
Saat ini Mahesa tengah menemani Tiara memeriksakan kandungannya. Khawatir jika terjadi apa-apa pada kandungan Tiara, sedangkan Dika kini masih berada di UGD karena kondisinya yang parah.
Setelah diperiksa lebih lanjut, dokter menjelaskan tidak ada masalah pada kandungan Tiara. Mahesa dan Tiara merasa lega setelah mendengarnya, kini mereka keluar dari poli kandungan menuju UGD untuk memastikan keadaan Dika.
Pintu UGD masih tertutup rapat, itu berarti Dika masih ditangani oleh dokter. Tiara duduk dengan harap-harap cemas, apalagi ketika melihat sendiri keadaan Dika yang menyayat hati.
"Ya Tuhan, selamatkanlah Dika! Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya!" Ucap Tiara dalam hati sambil meremas kedua tangannya.
Tak jauh dari tempat Tiara duduk, datang seorang wanita paruh baya dengan langkah tergesa-gesa. Kemudian beliau berhenti di depan pintu UGD di mana Dika saat ini sedang ditangani.
Hingga saat mengedarkan pandangan, matanya tertuju pada Tiara dan Mahesa yang duduk di kursi tunggu.
"Tiara." Mama Dika mendekat ke arah Tiara.
"Tante, ada di sini? Siapa yang sakit?"
"Iya, tadi ada yang mengabari Tante kalau putra Tante jadi korban penusukan."
Deg
Tiara sangat terkejut saat mengetahui fakta bahwa wanita paruh baya di depannya ini adalah Ibu dari Dika.
"Maafin Tiara Tante, ini semua gara-gara Tiara." Tiara bersimpuh di kaki Mama Dika, membuat Mahesa segera mendekati istrinya agar berdiri.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, Ra? Apa kamu kenal Dika?" Tanya Mama Dika
"Iya Tante, gara-gara Tiara sekarang Dika jadi celaka. Dika terluka karena nolongin Tiara."
"Maafin Tiara Tante. Ini semua salah Tiara." Lanjut Tiara mencium kedua punggung tangan Mama Dika.
"Ini bukan salah kamu, Nak. Ini memang sudah takdir Dika, kamu orang baik sebab itulah Dika peduli akan keselamatanmu." Mama Dika menarik Tiara ke dalam pelukannya.
"Sekarang kita tunggu kabar dari dokter, semoga Dika baik-baik saja." Ucap Mahesa yang sedari tadi diam menyaksikan interaksi keduanya.
Ceklek
Tak berselang lama, pintu UGD sudah terbuka dan muncullah dokter yang menangani Dika.
"Keluarga dari saudara Andika?" Tanya dokter.
"Saat ini kondisi pasien masih kritis karena kehilangan banyak darah. Kita tunggu beberapa jam ke depan, jika pasien sudah melewati masa kritisnya nanti bisa langsung di pindah ke ruang perawatan." Jelas dokter.
Mama Dika dan Tiara tak kuasa menahan tangis, Mahesa memeluk Tiara agar tenang.
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya, Dok!"
"Baik, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Saya permisi dulu."
__ADS_1
"Aww, sakit Mas!" Tiara memegangi perutnya yang terasa kencang.
"Tiara."
"Sayang." Ucap Mahesa dan Mama Dika bersamaan.
"Kamu kenapa, Nak?" Mama Dika ikut panik melihat Tiara yang kesakitan.
"Cepat kamu panggil dokter! Biar saya yang temani Tiara."
Mahesa segera memanggil dokter untuk memeriksa istrinya.
"Tahan ya, Nak. Tarik napas perlahan lalu hembuskan, supaya mengurangi rasa sakit di perut kamu."
Tiara pun melakukan apa yang dikatakan Mama Dika. Setelah sakitnya berkurang, dia mencoba untuk duduk. Mahesa datang bersama Dokter Raisa, lalu Tiara di bawa ke ruang pemeriksaan.
Setelah diperiksa secara keseluruhan, Tiara dianjurkan untuk istirahat sampai keadaannya membaik.
"Tolong di jaga emosinya ya, Bu! Jangan sampai stres berlebihan, karena bisa berakibat fatal yaitu terjadinya kelahiran dini."
"Jadi saya minta Ibu Tiara harus bedrest demi keselamatan bayi juga ibunya." Lanjut Dokter Raisa.
"Baik, Dok. Terima kasih." Ucap Mahesa.
__ADS_1
"Sama-sama. Kalau begitu saya tinggal dulu. Semoga lekas sehat." Pamit Dokter Raisa.
jangan lupa like dan komen 😍😍😘😘😘