
"Kak, kalau konsep nikahnya outdoor gimana?" Tanya Sintia pada Dika.
"Boleh, nanti kita bicarakan lagi pas datang ke kantor WO. Kalau seragam keluarga mau yang gimana?"
"Kalau itu nanti tanya mama dan Kak Tiara. Mereka paling bisa diandalkan kalau masalah begituan."
"Ok deh. Nanti biar aku bilang ke mama, kamu atur waktunya aja kapan."
"Siap Bos." Ucap Sintia dengan tersenyum.
Dika dan Sintia melanjutkan makan siangnya. Ya, saat ini mereka sedang berada di kantor Dika, lantaran Dika yang meminta Sintia untuk makan siang bersama.
Selesai makan siang, Sintia memutuskan untuk pulang. Namun, sebelum pulang dia bertanya tentang formulir yang pendaftaran.
"Kak, formulirnya udah dapat belum?"
"Belum, nanti biar diantar Andre kalau udah dapat."
"Ya udah, kabari aku kalau udah ada."
"Ok, Ay."
"Aku pulang ya, Kak! Mau belajar masak sama Kak Tiara."
"Kenapa buru-buru? Kan aku masih kangen." Ucap Dika sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sintia.
"Lebay banget, sih. Orang tiap hari juga ketemu." Ejek Sintia sambil mengelus pipi Dika.
"Kasih aku vitamin biar semangat."
"Kan aku nggak bawa vitamin, Kak." Ucap Sintia polos. Membuat Dika semakin gemas dengan Sintia.
"Jadi pengen makan kamu tahu, nggak." Goda Dika sambil mencubit hidung Sintia.
"Emangnya aku makanan, apa?"
"Kamu lihat aja nanti kalau udah nikah, nggak bakal aku biarin kamu keluar dari kamar seharian."
"Ih, Kak Dika mesum banget." Protes Sintia lalu memukul pelan bahu Dika.
"Hahaha, habisnya kamu gemesin. Maksud aku vitamin itu kiss, Ay."
Perlahan pipi Sintia berubah menjadi merona, dia langsung menutupi wajahnya karena malu.
Tanpa basa basi, Dika melepas tangan Sintia lalu melahap habis bibirnya. Sintia yang semula hanya diam, kini langsung membalas ciuman dari Dika.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Dika semakin memperdalam ciumannya. Hingga tanpa sadar posisinya sekarang berada diatas tubuh Sintia.
"Permisi, Tuan. Ini dok.." Belum selesai kalimat terucap, Andre buru-buru keluar dari ruangan Dika.
"Eh, ma-maaf Tuan. Saya nggak lihat." Ucap Andre sambil menutup pintu ruangan.
Sementara Dika berubah geram karena kemunculan Andre yang tiba-tiba. Sintia hanya dapat menutupi wajahnya lantaran kepergok sedang berciuman.
"Dasar asisten nggak ada akhlak. Merusak momen aja." Geram Andika.
"Aku pulang ya, Kak! Takut kesorean soalnya udah janji mau langsung pulang tadi." Pamit Sintia.
"Iya, Ay. Hati-hati! Jangan lupa kirim pesan kalau udah sampai rumah." Ucap Dika lalu mencium kening Sintia.
__ADS_1
"Iya, Kak." Sintia langsung beranjak keluar dari ruangan Dika, sedangkan Dika masih mengontrol emosinya karena ulah Andre tadi.
Di ruangannya, Andre tengah menetralkan irama jantungnya.
"Astaga, mata perjakaku sudah ternoda." Gumam Andre sambil mengelus dadanya.
"Jadi, pengen kawin."
Brakkk
Dika membuka pintu ruangan Andre dengan kasar, tatapan tajamnya siap menguliti musuhnya.
Andre yang terkejut langsung menoleh ke arah pintu. Dia meneguk ludahnya kasar ketika bersitatap dengan Dika.
"A-da yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Andre dengan tangan bergetar karena gugup.
Bukannya menjawab, Dika justru melangkah mendekati Andre masih dengan tatapan tajamnya.
"Kamu tahu apa kesalahanmu?" Tanya Dika dengan penekanan pada kalimatnya.
"Sa-saya minta maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak tahu kalau Anda sedang itu." Jawab Andre tanpa menjelaskan maksud ucapannya.
"Kamu bisa ketuk pintu kan sebelum masuk?"
"Su-sudah, Tuan. Tapi Anda tidak menjawab, saya pikir Anda sedang di toilet makanya saya langsung masuk." Jelas Andre.
Sebenarnya Andre sudah mengetuk pintu ruangan Dika berulang kali, tapi tak ada sahutan dari dalam. Sehingga Andre memutuskan untuk langsung masuk ke ruangan Dika.
Dika yang mendengar penuturan Andre langsung terdiam, antara malu dan salah tingkah karena sudah memarahi asistennya itu.
-
-
-
-
Sintia yang merasa disindir hanya cengengesan lalu menghampiri Tiara.
"Hehe, jangan ngambek lah. Kan cuma telat setengah jam." Bujuk Sintia sambil bergelayut di lengan Tiara.
