Cinta Untuk Tiara

Cinta Untuk Tiara
#CUT Season 2


__ADS_3

Selepas Icha pergi dari ruangan itu, Mama Dika berucap yang mana membuat Dika dan Sintia tampak canggung.


"Kalian udah pantes punya anak, kenapa nggak nikah aja?"


"Mbak Mirna benar, lebih baik kita jodohkan saja mereka biar makin erat persaudaraan kita." Celetuk Mama Mahesa. "Nggak usah terburu-buru untuk nikah, sebaiknya biarkan mereka pendekatan dan saling mengenal satu sama lain." Sela Mahesa dan Tiara pun mengangguk setuju dengan ucapan suaminya.


"Jadi, gimana? Dika dan Sintia mau nggak dengan yang diucapkan Mahesa barusan?" Tanya Mama Mahesa pada Dika dan Sintia.


"Kita coba jalani dulu saja Tante, seandainya memang berjodoh pasti berlanjut ke hubungan yang lebih serius. Sebaliknya, kalau kita memang nggak berjodoh setidaknya kita masih bisa menjalin hubungan silaturahmi dengan baik." Jelas Dika, sedangkan Sintia terpaku dengan penjelasa Dika. Dia tidak menyangka dengan respon Dika terhadap ucapan mamanya.


"Kita lanjutkan nanti saja, lebih baik kita makan dulu. Nanti keburu dingin makanannya." Ucap Tiara.


Mereka pun makan malam bersama dengan suasana yang bahagia.


Setelah makan malam , Dika izin untuk mengajak Sintia ke taman yang ada di restoran itu.


"Tante, saya izin mau ajak Sintia ke taman yang ada di sini boleh?"


"Boleh kok, mungkin kalian perlu ruang untuk ngobrol berdua." Balas Mama Mahesa.


"Om, itut!" Sela Shaka yang tidak ingin ditinggal Dika.


"Shaka di sini aja sama Mami, jangan ganggu Om sama Aunty dulu ya." Ucap Tiara memberi pengertian. "Dak mau, Mi. Mau itut Om." Rengek Shaka.


"Udah nggak apa-apa, Ra." Sela Dika. "Nanti dia gangguin kalian berdua." Lanjut Tiara.


"Biarin aja Shaka ikut, Kak. Daripada nanti nangis."


"Ya udahlah terserah kalian aja." Putus Tiara. Dika dan Sintia pergi ke taman bersama Shaka yang ada digendongan Dika.


Sesampainya di taman, Dika mengajak Sintia duduk di bangku dekat kolam ikan.


"Ternyata tempatnya lebih nyaman di sini daripada di dalam." Ucap Dika memulai pembicaraan. "Iya Kak. Tahu gitu mending makan malam dengan suasana outdoor di sini." Sahut Sintia.


"Oh ya Kak. Aku minta maaf ya soal kejadian di restoran waktu itu."

__ADS_1


"Enggak apa-apa, santai aja." Jawab Dika sambil menatap Sintia. Untuk beberapa saat Dika terpaku melihat wajah ayu Sintia, selama ini dia tidak memperhatikan secara jelas wajah Sintia.


"Cantik." Celetuk Dika membuat Sintia langsung salah tingkah. "Om dangan liatin Onty telus." Rajuk Shaka yang merasa cemburu karena tak diperhatikan Dika.


"Hehehe, iya-iya jangan ngambek dong. Entar gantengnya hilang lo." Goda Dika sambil mencium pipi gembul Shaka.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengintip dari pintu belakang restoran yang langsung terhubung ke taman.


"Ngapain kamu di sini?" Tegur Novi salah satu senior yang ada di restoran itu.


"Eh, saya nggak ngapa-ngapain kok Mbak. Tadi habis dari buang sampah." Elak Icha.


"Kamu pikir saya nggak tahu, kamu lagi nguntit pengunjung itu kan." Ucap Novi sambil menunjuk ke arah Dika dan Sintia.


"Dari awal saya sudah curiga dengan gelagat kamu. Baru seminggu kerja aja udah lancang kamu ya. Harusnya kamu sadar, mana ada orang kaya yang mau sama kamu. Jadi, jangan berharap kalau orang itu bakal nglirik kamu." Ketus Novi.


"Balik kerja sana! Sebelum kamu dipecat karena bos tahu kelakuan kamu." Sambung Novi lalu meninggalkan Icha yang berdiam diri di ambang pintu.


"Nggak seharusnya kamu punya mimpi terlalu tinggi, Cha. Kamu cuma orang miskin, mana ada orang kaya yang mau sama kamu." Ucap Icha pada dirinya sendiri.


-


-


-


"Kamu mau kan seandainya kita pendekatan dulu untuk saling mengenal pribadi masing-masing?" Tanya Dika. "Iya, Kak. Aku terserah Kakak aja, untuk masalah jodoh atau enggaknya biar Tuhan yang menentukan." Ungkap Sintia.


Dika dan Sintia tak lupa bertukar nomor ponsel agar bisa berhubungan. Lalu melanjutkan obrolan mereka.


"Kakak udah kenal lama sama Kak Tiara?"


"Em, lumayan sih. Mungkin waktu itu Tiara masih pengantin baru."


"Ketemu di mana?" Lanjut Sintia. "Nggak sengaja ketemu di taman kota, waktu itu bangku taman penuh semua kebetulan bangku yang diduduki Tiara masih ada yang kosong jadi dari situlah kita kenal." Jelas Dika.

__ADS_1


"Oh gitu, Kak Mahesa tahu nggak kalau waktu itu Kak Tiara duduk bareng Kakak?"


"Waktu itu Tiara cuma sendiri sih. Tapi aku udah pernah dapat bogeman dari kakakmu itu."


"Hah? Serius, kok bisa?"


"Waktu itu Tiara mau nyebrang jalan dan hampir kesrempet motor, jadi aku tarik Tiara dan meluk dia karena masih shock. Eh nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba Mahesa datang terus mukul aku."


"Emang sih bucin akut." Sela Sintia. "Kamu tahu nggak, bukannya Mahesa yang marah tapi malah Tiara yang marah. Gara-gara main pukul tanpa tahu permasalahannya." Ucap Dika sambil terkekeh mengingat sikap Mahesa waktu itu.


"Anggap aja kenang-kenangan dari Kak Mahesa untuk Kakak."


Drrrtt drrttt


Ponsel Sintia bergetar karena ada panggilan masuk.


"Halo Kak." Sapa Sintia saat panggilan tersambung.


"Ayo, pulang! Udah malam, besok kalian lanjut lagi ngobrolnya." Ajak Tiara. "Iya Kak, aku langsung ke parkiran aja ya." Ucap Sintia.


"Iya, Kakak tunggu kamu di sana. Jangan lama-lama!"


"Siap Kak." Sintia menyimpan kembali ponselnya setelah panggilan terputus.


"Kita pulang Kak, tadi Kak Tiara telepon udah di parkiran katanya."


"Ok, weekend nanti kamu sibuk nggak?"


"Enggak sih."


"Weekend aku ke rumah kamu, kita jalan-jalan." Ajak Dika. "Iya Kak." Jawab Sintia.


"Ya udah, ayo! Nanti Mahesa berubah jadi monster lagi." Dika dan Sintia tertawa kala mengingat ekspresi marah Mahesa.


Dika dan Sintia berjalan beriringan menuju tempat parkir.

__ADS_1


Pagi guys,, masih ada yang nungguin nggak nih. Kasih like dan komen kalian ya 😍😘😘


__ADS_2