
Mahesa saat ini berada di kamar mamanya, setelah makan malam tadi dia pamit pada Tiara jika ada perlu dengan mamanya.
"Mama mau bicara soal apa?" Tanya Mahesa yang sudah duduk di samping mamanya.
"Apa kamu bertengkar dengan Tiara sebelum Mama datang tadi?"
Dahi Mahesa mengerut mendengar pertanyaan mamanya.
"Enggak Mah, emang ada apa?"
Mama Mahesa menghela napas sebelum menjelaskan yang terjadi di rumah sakit tadi.
"Tadi Tiara sempat pingsan pas Mama datang. Setelah diperiksa, dokter bilang kalau Tiara nggak boleh tertekan karena bisa menyebabkan efek yang fatal nantinya."
"Tunggu-tunggu, maksud Mama gimana?"
"Intinya sebelum Mama datang, ada seseorang yang buat Tiara kembali drop. Soalnya pas Mama baru masuk Tiara udah pucat dan dia bilang kalau kepalanya sakit sampai dia pingsan."
"Coba kamu tanya Tiara pelan-pelan. Kalau dia belum mau cerita jangan dipaksa. Mama yakin pasti ada orang yang bertemu Tiara sebelum Mama tiba di rumah sakit."
"Iya Mah. Aku bakal cari tahu."
"Lalu bagaimana dengan kecelakaan itu?" Tanya Mama Mahesa.
"Mahesa lagi usaha buat cari bukti lain, Mah. Tadi Mahesa udah diskusi bareng Dika dan papanya."
"Syukurlah, Mama harap masalah ini segera menemukan titik terang! Mama nggak mau lihat Tiara kayak gitu lagi, apalagi ada Shaka yang masih butuh Tiara."
"Iya Mah. Mama bantu doa supaya masalah ini cepat selesai."
"Iya, pasti. Kamu bisa ke kamar lagi temenin Tiara, kondisinya masih belum pulih betul."
"Iya, Mah. Kalau gitu Mahesa ke kamar lagi."
Setelah berbicara dengan mamanya, Mahesa langsung kembali ke kamarnya.
"Kok belum tidur?" Tanya Mahesa yang melihat Tiara masih duduk di ranjang sambil mengelus kepala Shaka.
"Belum ngantuk, Mas."
"Kenapa tadi kamu bisa tiba-tiba pingsan?" Tanya Mahesa berusaha mencari tahu penyebab istrinya drop.
"Nggak tahu, Mas. Tiba-tiba aja kepalaku sakit banget pas mama datang aku langsung pingsan."
"Apa kamu masih mikirin soal omongan aku waktu itu? Atau ada hal lain yang bikin kamu jadi nggak bisa mengontrol diri sampai akhirnya, drop lagi?"
Tiara diam sejenak, dia bimbang untuk berkata jujur. Walau selama apapun dia diam pasti suaminya akan tahu apa yang dia sembunyikan. Tapi jika dia berkata jujur, dia takut suaminya akan tersulut amarah.
__ADS_1
"Hiks hiks aku takut, Mas."
Akhirnya, Tiara meluapkan beban yang dipendamnya sejak tadi. Dia menangis dipelukan suaminya.
"Takut apa, Sayang? Aku akan selalu ada di samping kamu, nggak akan pernah aku biarkan siapapun nyakitin kamu." Ucap Mahesa membalas pelukan istrinya.
"Sekarang kamu cerita, ya! Apa yang buat kamu takut?" Mahesa menangkup wajah Tiara dan menghapus air matanya.
Tiara pun menceritakan tentang kedatangan Olivia beberapa saat setelah Mahesa keluar dari ruangannya. Dia juga menceritakan tentang ancaman Olivia padanya.
Dan benar saja, Mahesa yang mendengar penjelasan istrinya langsung tersulut emosi. Dia mengepalkan kedua tangannya dan wajah yang merah padam menahan amarah.
"Aku nggak mau kehilangan kamu, Mas. Aku dan Shaka nggak bisa hidup tanpa kamu."
"Itu tidak akan terjadi selama aku masih bernafas, aku akan menjadi tameng untuk kalian. Aku akan selalu ada untuk kalian dalam suka maupun duka. Kamu tenang, ya! Masalah ini biar jadi urusan aku, kamu nggak boleh banyak pikiran." Ucap Mahesa kembali memeluk tubuh istrinya dan mencium puncak kepalanya.
****
"Dik, sepertinya kita harus segera melakukan rencana kita." Ucap Mahesa saat melakukan panggilan dengan Dika.
