
"Halo Kak." Ucap Sintia ketika panggilannya dijawab Dika.
"Iya, ada apa?"
"Aku mau minta nomor ponsel Icha boleh nggak?"
"Buat apa?"
"Aku mau hubungin dia buat langsung kerja besok, Kakak tahu sendiri kan kalau Kak Tiara harus bedrest."
"Oh gitu, nanti aku minta Andre soalnya dia yang punya nomor ponselnya."
"Ya udah kalau gitu, aku tunggu ya Kak."
"Iya, aku matiin dulu buat telepon Andre."
"Iya Kak." Sintia langsung meletakkan ponselnya saat panggilan sudah terputus.
"Gimana Sin? Udah dapat nomornya, aku mau cari di ponsel Tiara takut dia tersinggung." Tanya Mahesa yang baru dari dapur membuatkan susu untuk Shaka.
"Kak Dika lagi minta ke Mas Andre, soalnya dia yang punya nomornya." Jelas Sintia dan Mahesa mengangguk.
Ting
Ponsel Sintia berbunyi, ada pesan masuk dari Dika yang mengirimkan nomor ponsel Icha.
Tanpa menunggu lama, Sintia langsung menghubungi nomor Icha. Tapi berulang kali dia menghubungi, hanya suara operator yang terdengar.
"Kayaknya ponsel dia mati Kak. Dari tadi di luar jangkauan terus." Ucap Sintia lalu meletakkan ponselnya di meja.
"Nanti malam aja kamu coba hubungi lagi! Aku ke kamar dulu mau temenin Tiara." Pamit Mahesa lalu beranjak ke kamarnya.
Sintia menghembuskan napasnya, dia sangat kasihan pada kakaknya. Baru saja akan memulai hidup yang lebih damai, tapi mereka harus diuji dengan kondisi kandungan Tiara yang lemah.
Hingga mengharuskan Tiara untuk bedrest sampai kondisinya benar-benar pulih.
__ADS_1
"Semoga kakak bisa melewati semua ini. Pasti akan ada kebahagiaan yang menanti setelah melalui ujian ini." Harap Sintia.
***
Sore hari Tiara terbangun dari tidurnya, dia melihat suaminya tertidur di sampingnya. Dia memandangi wajah teduh suaminya saat tertidur, tangannya mulai terulur membelai pipi Mahesa.
"Maafin aku Mas, selalu ngerepotin kamu. Aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu, aku takut kamu mulai bosan karena hidup denganku yang sering membuatmu dalam kesusahan." Batin Tiara yang meneteskan air matanya.
Mahesa yang merasakan sentuhan di wajahnya lantas membuka mata, dia seketika langsung terbangun karena melihat Tiara yang sudah berderai air mata.
"Yang, kamu kenapa? Ada yang sakit lagi?" Tanya Mahesa dengan cemas, sedangkan Tiara hanya menggelengkan kepalanya dengan isak tangis yang semakin keras.
"Hei, ada apa? Apa yang bikin kamu nangis kayak gini?"
Mahesa menangkup wajah Tiara sambil menghapus air mata Tiara dengan kedua ibu jarinya.
"Sekarang cerita ada apa?"
"Aku bukan istri yang baik, Mas. Aku cuma bisa nyusahin kamu aja."
"Jadi, buang jauh-jauh pikiran kamu itu. Kamu harus fokus dengan kehamilan kamu, kasihan baby kalau maminya sedih terus." Sambung Mahesa dan Tiara hanya mengangguk lalu memeluk suaminya.
-
-
-
-
Di rumahnya, Icha yang baru saja selesai memasak dan menjemur cucian mengambil ponsel yang dicharger.
Sepulang dari restoran tadi ponselnya mati karena lowbat, saat dia menyalakan ponselnya muncul banyak panggilan tak terjawab dari ponselnya.
"Ini nomor siapa ya? Kok banyak banget missed call. Apa aku telepon balik aja ya, siapa tahu penting?" Gumam Icha.
__ADS_1
Baru saja dia akan mendial nomor itu, ternyata terdapat panggilan masuk dari nomor yang sama.
"Halo." Sapa Icha saat sudah menjawab panggilan.
"Halo, ini Icha kan?"
"Iya, ini siapa ya?"
"Ini aku Sintia, adiknya Kak Tiara."
"Oh Mbak Sintia, maaf ya Mbak saya nggak tahu."
"Iya, enggak apa-apa. Kamu lagi sibuk nggak? Takutnya aku ganggu kamu."
"Enggak kok Mbak, memangnya ada apa?"
"Tadi Kak Tiara bilang kan kamu besok mau ditraining dulu, nah ini berhubung keadaan lagi urgent, bisa nggak kamu besok datang ke rumah langsung kerja?"
"Apa terjadi sesuatu, Mbak?" Tanya Icha yang penasaran.
Sintia pun menjelaskan semua kejadian sepulang dari restoran tadi, hingga Tiara yang harus bedrest karena kandungannya lemah.
"Astaghfirullah, iya Mbak saya akan langsung ke sana besok. Mbak Sintia kirim aja alamat rumahnya biar saya bisa langsung datang."
"Iya, nanti aku shareloc. Sebelumnya terima kasih ya, Cha. Kak Tiara beruntung bertemu dengan orang baik seperti kamu."
"Sama-sama Mbak. Justru saya yang beruntung bertemu dengan Mbak Tiara, berkat Mbak Tiara juga saya bisa punya pekerjaan."
"Ya sudah kalau gitu, aku tutup teleponnya."
"Iya Mbak."
Setelah panggilan terputus Icha meletakkan kembali ponselnya.
"Alhamdulillah, semoga diberikan kelancaran dan kemudahan oleh Allah. Semoga Mbak Tiara cepat diberikan kesembuhan." Batin Icha.
__ADS_1
Maafin baru bisa up 🙏🙏🙏. Jangan lupa untuk like dan komen ya 😍😘😘😘