Cinta Untuk Tiara

Cinta Untuk Tiara
#CUT Season 2


__ADS_3

"Kak Tiara kenapa cemberut gitu?" Tanya Sintia saat sudah tiba di ruangan Dika.


"Pacar kamu tuh nyebelin, Kakak pengen dibeliin seblak tapi dia nggak mau." Alibi Tiara masih dengan tatapan yang tertuju pada Dika. Dika hanya bisa diam menerima tatapan mematikan dari Tiara.


"Bener Kak?" Kini Sintia beralih bertanya pada Dika.


"Eh, iya soalnya kan dia lagi hamil mana boleh makan kayak gitu." Ucap Dika.


"Tuh kan kamu denger sendiri." Sela Tiara. "Kak Dika turutin aja, itu namanya Kak Tiara lagi ngidam. Katanya kalau nggak dituruti anaknya nanti bakal ileran." Jelas Sintia karena tak tega melihat kakak iparnya.


"Emang bener anaknya bakal ileran?" Tanya Dika yang belum percaya. "Iya, mama yang ngomong kayak gitu." Jawab Sintia.


"Ya udahlah aku beliin, aku nggak mau ya punya ponakan ileran." Ucap Dika lalu beranjak dari duduknya.


"Dika tunggu!" Ucap Sintia saat Dika membuka pintu. "Apa lagi?" Tanya Dika.


"Pesenin yang pedesnya level 3 ya!"


"Hah? Serius kamu, Ra?"


"Iya, lagi pengen luapin emosi." Ucap Tiara penuh sindiran. Dika menelan salivanya, dia takut jika Tiara menceritakan kejadian tadi pada Sintia dan berimbas pada hubungan mereka.


"Kamu nggak pesen sekalian?" Tanya Dika pada Sintia. "Sama pacar kok nggak ada so sweetnya sih. Jadi pacar tuh yang peka, yang perhatian, tanpa harus tanya kalau emang niat beliin ya beliin aja." Ujar Tiara panjang lebar bagai kereta api. Memang karena kehamilannya sekarang, dia jadi makin cerewet seperti emak-emak komplek.


Dika hanya menghela napas panjang, sejak kejadian tadi dia jadi serba salah di hadapan Tiara.


Akhirnya, Dika langsung ke luar membeli seblak pesanan Tiara. Sepanjang perjalanan dia melihat penjual yang ada di pinggir jalan.


Setelah 15 menit berkeliling mencari penjual seblak, Dika sampai juga di sebuah kedai yang menjual seblak.


"Mas, saya pesen seblaknya 2 bungkus. Yang satu pedesnya level 3." Ucap Dika pada salah satu karyawan kedai itu.


"Baik Mas, silakan ditunggu!"


Dika duduk di dekat kasir sambil menunggu pesanannya jadi. Dia membuka ponselnya untuk mengirim pesan pada Sintia.


Bumilnya masih ngambek nggak? Sumpah baru kali ini aku jadi sasaran ngidamnya Tiara.


Ting

__ADS_1


Udah enggak Kak, ini lagi nonton drakor. Maaf ya jadi ngerepotin Kak Dika. Balas Sintia.


Enggak apa-apa sih, cuma ngidamnya itu lho kenapa harus aku yang jadi sasarannya. Kenapa enggak sama bapaknya aja sih?


Ting


Hehehe, sabar Kak. Hitung-hitung belajar jadi suami dan ayah siaga.


"Mas, pesanannya sudah jadi." Ucap karyawan kedai. Dika langsung memasukkan ponselnya ke saku jas tanpa membalas pesan Sintia.


"Berapa Mas?" Tanya Dika.


"20 ribu Mas."


Dika mengambil selembar uang 50 ribuan lalu memberikannya pada karyawan itu.


"Kembaliannya ambil aja, Mas." Ucap Dika lalu mengambil seblaknya dan berlalu pergi.


"Terima kasih Mas." Ucap karyawan itu.


-


-


-


"Iya, makasih Om Dika yang ganteng." Balas Tiara sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Kak!"


"Ra!" Tegur Dika dan Sintia bersamaan.


"Kalian kenapa sih kompak banget?"


"Jangan ngomong kayak gitu lagi! Kalau sampai Mahesa denger bisa jadi perang dunia nanti." Jelas Dika lalu meminum jus jeruk yang disiapkan Icha sejak tadi.


"Hehehe, kan biar kamu nggak kesel makanya aku puji." Ucap Tiara sambil nyengir kuda.


"Udah nggak usah debat terus. Sekarang Kak Tiara makan aja seblaknya mumpung belum dingin." Sela Sintia lalu membuka bungkus seblak miliknya dan Tiara.

__ADS_1


"Kak Dika cuma beli 2 aja?"


"Iya, aku nggak biasa makan yang terlalu pedas."


"Kalau gitu aku makan dulu ya Kak."


"Iya."


Sintia dan Tiara menikmati seblak yang dibeli Dika tadi, sedangkan Dika hanya meringis melihat Tiara yang begitu lahap makan seblak yang sangat pedas itu.


"Ra, udah jangan dilanjut makannya! Lihat tuh muka kamu sampai keringetan gitu." Ucap Dika yang tak tega melihat Tiara berkeringat dan bibir yang memerah karena kepedasan.


"Bener kata Kak Dika. Udahan Kak, nanti kalau sampai Kakak kenapa-kenapa aku yang kena marah Kak Mahesa." Bujuk Sintia.


Mau tak mau Tiara pun menghentikan makannya. Dia meneguk jus jeruk di hadapannya hingga tandas tak tersisa.


"Mau nambah lagi minumnya?" Tanya Dika.


"Air putih aja." Jawab Tiara.


Dika menelepon Andre untuk membawakan air mineral ke ruangannya.


"Permisi, Tuan." Ucap Andre saat membuka pintu.


"Masuk, Ndre!"


"Ini air mineral yang Tuan minta." Ucap Andre lalu menyerahkan 3 botol air mineral pada Dika.


"Terima kasih."


"Saya permisi dulu Tuan, Nyonya." Pamit Andre pada Dika lalu beralih menatap Tiara dan Sintia.


"Silakan!" Ucap Tiara dengan senyum ramah, sedangkan Sintia hanya mengangguk dan tersenyum.


Di luar ruangan Dika, Andre memegangi dadanya. "Baru dengar suaranya aja udah bikin deg-degan, apalagi senyumannya yang manis itu."


"Astaga, sadar Andre dia itu bini orang." Ucap Andre sambil mengetuk dahinya.


Andre lalu bergegas kembali ke ruangannya karena dia baru saja makan siang saat mendapat telepon dari Dika.

__ADS_1


Hai, hai maaf ya baru sempet up 🙏🙏. Lagi nggak sinkron buat mikir 😁😁, jangan lupa untuk like dan komen ya 😍😘😘😘


__ADS_2