"Halah, bilang aja masih pengen sayang-sayangan. Aku curiga, jangan-jangan kamu..." Tiara menggantung ucapannya dengan tatapan menyelidik dari atas sampai bawah, hingga matanya terpaku pada bibir Sintia.
"Apaan sih, Kak? Aku masih sadar." Ucap Sintia yang salah tingkah ditatap Tiara.
"Emang aku mau ngomong apa? Aku cuma bilang, jangan-jangan kamu keasyikan lagi ciuman di kantor." Tebak Tiara dan membuat Sintia langsung membekap mulut Tiara.
"Kakak, jangan keras-keras kalau ngomong. Entar kalau mama atau Kak Mahesa tahu bisa habis aku." Protes Sintia.
"Udah tahu takut, tapi masih aja dilanjut." Ucap Tiara sambil menaik turunkan alisnya.
Tanpa mereka sadari, Icha ternyata mendengar ucapan Tiara dan Sintia tadi. Dia meremas bajunya untuk meredam gejolak di dadanya.
Hatinya terasa sakit saat membayangkan ketika Dika sedang mencium Sintia. Dia sudah mencoba untuk memendam perasaannya, tapi rasa itu malah semakin besar.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah mencoba untuk memendam rasa ini agar mati, tapi kenapa malah semakin tumbuh subur?" Batin Icha dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.
Dia buru-buru pergi dari dapur, sebelum Tiara dan Sintia menyadari kehadirannya. Icha yang tadinya ingin mengambil air minum, malah mendengar percakapan Tiara dan Sintia.
__ADS_1
Tiara dan Sintia masuk dapur untuk memasak, sekaligus mengajari Sintia agar tak terlalu bergantung pada asisten rumah tangga.
"Kita mau masak apa, Kak?" Tanya Sintia ketika sudah di dapur.
"Sebentar, aku cek bahan di kulkas!" Jawab Tiara lalu membuka kulkas dan melihat bahan yang masih ada.
Tiara mengeluarkan 5 buah kentang berukuran besar, udang yang sudah dibersihkan dan telur puyuh.
"Kamu rebus telur puyuhnya dulu!" Pinta Tiara dan langsung dilakukan oleh Sintia.
Tiara juga mengeluarkan bumbu dapur mulai dari bawang putih, bawang merah, cabe merah keriting, cabe rawit, kemiri dan lain-lain.
Dia akan membuat sambal goreng kentang plus telur puyuh dan udang goreng tepung. Selagi telur puyuhnya direbus, Tiara mengupas kentang sebelum dipotong dadu.
Sementara Sintia, dia mengupas bawang merah dan bawang putih. Selesai mengupas kentang, Tiara langsung memotongnya berbentuk dadu.
"Sin, kamu halusin bumbunya! Biar Kakak goreng kentang dan telurnya." Perintah Tiara lalu dia membawa kemtang yang sudah dipotong untuk dicuci dulu sebelum digoreng.
"Siap, Kak. Apa aja yang dihalusin?"
"Bawang merah, bawang putih, cabe keriting, cabe rawit dan kemiri." Ucap Tiara.
Sintia langsung mengambil cobek dan ulegan karena biasanya Tiara dan Bi Asih menghaluskan bumbu dengan cara manual. Katanya biar rasa masakannya lebih sedap.
Sembari menunggu kentang matang, Tiara meniriskan telur puyuh yang direbus tadi. Dia merendam telur tersebut ke dalam air dingin agar lebih mudah mengupas kulitnya.
2 jam kemudian
Setelah bergelut dengan bahan masakan di dapur, masakan pun sudah siap tinggal menyajikan di meja.
Sintia dan Tiara bergegas ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Sementara Icha, selesai memandikan dan mendandani Shaka dia ingin pamit pulang pada Tiara.
"Bik, lihat Mbak Tiara nggak?" Tanya Icha ketika berpapasan dengan Bi Asih.
"Ada di kamarnya, katanya lagi mandi. Mbak Icha suruh nunggu sebentar!"
"Iya, Bik."
Icha menunggu Tiara di ruang tengah sambil memainkan ponselnya.
"Udah mau pulang, Cha?" Tanya Tiara yang baru datang.
"Eh iya, Mbak." Jawab Icha lalu berdiri menghampiri Tiara.
"Tunggu sebentar, aku ambil sesuatu buat kamu!"
Tiara ke dapur mengambil rantang yang berisi makanan lalu memberikannya pada Icha.
"Ini ada sedikit lauk buat kamu dan adik kamu." Ucap Tiara sambil menyerahkan rantang tersebut.
"Mbak Tiara kok repot banget, sih. Aku jadi nggak enak."
"Enggak apa-apa, Cha. Tadi kebetulan aku masak banyak."
"Makasih ya, Mbak. Kalau gitu, saya pulang dulu." Pamit Icha.
"Iya, hati-hati!"
Setelah Icha pulang, Tiara langsung menyajikan masakannya tadi di meja makan.
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komen kalian ya 😍😘😘😘.
Kemungkinan cerita ini bakal end diakhir bulan ini, jadi tetep stay buat nunggu update kelanjutannya, ya 🙏😊😊