
Resepsi pernikahan akan segera dimulai, para tamu yang hadir sudah memenuhi aula hotel. Mulai dari kerabat, teman dekat, hingga rekan kerja Mahesa.
Saat ini Tiara dan Mahesa masih berada di kamar untuk mempersiapkan diri, Tiara yang nampak anggun dengan balutan gaun berwarna putih menghampiri sang suami yang sudah rapi dengan setelan jas berwarna hitam.
Benar-benar pasangan yang sempurna, siapapun yang melihat pasti akan kagum dengan kecantikan dan ketampanan kedua mempelai.
Pasangan pengantin baru itu lalu bergegas menuju ke tempat acara berlangsung, saat sudah tiba di depan pintu masuk, semua mata para tamu kini terpusat pada mereka.
Bahkan tak ada satupun yang mengalihkan pandangan pada sang pengantin. Dengan anggun Mahesa dan Tiara memasuki ruangan tersebut dan menuju kursi pelaminan yang sudah disiapkan. Suara dari MC, membuat pandangan semua tamu yang hanya tertuju pada Tiara dan Mahesa kini teralihkan karena acara akan dimulai.
Setelah melewati berbagai acara, kedua pasangan itu pun bisa beristirahat sejenak. Keduanya sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Tak berselang lama, Mahesa membuka suara yang mana membuat Tiara begitu benci dengan sikap suaminya.
"Jangan pernah berharap lebih pada pernikahan ini karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggap kamu sebagai istri."
Bagai tertusuk belati, Tiara tak menyangka Mahesa akan melontarkan kalimat yang menyakitkan, apa sebegitu bencinya dia pada wanita hingga menganggap Tiara sama seperti wanita di luar sana. Tak ingin terbawa emosi, Tiara memutuskan untuk diam tanpa mau menyahuti ucapan sang suami.
"Selamat atas pernikahan kalian, Tuan Mahesa dan Nyonya Tiara. Semoga langgeng sampai maut memisahkan dan segera diberikan momongan." Salah satu rekan bisnis dari Mahesa datang dipelaminan, memberikan ucapan selamat pada keduanya.
"Terima kasih atas kedatangannya Tuan Abi." Mahesa menjabat tangan rekan bisnisnya yang baru-baru ini mengajukan kerjasama dengan perusahaan yang dipimpin oleh Mahesa.
__ADS_1
"Sama-sama Tuan, kalau begitu saya permisi dulu."
Pukul 10 malam, acara yang digelar sudah selesai. Kini menyisakan Bu Sarah dan pasangan pengantin.
"Mahesa, Mama harap Kamu bisa menjaga dan mengayomi Tiara, sama seperti kamu memperlakukan Mama dan Sintia. Jangan pernah menyakiti ataupun melukai perasaan Tiara, walaupun kalian menikah tanpa didasari cinta, Mama sangat berharap kalian hidup bahagia sampai maut yang akan memisahkan kalian. Mama mohon dengan sangat, ubahlah pandangan dan penilaianmu kepada wanita, karena tidak semua wanita itu pengkhianat, jadi buang jauh-jauh pemikiranmu itu sebelum kamu menyesal di kemudian hari." Bu Sarah memberikan nasehat panjang lebar kepada Mahesa, karena beliau tahu anak laki-lakinya itu akan bersikap semena-mena.
Beliau hanya tidak ingin Tiara tersakiti dengan sikap Mahesa walau sebenarnya, Tiara sudah disakiti dengan ucapan Mahesa ketika berkunjung ke rumahnya waktu itu.
"Iya Ma, Aku akan berusaha untuk berubah." Ucap Mahesa meyakinkan sang mama, dalam hati Mahesa merasa kesal karena setelah kehadiran Tiara hidupnya menjadi semakin rumit.
"Ya sudah, kalian istirahatlah sudah hampir tengah malam." Tiara dan Mahesa berlalu meninggalkan Bu Sarah untuk beristirahat.
Tiba di kamar, Tiara bergegas membersihkan diri terlebih dulu sebelum mengistirahatkan tubuhnya karena acara yang melelahkan. Lagi-lagi dia harus dipusingkan dengan gaun yang dikenakan, tangannya tidak sampai menjangkau resleting. Dengan berat hati dia meminta bantuan Mahesa.
"Tuan tolong bukakan resleting gaun ini, tanganku tidak sampai." Mahesa yang semula fokus pada gadgednya kini mendongakkan kepalanya.
"Astaga, kenapa kamu itu selalu menyusahkan saja." Gerutu Mahesa.
Bukan karena tak ingin membantu Tiara, tapi dia khawatir tidak bisa mengendalikan dirinya saat melihat punggung indah milik Tiara.
__ADS_1
Dan benar saja, saat resleting sudah terbuka dengan sempurna dan menampakkan punggung yang indah. Tanpa sadar, tangan Mahesa mulai mengelus punggung itu hingga membuat sang pemilik merasa seperti tersengat arus listrik.
"Tu-Tuan, apa yang anda lakukan?" Tiara nampak gugup karena tangan Mahesa yang menempel dipunggungnya.
"Semoga Tuan Mahesa tidak meminta haknya, aku belum siap." Gumam Tiara dalam hati.
"Kenapa? Bukankah ini malam pertama kita. Sudah sewajarnya kalau saya melakukan yang lebih dari ini." Pungkas Mahesa sedikit menggoda.
Deg
Tiara semakin bergetar dengan keringat dingin yang bercucuran. Takut jika Mahesa benar-benar meminta haknya karena bagaimanapun itu juga kewajibannya untuk melayani suami.
"Pergilah! Aku tidak nafsu dengan tubuhmu." Lanjut Mahesa. Tiara pun langsung melarikan diri dari hadapan Mahesa dengan menggerutu.
"Dasar otak mesum."
Lain dimulut lain dihati, itulah Mahesa walau bibirnya berkata tidak tapi pada kenyataannya ada sesuatu yang sudah berdiri kokoh tak tertandingi dibalik celananya.
happy weekend😘,jangan lupa like dan komen. Maaf karena nggak bisa bikin yang hot jeletot😀😀
__ADS_1