Cinta Untuk Tiara

Cinta Untuk Tiara
Bab 72. Akhir Dari Segalanya


__ADS_3

"Bik, aku berangkat ke acara ulang tahun anaknya bos ku dulu."


"Iya, Non. Hati-hati! Non ke sana sendirian?"


"Enggak, Bik. Aku udah janjian sama temenku, aku berangkat naik taksi aja soalnya masih harus mampir beli kado."


"Oh ya udah Non kalau gitu."


Tiara keluar dari rumah lalu dia menuju jalan depan kompleks untuk menunggu taksi online pesanannya. Sebelum itu dia mematikan ponselnya agar tidak ada yang bisa menghubunginya.


"Maaf mas, aku memilih jalanku sendiri semoga kamu selalu bahagia." Batin Tiara.


Taksi yang ditunggu Tiara pun telah tiba. Supir taksi bertanya terlebih dulu untuk memastikan benar penumpangnya.


"Dengan Ibu Tiara, ya?"


"Iya, Pak." Jawab Tiara lalu masuk taksi itu.


"Tujuan Stasiun B ya, Bu?"


"Iya, Pak."


Selama perjalanan Tiara hanya banyak diam, walau sesekali menanggapi ocehan dari Shaka yang kian hari semakin pintar.


Dalam hati dia merasa bersalah pada mertua dan adik iparnya. Sebab dia tidak berkata apapun soal keputusannya ini. Dia hanya ingin menenangkan diri dari segala masalah yang ada, bukan berniat lari dari masalah tapi dia ingin menjernihkan pikirannya sebelum menghadapi semua yang terjadi.


Setibanya di stasiun, Tiara segera menuju ruang tunggu. Menanti informasi keberangkatan kereta.


****


Di tempat berlangsungnya acara pernikahan Dika dan Marvin sedang berdiskusi bersama pihak kepolisian yang akan melakukan penangkapan terhadap Olivia.


Mahesa yang sejak tadi sudah duduk dihadapan penghulu merasakan gugup yang luar bias. Antara rasa bersalah, takut jika rencananya tak berjalan lancar yang mengakibatkan dia jatuh dalam pernikahan yang sebenarnya.


Mempelai wanita datang diiringi oleh MUA. Olivia pun duduk di samping Mahesa dengan senyum yang tak pernah surut dari bibirnya.


"Akhirnya, sebentar lagi impianku untuk menjadi istri Mahesa akan terkabul." Batin Olivia.


"Bisa kita mulai acaranya?" Tanya penghulu.


"Bisa, Pak." Jawab Mahesa dengan gugup.


"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan kawinkan engkau Saudara Mahesa Pratama bin Ridwan dengan Saudari Olivia Wijaya binti Rudi Wijaya, dengan mas kawin perhiasan seberat 100 gram dan uang 150 juta di bayar Tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Olivia binti..."

__ADS_1


Ucapan Mahesa terputus saat ada seseorang yang menghentikan acara ijab qabul.


"Tunggu!"


"Mohon maaf mengganggu, kedatangan kami ke sini ingin membawa Saudari Olivia ke kantor polisi atas tuduhan penculikan dan pembunuhan berencana." Ucap salah satu anggota polisi.


"Saya nggak pernah melakukan itu, ini fitnah Pak!" Elak Olivia.


"Saudari silakan jelaskan di kantor sebab kami sudah memiliki bukti yang mengarah pada Anda."


"Bukti apa?"


"Ini!" Ucap Marvin lalu memutar rekaman suara yang dia dapatkan.


Sebenarnya sudah lama aku ingin menyingkirkan istri Mahesa. Pernah aku menculik dia, tapi ternyata ada yang datang nyelamatin dia. Dan yang terakhir aku menabrak istri Mahesa saat tengah menyebrang, kamu tahu? Saat aku mendengar bahwa dia koma, aku sangat berharap dia mati. Tapi ternyata keberuntungan masih berpihak padanya.


"Kamu?" Geram Olivia saat Marvin selesai memutar rekaman suara tersebut.


"Jadi, selama ini kamu menjebakku?"


"Seperti yang kamu lihat. Aku kira kamu itu selain licik juga cerdik, tapi dugaanku salah. Nyatanya kelicikanmu masih bisa dibalas dengan kelicikan pula." Ucap Marvin sambil tersenyum meremehkan.


Polisi tadi segera meringkus Olivia. Namun, Olivia mencoba mencari perlawanan dan dia melarikan diri dari dalam gedung menuju jalan.


