
Tok tok tok
"Dik, boleh Mama masuk?" Tanya Mama Dika yang ingin berbicara penting dengan Dika.
"Iya, Mah masuk aja!"
"Kamu tuh, udah di rumah masih aja sibuk sama kerjaan." Protes Mama Dika.
"Nyelesaiin doang Mah. Lusa aku mau ke luar kota buat ajuin kerjasama, Mama bantu do'a semoga kerjasamanya berhasil biar perusahaan kita semakin berkembang."
"Pasti, do'a Mama akan selalu menyertai setiap usaha kamu."
"Nah kan jadi lupa! Tadi Mama ke sini mau tanya soal hubungan kamu dengan Sintia, gimana?"
Dika menghentikan aktivitasnya sejenak lalu menatap mamanya.
"Semua berjalan baik, Mah. Dia anak yang baik, dewasa, nggak pernah manja kalau lagi sama aku. Mungkin karena dia belum terbiasa jadi masih agak canggung kalau mau manja." Jelas Dika dengan tersenyum.
"Syukurlah kalau memang baik, kalau dia jodohmu jangan ditunda terlalu lama. Lebih baik langsung melangkah ke jenjang yang lebih serius." Tutur Mama Dika.
"Iya Mah. Semoga memang dia jodoh Dika, soalnya Dika nggak mau kalah dengan Mahesa."
"Emang Mahesa kenapa?"
"Mama belum tahu ya?"
"Belum, apaan sih jangan bikin Mama penasaran."
"Tiara sekarang lagi hamil."
"Hah? Beneran? Kamu nggak salah dengar kan?"
"Enggak Mah, Sintia sendiri yang bilang tadi siang pas video call."
"Makanya kamu buruan nikah. Biar Mama bisa gendong cucu kayak Mbak Sarah."
"Sabar Mah. Kan Sintia belum wisuda jadi tunggu aja, kalau udah ada waktu yang pas kita langsung lamar ke rumahnya."
"Pasti Sayang. Semoga takdir mempersatukan kalian." Harap Mama Dika.
"Aamiin."
Setelah pembicaraan tadi, Mama Dika keluar dari ruang kerja Dika menuju kamarnya sekalian nunggu kepulangan Papa Dika.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Dika meregangkan ototnya yang agak kaku karena terlalu lama duduk.
Dia mengambil ponselnya yang ada diatas meja, dia membuka aplikasi hijau berlogo gagang telepon lalu mengetikkan sesuatu dan mengirimnya pada Sintia.
Drrrttt drrrttt
__ADS_1
Tak lama setelah dia mengirim pesan, ponselnya bergetar karena ada panggilan masuk.
"Kakak beneran mau ke luar kota?" Tanya Sintia ketika Dika sudah menjawab panggilan itu.
"Iya. Kenapa cemberut gitu sih?"
"Berapa hari Kakak ke luar kota?"
"Mungkin sekitar 3 hari, tapi kalau sehari langsung selesai besoknya udah pulang." Jelas Dika. "Jangan cemberut terus dong! Kan semua demi masa depan kita, biar kamu dan anak-anak kita nanti hidupnya terjamin." Sambung Dika.
"Jangan lupa buat kabarin aku!"
"Iya Sayangku. Senyum dulu dong! Masa cemberut terus nanti cantiknya hilang, lho." Ucap Dika yang membuat Sintia melengkungkan bibirnya.
"Besok kita makan siang bareng, kamu ke kantor aku ya!" Pinta Dika. "Iya Kak, aku ajak Kak Tiara boleh nggak? Soalnya kan aku belum pernah datang ke kantor Kakak." Ucap Sintia.
"Iya nggak apa-apa. Ajak Shaka sekalian soalnya aku kangen banget, udah beberapa hari nggak ketemu."
"Kangen Shaka apa maminya?"
"Dih cemburu, ya kangen Shaka lah. Aku udah lupain perasaanku buat Tiara, kan sekarang udah ada kamu." Ujar Dika sambil memainkan alisnya menggoda Sintia.
