
Malam ini Mahesa dibuat kelimpungan, karena tak bisa tidur walau waktu sudah menunjukkan tengah malam. Akibat hasrat yang tak tersalurkan, dia sendiri pun heran tak mampu mengontrol gejolak yang menggebu ketika berdekatan dengan Tiara.
"Arggghhhh, rasanya aku bisa gila kalau seperti ini. Dasar gadis tengil, bisa-bisanya dia tidur nyenyak tanpa rasa bersalah setelah mempermainkanku." Gerutu Mahesa ketika memandangi Tiara yang damai dialam mimpi.
Tiba-tiba muncul keinginan untuk mencium lagi bibir ranum milik Tiara, ya dia sudah seperti kecanduan dengan benda kenyal tersebut. Wajah Mahesa sudah berada di hadapan Tiara hanya berjarak beberapa senti saja.
Namun, Mahesa segera mengurungkan niatnya sebelum dia kembali kelimpungan seperti tadi. Akhirnya, dia merebahkan diri disamping Tiara lalu tangannya terulur membelai wajah ayu milik sang istri.
Entah kenapa setiap berada di dekat Tiara, dia merasa damai dan tenang. Mahesa mencoba untuk memeluk tubuh Tiara, menghirup aroma tubuh yang begitu menenangkan hingga tanpa sadar Mahesa terlelap menyusul Tiara ke alam mimpi.
****
Sinar mentari yang masuk menerpa wajah dua insan yang masih diposisi yang sama seperti semalam yakni, tidur berpelukan.
Mata lentik Tiara mulai mengerjap, menyesuaikan cahaya. Badannya terasa amat berat, seperti ditimpa sesuatu. Saat kesadaraannya sudah kembali, dia baru menyadari bahwa posisinya saat ini berada dipelukan sang suami.
Tiara memandangi wajah suaminya yang terlihat damai saat tertidur. Dia mulai menyentuh bagian mata lalu turun ke hidung dan terakhir menyentuh bibir yang semalam telah mengambil ciuman pertamanya.
"Anda sebenarnya sangat tampan Tuan, tapi kenapa Anda selalu bersikap menyebalkan?" Gumam Tiara memperhatikan dengan intens wajah Mahesa.
Tanpa Tiara sadari, Mahesa sudah terbangun sejak merasakan sentuhan pada wajahnya. Dia juga mendengar apa yang diucapkan Tiara, karena masih ingin menikmati setiap sentuhan tangan halus itu, Mahesa berpura-pura tidur.
Tiara lalu bangkit dari ranjang menuju kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan menggosok gigi. Tak lupa dia menyiapkan air hangat untuk mandi Mahesa, lalu dia menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Mahesa ke kantor.
Mahesa menggeliat agar dikira baru bangun, lalu duduk bersandar sambil melihat jam di ponselnya.
__ADS_1
"Air hangatnya sudah siap Tuan."
"Hemm" Mahesa menjawab dengan deheman.
"Emm, apa Tuan marah pada saya?" Tiara bertanya sambil menundukkan kepala.
"Menurutmu?"
"Gara-gara kamu, aku jadi mandi 2 kali semalam. Dan kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu semalam." Pungkas Mahesa dengan sorot mata yang tajam.
Tiara yang melihat tatapan Mahesa langsung menelan ludah, Mahesa perlahan mendekat kearah Tiara. Tiara yang mulai gugup berjalan mundur hingga membentur dinding kamar.
"Bagaimana kalau kita lakukan sekarang? Atau sebagai gantinya, kamu harus mencium saya?"
"Maaf Tuan tapi saya sedang datang bulan, jadi mana mungkin saya melayani Tuan."
"Tuan, Tuan bukan lagi seorang bayi yang harus dimandikan, lagi pula sejak kapan Tuan menganggap saya sebagai istri? Dan jangan lupa kita ada perjanjian setelah menikah."
Deg
Mahesa bahkan tak ingat jika membuat perjanjian dengan Tiara waktu itu. Akhirnya, Mahesa meninggalkan Tiara dan membanting pintu kamar mandi dengan keras.
Brakkk
Seketika Tiara terlonjak kaget, lalu dia segera keluar dari kamar menuju dapur. Di dapur dia mulai membantu Bi Asih menyiapkan sarapan, menu sarapan pagi ini nasi goreng plus telur ceplok.
__ADS_1
"Pagi Bi." Sapa Tiara saat sudah di dapur.
"Pagi juga, Non. Non Tiara tumben belum siap-siap, emang nggak kerja?"
"Iya Bi, hari ini toko tutup karena pemiliknya sedang ada urusan keluarga jadi, aku bisa santai."
"Bibi mau bikin apa biar Tiara bantu?"
"Oh ini Non cuma mau bikin nasi goreng aja, non Tiara bikin bumbu saja nanti biar Bibi yang masak." Ucap Bi Asih.
"Siap Bi."
Tak lama kemudian, sarapan sudah tersaji di meja makan. Mertua Tiara juga sudah tiba di meja makan dan disusul Mahesa dibelakangnya.
"Kamu nggak kerja, Ra? Kok masih pake baju tidur?" Tanya Bu Sarah
"Iya Ma, hari ini toko sedang tutup karena pemiliknya ada urusan keluarga."
Tiara mengambilkan sarapan, lalu diberikan pada Mahesa. Bu Sarah yang melihat tersenyum bahagia.
"Kamu nggak sarapan sekalian?" Tanya Mahesa
"Aku mau mandi dulu, Mas. Nanti aku sarapan sendiri aja."
Setelah sarapan Mahesa segera berangkat ke kantor, Tiara mengantar Mahesa sampai depan pintu. Tak lupa Tiara mencium tangan sang suami dan dibalas kecupan di keningnya. Sungguh sandiwara yang sangat baik.
__ADS_1
Jangan lupa untuk terus like dan komen cerita recehku 😍😘😘