Polisi dan Marvin bergegas menyusul Olivia yang mencoba kabur, hingga sebuah suara menghentikan langkah mereka.


Dika dan Mahesa yang masih di dalam langsung keluar setelah mendengar bunyi benturan keras itu.


Sesampainya di luar, mereka terkejut karena melihat Olivia sudah tergeletak di tengah jalan dengan tubuh yang bersimbah darah.


Polisi segera membawa Olivia ke rumah sakit, kemudian di susul Dika, Mahesa serta Marvin.


*****


Sementara di sebuah desa yang begitu sejuk dan asri, Tiara meletakkan Shaka yang tertidur lelap di ranjang. Ya, Tiara sekarang berada di desa kelahiran ibunya. Dia menempati rumah peninggalan neneknya yang dititipkan pada tetangga agar merawat rumah itu.


"Sudah lama tidak menghirup udara sejuk di sini. Andai ayah dan ibu masih ada mungkin kita bisa berkumpul bersama sambil menikmati suasana di desa." Lirih Tiara ketika membuka jendel kamar yang langsung mengarah pada perkebunan.


Setelah puas memandangi alam sekitar, Tiara memutuskan untuk ke dapur. Dia ingin melihat pekarangan belakang rumah yang dulunya sering di tanami beberapa jenis sayur.


"Ternyata masih terawat juga. Wah banyak sekali sayurannya." Kagum Tiara.


Dia memetik sawi secukupnya untuk di masak, selain sayuran juga ada cabe, tomat, daun bawang serta bawang merah.


Setelah memetik sayur dan beberapa buah bawang merah dan cabe, Tiara kembali ke dapur untuk mencuci sayuran tersebut.

__ADS_1


Selesai mencuci sayur Tiara mulai membersihkan rumah mulai dari menyapu lalu mengepel. Tak lama setelah membersihkan rumah, Shaka sudah terbangun dari tidur nyenyak.


"Anak Mami udah bangun. Capek ya habis perjalanan cukup jauh?" Ucap Tiara sambil menyusui putranya yang tubuhnya semakin berisi.


"Habis ini kita jalan-jalan di dekat sini mumpung cuaca nggak terlalu panas. Biar Shaka nggak bosen di rumah aja." Lanjut Tiara yang mengajak berbicara putranya.


*****


Olivia saat ini tengah ditangani oleh dokter di ruang ICU. Dika dan yang lain masih senantiasa menunggu di depan pintu, untuk mengetahui kondisi Olivia.


Ceklek


Setelah satu jam menunggu, dokter yang menangani keluar dari ruangan tersebut. Mahesa langsung menghampiri dokter itu untuk mengetahui keadaan Olivia.


"Bagaimana keadaan pasien, Dok?"


"Apa Anda dari pihak keluarga pasien?"


"Benar, Dok."


"Dengan berat hati saya menyampaikan bahwa nyawa pasien tidak dapat tertolong. Itu lantaran luka yang sangat parah di bagian kepala sehingga pasien meninggal dunia." Jelas dokter.


"Innalilllahi wa'inailaihi roji'un." Ucap Mahesa dan yang lainnya.


"Silakan untuk mengurus segala keperluan jenazah agar bisa langsung di bawa pulang untuk dimakamkan!" Pinta dokter.


"Baik, Dok."


Setelah menyampaikan itu dokter langsung meninggalkan Mahesa serta yang lainnya.


"Vin, tolong kamu urus jenazah Olivia! Saya dan Dika akan mengurus anaknya untuk dititipkan di panti asuhan." Pinta Mahesa.


"Baik, Tuan."


Dika dan Mahesa meninggalkan rumah sakit, mereka akan mendatangi rumah Olivia untuk melihat anaknya.


Setibanya di rumah Olivia, mereka di sambut oleh art yang bekerja di sana. Mereka pun menjelaskan maksud dari kedatangannya. Hingga pernyataan dari sang art membuat Dika dan Mahesa saling tatap.


"Nyonya memang sudah melahirkan tapi bayinya tidak selamat karena kelainan jantung." Ucap art itu.


"Lalu bayi yang biasa diajak Olivia itu anak siapa?"


"Oh, Naira. Dia anak dari tetangga sebelah yang kebetulan sangat akrab dengan nyonya." Jelas art Olivia.


"Jadi, dia bohong soal anaknya. Astaga!" Gerutu Mahesa sambil mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


Sore semuanya, jangan lupa like dan komen 😍😘


__ADS_2