon dari Tiara.


Di alam bawah sadarnya, Tiara berjalan tak tentu arah di sebuah taman yang begitu luas dan dipenuhi bunga yang bermekaran.


"Tiara."


Merasa dirinya dipanggil, Tiara menoleh ke sumber suara.


"Ayah, Ibu!" Tiara langsung berhambur memeluk orang tuanya.


"Tiara rindu kalian. Tiara ingin bersama Ayah dan Ibu." Tiara menangis dipelukan ibunya.


"Kami juga merindukanmu, Nak. Tapi belum waktunya kita untuk bersama, masih ada suami dan anak yang menantikanmu." Ucapa Ibu Tiara sambil mengelus rambut putrinya.


"Ibumu benar, Nak. Pulanglah! Sudah cukup mereka menunggumu. Kembalilah pada keluarga barumu yang sangat merindukan kehadiranmu!" Sambung Ayah Tiara.


Tiara mengurai pelukan ibunya, lalu memandang ayah dan ibunya secara bergantian.


"Doakan Tiara dan keluarga baru Tiara selalu bahagia!"


"Pasti Nak. Doa kami akan selalu menyertaimu."


Setelah mengatakan itu, ayah dan ibunya pergi dari hadapan Tiara hingga tak terlihat lagi.


Tak lama setelah itu, Tiara mendengar suara suaminya yang menyayat hati.


"Mas, aku juga rindu kamu dan Shaka." Gumam Tiara meneteskan air mata karena teringat akan putranya yang masih kecil.


****


"Dik, perasaan Mama kok gelisah ya dari kemarin. Mama keinget Tiara terus."

__ADS_1


"Kenapa Ma, nggak biasanya Mama kayak gitu?"


"Mama juga nggak tahu."


"Coba Mama hubungi nomor Tiara buat nanya kabarnya!" Usul Dika.


"Iya Mama coba telepon dulu."


Mama Dika mengambil ponsel dan mencari kontak Tiara lalu segera menghubunginya. Namun, nomor yang dihubungi tak kunjung menjawab panggilannya. Hingga panggilan ketiga barulah dijawab, tapi bukan suara Tiara.


"Maaf ini benar nomor Tiara kan?" Ucap Mama Dika saat panggilannya sudah tersambung.


"Benar, tapi Non Tiara tidak di rumah. Ini saya asisten rumah tangganya." Jawab Bi Asih.


"Kalau boleh tahu, Tiara ke mana ya?"


"Non Tiara dirawat di rumah sakit, Nyonya. Sudah 3 hari Non Tiara koma karena mengalami kecelakaan." Jelas Bi Asih sambil menangis ketika mengingat sosok Tiara.


Deg


Mama Dika begitu terkejut mendengar perkataan dari Bi Asih. Baru beberapa hari yang lalu mereka bertemu, sekarang mendapat kabar tak mengenakkan tentang Tiara.


"Rumah Sakit Husada Nyonya."


"Baiklah, terima kasih infonya."


Mama Dika menutup panggilan teleponnya lalu terduduk lemas.


"Ada apa Mah? Apa terjadi sesuatu?"


"Tiara dirawat di rumah sakit, Dik. Kondisinya saat ini sedang koma karena kecelakaan." Tutur Mama Dika sambil menyeka air matanya.


Beliau sudah menganggap Tiara seperti anaknya sendiri. Seolah punya ikatan batin, rasa gelisah Mama Dika pun terjawab sudah, sedangkan Dika yang mendengar perkataan mamanya, terdiam seperti patung merasakan ada yang nyeri dihatinya kala mendengar kabar buruk dari wanita yang dicintainya dalam diam.


"Kita jenguk Tiara, Mah. Suaminya pasti butuh support agar ikhlas menerima cobaan ini, apalagi anaknya yang masih kecil perlu perhatian lebih."


"Iya, Dik. Nanti malam kita ke sana."

__ADS_1


Duka yang dirasakan Mahesa dan keluarga, nyatanya juga dirasakan oleh Dika dan mamanya. Walaupun mereka bukan siapa-siapa, tapi rasa empati dan peduli pada sesama membuat mereka ikut merasakan apa yang dialami oleh Mahesa.


****


Sesuai rencana, kini Dika dan mamanya sudah berada di rumah sakit tempat Tiara dirawat. Mereka menuju ruangan di mana Tiara berada, sesampainya di sana merek bertemu dengan Mahesa dan mamanya.


"Mbak Sarah, Mahesa!" Panggil Mama Dika.


Mahesa dan mamanya segera melihat ke arah orang yang memanggilnya.


"Mbak Mirna, kok bisa tahu kami di sini." Mama Mahesa menyambut kedatangan Mama Dika dengan pelukan hangat.


"Iya Mbak. Dari kemarin perasaan saya nggak enak, kepikiran Tiara. Pas tadi siang saya coba telepon yang jawab asisten rumah tangga kalian dan bilang kalau Tiara mengalami kecelakaan." Jelas Mama Dika.


"Saya turut berduka atas musibah yang menimpa Tiara." Ucap Dika pada Mahesa.


"Terima kasih, Tiara pasti senang dengan kedatangan kalian." Jawab Mahesa.


"Boleh saya bertemu Tiara?" Tanya Dika.


Mahesa diam beberapa saat sebelum akhirnya, dia menganggukkan kepalanya tanda mengijinkan Dika menemui Tiara.


Tak ingin membuang waktu lama, Dika segera masuk ke dalam ruang rawat Tiara. Hatinya mendadak merasa sakit ketika melihat pemandangan didepannya.


Wanita yang biasanya banyak bicara dan tersenyum itu kini hanya terbaring lemah dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya. Dika menarik kursi yang ada di samping ranjang lalu duduk dan menggenggam lembut tangan Tiara.


"Ra, apa yang sudah terjadi sampai kamu seperti ini? Andai kamu tahu, hatiku ikut sakit saat melihat keadaanmu sekarang. Kamu yang biasanya ceria, banyak bicara kini hanya bisa terbaring lemah. Aku rindu senyumanmu, Ra."


Akhirnya, pertahanan Dika runtuh juga. Dika menundukkan kepalanya dengan isak tangis yang menyayat hati.


"Bangun, Ra! Aku nggak sanggup lihat kamu seperti ini, andai waktu bisa diputar lebih baik aku yang ada di posisimu saat ini, asalkan kamu baik-baik saja."


"Bangunlah! Aku janji akan melakukan apapun yang kamu mau asalkan kamu kembali!" Ucap Dika memandangi wajah ayu yang kini terlihat pucat.


Lagi-lagi Tiara meneteskan air matanya ketika mendengar siapapun yang berbicara padanya. Walau raganya tak bisa apa-apa, tapi jiwanya mampu merespon apapun yang ada didekatnya.


"Aku juga ingin kembali, Dik. Tapi tubuhku rasanya begitu sakit." Kata hati Tiara.

__ADS_1


Sore semuanya, tinggalkan like dan komen ya 😍😘😘😘


__ADS_2