"Gombal banget sih. Kakak lama-lama mirip kayak papinya Shaka."
"Kok bisa?"
"Iya, bakalan jadi bucin."
"Udahlah, aku matiin video callnya. Dari tadi gombal mulu." Pamit Sintia. "Iya, cepet tidur! Jangan begadang nonton drakor mulu!" Titah Dika.
"Siap bos. Aku matiin ya, bye."
Panggilan video dengan Sintia pun terputus, Dika lantas keluar dari ruang kerja dan bergegas ke kamarnya untuk istirahat.
-
-
-
-
Pagi yang cerah, secerah wajah Sintia yang tersenyum kala mengingat senyuman Dika.
"Dorrr, pagi-pagi udah ngelamun aja." Kejut Tiara yang ikut bergabung dengan Sintia di taman belakang.
"Kakak ih, kalau aku jantungan gimana?" Protes Sintia. "Buktinya masih seger aja kok, nggak jantungan." Ucap Tiara.
"Kakak ada acara nggak?"
__ADS_1
"Enggak sih, hari ini aku free. Kenapa? Mau traktir belanja ya?" Goda Tiara.
"Iya, tapi nanti kalau aku udah kerja. Hahahaha." Jawab Sintia lalu tertawa melihat ekspresi kesal Tiara.
"Ikut aku ke kantor Kak Dika, ya! Dia mau ajak makan siang di kantornya." Ajak Sintia.
"Kenapa nggak sendirian aja?"
"Aku kan belum pernah ke sana Kak. Jadi, masih canggung makanya aku ajak Kakak." Jelas Sintia.
"Ok deh. Lagian nggak baik juga cewek dan cowok berduaan di ruangan nanti orang ketiganya setan."
"Makanya aku ajak Kakak, biar Kakak yang jadi orang ketiganya."
"Maksudnya aku setannya gitu?"
"Aku kan nggak bilang Kakak setan."
"Iya, tapi secara nggak langsung kamu ngatai aku setan. Dasar Ipar nggak ada akhlak kamu ya." Gerutu Tiara lalu menggelitik pinggang Sintia.
"Hahahahaha, ampun Kak!"
Sintia mengatur napasnya yang tak beraturan setelah digelitiki Tiara.
"Kakak nggak ngidam apa gitu?" Tanya Sintia saat sudah bisa menormalkan napasnya.
"Belum ngerasain ngidam. Padahal dulu waktu hamil Shaka sering banget ngidam yang aneh-aneh." Jelas Tiara.
"Gimana sih rasanya hamil, Kak?"
"Rasanya menyenangkan sih, walau kadang ada susahnya juga."
"Susahnya apa Kak?" Tanya Sintia lagi.
"Susahnya itu kalau di trimester awal biasanya mual dan muntah, kalau di trimester akhir tidur udah nggak bisa nyenyak soalnya sering buang air kecil."
"Dan yang paling berkesan adalah saat persalinan, harus bisa nahan sakit waktu kontraksinya semakin intens, itu kalau persalinan normal." Lanjut Tiara.
Sintia terdiam mendengar penjelasan dari Tiara. Entah apa yang dia pikirkan, tapi dari mimik wajahnya seakan menggambarkan kegelisahan.
"Kak!" Panggil Sintia setelah beberapa saat terdiam. "Iya, apa?" Tanya Tiara sambil memandangi wajah adik iparnya itu.
"Boleh nggak kalau nanti pas Kakak lahiran aku ikut temenin di dalam?"
"Emang kamu berani? Takutnya nanti kamu nggak kuat lihat orang melahirkan."
"Berani kok, aku pengen lihat perjuangan seorang ibu yang melahirkan anaknya." Tutur Sintia dengan mata yang berkaca-kaca.
Tiara segera menarik Sintia dalam pelukannya, "Iya, kamu boleh temenin Kakak saat melahirkan." Ucap Tiara.
__ADS_1
Malam guys, maaf ya belum bisa double up soalnya masih sibuk di dunia nyata 🙏🙏.
Jangan lupa untuk like dan komen ya 😍😘😘