Cinta Untuk Tiara

Cinta Untuk Tiara
Bab 70. Satu Langkah Lagi


__ADS_3

Siang ini Tiara sedang menyiapkan makan siang yang akan dibawa ke kantor suaminya. Setelah siap semua, dia segera mandi dan bersiap berangkat tak lupa dia juga akan mengajak Shaka.


"Bik, aku berangkat ke kantor dulu!" Pamit Tiara.


"Iya, Non."


Tiara berangkat di antar Pak Jupri sebab mamanya lagi ke salon jadi, dia bisa minta tolong untuk di antar ke kantor.


Sesampainya di kantor, Tiara menyapa resepsionis dan karyawan yang berpapasan dengannya. Dia menekan tombol yang ada di lift dan menuju ruangan suaminya.


Setelah tiba di ruangan yang di tuju, dia membuka pintu ruangan Mahesa. Namun, baru saja pintu terbuka sedikit dia mendengar ada seseorang yang sedang berbicara di ruangan itu.


"Kamu kenapa sih? Tiap kali aku datang ke sini kamu pasti cuek dan nggak suka."


"Aku lagi sibuk, jadi jangan ganggu aku. Kalau mau ketemu kita bisa janjian di luar, sebentar lagi Tiara bakal datang. Aku nggak mau sampai dia tahu soal kita." Tekan Mahesa.


"Apa sih yang istimewa dari istri kamu itu? Sampai-sampai kamu rela main kucing-kucingan karena nggak mau kehilangan dia."


"Karena dia beda dari wanita manapun."


"Biarin ajalah dia tahu, kan kita nggak harus kucing-kucingan kayak gini."


"Kalau sampai kamu berani kasih tahu ke Tiara, jangan harap aku bakal nikahin kamu." Ancam Mahesa.


"Ok ok, aku nggak akan kasih tahu istri kamu."


Dibalik pintu Tiara masih setia mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.


"Tanpa kamu beritahu pun aku sudah tahu mas. Aku benar-benar kecewa sama kamu." Batin Tiara.


Tiara kembali menutup pintu dengan pelan agar tidak ketahuan. Dia menuju ruangan sekretaris Mahesa yang tak jauh dari ruangan Mahesa.


"Siang, Mbak Nita."


"Siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau titip makan siang buat mas Mahesa."


"Kenapa nggak langsung ke ruangannya saja, Bu? Hari ini jadwalnya kosong."


"Nggak apa-apa, tadi kayaknya lagi ada orang di dalam jadi saya nggak mau ganggu. Saya lagi buru-buru mau pulang soalnya dapat telepon dari mama kalau ada tamu."


"Oh baik, Bu. Nanti saya antarkan ke ruangan bapak."


"Makasih ya Mbak."


"Sama-sama, Bu."

__ADS_1


Setelah menitipkan bekal makan siang, Tiara langsung pulang karena tak ingin hatinya semakin sakit ketika melihat suaminya bermain api di belakangnya.


******


Tok tok tok


"Masuk." Sahut Mahesa.


"Permisi, Tuan. Saya mau ngantar titipan dari Bu Tiara." Ucap Nita seraya memberikan paperbag yang berisi kotak makan.


"Kok kamu yang antar, emang istri saya ke mana?"


"Katanya tadi buru-buru pulang ada tamu di rumah. Pas mau masuk ke ruangan Tuan, beliau bilang nggak mau ganggu Tuan yang lagi ada tamu juga." Jawab Nita sambil melirik sinis ke arah Olivia.


Deg


Jantung Mahesa berdegub kencang, dia takut istrinya tahu tentang percakapannya dengan Olivia.


Dia mengambil ponselnya dan menghubungi istrinya.


"Iya, Mas. Ada apa?" Tanya Tiara dibalik sambungan telepon.


"Kenapa nggak ke ruangan aku?"


"Oh tadi mama telepon katanya ada temen mama yang datang mau ketemu Shaka jadi, aku langsung pulang. Tapi makan siangnya udah aku titipin ke Anita."


