
"Kamu mau pake baju yang mana, Sin?" Tanya Tiara sambil memilih baju milik Sintia di lemari. "Kakak pilihin yang simple tapi enak dilihat."
Tiara segera memilih satu per satu pakaian seperti yang di maksud Sintia. Akhirnya, dia menemukan satu gaun yang sesuai dengan postur tubuh Sintia yang tinggi dan ideal.
"Pakai yang ini aja, nggak terlalu rame warna dan corak gaunnya!" Ucap Tiara sambil menyerahkan gaun sebatas lutut dengan aksen renda di bagian dada.
"Wah, Kakak emang paling best! Pantes aja Kak Mahesa sampai klepek-klepek." Puji Sintia. "Oh ya, Kakak mau anter kue ke rumah Kak Dika atau gimana?" Sambung Sintia.
"Enggak sih, kemarin udah janjian buat ketemu di kafe."
"Kalau anter ke rumah kan kita bisa barengan."
"Emang kamu mau makan siang di mana?"
"Di restoran dekat kantor Kak Dika, tapi aku lagi nungguin pesan dari dia soalnya nggak tahu kantornya." Jawab Sintia.
"Ok, semoga sukses acara makan siangnya. Inget, jaga sikap! Jangan terlalu centil apalagi manja kayak di rumah! Biar Dika makin suka sama kamu." Pesan Tiara. "Siap Kak, makasih ya udah mau bantuin aku."
"Sama-sama."
Waktu makan siang pun telah tiba, Dika langsung bergegas ke restoran yang akan menjadi tempat makan siangnya dengan Sintia.
Ting
Saat sedang menuju parkiran ponsel yang ada di saku jas Dika berbunyi.
Kakak udah sampai belum?
Ini lagi mau otw. Kamu udah sampai? Balas Dika.
Ini masih di jalan, mungkin 10 menit lagi sampai.
Ok, kalau kamu sampai duluan langsung cari tempat aja! Balas Dika lagi.
Siap Kak.
__ADS_1
Setelah membaca balasan dari Sintia, Dika langsung melajukan mobilnya menuju restoran yang berjarak 500 meter dari kantornya.
Sesampainya di restoran, Dika memarkirkan mobilnya terlebih dahulu lalu dia langsung memasuki restoran untuk mencari keberadaan Sintia yang sudah tiba.
"Kak Dika!" Panggil Sintia sambil melambaikan tangannya. Dika yang dipanggil langsung menghampiri Sintia.
"Udah dari tadi?" Tanya Dika lalu duduk di hadapan Sintia. "Belum Kak, baru 5 menitan." Jawab Sintia.
"Kamu mau pesen apa?" Tanya Dika lalu memanggil pelayan. "Samain aja Kak, kalau minumnya aku smoothie aja."
Setelah memesan makan dan minum, Dika dan Sintia mengobrol sembari menunggu makanan datang.
"Kamu masih kuliah atau udah lulus?"
"Masih kuliah Kak, ini lagi nyiapin skripsi biar bisa ikut wisuda tahun ini."
"Selesai kuliah mau kerja di mana?"
"Belum tahu sih, tunggu nanti aja kalau udah wisuda."
"Rencana pengen kerja di kantor Kak Mahesa."
"Kenapa harus kerja? Kan itu juga hak kamu."
"Enggak Kak. Walaupun itu perusahaan peninggalan papa, tapi aku mau mempunyai penghasilan dari usahaku sendiri." Jelas Sintia yang membuat Dika kagum akan sifat Sintia yang tidak ingin hanya menikmati harta orang tuanya.
"Nggak mau kerja di kantorku?" Tawar Dika. "Emang boleh Kak?" Tanya Sintia dan langsung dibalas tawa oleh Dika.
"Emang siapa yang larang? Kalau ada yang mau kerja ya boleh aja termasuk kamu."
"Nanti deh aku pikir-pikir dulu." Tutur Sintia. "Ok, kabari aku kalau kamu mau kerja di kantorku." Ucap Dika.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Mereka pun mulai makan siang dengan tenang dan diselingi obrolan ringan.
-
__ADS_1
-
-
-
Di lain tempat, Icha baru saja selesai makan setelah bergantian dengan teman yang lainnya. Baru saja dia akan mengambil ponselnya, tiba-tiba ponselnya sudah berdering karena ada panggilan masuk.
"Tuan Andre? Kok dia tahu nomor ponselku." Gumam Icha lalu menggeser icon hijau di layar ponsel.
"Halo Tuan." Sapa Icha. "Halo, benar ini dengan Nona Icha?" Tanya Andre berbasa basi.
"Benar Tuan, ada apa ya?" Tanya Icha dengan jantung yang berdegup kencang. "Apa kamu lusa ada waktu? Tuan Dika ingin membicarakan masalah ganti rugi." Ucap Andre.
Deg
Benar saja, Icha sudah menduga jika Andre menghubunginya untuk membahas masalah waktu itu.
"Lusa saya shift pagi Tuan, mungkin sore baru bisa." Ucap Icha. "Kira-kira jam berapa? Biar saya bisa ngomong langsung pada Tuan Dika."
"Saya pulang sekitar jam 3 sore Tuan." Ujar Icha. "Baiklah nanti saya hubungi lagi, saya akan bicara terlebih dahulu dengan Tuan Dika." Pungkas Andre lalu mengakhiri panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban Icha.
"Aduh, gimana ini? Mana nggak punya simpanan uang sama sekali." Gumam Icha sambil meletakkan ponsel di pangkuannya.
Tak lama setelah memutus panggilan teleponnya, Dika sudah tiba di ruangannya. Andre bergegas menyusul Dika yang baru saja masuk ruangannya.
"Permisi Tuan!" Ucap Andre sambil membuka pintu. "Iya, ada apa Ndre?"
"Saya baru saja menelepon gadis itu, dia bilang kalau lusa dia shift pagi dan kemungkinan sore baru bisa bertemu." Jelas Andre. "Sore jam berapa? Soalnya lusa sore saya ada janji."
"Jam 3 sore dia baru pulang kerja Tuan."
"Baiklah, kita bertemu sepulang dari kantor saja. Ajak dia untuk bertemu di kafe dekat taman kota."
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Andre.
__ADS_1
Selamat sore, jangan lupa tinggalkan like dan komen kalian 😍😘😘. Happy weekend 😊😊😊