Cinta Untuk Tiara

Cinta Untuk Tiara
Bab 75


__ADS_3

3 bulan kemudian.


"Mah, aku berangkat dulu." Pamit Mahesa.


"Nggak sarapan dulu?"


"Nanti aja di kantor."


Mahesa berlalu dari hadapan mamanya, dia segera melajukan mobilnya menuju kantor.


"Baru aja merasakan kehangatan keluarga yang lengkap, sekarang kakak jadi kembali bersikap dingin." Ujar Sintia.


"Sejak Tiara dan Shaka belum ketemu, kakakmu lebih sering pulang larut malam bahkan nggak pulang sama sekali. Mama juga rindu dengan Tiara dan Shaka, di mana mereka tinggal sekarang? Mama nggak mau lihat kakakmu kembali menjadi sosok yang dingin."


"Mama sabar ya! Aku juga rindu mereka, mungkin kakak ipar pergi karena ada alasannya. Kita berdoa aja semoga kakak ipar dan Shaka cepat kembali berkumpul dengan keluarga kita." Ucap Sintia sambil memeluk mamanya.


-


-


Di sebuah pasar, lebih tepatnya di kios sayur mayur. Tiara bersama Mbok Sumi menjual hasil kebun mereka, mulai dari bayam, sawi, kol, tomat serta wortel.


Walau hanya kios kecil setidaknya Tiara bisa mencari rupiah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


"Alhamdulillah dagangan kita hari ini hanya tinggal sisa sedikit, Mbok."


"Iya Nduk, nggak sia-sia usaha kita untuk menanam sayuran. Semoga saja suatu saat nanti kita bisa punya kios dan ladang sendiri."


"Aamiin, semoga do'a Simbok terkabul."


Dibalik pohon yang tak jauh dari kios Tiara, ada seseorang yang sedang mengintai lalu mengambil gambarnya untuk dikirimkan pada tuannya.


Setelah mengambil gambar Tiara seseorang tersebut langsung pergi.


****


Ting


Dika yang sedang fokus pada dokumen di hadapannya, mengalihkan perhatiannya pada ponselnya yang berbunyi.


"Tiara?" Ucap Dika ketika membuka pesan yang masuk pada ponselnya. Dia pun segera menelepon orang yang mengirimi foto tersebut.

__ADS_1


"Halo, Vin. Kamu yakin itu benar Tiara?"


"Iya Tuan, bahkan saya melihat dari jarak yang tidak terlalu jauh." Jawab Marvin dari balik telepon.


"Baiklah, kamu kirim saja di mana lokasinya! Nanti saya akan ke kantor Mahesa untuk membicarakan ini."


"Baik, Tuan."


Dika pun menutup panggilan telepon dengan Marvin lalu dia menghubungi Mahesa.


"Halo, Dik. Ada apa?" Ucap Mahesa.


"Kamu di kantor kan?"


"Iya, kenapa?"


"Ada hal penting yang mau aku bicarakan, jam makan siang aku ke sana."


"Ok, aku tunggu."


Selesai menelepon Mahesa, Dika segera menyelesaikan pekerjaannnya agar tidak menumpuk.


-


-


"Ada Tuan. Silakan masuk, Anda sudah di tunggu di dalam!"


"Terima kasih." Ucap Dika lalu berjalan ke ruangan Mahesa. Sesampainya di depan ruangan, Dika langsung membuka pintu tanpa mengetuknya.


"Kenapa baru sampai?" Tanya Mahesa.


"Maaf tadi masih ada tamu di kantor jadi baru sampai sini."


"Oh, hal penting apa yang mau kamu bicarakan?"


"Sebentar." Dika mengeluarkan ponselnya lalu mencari pesan yang dikirim Marvin tadi.


"Lihatlah!" Ucap Dika lalu menyodorkan ponselnya pada Mahesa.


"I-ini benar Tiara kan? Ini tidak salah orang kan?" Tanya Mahesa dengan suara yang bergetar menahan tangis.

__ADS_1


"Iya, dia memang Tiara. Sekarang dia ada di sebuah desa di Kota S, dia tinggal di rumah peninggalan neneknya. Di sana dia tidak sendiri, ada seorang nenek yang sering menemaninya berjualan di pasar."


"Jualan?"


"Iya, Tiara berjualan sayur di kios kecil yang ada di pasar itu."


"Kapan kita ke sana, Dik? Aku sudah tidak sabar bertemu Tiara dan Shaka." Tanya Mahesa dengan antusias.


"Bagaimana kalau sabtu siang kita berangkat ke sana? Minggu pagi baru kita ke lokasi Tiara."


"Baiklah aku setuju. Terima kasih sudah banyak membantuku."


"Tidak perlu berterima kasih, aku sudah anggap kalian seperti keluargaku sendiri." Ucap Dika tulus.


Drrtt drrrrttt


Saat sedang memandangi foto Tiara, tiba-tiba ponsel Mahesa berbunyi. Ada panggilan masuk dari adiknya.


"Ada apa, Sin?"


"Kakak pulang sekarang! Mama pingsan dan badannya demam."


"Ok Kakak pulang sekarang."


Mahesa mematikan panggilannya lalu bersiap untuk pulang.


"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Dika.


"Maaf, aku harus pulang soalnya tadi Sintia telepon katanya mama pingsan dan badannya demam."


"Apa mau aku antar?"


"Nggak usah, aku pulang sendiri aja."


"Ya sudah, hati-hati! Semoga Tante Sarah cepat sembuh."


"Aamiin. Aku duluan."


Mahesa dan Dika keluar dari ruangan bersamaan, tapi dengan tujuan yang berbeda. Mahesa yang menuju rumahnya dan Dika yang kembali ke kantor.


Tes pasar, kira-kira masih ada yang nungguin cerita ini nggak? Atau udah pada bosen ya? 🙏😀

__ADS_1


Maaf ya kalau jarang update, soalnya lagi bikin cerita yang lain juga 🙏🙏🙏


__ADS_2