"Iya, Mas."


Mahesa pun mematikan sambungan teleponnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan."


"Iya, makasih."


Setelah Anita pergi, Mahesa menyandarkan punggunggnya sambil menghela napas panjang.


"Kenapa?" Tanya Olivia.


"Mending kamu pulang, aku lagi nggak pengen di ganggu!"


"Ok aku pulang tapi jangan lupa kamu besok harus temani Naira ke rumah sakit."


"Hemm."


Olivia pun pergi meninggalkan ruangan Mahesa.


"Ya Allah, apa rencanaku ini sudah tepat? Aku takut Tiara tahu dan dia bakal ninggalin aku." Batin Mahesa.

__ADS_1


*****


Di tempat lain, Dika tengah berdiskusi dengan Marvin terkait bukti rekaman pengakuan Olivia.


"Aku nggak nyangka ternyata wanita itu mudah dijebak. Obsesinya pada Mahesa ternyata semakin besar, sampai dia mengakui kejahatannya pada orang yang dia anggap sebagai partner untuk memuluskan rencananya." Ucap Dika setelah mendengar isi rekaman dari Marvin.


"Tuan benar. Tinggal satu langkah lagi kita bisa membuat wanita itu merasakan dinginnya hotel prodeo."


"Iya dan waktu itu tinggal beberapa hari lagi karena Mahesa sudah memberitahu bahwa persiapan sudah 80%."


Ya, sebenarnya pernikahan Mahesa dengan Olivia itu adalah sebagian dari rencana mereka. Setelah Marvin berhasil merekam pengakuan Olivia, ketiganya memutuskan untuk membuat pernikahan itu agar Olivia tak bisa lari.


"Kamu simpan baik-baik bukti ini untuk membuat laporan ke kepolisian!"


"Baik Tuan."


"Dan satu lagi, jangan sampai penyamaran kamu ini diketahui wanita rubah itu sebelum rencana kita berhasil."


"Baik, Tuan tidak perlu khawatir. Saya jamin semua pasti aman sampai waktunya tiba."


Drrtt drrtt


Saat sedang membereskan bukti kejahatan Olivia, ponsel Marvin berdering. Dia langsung menjawab panggilan itu yang termyata dari Olivia.


"Halo, Vin. Aku ganggu nggak?"


"Enggak, ada apa?"


"Aku cuma mau kasih tahu kamu kalau pernikahanku dengan Mahesa akan digelar 1 minggu lagi. Dan kamu bisa langsung menjalankan rencana kamu."


"Bagus, setelah kamu sudah sah menikah dengan dia pastikan kamu bisa mendapatkan aset penting milik perusahaan Mahesa. Dengan begitu aku bisa dengan mudah menghancurkan perusahaannya itu."


"Kamu tenang aja, tapi ingat dengan perjanjian kita. Setelah aku berhasil mendapatkan aset itu, kamu akan memberikan aku kompensasi agar Mahesa tetap terikat denganku karena telah membantu memulihkan perusahaannya."


"Baiklah itu bukan hal yang sulit untukku. Bahkan jika rencana kita memang berhasil dengan sempurna aku akan tambahkan bonus untukmu."


"Ok, aku pegang kata-katamu."


"Baiklah. Aku tutup dulu teleponnya karena ada urusan penting." Pamit Marvin lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Sudah ku duga, obsesinya pada Mahesa begitu besar." Ucap Dika yang memang mendengar setiap ucapan yang dilontarkan Olivia.


"Benar Tuan. Saya sudah tidak sabar melihat ekspresinya nanti saat tahu dia hanya dijebak saja." Timpal Marvin.


Dika sangat tidak sabar melihat kehancuran wanita rubah itu. Apapun akan dia lakukan demi orang yang paling dia cintai.


"Aku berharap setelah ini kamu akan hidup bahagia, Ra!" Batin Dika.

__ADS_1


Sore semuanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya 😍😘😘😘


__ADS_2