"Memangnya kenapa? Bukannya kamu bilang nunggu sampai Tiara benar-benar pulih."
Akhirnya, Mahesa menceritakan kejadian sebelum Tiara pulang dari rumah sakit. Dia semakin yakin jika Olivia akan melakukan hal yang lebih dari tempo hari.
Mau tak mau Dika pun setuju dengan ajakan Mahesa, dia juga tidak ingin melihat Tiara kembali terluka karena kejahatan wanita itu.
"Terima kasih."
Mahesa menutup panggilannya dan duduk di kursi yang ada di balkon kamar. Dia menghembuskan napas berat untuk mengurangi beban yang di tanggungnya.
"Kapan keluargaku bisa terbebas dari wanita itu? Seandainya dulu aku menuruti perkataan mama, semua ini tidak mungkin terjadi." Gumam Mahesa mengusap wajahnya kasar.
Sementara di kediaman orang tua Dika, kini Dika dan papanya sedang membahas ajakan dari Mahesa yang ingin segera melakukan rencana untuk menjebak Olivia.
"Jangan sampai kita keduluan wanita itu, Pah! Aku ingin masalah ini cepat berakhir."
"Kamu tenang saja, Papa pastikan secepatnya wanita itu akan mendekam di penjara."
****
Pagi ini Mahesa dibuat panik lantaran Tiara yang tiba-tiba demam.
"Sayang kamu kenapa?"
"Jangan tinggalin aku, Mas. Aku nggak mau kamu pergi." Tiara meracau dengan mata yang terpejam. Mahesa langsung memanggil mamanya agar menelepon dokter.
"Mah, Mama!" Teriak Mahesa sambil memeluk erat tubuh Tiara yang gemetar.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa teriak-teriak?"
"Cepat telepon dokter! Tiara tiba-tiba demam dan badannya gemetar."
"Astaghfirullah, Tiara! Tunggu sebentar Mama telepon dulu dokternya!"
Mama Mahesa langsung menghubungi dokter pribadi mereka, setelah menghubungi dokter Mama Mahesa menuju dapur mengambil baskom yang berisi air hangat dan kain bersih untuk mengompres Tiara.
"Gimana Mah?"
"Dokter lagi dalam perjalanan. Biar Mama kompres dulu agar demamnya sedikit reda."
Dengan telaten Mama Mahesa mengompres Tiara sambil sesekali tangannya mengelus kepala sang menantu.
"Mah, kakak ipar kenapa?" Tanya Sintia yang baru saja memasuki kamar sambil menggendong Shaka.
"Badannya panas. Kayaknya efek yang kemarin."
"Emang kemarin ada apa Mah? Sampai kakak ipar tiba-tiba demam."
Mama Mahesa pun menceritakan kejadian saat beliau baru tiba di ruangan Tiara. Sintia yang mendengar cerita mamanya ikut meneteskan air mata, dia merasa sedih melihat kakak iparnya yang selalu ditimpa masalah.
Akhirnya, dokter yang ditunggu sudah datang, Mahesa langsung mengajak dokter itu ke kamarnya.
Dokter segera memeriksa Tiara, mengecek tekanan darah dan suhu tubuhnya.
"Apa ada sesuatu yang membuatnya mengalami tekanan berat? Sepertinya nona Tiara mengalami trauma akan sesuatu hal."
Mahesa dan mamanya sangat terkejut mendengar penjelasan dokter. Mereka tidak menyangka jika akibatnya akan seperti ini.
"Lalu bagaimana cara menyembuhkan traumanya, Dok?" Tanya Mahesa.
"Jaga emosinya dan jangan ingatkan dia tentang hal yang bisa memperparah taumanya. Lakukanlah hal-hal yang membuatnya merasa senang dan bahagia!"
"Jika nona Tiara tidak kunjung sembuh dari trauma, sebaiknya langsung bawa saja ke psikiater agar mendapat penanganan yang tepat." Sambung dokter.
"Baik, Dok. Terima kasih atas sarannya."
"Sama-sama, saya permisi dulu. Dan ini resep untuk penurun demamnya bisa langsung ditebus agar saat nona Tiara bangun bisa segera di minum."
"Iya Dok."
Mahesa ikut berbaring di samping istrinya, sedangkan mamanya mengantar dokter tadi sampai depan pintu rumah.
"Maafin aku yang udah gagal jadi suami yang bisa jaga kamu dengan baik."
Mahesa mengecup kening Tiara, hatinya begitu hancur melihat istrinya yang tidak hanya sakit fisik tapi juga psikisnya.
__ADS_1
Tinggalkan like dan komen 😍😘😘. Happy weekend 😆😆😆