
"Shaka, Aunty pulang." Teriak Sintia ketika baru tiba di rumah.
"Nggak usah teriak-teriak, ini bukan hutan." Sahut Mahesa.
"Biarin." Ucap Sintia sambil menjulurkan lidahnya lalu berlari dari hadapan Mahesa
"Awas kamu ya!" Mahesa mengejar adiknya yang sudah menuju dapur.
"Kakak Ipar tolong! Ada anjing galak." Ucap Sintia lalu bersembunyi di belakang Tiara.
"Sini kamu!" Mahesa mencoba meraih tangan adiknya namun, terhalang tubuh Tiara.
"Duh, kalian itu udah pada tua tapi tingkahnya masih kayak anak kecil. Nggak malu apa dilihatin Shaka?" Omel Tiara yang jengah melihat tingkah suami dan iparnya yang bak anjing dan kucing saat bertemu.
"Marahin Kak Mahesa tuh, kan dia yang nyebelin."
"Enak aja ngatain Kakak nyebelin, kamu tuh yang ngeselin."
"Bisa diam nggak, lama-lama bisa pusing kepalaku dengerin kalian nggak ada yang mau ngalah." Ucap Tiara sambil menjewer telinga suami dan iparnya lalu mengajak mereka ke halaman belakang.
"Aduh, Mi nanti bisa putus telingaku."
"Ampun, Kak."
Mahesa dan Sintia bagai anak tiri yang disiksa oleh ibu tiri mereka.
"Sekarang kalian bersihin halaman ini, jangan masuk rumah kalau belum bersih semua! Ini hukuman buat kalian yang suka bikin gaduh." Ucap Tiara saat sudah melepas jeweran.
"Kakak, ih. Kan aku capek baru sampai rumah." Protes Sintia.
"Aku kan udah mandi, Mi. Masa di suruh bersihin halaman sih." Mahesa pun ikut protes pada Tiara.
"Bersihin atau mau ditambah lagi?" Ancam Tiara.
"Iya-iya, kita bersihin." Ucap Mahesa dan Sintia dengan lesu.
Tiara masuk dengan mulut yang komat-kamit seperti dukun yang sedang membaca mantra.
"Kamu kenapa, Ra? Mama perhatiin kok ngomel sendiri."
"Eh Mama, itu pusing sama tingkah papi dan auntynya Shaka. Tiap kali ketemu udah macam anjing dan kucing."
__ADS_1
"Terus mereka di mana?"
"Itu Tiara suruh bersihin halaman belakang, dari tadi nggak ada yang mau ngalah."
"Hehehe, udah biarin aja. Sekali-kali kita bisa nyantai kayak di pantai."
Di halaman belakang Mahesa dan Sintia masih saja berdebat menyalahkan satu sama lain.
"Gara-gara Kakak, kita jadi di suruh bersihin halaman."
"Enak aja nyalahin orang, salah kamu sendiri tuh."
"Hei, kalian yang kerja itu tangan bukan mulutnya. Emang mau di situ terus seharian." Teriak Mama Mahesa di ambang pintu yang menghubungkan dapur dengan halaman.
"Iya Mah." Sahut mereka bersamaan.
*****
"Pi, jagain Shaka! Kamu harus belajar cara gantiin popok, mandiin dia dan nidurin dia!" Ucap Tiara saat di kamar bersama suaminya.
Mahesa mengerutkan keningnya karena tak biasanya Tiara berpesan seperti ini.
"Emang kamu mau kemana?"
"Kan cuma sebentar, Mi."
"Ya siapa tahu aja aku perginya lama. Makanya aku suruh Papi buat belajar biar gampang nantinya."
Saat ini Tiara dan Sintia sudah berada di salah satu toko buku. Sintia ingin membeli buku untuk keperluan skripsinya, sedangkan Tiara dia mencari sebuah buku resep masakan dan resep membuat kue.
"Sin, Kakak nitip ini ya! Kakak tunggu di luar aja." Tiara menyerahkan buku yang di ambilnya untuk dibawa ke kasir oleh Sintia.
"Siap Kak."
Setelah selesai membayar, Sintia segera menyusul Tiara yang sedang duduk di teras toko.
"Udah?" Tanya Tiara.
"Udah Kak, kita mau ke mana lagi? Atau langsung pulang aja?"
"Kamu tunggu di sini sebentar ya! Kakak mau ke ATM situ." Ucap Tiara sambil menunjuk ATM yang ada di seberang jalan.
__ADS_1
"Ok."
Tiara segera menyeberang dan menuju ATM untuk melakukan penarikan. Setelah itu dia langsung kembali ke tempat Sintia.
"Saatnya kamu tinggal nama, Tiara." Ucap seseorang yang sudah mengintai Tiara sejak dari rumah.
Ketika Tiara sedang menyeberang, seseorang tadi segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga...
Bruakkkk
Tubuh Tiara terpelanting beberapa meter akibat kerasnya benturan. Membuat Sintia yang berada di tempat kejadian langsung berteriak histeris saat melihat kejadian itu.
"Kakak!" Teriak Sintia lalu berlari menghampiri Tiara yang sudah tidak berdaya dengan tubuh yang berlumuran darah, sedangkan mobil yang menabrak Tiara sudah pergi setelah kejadian itu.
"Kakak bangun! Kak, jangan tinggalin aku!" Ucap Sintia yang memangku kepala Tiara dengan berlinang air mata.
*****
Di rumah, tiba-tiba Shaka menangis dengan kencang membuat Mahesa dan mamanya kebingungan karena tidak mau diam walaupun sudah diberi susu.
"Kamu kenapa, Nak? Jangan bikin Oma dan papi kamu khawatir." Ucap Mama Mahesa berusaha menenangkan cucunya.
Hingga dering ponsel Mahesa mengalihkan perhatian mereka.
"Sintia?" Gumam Mahesa.
"Halo, ada apa?" Ucap Mahesa ketika sudah mengangkat panggilan dari adiknya.
"Apa?" Teriak Mahesa hingga ponsel yang di pegangnya terjatuh.
"Ada apa?" Tanya Mama Mahesa khawatir saat melihat reaksi putranya setelah menerima panggilan Sintia.
"Tiara, Mah."
"Tiara kenapa? Jangan bikin Mama khawatir."
"Tiara kecelakaan, sekarang dia ada di rumah sakit." Ucap Mahesa dengan air mata yang mengalir deras.
"Astaghfirullah Tiara!" Mama Mahesa menangis histeris mendengar penuturan putranya.
"Kita ke rumah sakit sekarang! Biar Shaka sama Bi Asih. Ucap Mama Mahesa ketika sudah bisa menenangkan diri.
__ADS_1
Siang bestie, mau nanya nih kira-kira ada yang setuju nggak kalau kisah Dika dan Sintia dibuatkan cerita sendiri? Kalau setuju komen ya! 😍😍😘😘😘